3. Lawden Hall

1189 Kata
Entah kenapa Adnan yakin sekali, sekolah asrama ini akan menjadi penjara baginya. • • • Decitan rem mobil yang dikendarai supir pribadi Oma Titiek terdengar jelas tepat di depan sebuah bangunan yang sangat besar dengan halaman yang luas. Besarnya nyaris sama seperti istana raja. Di atas gerbang besarnya tertulis dengan ukiran beton yang sangat jelas "LAWDEN HALL". "Ini sekolahnya, Oma?" Raihan yang ikut mengantar adiknya, seketika bertanya sambil menatap 'WAH' bangunan artistik dengan nuansa asri yang berdiri kokoh di depan matanya. "Iya. Oma baca di internet, katanya Lawden Hall ini salah satu sekolah asrama terbaik. Lulusan sini kebanyakan orang-orang cerdas dan terkemuka. Makanya Oma daftarkan Adnan di sini." "Keren banget Oma! Kayak istana!" seru Raihan, terpukau. "Dari luar doang keliatannya kayak istana, dalemnya neraka!" Dari raut wajah Adnan terlihat jelas kalau sebetulnya ia tidak suka dengan putusan ini. Ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti selama dua setengah tahun ke depan? Ia benar-benar tidak menyangka kalau masa indah SMA-nya akan ia habiskan dengan cara yang pastinya sangat membosankan. Raihan terkekeh. "Udah, masuk sana, turun. Masuk ke sekolah plus tempat tinggal baru lo." "Eh, tunggu!" Baru juga Adnan hendak membuka pintu mobil, tahu-tahu Oma Titiek menahannya. "Ini kartu asrama kamu. Untung Oma gak lupa. Kalau Oma lupa, kamu gak akan bisa masuk." Dengan malas-malasan Adnan mengambil sekeping ID Card yang disodorkan omanya. Lalu turun dari mobil, kemudian mengeluarkan barang-barangnya yang sudah ia kemas ke dalam koper besar. "Sekolah lo yang bener, Oma udah bayar mahal buat nyekolahin lo di sini." "Gue gak minta sekolah di tempat mahal," tanggap Adnan ketus sebelum akhirnya ia menutup pintu mobil dengan sekali banting. Lalu berjalan begitu saja bersama kopernya ke dalam bangunan Lawden Hall. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Dik?" Tiba-tiba seorang pria berbadan tegap yang mengenakan seragam security itu menghampiri Adnan yang berjalan seperti orang linglung saat memasuki area Lawden Hall. "Saya siswa baru di asrama ini, Pak." "Maaf, boleh lihat ID Card-nya?" ucap pria itu dengan sangat sopan pada Adnan. "ID Card?" Adnan sempat bingung beberapa detik. Namun tak lama ia ingat sesuatu yang diberikan Oma tadi. "Oh, bentar, Pak." Ia merogoh saku celana jeans-nya. Kemudian menyodorkan apa yang diminta Pak Security. Pria yang memiliki d**a bidang, dengan name tag Surapto yang menempel di seragamnya itu mengambil ID Card Adnan. Melihatnya sebentar, lalu ia serahkan lagi pada pemiliknya. "Kalau gitu silakan masuk, Dik." "Makasih, Pak." Adnan tersenyum dengan anggukkan samar. Adnan berdiri diam sejenak. Memandangi ukiran pintu besar berbahan dasar marmer yang berada beberapa senti di hadapannya. Menarik napas berat. Entah kenapa Adnan yakin sekali, sekolah asrama ini akan menjadi penjara baginya. Tapi setidaknya penjara di sini lebih terpandang ketimbang ia harus benar-benar mendekam di penjara sungguhan. Seusai mempersiapkan mentalnya matang-matang, Adnan yang baru saja ingin membuka pintu tersebut, seketika menunjukkan raut wajah yang heran. Matanya sibuk mencari gagang pintu yang seharusnya berada di tengah. Tetapi ini tidak ada. Kalau begini caranya bagaimana ia bisa masuk ke dalam? Adnan menggaruk kepalanya, kebingungan. Meneliti permukaan pintu besar yang berada di hadapannya sekarang dengan seksama. "Pakai ID Card, Dik." Tiba-tiba suara Pak Surapto terdengar lagi. Saat menoleh Adnan mendapati bapak itu berjalan mendekat. "Maksudnya gimana, Pak?" "Boleh pinjam ID Card Adik lagi?" Dengan raut wajah penuh keheranan, tangan Adnan terjulur menyerahkan ID Cardnya, yang kemudian diambil oleh Pak Surapto, lalu ditempelkan pada sebuah mesin yang berada di tembok pinggir pintu sebelah kanan. Hingga tak lama kemudian, tiba-tiba saja pintu besar itu terbuka dengan sendirinya. Membuat Adnan terbengong-bengong melihatnya. "Ini ID Card Adik saya kembalikan." Suara berat milik Pak Surapto seketika mampu mengagetkan Adnan. "Eh, iya, Pak. Sekali lagi makasih, Pak," sahut Adnan seraya mengambil ID Cardnya kembali. Kaki Adnan terus melangkah masuk, namun matanya masih terus tertuju pada pintu yang baru saja ia lewati. Yang kemudian pintu tersebut tertutup lagi dengan sendirinya. "Wah, canggih amat pintunya!" Adnan berseru sembari menggeleng takjub. Siapapun yang baru menginjakkan kaki di Lawden Hall pasti akan menunjukkan reaksi yang sama seperti Adnan. Norak. Lantaran Lawden Hall itu memang sekolah asrama yang di dalamnya terdapat empat bangunan yang begitu besar. Bukan cuma bangunannya, design-nya pun menakjubkan dan unik. Halamannya juga sangat luas, dihiasi dengan tanaman-tanaman yang hijau, subur, mengindahkan mata. Ada kolam air mancur segala. Lawden Hall adalah sekolah asrama yang dikhususkan hanya untuk laki-laki mulai dari usia 13 sampai 18 tahun. Sekolah asrama bergengsi tertua di Indonesia, yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Siapapun yang lulus dari Lawden Hall akan mudah mendapat universitas terbaik di manapun nantinya. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Adnan berjalan seperti orang kebingunan menelusuri bagian dalam Lawden Hall yang sangat luas dan berkelok itu. "Ini ruang gurunya di mana, sih, elah!" rutuk Adnan kesal, sembari menggaruk kepalanya, kebingungan. Ia ingin bertanya, namun ia tidak menemukan seorangpun di dalamnya. "Who are you?" Adnan menoleh. Ia mendapati seorang wanita berambut pendek rada ikal dengan warna blonde yang memiliki perawakan langsing dan tinggi. Ada balutan lipstick merah tebal pada bibirnya. Wanita itu tengah berdiri menatapnya curiga. "Maaf, Bu, nama saya Adnan, siswa baru di sini, saya lagi cari ruang guru. Kalau boleh tau ruang gurunya di sebelah mana, Bu?" Sebisa mungkin Adnan berbicara sopan pada orang itu. Meskipun sebenarnya dia jijik juga dengan gaya bicaranya barusan. Batinnya terus mengumpat saking jijiknya. "Ba-Bu-Ba-Bu, memangnya saya ibu kamu?" ucap wanita berwajah antagonis itu dengan nada sinis. "Panggil saya Madam Loly!" tambahnya seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Iya... maaf ruang gurunya di mana, Bu? Eh, maaf, maksud saya, Madam." "Ruang guru? Gedung guru dan para petinggi asrama maksud kamu?" tanya Madam Loly membetulkan. "Iya, maksud saya itu, Madam." "Kamu gak perlu ke sana. Langsung naik saja ke lantai tujuh. Cek nomor kamar kamu di ID Card. Besok, baru kamu harus mulai ikut kelas." "Ba... baik, Bu. Eh, Madam, maksud saya," ralatnya kemudian. Seketika Adnan merutuki lidahnya yang selalu saja salah menyebut nama wanita berdarah Belanda itu. "Okay, lift-nya di sebelah sana." Mata Adnan mengikuti arahan jari telunjuk Madam Loly yang lentik itu. "Baik, Madam." "Hey, boy. Wait please." Lantaran merasa terpanggil, Adnan menolehkan kepalanya pada Madam Loly. "Iya, Madam?" "Mari, akan saya antar kamu," katanya seraya berjalan duluan masuk ke dalam sebuah lift yang terbuka. Setelah berpikir sejenak, Madam Loly memutuskan jika lebih baik ia mengantar murid barunya itu sampai kamar. Karena sebenarnya itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seseorang yang diminta untuk memonitor penuh seluruh murid oleh pengelola asrama. Ting Lift berdenting. Pintu otomatis itu terbuka tepat di lantai tujuh. Adnan berjalan membuntuti Madam Loly sambil terus memegangi ID Card-nya, mencari kamarnya. Di keping kartu itu tertera Room 257. Ada banyak kamar yang telah mereka lewati. Sampai akhirnya, derap heels Madam Loly berhenti mengetuk lantai ketika mereka tepat berada di depan pintu yang terukir angka 257. Dengan menggunakan kartu aksesnya, Madam Loly berhasil membuat pintu marmer tersebut bergeser dengan sendirinya. "Nah, ini ka―" Suara Madam Loly mendadak tercekat ketika pintu telah terbuka sempurna, ia melihat empat anak muridnya tengah bersantai di dalam kamar tersebut di waktu kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. "Kalian!" Mendengar sentakan keras Madam Loly dengan ciri khas suaranya yang tidak bisa menghilangkan logat kota kelahirannya Amsterdam, Belanda, membuat ke-empat-empatnya terkesiap dan langsung bangkit berdiri dengan raut wajah tegang. === To be continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN