Lita gadis remaja berusia 17tahun yang masih harus menyelesaikan sekolah SMA nya , meskipun sudah melangsungkan Ujian Nasional tapi ia harus menuntaskan ujian yang belum selesai karna nilai nya yg kerap kali di bawah standar .
Ia mendengus kesal saat alarm berbunyi , pukul 07.15 itu artinya ia harus segera bangkit dari tempat tidur nya dan beranjak mandi untuk berangkat sekolah. Lita sering sekali begadang dan menghabiskan waktu malam nya bersama teman-teman nya, orang tua nya sering kali menasehati nya agar jangan pulang terlalu malam, karena tetangga pernah melihat nya pulang malam dan jadi bahan perbincangan di komplek rumah nya, tapi nama nya Lita tidak peduli dengan hal itu, yang ada di pikiran nya selagi ia tidak merugikan siapapun dengan apa yang ia lakukan semua akan baik-baik saja.
Hari ini Lita tidak membawa motor ke sekolah, karena motor nya harus di servise di bengkel. Bunyi klakson di depan rumah nya , pertanda jemputan sudah datang . bukan jemputan dari sekolah tapi Lita di jemput salah satu teman cowok nya , Didik nama nya. mereka berteman dari SMP , orang tua kedua nya pun berteman akrab.
Dengan santai nya didik memasuki rumah Lita , terdengar suara Alifah dari dalam "masuk dik , Lita mungkin masih mandi" . kemudian Alifah menawarkan sarapan kepada Didik , tapi karena didik sudah sarapan dengan sopan ia menolak nya "sudah Tante , Trimakasih tawaran nya"
15 menit berlalu , terlihat gadis berpakaian abu-abu putih menuruni tangga dengan rambut terurai .
"yuk berangkat" Lita menyapa didik dengan ajakan nya untuk segera berangkat
"kamu gak sarapan dulu?" tanya sang ibu pada anak gadis nya . "enggak, nanti saja di kantin sekolah" ucap Lita seraya pergi meninggalkan rumah di ikuti didik dari belakang . Didik berpamitan pada Alifah "berangkat dulu Tante , assalamualaikum" . "wa'alaikum salam" sahut Alifah dari meja makan.
Lita memang anak tomboy, hampir semua teman nya laki-laki. tak heran saat di kantin ia lebih memilih satu meja dengan teman lelaki nya, teman perempuan nya pun tak heran karna sudah biasa melihat pemandangan seperti itu .
Untuk masalah berpacaran jangan di tanya, gadis tomboy itu tidak pernah berpacaran sejak masa puber nya. Ia selalu menghindar setiap ada laki-laki menyatakan cinta padanya. Ia lebih memilih menjauhi laki-laki itu daripada di hadapkan dengan perasaan yang sudah jelas dia tidak menyukai nya. Banyak teman lelaki yang suka dengan Lita, tapi tidak dengan Lita, dia tidak membuka hati untuk siapa pun begitu pula dengan didik teman nya sejak SMP yang sudah lama menaruh hati padanya.
....
Di kelas ia pun memilih tempat duduk di samping didik, Didik terkadang merasa dirinya beruntung karena Lita memilih lebih dekat dengan nya daripada pria lain tapi di satu sisi Didik tidak berani lagi untuk menunjukkan perasaan nya, karna sudah pasti Lita akan menjauhi nya kalau sampai dia mengungkapkan apa isi hati nya lagi. Ya, Didik sudah pernah menyatakan perasaan nya.
...
Bel istirahat berbunyi, "yuk ke kantin" didik mengajak Lita, tapi Lita enggan untuk kesana karena dirinya mengantuk efek tidur jam 3 Dini Hari. "enggak dulu Deh, kamu aja yang kesana aku ngantuk mau tidur bentar" jawab nya. Akhirnya Didik bersama teman lain nya meninggalkan Lita seorang diri di kelas nya.
...
Di dalam kelas seorang diri ia menidurkan kepala nya di atas tangan nya yang melipat ke meja, Lita sedang berpikir tentang kejadian yang kemaren sore ia alami saat pulang sekolah, motor nya mogok dan di dorong oleh seorang pria yang dia tidak mengenal itu siapa. Tapi pria itu mengenai Lita, ah sudahlah ngapain juga aku pikirin, gumam Lita dalam hati.
Tak lama didik kembali ke kelas membawa sebotol air mineral, ia memberikan minuman itu pada lita,
"nih kamu minum",
"ah iya, thanks", Lita menerima air mineral itu dan meminum nya.
"motor kamu sudah bisa di ambil belum?"
"sudah, nanti pulang sekolah antar aku ke bengkel ya", pinta Lita pada didik, Didik memang selalu standby kalau berurusan dengan Lita, ia tidak ingin membuat kecewa gadis pujaan hati nya.
...
Jam pulang sekolah pun berbunyi, siswa-siswi berhamburan keluar kelas, hari ini terakhir ia mengikuti pelajaran seni, karena setelah ini sudah tidak ada pelajaran lagi, lusa akan ada pertandingan persahabatan antar sekolah, Lita yang jago bermain basket pun di minta untuk menjadi kapten di tim nya. Dengan senang hati Lita menerima tawaran dari guru olahraga nya.
Sampai lah Lita dan Didik di bengkel tempat motor Lita di servis,
"bang sudah selesai belum motor aku?"
"eh Lita, sudah. ini coba dulu", Aryo tekhnisi bengkel itu sudah kenal akrab dengan Lita karena ia sering membawa motor nya di situ untuk di servise, Aryo memberikan kunci motor pada lita, dan Lita menerima nya.
"sudah enak bang, semoga gak mogok lagi ya",
"mogok juga gak apa-apa kalau yang dorong cakep kayak kemaren", kalimat Aryo di barengi dengan tawa nya, Didik terheran, emang siapa yang dorong motor Lita kemaren? Tanya Didik dalam hati.
"aku gak kenal dia siapa", jawab Lita dengan wajah datar nya,
"kenapa gak kenalan?", lagi-lagi Aryo meledek nya, Lita hanya nyengir kuda menanggapi nya.
Sebelum meninggalkan bengkel Didik menyempatkan bertanya pada Lita,
"memang nya siapa yang dorong kemaren?"
"aku gak kenal sama dia, tapi dia tau rumah ku", Lita menjawab nya sembari memanasi mesin motor nya.
"yaudah, balik yuk", Lita mengajak Didik untuk meninggalkan bengkel.
"nanti jam 4 ada latihan basket, jangan lupa Lita", Didik mengingatkan Lita.
"Asiap", kedua nya pun meninggalkan bengkel bersama.
Lita sengaja pulang terlebih dahulu, ia merasa perut nya lapar, dan harus berganti pakaian terlebih dahulu, lagi pula latihan basket jadwal nya sore, dia berpikir untuk apa menunggu lama di sekolah.
Di perjalanan Didik masih penasaran siapa pria yang menolong lita saat itu, kenapa pria itu mengenal Lita sedangkan Lita tidak mengenal nya. Didik dan Lita berteman lama, jadi Didik tau banyak tentang teman-teman lita, ia merasakan cemburu saat mendengar bang Aryo mengatakan bahwa yang menolong nya seorang pria tampan.
siapa pria itu?, Didik tidak ingin Lita dekat dengan pria manapun melainkan dirinya, padahal Lita jelas sudah pernah menolak nya, beruntung Lita masih ingin berteman dengan nya, karena kebanyakan pria yang sudah mengatakan cinta padanya selalu ia hindari.