4. Gadis Tak Dikenal

1491 Kata
Bunuh diri gak akan menyelesaikan masalah lo! Dengan lo bunuh diri, yang ada masalah lo malah makin runyam! • • • "Nah, ini ka―" Suara Madam Loly mendadak tercekat ketika pintu telah terbuka sempurna, ia melihat empat anak muridnya tengah bersantai di dalam kamar tersebut di waktu kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. "Kalian!" Mendengar sentakan keras Madam Loly dengan ciri khas suaranya yang tidak bisa menghilangkan logat kota kelahirannya Amsterdam, Belanda, membuat ke-empat-empatnya terkesiap dan langsung bangkit berdiri dengan raut wajah tegang. Mereka adalah empat anak yang selalu menjadi incaran para guru juga para penjaga keamanan asrama. Dengan latar belakang yang hampir sama, mereka berempat akhirnya diputuskan untuk ditempatkan di kamar yang sama. Daniel Geraldine, anak semata wayang dari keluarga Geraldine. Ayahnya termasuk salah satu dalam deretan orang terkaya di dunia. Bisa sampai sekolah di Lawden Hall lantaran waktu SMP dia nyaris menghabisi nyawa teman sekelasnya sendiri. Daniel ini memang tipikal orang yang tergolong tempramental. Tidak boleh dibuat kesal sedikit, kepalan tangannya bisa langsung melayang membuat rahang patah. Selain Daniel, ada juga Lukas Nathaniel. Laki-laki asli keturunan Chinese - Bandung, namun besar di Kanada dan cukup lama tinggal di Jakarta. Membuat ia lebih suka mencampurkan Bahasa Indonesia dan Inggris, ketimbang bahasa Sunda ataupun bahasa Mandarin. Meski keluarganya tidak sekaya Daniel, akan tetapi ayahnya merupakan pengusaha sukses di bidang pertambangan. Bisa sampai disekolahkan di Lawden Hall karena orangtuanya merasa sudah sangat kuwalahan dalam mengurusnya. Kerjaan Lukas yang setiap harinya cuma balap motor liar, membuat Lukas sering kali terciduk oleh polisi. Hingga ayahnya harus mengeluarkan cek berkali-kali demi membebaskannya. Ada lagi, Yudan Sebastian. Anak bungsu dari CEO hotel bintang lima. Bisa dibilang, Yudan itu anak yang paling susah diatur sedunia. Pembangkang. Sampai orangtuanya tidak lagi menyanggupi untuk mengurusnya. Bingung, harus bagaimana lagi menangani anak semacam Yudan. Tidak pernah mau jika disuruh sekolah. Selalu menghabiskan waktunya hanya untuk bermain gadget. Karena yang ada di otaknya hanyalah games, games, dan games. Sampai mereka akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Yudan di Lawden Hall. Yang terakhir Ethan Oxa Samuel. Sebenarnya Ethan adalah yang paling pintar di antara mereka berempat. Otaknya terbilang cerdas meskipun jarang, bahkan nyaris tidak pernah belajar. Sedikit lebih normal dibanding tiga teman sekamarnya. Alasan orangtua Ethan sampai menyekolahkannya di Lawden Hall, karena ada seseorang yang mengaku bahwa anaknya telah 'dinodai' oleh Ethan. Meski nyatanya Ethan tidak pernah sedikit pun menyentuh perempuan itu. Ethan tahu sebenarnya mereka menuduhnya hanya untuk uang. Karena orang itu sama sekali tidak meminta pertanggungjawaban pada Ethan agar menikahi anak gadisnya. Dia justru malah meminta sejumlah uang dengan nominal besar pada ayahnya Ethan sebagai gantinya. Menurut pendapat dari semua guru dan para petinggi asrama, mereka berempat merupakan anak yang paling brutal sepanjang sejarah berdirinya Lawden Hall sejak tahun 1957. Mereka sering sekali membuat ulah. Berkelahi sepertinya sudah mendarah daging dalam diri mereka masing-masing. Siapapun pernah menjadi lawan mereka. Guru-guru, para petinggi asrama, pegawai yang bekerja di asrama. Kecuali satu yang sampai detik ini mereka segani. Thomas Lawden, alias pemilik asrama dan juga anak perempuannya. Melanggar aturan yang jelas-jelas sudah tertulis jelas adanya seolah hal yang biasa bagi mereka. Seperti sekarang, di saat siswa-siswa lain tengah berada di kelas, belajar. Keempat anak itu malah bersantai-santai di dalam kamar. Bahkan Madam Loly selaku guru kesiswaan merasa sudah bosan menghadapi mereka. Bosan karena terus-terusan menghukum orang-orang yang sama, dengan kesalahan yang sama. "Lagi-lagi kalian membolos. Apa tidak bosan dengan hukuman yang saya berikan?" Diiringi ketukan heels yang membalut kakinya, Madam Loly menghampiri empat anak tersebut. Bahkan dia sampai lupa dengan Adnan dan meninggalkannya yang masih berdiri di ambang pintu. Hingga akhirnya Adnan berinisiatif untuk masuk sendiri tanpa perlu dipersilakan. Sementara empat anak laki-laki yang kini menjadi tersangka utama hanya bisa membungkam dengan kepala menunduk. "Ada kelas apa seharusnya kalian sekarang?" tanya Madam Loly, tegas. "Komputer, Madam," ujar Daniel tanpa berani menengakkan lehernya. "Baiklah." Madam Loly menghela napas panjang. "Hukuman kali ini saya minta kalian bersihkan semua gudang yang ada di gedung A, B, C dan D. Daniel gedung A, Ethan gedung B, Yudan gedung C, dan kamu Lukas, kamu bersihkan toilet yang ada di gedung D." Tiba-tiba Lukas mengangkat kepalanya. "Come on, Madam! Tapi ini udah―" "Tidak pakai tapi!" Belum habis Lukas menyampaikan protesnya, Madam Loly sudah memotongnya terlebih dahulu. Saat berbalik badan, seketika Madam Loly baru menyadari keberadaan Adnan yang masih setia berdiri di belakangnya. Membuat ia teringat apa tujuan utamanya datang ke sini. "Oh, iya, perkenalkan ini Adnan. Teman sekamar kalian yang baru. Jangan ajari dia yang tidak-tidak. Mengerti?" "Ngerti, Madam." Mereka menjawab secara bersamaan. Madam Loly tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada Adnan. "Adnan, ranjang kamu di sebelah sana, ya. Bereskan barang-barangmu sekarang, karena besok kamu harus mulai masuk kelas. Saya mau urus mereka dulu." "Iya, Madam." Adnan menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya hingga tubuhnya sedikit terpantul. Kedua tangannya terbentang lebar. Meluruskan tulang-tulangnya yang terasa mau patah akibat kelelahan setelah membereskan barang-barangnya. Tambahan tadi ia juga harus mengangkat koper besarnya ke atas lemari agar tidak terlalu menyempitkan ruangan. Bosan, karena terus-terusan menatap langit-langit kamarnya, Adnan bangkit. Kemudian berjalan ke arah jendela kamar dengan tirai terbuka. Seketika dahinya mengerut rapat, matanya memicing demi memperjelas apa yang ia lihat sekarang. Adnan mengucek matanya, memastikan kalau dia tidak salah lihat. Ia melihat seorang perempuan berambut panjang, yang sepertinya sedang ingin menjatuhkan diri dari lantai paling atas Lawden Hall. Tapi, bukannya ini asrama laki-laki? Bagaimana bisa ada anak perempuan yang seumuran dengannya boleh masuk? Adnan memandang jauh sosok perempuan yang terlihat kecil itu. Sinar matahari yang cukup terik membuat penglihatannya jadi terbatas. Adnan makin yakin kalau perempuan itu ingin bunuh diri, ketika ia lihat perlahan-lahan kaki gadis itu menaiki tembok pembatas rooftop. Sebelum terlambat, secepat mungkin Adnan meraih ID card-nya dari atas nakas. Berlari menuju lift. Dengan gusar, Adnan terus menekan tombol lift yang tak kunjung terbuka itu. Ketika ia lihat, ternyata lift tersebut baru sampai lantai dua. Sementara sekarang dia berada di lantai tujuh. "Ck!" Tanpa pikir panjang Adnan berlari menuju tangga darurat. Karena kalau harus menunggu sampai pintu lift itu terbuka, bisa-bisa ia terlambat untuk mencegah perempuan itu bunuh diri. Dan kalau sampai itu terjadi, Adnan tidak akan bisa pernah memaafkan dirinya sendiri. Sesungguhnya Adnan sudah muak melihat orang-orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara mendahului takdir. Adnan muak karena sebelumnya, bundanya meninggal disebabkan oleh bunuh diri. Meminum obat dengan dosis berlebih, sampai akhirnya dimasukkan kerumah sakit, dan ujung-ujungnya tidak terselamatkan. Bukan cuma bundanya, bahkan abangnya pun-Raihan-sempat ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang bundanya lakukan. Meskipun baru hampir, tetap saja kelakuan Raihan juga membuat Adnan kian muak melihat siapapun yang mencoba untuk bunuh diri. Termasuk sekarang. Adnan muak ketika dia lagi-lagi harus menyaksikan seseorang-yang entah siapa namanya dia tidak tahu-sedang ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Meskipun Adnan tidak merasakan tekanan apa yang dia alami, tetapi tetap saja bunuh diri bukanlah cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Siapapun gadis itu, yang jelas Adnan harus bisa menggagalkan tekad bunuh dirinya. Adnan berlari dengan keringat bercucuran di dahinya sampai lantai teratas, yaitu lantai dua belas. Ternyata apa yang dia lihat tadi benar. Kini setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri dari dekat, Adnan bisa memastikan kalau gadis itu memang hendak mencoba bunuh diri, seperti dugaannya. Posisi gadis itu sekarang sudah berdiri tegap di atas tembok pembatas rooftop Lawden Hall. "Bunuh diri gak akan menyelesaikan masalah lo!" Buru-buru Adnan berteriak pada gadis itu demi mencegah niatannya. "Dengan lo bunuh diri, yang ada masalah lo malah makin runyam!" tambahnya lagi di sela-sela napasnya yang tesengal hebat, lantaran walau hanya lima lantai yang ia lewati, jarak dari satu lantai ke lantai lainnya cukup jauh. Gadis cantik yang tidak Adnan ketahui namanya itu menoleh, menunjukkan raut wajah yang tidak mengenakan pada Adnan. Sementara Adnan, cowok itu terkejut saat melihat wajahnya penuh luka lebam. Makin terkejut karena ketika diperhatikan dengan jelas, luka lebam pada gadis itu tidak hanya di sekitaran wajahnya saja. Tetapi juga di tangan dan kakinya. Dengan cepat Adnan melangkah, mendekat. "Muka lo kenapa?" Namun tiba-tiba Adnan melangkah mundur lagi, ketika ia melihat ke arah bawah yang ternyata rooftop-nya tinggi juga. Jauh lebih tinggi dari yang Adnan bayangkan. Walaupun brandal, Adnan juga manusia. Dia tetap memiliki sisi kelemahan dan ketakutan. Dia memiliki sesuatu yang sangat ia takuti. Ia takut ketinggian!!! Gadis itu turun dari atas tembok pembatas rooftop. Dia turun bukan karena upaya Adnan yang berhasil mencegahnya bunuh diri. Melainkan karena dia malas berinteraksi dengan orang asing yang tidak dia kenal semacam Adnan. Tanpa berucap sepatah kata pun, gadis itu berlalu melewati Adnan begitu saja. Meninggalkan sorotan mata dingin yang lurus menusuk dua bola mata Adnan. Namun hal itu justru malah membuat Adnan makin penasaran dengannya. Membuat Adnan makin yakin ingin mencari tahu lebih dalam siapa namanya. Apa yang menyebabkannya sampai ingin bunuh diri. Bagaimana bisa gadis itu memiliki luka lebam di sekujur tubuhnya. Dan kenapa, hanya dia satu-satunya gadis yang diperbolehkan berada di asrama laki-laki ini. Ah, Adnan penasaran sekali tentang gadis yang baru ia temui itu! === To be continue... A/n: yep, kalian mulai berkenalan sama empat biang onar di Lawden Hall sebelum Adnan:v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN