8. Bangkai Tikus

1391 Kata
"Gimana kalau kita cari tahu siapa peneror-nya?" • • • Pagi itu, semua anak-anak kelas X ― Delapan sudah membariskan diri mereka masing-masing dengan rapi di tengah lapangan olahraga Lawden Hall, bersiap untuk melakukan pemanasan. Namun sebelum itu, mereka masih harus menunggu aba-aba dari Pak Troy dulu selaku guru olahraga Lawden Hall. Lukas berbaris sebelahan dengan Adnan. Di belakang mereka, ada Yudan yang berbaris sebelahan dengan Daniel. Di belakang Yudan, barulah ada Ethan. Entah kenapa Ethan selalu merasa lebih baik jika tidak berbaris bersebelahan dengan teman-teman sekamarnya yang suka mengganggu itu. "Ngaca mulu lo, Kas!" protes Yudan yang mulai jengah melihat Lukas tidak bosan-bosannya menatap wajahnya sendiri pada pantulan cermin kecil yang selalu dia kantungi ke mana-mana. "Biarinlah, kaca-kaca gue. Kagak ngutang sama lo!" Selain kelahi, Lukas juga memiliki hobi lain yang berbeda dari cowok-cowok brandal biasanya. Yaitu bercermin sambil tersenyum-senyum sendiri di hadapan cermin. Cowok itu memang terlalu sadar pesona. Memiliki kepercayaan diri yang meluber ke mana-mana. Lukas bercermin tanpa kenal waktu dan tempat. Dimana pun dan kapan pun. Bahkan terkadang, dia bisa saja menghabiskan waktu sampai dua puluh menit lamanya hanya dengan bercermin. "Bukan apa-apa, gue kasian sama kacanya, ntar retak kalau kelamaan liat muka lo." Tiba-tiba Daniel ikut menceletuk. "Nah, itu masalahnya! Baru gue pengen ngomong," seru Yudan menyetujui pernyataan Daniel barusan. "Ck!" Tidak terima dengan protes Yudan juga ucapan Daniel, seketika Lukas berdecak. Menurunkan cerminnya, memutar tubuhnya menghadap penuh pada dua temannya seraya melempar tatapan dongkol. "Lo berdua kalau emang ngiri sama kegantengan gue bilang aja!" "Idih, ini anak waktu masih dalem perut emaknya ngidam apa, sih?" tanya Daniel sewot, pada Yudan dengan dagu menggedik ke arah Lukas. "Tau, muka kayak taplak meja aja belagu!" "Sembarangan! Mana ada taplak meja yang ganteng kayak gue?" Lukas bertanya seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan kelima jemarinya. Menebarkan senyuman yang begitu percaya diri. Menyaksikan Lukas, Yudan, dan Daniel saling sahut-sahutan, seperti biasa Ethan di belakang hanya bisa menggelengkan-gelengkan kepala, tidak habis pikir dengan tingkah ketiga temannya yang terlihat persis seperti kumpulan bocah berumur lima tahun itu. Namun sepertinya, kelakuan mereka bertiga belum seberapa, dibanding Adnan yang ternyata lebih parah. Sekarang Ethan lihat anak itu sedang senyum-senyum sendiri dengan pandangan mata menerawang jauh. Tidak berbeda sama sekali dengan pasien-pasien rumah sakit jiwa. Iya, Adnan sampai gila seperti ini karena dia terlalu bahagia. Senyumnya tidak akan pernah bisa berhenti karena bayang-bayang Nasya ketika di ruang musik waktu itu terus saja memutar berulang-ulang dalam ingatannya, karena suara lembut Nasya yang pertama kali dia dengar terus saja mendengung di telinganya, karena tatapan mata emerald Nasya yang datar namun menghangatkan itu selalu saja berseri di kepalanya. Ah, jika seperti ini terus, yang ada Adnan bisa benar-benar gila! "Sudah bisa tenang semuanya?" Suara Pak Troy yang baru saja datang seketika mampu membungkam kegaduhan yang tercipta dari segala arah. Bahkan Lukas, Yudan, dan Daniel yang semula ribut akan hal tidak penting itu pun langsung diam dan berbaris rapi. "Baik, anak-anak, sebelum kita mulai pemanasan, biar Bapak absen dulu, yo," sambung beliau tanpa menghilangkan ketebalan logat Jawa-nya. Pria pemilik nama lengkap Troy Soedibyo itu merupakan salah satu guru olahraga di Lawden Hall. Perawakannya tidak beda jauh dengan Agung Herkules. Namun tetap lebih tampan Pak Troy. Badannya tinggi, besar, berotot. Kulitnya eksotis, mungkin karena beliau sering mendapat jam olahraga di tengah hari bolong. Cuma bedanya, jika Agung Herkules memiliki rambut yang gondrong menutupi telinga, sedangkan Pak Troy memiliki potongan rambut yang rapi sesuai dengan standarisasi guru-guru di Lawden Hall. "Adnan," ujar Pak Troy memanggil nama Adnan yang tertera pada nomor absen pertama. "Adnan Geo Pratama?" ulang Pak Troy dengan menyebutkan nama lengkap Adnan. Berhubung Adnan masih terbilang siswa baru, jadi belum ada yang mengenali dirinya. Semua saling tengok kanan-kiri bertanya-tanya siapa seseorang yang memiliki nama asing itu. Kecuali empat teman sekamarnya. Dengan kompakan leher mereka berputar mengarah pada Adnan yang masih saja senyum-senyum sendiri akan khayalan indahnya. Lukas, Yudan, dan Daniel seketika saling melempar tatapan penuh tanya. Sepertinya hanya Ethan yang sudah tidak asing dengan pemandangan ini. "Nan. Adnan," Yudan dan Lukas berdesis bergantian. "Adnan," "Woi!" Setelah mendapat bentakan tepat di telinganya sekaligus tepukan keras nan nyaring bersumber dari telapak tangan Daniel, seketika bayang-bayang kebahagiaan Adnan sirna dan langsung berganti kenyerian yang berdenyut pada bahunya. "Apaan, sih?! Sakit, bego!" "Itu, nama lo dipanggil! Gue hajar lo lama-lama!" Lagi-lagi sikap tempramen Daniel nyaris saja terpancing. "Sama siapa? Siapa, sih, yang manggil-manggil gue? Mau ngapain? Ngajak ribut?" tanya Adnan bertubi-tubi dengan gaya yang sok jagoan. "Ganggu aja!" Matanya berkelana, mencoba menebak-nebak pelaku yang telah mengganggunya. Tatapannya seolah menuduh siapapun yang berada di sekitarnya. Sementara keempat teman sekamarnya hanya bisa menatapnya miris. Mulut mereka seolah ter-lem rapat sampai-sampai tidak mampu untuk memberitahu Adnan yang sebenarnya. Karena seberandal-berandalnya mereka, sejago-jagonya mereka berkelahi, tetap saja badan mereka yang kurus tinggi tidak akan pernah menang melawan Pak Troy. Terlebih saat melihat otot-otot Pak Troy yang nampak jelas dua kali lebih besar dibanding milik mereka, seketika mampu membuat mereka jiper dalam sedetik. "Ekhem," Deham berat Pak Troy seakan mampu menjawab semua deretan pertanyaan Adnan barusan. Melihat sosok Pak Troy yang sedang berdiri tegap menatap tajam ke arahnya, seketika membuat Adnan terkejut sampai sepasang matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Baru kali ini Adnan melihat seseorang dengan otot sebesar itu. Adnan pikir, postur tubuh seperti itu hanya bisa ia lihat pada kartun kesukaan abangnya waktu kecil; Popaye si pemakan bayam. "Adnan Geo Pratama, hadir tidak?" Nada bicaranya terdengar sedang bertanya, namun ketebalan juga ketegasan suaranya membuat Adnan merasa kalau guru olahraganya itu sedang memarahinya secara tidak langsung. Sehingga membuat Adnan takut-takut untuk menjawabnya. "Ha... hadir, Pak." Dengan gerakan patah-patah, Adnan mengangkat tangannya. "Hm, Andrian," lanjut Pak Troy mengabsen murid-murid yang lain. "Pak Troy! Pak, help me please!" Belum habis Pak Troy mengabsen para siswanya, tiba-tiba suara Madam Loly berhasil menginterupsinya. Dari kejauhan ia melihat wanita mantan model itu berjalan setengah berlari menghampirinya. Sampai saat wanita itu telah berdiri di sebelahnya, Pak Troy mampu mendengar jelas napasnya terengah-engah. "Ada apa, Madam?" tanya Pak Troy yang keheranan dibuatnya. "Di ruangan saya ada bangkai tikus!" "Maksudnya di Ruang Kesiswaan?" "Iya, Pak," Bukan cuma Pak Troy saja yang terkejut mendegarnya, siswa-siswanya pun juga ikut terkejut. Lebih-lebih Adnan dan teman-teman sekamarnya. Hal seperti ini cukup sulit untuk bisa dipercayai. Rasanya sangat mustahil jika Lawden Hall kemasukan tikus. Karena semua orang tahu betul kalau Lawden Hall sangat amat mementingkan kebersihan. Jangankan tikus, semut saja rasanya tidak mungkin! Untuk memastikan lebih jelasnya, Pak Troy dengan cepat bergegas bersama Madam Loly menuju Ruang Kesiswaan. "Boys, kalian di sini saja, jangan ke mana-mana." Anak-anak mengangguk. Dalam sekejap mereka langsung membentuk kelompok masing-masing menggosipkan kejadian-kejadian aneh yang menimpa Lawden Hall sejak kemarin. Adnan, Lukas, Daniel, Yudan, dan Ethan pun sama. Kelima-limanya saling melempar tatap. "Menurut kalian ini aneh gak?" Pertanyaan Adnan sesaat membuat keempat teman-teman sekamarnya berpikir. Tentunya, tanpa perlu mereka menjawab, sejak kejadian pisau berdarah itu sampai sekarang ditemukannnya bangkai tikus sudah tidak bisa dielakkan lagi kalau ini sangat aneh. "Kayaknya baru sekarang ada kejadian kayak gini di Lawden. Abang gue sekolah di sini dari SMP sampe SMA aman-aman aja," papar Daniel. "There's something wrong in this asrama," pikir Lukas. "Lo ngomong apaan, sih? Pake bahasa Indonesia yang bener aja gak bisa emang? Gak usah sok Inggris." Yudan memang satu-satunya orang yang paling kesal kalau Lukas sudah berbicara full english tanpa campuran bahasa Indonesia. Pasalnya hal tersebut jadi membuat dirinya tidak mengerti apa yang Lukas bicarakan. "Halah, lo bego, sih, jadi gak ngerti!" "Kalian percaya gak sama omongan gue yang kemarin?" Ucapan tidak penting Lukas seketika langsung disela oleh Adnan yang ternyata masih memikirkan kejadian kemarin. Lukas mencoba untuk mengingat-ngingat, meskipun gagal. "Omongan yang mana?" "Teror, maksud lo?" Daniel bertanya lagi untuk memastikan bahwa omongan yang Adnan maksud itu tentang dugaannya kalau semua ini adalah teror. "Nah, itu." Adnan membetulkan ucapan Daniel. "Oh, yang itu." Seketika Lukas mengingatnya. Yudan berpikir sejenak. "Tapi bisa jadi bener juga apa kata lo, Nan." "Menurut gue ini bukan 'bisa jadi' lagi, tapi emang 'beneran' teror!" ujar Adnan yakin. "Gimana kalau kita cari tahu siapa peneror-nya? Gue penasaran, tujuan dia neror itu apa." "Gue gak mau ikutan." Dengan cepat Ethan menolak. "Kenapa?" Seketika Adnan memberi tatapan curiga pada Ethan. Langkahnya perlahan mendekati Ethan. "Jangan-jangan―" === To be continue... A/n: karena aku lg males up, jadi biar bisa membangkitkan semangat up aku, aku akan up setelah 500 reads, 500 votes, 1k komentar. makasii hehe:) bonus foto Adnan dan Lukas. Adnan yg pake baju kotak2. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN