CHAPTER SEPULUH

2019 Kata
            Ciara yang baru saja keluar dari ruang guru berhenti saat melihat Mahesa turun dari tangga dan berjalan cepat ke arah belakang sekolah. Ciara mengikuti, lalu memanggilnya pelan. Tapi laki- laki itu tidak juga menoleh, apalagi berhenti. Laki- laki terus berjalan, mengabaikan suara lembut yang memanggilnya.             Ciara yang penasaran tetap mengikuti laki- laki itu. Langkahnya berhenti saat sampai di belakang sekolah. Mahesa berhenti dan berdiri membelakanginya. "Lo ngapain ngikutin gue?" katanya pada Ciara tanpa membalik badan. Ciara menatap punggung itu yang bergerak dengan berat. Ciara memutar otaknya, mencari alasan.             "Ini... gue mau kasih ringkasan matematika dari semester awal. Bu Ami barusan nitipin ini bantu lo belajar." Ciara membuka tasnya dan mengeluarkan satu bendel catatan yang baru saja bu Ami berikan padanya.             Lama, Mahesa tidak juga berbalik dan Ciara enggan mendekat. Ia masih berdiri di belakangnya dan berpikir bahwa ia berada di saat yang tidak tepat. Ia tidak ingin mencampuri urusan laki- laki itu, saat memutuskan ingin meninggalkan laki- laki itu, Mahesa sudah membalik badannya terlebih dulu. Membuat Ciara terkesiap dan kedua bola matanya melebar.             "Ya Tuhan. Lo kenapa?" tanyanya saat melihat pelipis dan sudut bibir Mahesa membiru dengan bekas darah yang belum terhapus sepenuhnya. Ciara mendekat. Menyentuh wajah Mahesa dan melihat laki- laki itu meringis. "Eh, maaf. Lo tunggu sini, gue ke UKS dulu." Ciara menyerahkan fotocopyan yang sudah ada di tangannya pada Mahesa lalu berlari. Mahesa menatap punggung Ciara hingga menghilang dari pandangannya.             Mahesa duduk di belakang tembok ruang laboraturium dan menatap kertas dalam genggamannya. Refleks, ia tersenyum, meski merasakan nyeri di wajahnya.             Tak lama, Ciara kembali, berlari dengan seperangkat obat- obatan. Ia langsung duduk di depan Mahesa. "Gue obatin, ya." katanya sambil menuangkan cairan ke kapas dan saat ia ingin mengusap luka itu, ia terpaku melihat Mahesa menatapnya dingin. Tak terbaca. Tidak bisa di artikan.             Tangannya masih melayang di udara hingga akhirnya ia berkata. "Lo obatin sendiri deh." Katanya sambil   menyerahkan kapas basah itu pada Mahesa.             "Kenapa?"             "Lo ngeliatin guenya gitu banget. Gue takut." Keluhnya, membuat wajah dingin itu kontan tersenyum hangat.             "Gue kaget aja. Lo bisa seperhatian itu sama gue." Mahesa tersenyum jahil. Membuat Ciara kikuk.             "Bukan cuma sama lo doang. Kalau ada anak lain juga gue pasti refleks." kilahnya.             Ciara membersihkan wajah Mahesa dari darah yang keluar dari sudut bibirnya. Mencoba tenang meski ia sadar bahwa Mahesa terus menerus menatapnya secara terang-terangan. Ciara tidak tahu apa ia benar- benar refleks. Dulu, ia tidak pernah peduli pada Mahesa. Bahkan saat Mahesa sempat masuk rumah sakit karena dikeroyok oleh sekumpulan orang tidak dikenal di dekat sekolah. Ciara tidak pernah peduli karena memang mereka tidak ditakdirkan untuk saling peduli. Dan sekarang, entah kenapa...             “Lo berantem sama siapa lagi?" tanya Ciara sambil menepuk- nepuk pelipis laki- laki itu dengan kapas yang sudah basah.             "Bara." jawabnya enteng. Ciara hanya geleng-geleng kepala. Tidak heran mendengar nama itu yang disebut Mahesa.             Mahesa berpikir kalau Ciara pasti akan lebih syok kalau melihat keadaan Bara. Pertengkaran Bara dan anak kelas sepuluh itu benar- benar brutal kalau saja Mahesa tidak buru- buru datang. Ia tidak habis pikir, bagaimana seorang anak kelas sepuluh punya keberanian seperti itu.             Dan akhirnya, setelah pembicaraannya dengan Bara melalui tatapan. Sekian lama Bara menahan amarah dan bergeming. Satu pukulan akhirnya mendarat di wajah Mahesa. Tidak cukup, Bara kembali melayangkan tinjunya hingga empat sampai lima kali hingga akhirnya ia  sadar, bahwa luka fisik tidak akan pernah menyakiti Mahesa, bahwa luka fisik tidak akan pernah menyembuhkan luka hatinya. Bahwa tenaga yang ia keluarkan untuk menghajar Mahesa akan sia- sia.             "Gue suka bingung, apa sih yang kalian rebutin sampai bonyok begini. Cewek?" tanya Ciara dengan nada heran. Mahesa tersenyum miring.             "Memang lo pernah lihat gue dekat sama cewek?" Ciara lekas menggeleng. Ia tahu, biarpun Mahesa ganteng. Ia tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun di sekolah ini. Mahesa selalu sendiri, atau berdua dengan Iras, sahabatnya. Tidak memedulikan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan tatapan memuja.             "Sudah." kata Ciara sambil membereskan kapas dan yang lainnya. Ia lalu menatap wajah di depannya dan meringis. Wajah putih itu terlihat membiru dan tidak lama pasti akan berubah ungu. Ciara tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya.             "Kayaknya itu besok bakal bengkak, jangan lupa beli salep di apotik ya, biar cepat kempes." kata Ciara lalu melirik jam tangannya. "Gue duluan kalau gitu." Ciara sudah siap berdiri saat tangan Mahesa mencekalnya.             "Ngapain buru- buru sih?" katanya.             "Gue ada perlu." Ia menarik paksa tangannya dari Mahesa dan berjalan menjauh sambil melambaikan tangan tanpa membalik badan. Mahesa tersenyum kecil. Ia menatap ransel putih yang mengatung di punggung gadis itu hingga punggung gadis itu menghilang di tikungan.   ***               Senin pagi yang mencolok di SMA Pancasila. Upacara hari ini punya tiga bintang utama. Mahesa yang datang terlambat. Bara yang ketahuan ngempesin ban motor yang ada di parkiran. Dan Lara yang tidak lengkap atributnya. Mereka bertiga dipajang di depan mimbar, membuat barisan- barisan anak yang ada di depannya sibuk berkasak- kusuk. Membicarakan wajah Mahesa dan Bara yang masih membekas lebam biru atau membicarakan Lara dengan kenekatannya. Entah mereka merasa iri atau justru kasihan, siapa lagi yang bisa menatap dua troublemaker ganteng dari dekat kalau bukan Lara saat ini.             Matahari bersinar terik. Membuat Lara menunduk sementara mata Bara menatap satu fokus yang berada di depannya. Ayra. Yang sedang menunduk, bukan karena panas, tapi karena ia sadar bahwa ada sepasang mata yang terfokus padanya.             Barisan pengibar bendera maju dari sebelah kanan. Mahesa memfokuskan tatapannya pada Ciara yang berada di tengah, sedang membawa bendera yang dilipat dengan kedua tangannya. Saat pengibar bendera itu lewat di depannya, Mahesa bersiul kencang. Membuat tiga orang itu serentak berhenti dan menoleh ke arah Mahesa.             "Gue nyiulin Ciara, bukan lo berdua." kata Mahesa. Wajah Ciara memerah sementara semua orang di sana ternganga. Bahkan di acara upacara, Mahesa masih bisa membuat ulah. Bu Yeni sudah menggeram. Ciara menyenggol dua orang anak kelas sebelas yang mengapitnya, mengembalikan konsentrasi mereka. Mereka kembali menuju tiang bendera meski tawa cekikikan terdengar dari barisan. Barisan yang tadinya rapi kontan saling berbisik dan menjadi tidak beraturan. Bu Yeni mengedarkan pandangan mematikannya, menyuruh semua barisan kembali ke posisi semula.             Lara melirik Mahesa yang tampak tenang walau sadar bahwa ia pasti akan mendapat masalah setelah ini. Sementara Bara hanya tersenyum sinis.             Dua siswi yang mengapit Ciara kehilangan konsentrasinya. Akhirnya, tali bendera yang dikaitkan salah dan saat ditarik, bendera itu terbalik. Bukan merah putih, tapi putih merah.             Semua anak tertawa. Sementara wajah Ciara semakin memerah. Ia menarik napas panjang dan melotot pada anak di sebelahnya. Ciara membantu anak itu membenarkan kaitannya, hingga akhirnya bendera itu bisa sampai di atas tiang bendera. Berkibar dengan gagahnya.             Sepanjang langkah kembali ke tempatnya, Ciara menunduk. Tidak berani menatap Mahesa ataupun teman- temannya yang lain. Perasaannya campur aduk, tapi yang jelas, ia malu. Saat sampai di tempat yang terpisah dari barisan, ia melihat Mahesa tersenyum ke arahnya. Ia berdecak lalu melotot pada Mahesa yang senyumannya makin lebar.             ***               Mereka masih berdiri hormat di depan tiang bendera. Guru itu bukannya tidak berperikemanusian, tapi ia ingin meredam rezim Mahesa dan Bara. Berharap kalau si anak kelas sepuluh, alias Lara bisa kapok jika mendapat hukuman fisik ini.             "Lo nggak capek?" Mahesa menoleh ke arah Lara yang berdiri di sebelah kirinya. Gadis itu menggeleng pelan, membuat Mahesa memuji dalam hati. Mahesa mengedarkan pandangannya lalu berteriak pada seorang anak yang baru saja keluar dari ruang musik.             "Eh, sini." teriaknya. Sebelah tangannya masih hormat ke sang merah putih. Setelah anak itu melihat sekeliling dan meyakini bahwa hanya ada dirinya, ia berjalan mendekat.             "Saya, Kak?" tegasnya.             "Iya, lo ke kantin, beliin air mineral sama tisu." sebelah tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan uang sepuluh ribuan. Anak itu mengangguk lalu berlari menuju kantin.             Bara hanya menatap cuek sedangkan Lara melirik Mahesa diam- diam. Laki- laki itu menatap ke atas, ke arah bendera yang berkibar di terpa angin. Matahari semakin terik, membuat tubuh ketiganya mulai berkeringat.             Tak lama anak itu kembali. "Nih, Kak." katanya sambil mengulurkan sebotol air dan Mahesa langsung menunjuk Lara dengan dagunya. Anak itu lalu mengulurkannya ke arah Lara yang terlihat bingung.             "Ambil, minum dulu. Mumpung nggak ada guru." kata Mahesa. Lara menerimanya dengan ragu.             "Lo kalau mau ke kantin juga nggak apa- apa. Kalau ada guru biar gue yang tanggung jawab." Mahesa menatap Lara yang tersenyum. Gadis itu menggeleng lalu membuka tutup botol dan meneguk isinya hingga habis dalam satu tegukan. Sejujurnya, Lara memang benar- benar haus. Ia lalu membuka tisu dan menyeka peluh yang sudah membanjiri wajahnya.             "Nama lo siapa?" Mahesa tidak menoleh. Tapi Lara tahu bahwa ia yang diajaknya bicara.             "Lara, Kak." jawabnya. Laki- laki itu mengangguk pelan. Bara hanya mendengarkan obrolan mereka dengan tidak berminat.   ***               Kalau Ciara bisa mengungkapkan amarahnya, dia ingin sekali mencakar wajah  Mahesa. Karena ulahnya, kini ia jadi bulan- bulanan di kelasnya.             "Cie, Ciara... Mahesa naksir lo kali."             "Saking grogi abis disiulin Mahesa, itu bendera sampai terbalik."             "Untung lo cuma ngibarin bendera, bukan lagi berjuang. Kalau lo lagi berjuang terus benderanya terbalik. Negara kita bisa langsung berubah jadi Polandia."             Suara-suara usil itu sukses mengganggu konsentrasi Ciara di tengah -tengah kelas yang sedang kosong karena guru yang seharusnya mengajar berhalangan hadir. Ia ingin sekali berteriak bahwa itu bukan kesalahannya melainkan kesalahan anak kelas sebelas yang bertugas mengaitkan tali bendera. Tapi ia tahu bahwa tak seharusnya ia membela diri. Ia seharusnya memerhatikan cara anak itu mengaitkan tali bendera hingga benda itu tak sampai terbalik. Ia seharusnya tak kehilangan fokus karena Mahesa.             Diana melotot pada Iras. "Gara- gara teman lo, tuh." ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Ciara. Gadis itu mencoba mengajak sahabatnya mengobrol, mengabaikan celetukan- celetukan yang ada di sekitar mereka. Celetukan menggoda yang membuat kuping Ciara benar- benar panas.             Si bintang utama datang. Semua anak langsung terdiam. Tidak mau terdengar terang-terangan meledek Ciara. Kalau Mahesa tahu, cuma ada dua kemungkinan, Mahesa ikut meledek atau Mahesa menghabisi semua yang meledek. Anak sekelas sepakat cari aman.             "Minggir, Di, gue capek nih." katanya pada Diana. Diana menatapnya sekilas.             "Ih, duduk di belakang aja sana. Guru lagi nggak ada kok." suruhnya sambil kembali mengobrol dengan Ciara.             "Gue mau di sini. Di belakang panas."             "Tempat lo kan paling dekat sama AC. Di sana pasti lebih dingin, lah. Gue aja menggigil terus." kata Diana.             "Duduk di samping Ciara bikin lebih dingin, lebih adem. Sudah sana lo balik. Kasian tuh Iras galau sendirian." semua mata tertuju pada Mahesa. Semua berpikir, apa maksud dari kata- katanya barusan? Apa itu bisa diartikan rayuan? Atau ejekan? Tidak ada yang bisa menebak dengan akurat. Setelah berdecak kesal, Diana bangkit dan berjalan ke bangkunya.             "Oia, kalau lo kedinginan. Peluk Iras aja." koor langsung membahana, sementara Diana dan Iras saling membuang muka.             "Gue mau meluk juga milih- milih." sembur Diana.             Mahesa melirik Ciara yang enggan menatapnya. Ia mendekatkan tubuhnya, sedikit berbisik. "Lo kenapa?" Dua orang perempuan yang ada di belakang mereka, Sasa dan Mili memajukan tubuhnya, berusaha menguping pembicaraan Mahesa. Tapi Ciara hanya menggeleng dan Mahesa langsung membalik badannya.             "Kalo suka nguping nanti kuburannya sempit." katanya, membuat kedua perempuan itu tersentak kaget. Mereka membenarkan letak duduknya dan langsung menutupi wajah mereka dengan buku.             "Gue ganteng ,lho, Ra, masa lo nggak mau lihat gue sih." Mahesa berbisik pada Ciara yang masih tidak mau menoleh ke arahnya. Mahesa melihat ada yang berbeda dengan Ciara. Wajahnya tidak seramah biasanya. Wajahnya penuh kejengkelan yang berusaha ditutupi.             "Lo itu nyebelin tahu nggak? Ngapain pake siul- siul pas upacara? Bikin gue malu. Dua petugas bendera kehilangan fokus dan acara pengibaran berdera tadi pagi jadi yang paling memalukan selama gue sekolah. Lo dengar? MEMALUKAN!" Ciara mengucapkan itu keras-keras. Membuat semua mata terarah padanya. Mahesa terkesiap. Kaget dengan penuturan Ciara. Setelah melempar tatapan mematikan pada Mahesa, gadis itu berdiri dan keluar dari kelas.             Semua orang tidak ada yang berkomentar. Seisi kelas kompak menutup mulutnya rapat- rapat. Mereka sesekali melirik Iras dan Diana. Berharap mereka tidak memberitahu Mahesa kalau mereka sempet meledek Ciara. Kalau sampai Mahesa dengar. Habis sudah riwayat mereka.             Mahesa menatap Iras yang mengangkat bahu. "Cewek, Sa, biasa, baper." kata Iras. Diana yang ada di sebelahnya langsung mendelik ke arahnya.             "Bukan Ciara yang baper. Teman lo aja yang keterlaluan." Mahesa sudah berdiri dari duduknya saat mendengar Iras dan Diana mulai bertengkar. Ia berdiri di ambang pintu dan melihat Ciara yang berjalan menuju tangga. Ia tampak ragu, setelah menimang dengan seksama, ia memilih untuk mengikuti langkah gadis itu. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN