"Udah, dong, natap guenya. Ntar kalau gue semakin suka dan jatuh cinta sama lo gimana?" • • • "Papa?" Tiba-tiba setetes air mata jatuh dengan cepat dari ujung mata Nasya bersamaan dengan senyumnya. "Papa?" ucap orang itu dengan kernyitan, heran. Namun senyum Nasya pudar selepas ia mengedipkan matanya sekali lagi. Ada rasa kecewa yang terselundup dalam benaknya. Entah bagaimana bisa apa yang Nasya lihat tadi mendadak berubah. Sosok yang di depan matanya itu tahu-tahu saja berganti dalam sekejap mata. Seseorang yang memberikan es krim vanilla itu buka papanya. Melainkan Adnan. Buru-buru gadis itu mengelap air matanya, ketika dia menyadari kalau semua tidak lebih dari sekedar halusinasinya semata. "Ini buat lo," Adnan menyodorkan es krim mangkuk itu sedikit lebih maju, sampai Nasya meng

