Bab 1. Keputusan Dendra
"Sial!" umpat Dendra dengan tubuh bergetar.
Tangannya terkepal sementara mata fokus pada layar ponsel yang tengah memperlihatkan seorang perempuan dan lelaki sedang bergumul melakukan adegan panas di atas ranjang. Dendra bukan fokus pada apa yang mereka lakukan, tapi matanya menatap kecewa pada wajah wanita yang sedang menggigit bibir dengan mata terpejam.
Ya, wanita itu Antika. Calon istri Dendra, yang akan menjadi mempelai wanita dipernikahannya hari ini.
"Ini tidak mungkin!" lirihnya dengan rasa yang bercampur aduk. Badannya tiba-tiba gemetar dan dia merasa sangatlah lemas.
Dengan berpegangan pada pegangan kursi Dendra menatap ke sekeliling, semua saudara dan sahabat sedang berbincang dan tertawa bahagia sembari menantikan kedatangan penghulu. "Ah, apa kata mereka jika mengetahui siapa istriku nanti," keluh Dendra di dalam hati.
"Antika …" desisnya geram. Matanya menatap wanita yang mengenakan kebaya putih dengan hijab yang dihiasi bunga melati dan beberapa hiasan kepala lainnya.
Antika terlihat begitu cantik dengan wajahnya yang bersemu merah, namun Dendra malah merasa muak saat melihatnya.
Dendra semakin muak ketika mendengar Pak Gunawan-papanya Dendra dan Pak Fauzan-papanya Antika yang sedang berbincang di hadapannya. Mereka terlihat sangat bahagia dan terus membicarakan beberapa rencana tentang Dendra dan Antika setelah menikah nanti.
Bukan hanya kedua lelaki itu, hari ini semua terlihat berbahagia karena bujang lapuk itu akan segera menikah. Yah, seharusnya Dendra lah yang paling bahagia karena berhasil mempersunting wanita cantik dan baik yang sangat dicintainya. Akan tetapi kebahagiaan itu lenyap seketika berganti dengan kemarahan dan rasa malu yang luar biasa.
Rasanya Dendra ingin meledak karena marah saat mengetahui siapa perempuan yang ada dalam video tadi.
Dengan tatapan jijik Dendra menoleh pada wanita yang duduk di antara ibu dan calon mertuanya, mereka tertawa bahagia sembari merapikan kebaya Antika karena sebentar lagi acara akad nikah akan segera dimulai.
"Untung saja aku belum mengucapkan ijab Kabul, kalau tidak aku akan sangat menyesal karena menikahi w************n seperti dia," ucap Dendra geram.
"Dia yang selalu tertutup dengan hijabnya dan terlihat polos ternyata menipu. Dia yang polos ternyata suka polos tanpa pakaian bersama lelaki lain. Cuih, menjijikkan!"
Dengan geram Dendra berdiri lalu dengan lantang dia berkata. "Semuanya dengarkan aku!" Semua yang ada di ruangan menoleh kepada Rendra. Suara yang tadi terdengar riuh dari canda tawa para saudara dan teman seketika jadi hening.
"Aku akan membatalkan pernikahan ini sekarang juga!" Teriak Dendra dengan d**a bergemuruh penuh amarah dan kekecewaan.
"Apa?" seru mereka serentak dan mereka semua terlihat terkejut secara bersamaan. Mereka saling tatap satu sama lain lalu berakhir menatap heran kepada Dendra yang menajamkan pandangannya pada Antika dengan penuh kebencian.
Sementara Antika hanya melongo menatap Dendra tanpa berkedip. Dihatinya benar-benar bingung melihat calon suaminya yang tiba-tiba menginginkan pernikahan mereka dibatalkan.
Entah apa sebabnya, tapi wanita tiga puluh tahun itu tahu betul kalau saat ini Dendra sedang tidak bercanda. Akan tetapi Antika juga ragu, rasanya tidak mungkin jika lelaki yang sangat dicintainya itu benar-benar akan membatalkan pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Meskipun ragu namun dia tidak berani menanyakan ada apa, pada lelaki tinggi tegap calon pengantinnya itu.
”Benar-benar memuakkan! Bisa-bisanya dia memasang wajah sok polosnya itu sehingga membuat orang menatapnya penuh simpati.” Dendra semakin geram padanya.
"Kamu apa-apaan, Dendra!" Mama Yolanda- mamanya Dendra memekik dengan mata melotot.
Pak Gunawan menarik tangan anaknya. "Kamu jangan main-main, Ndra. Pernikahan kalian sebentar lagi akan dilaksanakan, mengapa kamu malah mau membatalkan pernikahan ini?"
Dendra berusaha melepaskan cekalan Pak Gunawan di tangannya, tapi tak berhasil. Dengan menghela napas berat lelaki yang berpakaian pengantin lengkap itu berkata dengan suara bergetar dan penuh kekecewaan. "Aku tidak mau menikah dengan seorang perempuan murahan seperti dia, Pah." Dendra menunjuk Antika dengan tangan lain yang tidak dipegang oleh papanya.
"Murahan bagaimana?" tanya papa dan mama Dendra hampir bersamaan.
"Dia!" Dendra menunjuk dan menatap tajam ke arah Antika. "Dia itu ... ternyata ... Dia ... P*lacur!" Dengan bersusah payah akhirnya Dendra bisa menyelesaikan ucapannya.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya Antika tergagap. Matanya membulat sempurna dengan mulut menganga menampakkan wajah kaget karena jantungnya terasa mau copot. Dia tidak mengerti dengan tuduhan yang dimaksudkan oleh calon suaminya itu.
Lelaki tiga puluh sembilan tahun itu tersenyum sinis menatap Antika yang pucat pasi, dia yakin kalau wanita itu pasti shock karena Dendra mengetahui rahasia buruknya. Rahasia yang telah membuat bujang lapuk itu kecewa dan terluka, padahal cintanya saat ini tengah bermekaran tetapi langsung hancur diinjak-injak kenyataan buruk yang berupa video itu.
"Kamu jangan asal menuduh sembarangan!" bentak Mama Yolanda dengan suara bergetar.
"Aku tidak asal tuduh, Mah. Aku punya buktinya," teriak Dendra dengan menahan kecewa.
Dendra tau semua tidak akan percaya, maka dari itu dia memperlihatkannya video kiriman dari sahabatnya, di mana Antika sedang main kuda-kudaan dengan begitu liarnya bersama seorang lelaki.
Saat melihat video m***m Antika, semua terlihat kaget dan tak percaya. Itu terlihat dari mata yang melotot dan mulut mereka yang menganga lebar. Berkali-kali mereka menatap Antika dan layar ponsel secara bergantian. Mereka sepertinya ingin meyakinkan wanita di layar ponsel Dendra itu sungguh Antika atau bukan.
"Itu bukan aku! Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu!" pekik Antika histeris.
Air matanya yang berjatuhan membuat Dendra semakin muak melihatnya. "Ck, Dia pikir dengan bersembunyi di belakang air mata palsunya itu, aku akan mau menerimanya. Oh, tentu saja tidak! Aku tidak sudi punya istri bekas orang lain. Menjijikkan!"
"Dendra!" bentak pak Gunawan parau. Dia tidak menyangka anaknya akan lancang berkata seperti itu.
"Dendra," panggil pak Fauzan dengan suara lembut, suaranya yang memendam kemarahan terhadap Dendra. "Sebaiknya kamu selidiki dulu benar atau tidaknya video itu," saran Pak Fauzan bapaknya Antika.
"Tapi buat apa aku menyelidikinya? Supaya Antika bisa melakukan sesuatu untuk menutupi kebohongannya? Tidak! Aku tidak akan menyelidikinya!" teriak Dendra tegas, dia tidak akan membiarkan wanita itu bebas dari tuduhan.
Pak Fauzan menghela napas panjang, dia berusaha menahan ucapannya agar tidak terlanjur mengatakan ucapan buruk terhadap calon menantunya itu. Dia tak habis pikir, bagaimana menantunya yang seorang CEO itu bisa percaya dengan mudahnya terhadap sebuah informasi yang tidak jelas.
Pak Fauzan yakin kalau wanita di video itu bukanlah anak gadisnya. "Bagai mana jika video itu palsu?" tanyanya lagi.
"Video ini asli, temanku yang memberikannya aku yakin dia tidak akan berbohong!" ucap Dendra tetap bersikukuh.
"Jadi kamu percaya pada temanmu seratus persen, tanpa menyelidikinya terlebih dahulu?" Pak Gunawan menggelengkan kepalanya dengan raut kecewa. "Seharusnya kamu mencari tahu dulu kebenarannya sebelum mengambil suatu keputusan."
Dendra pun ikut menggeleng melihat semua orang tidak mempercayainya, dia tidak habis pikir dengan mereka yang begitu percaya dengan Antika yang menurutnya sok polos itu.
"Sial! Hanya dengan terisak dan air mata, dia mampu membuat kalian tidak mempercayai video ini.”