Bab 20. Curang

1060 Kata
Agak lama, selang waktu 1 jam baru pemilik bengkel menurunkan sepeda motor dan mencobanya di jalan. Naina tersenyum melihat sepeda motor itu akhirnya bisa menyala kembali. Pemilik bengkel memarkir sepeda motor itu di depan Naina usai dia coba. "Kenapa tadi ini, Pak?" tanya Naina. "Mbak biasa pakenya overheat ya? Jadi terlalu lama kondisi kayak gitu, menyebabkan kebocoran radiator. Ini sudah saya perbaiki. Lain kali, jangan pakenya kepanasan. Terus, pemeriksaan kendaraan harusnya rutin." Naina menghela napas, percuma juga menjelaskan kalau sepeda motor itu bukan miliknya. Memang, seorang perempuan biasanya abai dengan kondisi kendaraannya. "Saya nggak tau, Pak. Pokoknya tadi saya starter nggak bisa. Ya udah, berapa ini biayanya ya, Pak?" tanya Naina, mengambil dompet dari tasnya. "Enam ratus lima puluh ribu, Mbak." "What??" Kedua mata Naina terbelalak mendengar ucapan pria paruh baya itu. Membuka dompet dan mengeluh tidak akan menambah isinya. "Masa sih sampe enam ratus lima puluh ribu, Pak?" ujar Naina sedikit merengek. "Ya emang segitu biayanya," sahut lelaki itu sambil mengelap tangan menggunakan lap. Naina mendesah berat. Apa yang bisa dia berikan pada lelaki itu untuk jaminan? "Saya cuma bawa tiga ratus ribu, gimana, Pak?" tanya Naina, setengah menyesal karena telah meminjam sepeda motor Rina. Jika saja dia naik angkot tadi, pasti sudah sampai di rumah kost sekarang dan tidak harus menanggung biaya besar untuk sepeda motor yang baru sekali dia pakai. Tidak menyalahkan Rina karena gadis itu berniat baik meminjamkan sepeda motornya untuk Naina. "Nggak bisa. Biayanya enam ratus lima puluh ribu ya bayarnya segitu! Saya nggak terima KTP atau sejenisnya. Uang tunai atau sepeda motor ini kamu tinggal!" kecam pria itu, tampak kesal. "Aduh," desah Naina. Jika dia tinggal di bengkel, bagaimana Rina berangkat besok? Pikiran Naina tidak karuan. Padahal, uang di dompetnya juga akan dia gunakan untuk membeli bahan minuman besok. Naina menatap ke seberang. Mobil Brian masih terparkir di sana. Dia menggigit bibir. Akankah dia menurunkan harga dirinya serendah-rendahnya untuk meminjam uang pria songong itu? "Gimana? Saya mau tutup!" Naina tersentak mendengar ucapan lelaki paruh baya. Itu membuat desakan agar dia segera menemui Brian. Pasti orang kaya punya enam lembar uang merah di dompetnya, kan? Masa nggak? "Tunggu sebentar, Pak. Saya usahakan. Jangan ditutup dulu. Lagian tulisannya di depan itu Bengkel 24 jam?" pinta Naina. Pemilik bengkel hanya meringis. Taktiknya mengusir Naina agar segera membayar malah menjadi boomerang karena memang dia memasang tulisan di depan. Naina bergegas keluar dari bengkel. Menengok ke kanan dan kiri lalu menyeberang. Tekadnya bulat untuk merendahkan harga dirinya. Sekarang, Naina berdiri di samping kaca mobil Brian. Menyiapkan hati agar tidak meleyot dengan tanggapan Brian. Lagian, kenapa juga lelaki itu menunggunya? "Pak," panggil Naina, mengetuk kaca mobil Brian. Kaca mobil berwarna hitam itu turun perlahan, berganti dengan wajah menyebalkan yang menatap Naina dengan terbaca 'Kamu pasti membutuhkan bantuanku, cium dulu kakiku!'. "Ada apa?" tanya Brian. Ingin rasanya Naina bertanya pada pria itu, apa yang dia lakukan di situ. Namun, dia merasa butuh Brian sekarang. "Pak, tolong bisa pinjam uang?" tanya Naina, setelah menggumpalkan niat yang pecah barusan hanya karena pertanyaan singkat Brian. "Buat apa?" Wajah Brian tampak arogan dengan kedua alis diangkat. Udah kayak anak minta duit bapaknya buat dugem ini mah! "Buat ... bayar service sepeda motor," sahut Naina lirih. Posisi mereka masih seperti semula. Brian duduk di belakang kemudi dan Naina berdiri di samping mobilnya. "Memang, kenapa sepeda motor itu?" tanya Brian. "Kata bapaknya, overheat sampai radiatornya bocor. Jadi, harus servis radiator," terang Naina. "Berapa dia suruh bayar?" tanya Brian. "Enam ratus lima puluh ribu." Brian diam. Sementara jantung Naina tidak baik-baik saja. Dia berharap malaikat baik hati membisiki telinga Brian hingga pria itu mau membuka dompetnya untuk membantunya. Sekali saja! Perasaan Naina tidak enak. Benar saja, beberapa detik kemudian Brian tertawa terbahak-bahak. "Sudah kuduga, pemilik bengkel itu akan menyuruhmu membayar dua kali lipat dari umumnya! Kenapa kamu diam dan menuruti keinginannya? Dia itu memerasmu. Pantas kan, bengkel dia sepi? Orang-orang seperti kamu yang dia harapkan. Polos, tidak mengerti tentang motor." "Lah, kok kayak gitu?" tanya Naina. Brian tidak menjawab kekagetan Naina. Dia menutup kaca jendela mobilnya, lalu keluar dari mobil. "Ayo, aku akan bicara padanya!" ujar Brian, menyeberang jalan tanpa menunggu Naina. Naina kelabakan menyusul Brian. Dia segera berlari ketika kanan dan kiri aman buat menyeberang. Sampai di dalam, Brian membantah pemilik bengkel. "Kamu bilang servis radiator enam ratus lima puluh ribu?" Pemilik bengkel itu tampaknya agak keder juga didatangi oleh Brian. Naina pikir, mungkin sesama lelaki lebih tau tentang kerusakan motor dan biayanya ketimbang kaum wanita. "Iya, tadi banyak sekali yang harus diperbaiki. Jadi habisnya segitu," sahut pemilik bengkel. "Bohong! Radiator itu kamu ganti atau cuma kamu tambal?" sangkal Brian. "G-ganti," sahut pemilik bengkel mulai gugup. Brian berjalan ke sepeda motor Naina, seraya kedua pandangan matanya masih ke arah pemilik bengkel. Dia menggulirkan pandangannya ke sepeda motor itu, tapi kemudian si pemilik bengkel berlari ke arahnya. "Ini baru mau saya ganti, tadi saya cuma nyoba tanya istri Anda punya uang atau tidak buat biaya bayar. Kayaknya kalo dilihat dari penampilan Anda, ada biaya kan? Sebentar saya gantinya." Istri? Dahi Naina berkerut mendengarnya. Enak aja istri! Memangnya, suami istri dari mana? Andai tidak dalam situasi urgent, dia menyangkal habis perkataan pemilik bengkel itu. "Nggak perlu!" sergah Brian, menarik lengan pemilik bengkel itu agar tidak mengambilkan radiator baru. Brian mengambil dompet, lalu mengeluarkan selembar uang biru dan menempelkannya ke d**a pemilik bengkel. "Kurasa ini cukup untuk membayar lem besi dan jasamu doang. Cukup sekali ini dia memasukkan kendaraannya ke bengkel penipu milikmu!" kecam Brian melirik ke arah Naina. Sebuah peringatan agar tidak mengulangj kesalahan masuk bengkel lagi. Naina meringis dilirik oleh Brian dan melekatkan di pikirannya tentang kejadian hari ini. Naina takut jika pemilik bengkel marah, tapi ternyata tidak. Wajahnya pucat pasi dengan peringatan Brian. Brian memasukkan kembali dompetnya lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Ambil sepeda motor di bengkel jalan Haryono. Ganti radiatornya sekarang juga!" Brian menutup panggilannya seraya menatap tajam ke arah pemilik bengkel. "Sebentar lagi ada orang datang ambil sepeda motor ini. Kalo kamu tutup atau nggak layani dengan baik, maka bengkelmu akan viral beberapa jam lagi." "B-baik," sahut pemilik bengkel itu takut. Brian berjalan keluar diikuti oleh Naina dengan buru-buru karena langkah Brian memang cepat sekali. "Pak Brian? Makasih banyak, tapi itu motor bisa saya pakai sekarang, jadi nggak perlu–" "Kamu ikut saya!" Naina langsung kicep dengan perintah Brian. Dia mengangguk, berjalan memutar di depan mobil Brian dan membuka pintu mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN