9. Pengecut

1535 Kata
Jangankan elo, guru aja kami gak takut! • • • "Kenapa?" Seketika Adnan memberi tatapan curiganya pada Ethan, diiringi dengan langkah perlahan mendekati Ethan. "Jangan-jangan―" "Anjing!" Di saat orang-orang sedang serius menyaksikan Adnan yang sedang mencecar Ethan, Daniel mengumpat spontan―memotong ucapan Adnan―ketika tiba-tiba saja sebuah bola melayang menghantam kepalanya. Sambil mengusap bagian belakang kepalanya, Daniel mengedarkan pandangannya ke segala penjuru lapangan. Mencari, kira-kira siapa yang telah melemparkan bola ke kepalanya. "SIAPA YANG NENDANG BOLA KE KEPALA GUE?!!" Bentakan Daniel dengan raut wajahnya yang terlihat murka, dalam sedetik mampu membuat semua yang berada di lapangan menengok ke arahnya, menatapnya ketakutan. Bahkan beberapa ada yang tubuhnya sampai gemetar hebat. Sehingga tak ada satu pun yang berani menjawab, kecuali satu. "Gue." Emosi Daniel mulai memuncak tidak terkendalikan ketika tak lama Raka—satu-satunya orang yang menyahut sentakannya itu—menghampiri bola tersebut, kemudian mengambilnya dengan santai, tanpa minta maaf ataupun merasa bersalah pada Daniel. "Perasaan gue gak enak, nih!" cemas Lukas, saat ia melihat gigi Daniel mulai bergemeletuk rapat, dengan mata merah menatap nanar punggung berpostur tegap milik Raka. Pasalnya dia tahu dan pernah melihat seberapa parahnya Daniel jika tempramentalnya kambuh. Dan kali ini, sepertinya apa yang Raka lakukan sungguh membuat sikap tempramental Daniel tidak lagi mampu ia tahan. Tanpa menunggu lama, sebelah tangan Daniel langsung menarik bahu Raka ke belakang, hingga saat tubuh Raka berbalik menghadapnya... BUGH! Kepalan tangan kanan Daniel dengan cepat mendarat tepat di wajah Raka sampai cowok itu tersungkur di atas aspal lapangan. Dengan sigap, Adnan, Lukas, Ethan, dan Yudan, keempat-empaynya sebisa mungkin mengeluarkan tenaga mereka untuk melerai Daniel. "Come on! Don't be insane!" seru Lukas sambil memegangi sebelah bahu Daniel. "Ini anak gampang banget kepancing emosi, heran!" Adnan, orang yang merasa paling gemas dengan sikap tempramen Daniel pun langsung menghadang, ikut menahan bahu Daniel yang satunya lagi. Dengan emosi yang memuncak, Daniel mendorong siapapun yang mencoba untuk menghalanginya. Mengabaikan seruan Lukas, Adnan, juga yang lainnya. Kedua tangannya mencengkram kuat kerah baju Raka, lalu ia tarik ke atas sampai tubuh Raka terangkat. "Jangan mentang-mentang lo senior, lo bisa berlaku seenaknya!" BUGH! "Niel, udah! Ntar anak orang mati, masalah lagi!" Setelah mendengar ucapan Ethan yang cenderung datar, namun ada benarnya juga, barulah Daniel menghempaskan tubuh Raka. Apa yang Ethan katakan sepertinya berhasil membuat Daniel sadar. Dia tidak ingin kejadian yang menimpanya satu tahun lalu, yang menyebabkan dirinya sampai terjebak di asrama bodoh ini seperti sekarang, terulang kembali. Melihat Daniel berhenti memukulinya, terdiam dengan tatapan emosi yang masih terasa jelas, Raka justru tidak merasa puas. Sambil menempelkan ibu jarinya pada ujung bibirnya yang berdarah, cowok itu memberi seringaian pada Daniel. Membuat emosi Daniel hampir saja terpancing kembali. Untunglah keempat teman-teman sekamarnya buru-buru menahan. "Kenapa? Takut kena masalah? Tapi hobi bikin masalah!" tukas Raka dengan nada bicara meledek. "Pengecut lo semua!" Mengetahui reaksi Raka yang seperti itu malah membuat Adnan seketika melepaskan tangannya yang memegangi bahu Daniel, begitupun dengan Lukas, Yudan, dan Ethan. Mereka benci sekali mendengar kata 'pengecut'. Apalagi ketika sebutan itu ditujukan pada mereka. Mereka rasa, kata 'lo semua' yang mendampingi sebutan itu, cukup untuk menjelaskan bahwa Raka memang menujukan kata itu pada mereka berlima. "Lo bilang apa barusan?" Dengan lancang Adnan mendorong d**a Raka hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Langkah demi langkah kaki mereka berlima bergerak maju mencecar langkah Raka yang tidak bisa lagi bergerak mundur. "Mau lari ke mana lagi lo?" tanya Lukas santai. Yudan tertawa bengis melihat ekspresi Raka yang terlihat sangat jelas kalau dia sedang ketakutan. "Jangan mentang-mentang lo senior, lo pikir kami takut?!" tantangnya. "Jangankan elo, guru aja kami gak takut!" Bahkan Ethan yang biasanya selalu paling bisa menahan amarah pun juga ikut kebawa emosi jika dibilang pengecut. "Sekarang gue tanya, sebenernya siapa yang pengecut? Kami, atau lo?" tanyanya dengan alis terangkat sebelah. Selanjutnya Adnan langsung menendang perut Raka hingga keluar semburat darah segar dari mulut Raka. Sementara tubuhnya terhempas mementok tembok Lawden Hall. "Berani-beraninya lo bilang kami pengecut? Hah?!!!" Lima pasang mata sudah menyorot tajam, menusuk sepasang mata milik Raka. Tangan mereka yang mengepal kuat rasanya sudah gatal tidak tahan ingin menghajar Rakas habis-habisan. Terutama Daniel. "Mati lo!" Sebelah tangan Daniel sudah mencengkram kuat kerah baju Raka, dan tangan sebelahnya lagi yang mengepal kuat sudah terangkat ke udara. Bersiap untuk membumi hanguskan seniornya itu, bersama teman-teman sekamarnya yang lain. Namun pergerakannya terhambat ketika tiba-tiba seseorang bertangan besar, menahan tangannya. "Sok jagoan sekali kalian!" Entah datangnya dari mana dan sejak kapan, tau-tahu saja Pak Hanung sudah berdiri di belakang Daniel. "Saya akan laporkan hal ini pada wali kelas kalian." Merasa mendapat pembelaan dari Pak Hanung, seketika Raka menyunggingkan senyuman puas pada kelimanya. Ah, kalau saja Pak Hanung tidak datang, mungkin Raka sudah tinggal nama karena dihabisi oleh lima anak itu. Berhubung ruang kesiswaan sedang tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya karena kasus bangkai itu, alhasil mereka berlima diseret ke ruang guru, menghadap wali kelas mereka sendiri, Bu Hanny. "Kalian ini, sudah tahu asrama kita sedang tertimpa masalah teror. Bisa-bisanya membuat masalah!" Bu Hanny menatap satu persatu anak-anak didiknya yang berdiri di depan mejanya dengan kepala menunduk, kecuali Adnan. Matanya justru dengan tegas menilik dua mata Bu Hanny menembus kacamatanya. "Kamu juga Adnan, baru tiga hari kamu berada di sini. Beraninya kamu berbuat ulah!" Semua tidak ada yang berani bersuara. Hingga akhirnya, Adnan mulai mengutarakan kejanggalan yang dia rasakan di asrama ini. "Saya aneh sama asrama ini. Kalau di sekolah saya, tiap ada yang berantem, pasti semua pihak dipanggil ke ruang BK. Tapi di sini kenapa kami doang yang dipanggil ke ruangan Ibu? Kenapa Raka nggak? Ibu nggak tau kan, kalau jelas-jelas dia duluan yang mulai. Sengaja mancing emosi kami." "Itu tidak mungkin. Tidak mungkin Raka yang memulai duluan." "Gimana bisa Ibu bilang nggak mungkin? Ibu aja nggak liat," Adnan menimpali, tidak mau kalah. Bu Hanny memijat keningnya, pusing. "Ibu tahu Raka seperti apa. Dia tidak seperti kalian yang sukanya mencari keributan. Ibu juga tahu kalau kamu, Adnan, di sekolah sebelumnya kamu juga biang onar, bukan? Pernah tertangkap polisi karena terlibat tawuran antar sekolah?" Ditembak seperti itu, Adnan sempat terdiam beberapa detik. Tapi, tak lama dia bersuara lagi, "Saya juga bingung, kenapa asrama sebesar ini gak punya CCTV? Seharusnya, dengan adanya CCTV kita bisa buktikan siapa yang sebenernya salah." "Jangan sok tau kamu. Kita ada CCTV di dalam lift," elak Bu Hanny. Tanpa mau kalah, Adnan menyahut lagi, "Tapi kejahatan gak cuma di dalam lift, Bu. Kajahatan bisa terjadi di manapun." Empat yang lainnya hanya terdiam, lantaran mereka sama sekali tidak menyadari apa yang Adnan sadari. Bahkan mereka baru tersadar ketika Adnan bicara barusan. Mereka berempat memang tidak sepeka Adnan. Malah lebih cenderung tak acuh terhadap sekelilingnya. Apalagi Ethan. Bahkan ketika melihat Madam Loly terpeleset di depannya, Ethan hanya melewatinya saja. Tidak sedikit pun terbesit niatan untuk membantu berdiri. "Ibu nggak lagi mencoba buat melindungi Raka, kan?" Adnan bertanya dengan menunjukkan raut wajah yang tidak mengenakan bagi Bu Hanny. "Beraninya kamu bicara seperti itu!" "Maaf, Bu, saya cuma tanya. Kalau Ibu nggak merasa, harusnya Ibu nggak perlu marah." "Ish," Bu Hanny berdesis menahan kekesalannya pada Adnan. Dengan gayanya yang kelewat tengil, anak itu memang paling bisa jika membuat para orang tua emosi. Termasuk Bu Hanny. "Sebagai hukumannya, kalian harus memotong rumput di halaman belakang asrama, sampai terlihat rapi." "Kemarin disuruh bersihin toilet, kemarinnya lagi disuruh bersihin gudang, kemarin-kemarinnya lagi disuruh beresin ruang makan selama satu minggu. Sekarang, disuruh potongin rumput. Tau begini, mending gue kerja jadi tukang bersih-bersih daripada jadi murid!" Daniel mengoceh kesal, sambil terus mengguntingi rumput-rumput di hadapannya yang mulai meninggi. "Iya, ketahuan kalau jadi tukang bersih-bersih dapet duit. Lah ini? Dapet capek doang!" keluh Yudan. "Aturan jam segini gue bisa mabar!" Si gamers yang satu itu memang tidak akan rela jika waktu bermain gamesnya yang terselubung, dipakai untuk melakukan hal lain. Apalagi dipakai hanya untuk memotongi rumput Lawden Hall. "Ck!" Dengan perasaan kesal bercampur lelah, Adnan melempar gunting rumput besar di tangannya ke sembarang arah. Dia kesal karena dia merasa adanya ketidakadilan di asrama ini. Lelah karena daritadi rumput-rumput itu tidak ada habisnya. "Ini asrama atau tempat penyiksaan, sih!" "Ini semua gara-gara si Raka. Awas aja, tuh, anak, gue bakal bikin perhitungan sama dia!" Daniel yang sepertinya masih memiliki dendam dengan Raka, emosinya lebih memuncak dibanding yang lain. "Ngeluh mulu, kapan selesainya, ini hukuman! Lagi juga, lo pada kan tau sendiri, gimana sikap guru-guru ke Raka. Percuma mau kita protes kayak gimana juga, mereka akan tetep beranggapan kita yang salah. Kayak si Adnan tadi, emangnya Bu Hanny peduli? Enggak, kan? Jadi mending kalian berhenti, deh, lakuin hal yang sia-sia." Ethan yang memiliki pola pikir logis dan realistis di antara mereka berlima, merasa tidak ada lagi hal yang lebih baik yang bisa mereka lakukan sekarang selain diam dan menjalankan hukuman sampai selesai. Karena mau seberapa keras pun mereka mencoba untuk membela diri, guru-guru akan tetap percaya hanya pada Raka. Sudah seperti hukum alam yang menyatakan bahwa segala yang Raka katakan selalu benar, dan tak bisa terbantahkan. Di saat Daniel, Yudan, Adnan, dan Ethan sedang berdebat, mengeluh karena muak akan hukuman yang mereka terima, hanya Lukas satu-satunya orang nampak sangat dengan senang hati menjalankan hukuman tersebut. Yudan selaku orang pertama yang menyadari tingkah aneh Lukas, seketika menyikut Daniel dan Ethan, menunjuk Lukas dengan dagunya yang kemudian Daniel menyikut Adnan. "Sejak kapan itu anak gila?" tanya Adnan. === To be continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN