Hendi berdiri di depan sebuah hotel melati saat ini. Tangannya memegang ponsel, seolah ingin meremas benda pipih itu. Seseorang dengan nomor tak dikenal mengiriminya gambar, yaitu lelaki dan perempuan. Meski dari belakang, tapi dia yakin si perempuan adalah istrinya. Dia hapal sekali bentuk punggung Yani. Sayangnya, nomor tak dikenal itu tidak bisa lagi dihubungi setelah mengiriminya gambar seolah ingin memberitahu, tapi tidak mau terlibat banyak ke dalam urusan mereka. "Wanita jalang," gumam Hendi dengan kedua mata memerah, marah. Hari itu, Hari Sabtu dia mengambil cuti untuk menyelidiki perbuatan Yani. Sengaja, dia tidak memberitahu Yani dan membuat pagi tadi berjalan seperti biasanya agar Yani tidak curiga. Hendi berdiri mematung di depan seorang resepsionis yang sudah memasang se

