CHAPTER SEBELAS

2052 Kata
            Mahesa tidak pernah berurusan dengan seorang perempuan. Sudah lama sekali tidak. Dan sekarang dengan sikap impulsifnya, ia mengejar Ciara yang membuatnya sedikit bingung. Kenapa dia harus mengejar Ciara? Dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban kenakalannya, ia tidak akan pernah peduli atau berbalik. Ia akan langsung pergi, walau ia dengar bahwa gadis yang baru saja ia kerjai menangis. Mahesa tidak peduli. Tapi sekarang? Mahesa berdecak kesal lalu berhenti. Berniat berbalik arah saat ia melihat Ciara duduk di salah satu bangku perpustakaan. Ia mendekat lalu melongok dan napasnya tertahan seketika. Ciara tidak sendiri, dia bersama Bara.             Mahesa menimang dengan berat. Dan akhirnya memilih untuk kembali ke kelasnya. Ia tidak mungkin menghampiri Ciara. Ia tidak boleh terlihat terlalu peduli pada gadis itu apalagi di depan mata Bara langsung. Ia harus menjaga jaraknya.             Ciara sibuk meruntuk dengan kesal. Tidak sadar ada yang tertawa ringan di depannya, di balik partisi yang memisahkan meja satu dengan meja lainnya.             "Baru sadar kalau Mahesa itu nyebelin?" Suara itu membuat tubuh Ciara langsung menegak. Dan tidak butuh lama untuk melihat seringai yang menunjukkan diri dari balik partisinya. Ciara terkejut, tapi berusaha setenang mungkin.             "Lo nguping?"             "Kedengeran. Bukan nguping." Bara mendekat dan duduk di samping gadis itu. Menetap lekat- lekat ketua OSISnya baik-baik. Ciara bukan sosok baru, Bara yang kebetulan juga anggota OSIS mengenal Ciara dengan baik. Tapi, selain ajang MOS, Bara bisa di bilang jarang aktif. Ia hanya aktif di kegiatan- kegiatan yang sesuai minatnya.             Bara menatap Ciara baik- baik, membuat gadis itu risih. Bara bukan tidak tahu gosip apa yang terdengar di kelas dua belas. Ia juga cukup jeli melihat ada yang berbeda dengan Mahesa. Gosip yang terdengar membuatnya mencoba menyimpulkan apa yang terjadi. Dan sekarang, waktunya bertindak.             "Gue boleh minta tolong?" Bara melembutkan tatapannya pada Ciara. Seulas senyum tipis tercetak di bibirnya, senyum yang dipaksakan.             "Gue ada masalah sama trigonometri, bisa ajarin gue nggak?" Dahi Ciara berkerut dalam. Dia kenal Bara, meskipun laki- laki itu biang onar, dia pintar. Ia juga tahu kalau Bara selalu masuk lima besar di kelasnya.             "Gue lemah di trigonometri." katanya lagi. Ciara menatapnya dengan serius, Menelaah apa ada yang harus dipertimbangkan.             "Gue nggak minta jawaban. Nanti jam istirahat kedua, gue ke kelas lo." Bara mengusap pucuk kepala Ciara yang nampak terpaku di tempatnya. Pria itu pergi dari hadapan Ciara tanpa menunggu jawaban gadis itu.             Ciara mendesis lalu mendengar pintu perpustakaan yang tertutup, yang meyakinkannya bahwa Bara sudah keluar dari ruangan dan meninggalkannya seorang diri.   ***               Kamal baru masuk di pelajaran ketiga karena harus kontrol ke dokter terlebih dulu. Berbeda dengan Bara dan Mahesa yang nampak cuek pergi ke sekolah dengan wajah membiru dan membuat semua orang sibuk berspekulasi. Kamal nyatanya masih punya orangtua tunggal yang terus memperhatikannya, melarangnya pergi ke sekolah kalau ia tidak mau pergi ke dokter. Bara dan Mahesa tidak punya itu. Mereka tidak punya sosok itu. Sosok itu hanya seperti ilusi meskipun masih terus tersimpan baik di hati mereka.             Karenanya, Kamal tidak tahu kalau ada kejadian menarik pagi ini. Kejadian tiga bintang sekolah beda generasi yang membuat orang akhirnya menyimpulkan bahwa SMA Pancasila kena kutukan karena si troublemaker ketiga telah datang. Tidak tanggung- tanggung, dia perempuan.             Kamal langsung mengusap kepala Lara yang tengah tertidur di kelas yang kebetulan kosong. Lara terperajat dan wajahnya menyemburat senang melihat Kamal sudah duduk di sampingnya.             "Gue pikir lo nggak masuk." Lara memeluk Kamal sekilas, membuat semua mata tertuju pada mereka. Hubungan Kamal dan Lara tak luput dari perhatian teman sekelas mereka. Ada yang mengira mereka berpacaran, namun yang lainnya mengira bahwa mereka hanya berteman dekat. Yang jelas hubungan keduanya terlampau dekat jika hanya bersahabat. Keduanya nyaris tak pernah terpisahkan.             "Gue harus ke dokter dulu. Kalau nggak mau ke dokter terus maksain masuk, bunda nyuruh gue pake bedak buat nutupin ini memar." Kamal tertawa sementara Lara kembali merasa bersalah. Melihat raut wajah sahabatnya tiba- tiba berubah, Kamal langsung mencubit pipi gadis itu. "Jangan mikir yang nggak- nggak. Gue udah baik- baik aja." Kamal terlambat. Pikiran Lara sudah berkelana ke mana- mana. Walaupun ini bukan yang pertama, tapi kemarin, Kamal benar- benar berjuang sendirian demi Lara. Tidak seperti bisanya yang mereka berdua akan terjun ke medan perang bersama- sama. Kemarin, Kamal berjuang untuk dirinya. Sendirian.   ***               Ayra tidak tahu apa motif Bara sebenarnya. Laki- laki itu lebih sering muncul di dekatnya tanpa alasan yang jelas. Seperti istirahat pertama kali ini. Ayra yang memang lebih senang menghabiskan istirahat pertamanya di kelas karena belum lapar terpaksa harus merelakan kehadiran Bara di depannya.             "Kalian nggak pada mau ke kantin?" tanyanya pada seisi kelas yang masih menyisakan beberapa orang yang sedang asik dengan kegiatannya masing- masing. Ada yang membaca buku, mendengarkan musik ataupun bergosip di pojok kelas. Seperti terhipnotis, mereka semua angkat kaki tanpa sepatah katapun, meninggalkan Bara berdua dengan Ayra yang bahunya langusng melemas.             "Kok lo suka banget nunduk sih?" Tangan Bara menyentuh dagu Ayra agar mendongak, tapi wajah itu malah menjauh. Punggungnya menempel ke sandaran kursi, tidak ada jarak yang tersisa. Bara tersenyum sinis. Dilihatnya wajah ketakutan gadis di depannya.             Melihat Bara bukan hanya melihat si pentolan kelas sebelas. Tapi otaknya langsung melayang pada Kamal. Orang yang sudah dibuatnya babak belur. Walau kalau dillihat, wajah Bara juga dihiasi luka memar keunguan. Ia tidak bisa membayangkan pertikaian seperti apa yang mereka berdua lakukan. Ayra tak sanggup membayangkan apa yang sanggup Bara lakukan untuk melampiaskan emosinya.             Ayra menelan ludah dengan susah payah, lalu berkata pelan. "Saya, mau ke kantin, Kak." berharap kata- kata itu bisa membuat Ayra keluar dari kelas dan meninggalkan laki- laki itu. Tapi ia salah, Bara langsung tersenyum dan berdiri dengan cepat.             "Yaudah, yuk, gue anterin." tidak cukup, Bara menggandeng paksa tangan Ayra.             Ayra tidak punya cukup waktu untuk mencerna semuanya. Ia sudah digandeng, dilihat hampir semua pasang mata di koridor lantai dua. Ia pasrah dan lagi- lagi menunduk. Menulikkan telinga saat terdengar bisik- bisik yang sehalus bulu.             Mereka sampai di kantin kelas sepuluh dan sebelas. Di sekolah itu ada dua kantin. Masing- masing ada di ujung koridor berlawanan lantai satu. Ujung kantin sebelah kanan khusus kelas sebelas dan sepuluh, dan ujungnya lagi milik Mahesa atau kelas dua belas. Peraturan itu dibuat saat Mahesa menjadi anak kelas dua belas. Tidak ada yang boleh menginjak kantin ini kecuali anak kelas dua belas dan itu berlaku sampai sekarang. Dan tentu saja peraturan itu disambut baik oleh anak satu angkatannya yang lain. Karena itu berarti, kantin itu tidak akan seperti pasar induk ataupun tempat konser pada jam istirahat.             Semua pasang mata kini punya satu fokus. Sepasang anak yang baru saja masuk. Bara menuju pojok kantin. Tempat favoritnya, tempat yang sudah diklaim menjadi miliknya sehingga meja itu selalu kosong. Hanya Bara dan Kiki yang boleh menempatinya. Bara duduk di kursi dan dengan dagunya, ia mengisyaratkan Ayra untuk duduk di depannya.             Dua piring batagor sampai di hadapan mereka setelah Bara menyuruh salah satu juni0r membelikannya. "Nanti pulang bareng gue, ya. Lo nggak usah minta jemput supir lo." Ayra tersedak. Bara buru- buru menyodorkan air ke arahnya. Ia langsung menyesap isi botol lalu menatap Bara dengan bingung.             "Nggak bisa, Kak. Papa bakal marah kalau saya nggak dijemput supir." jawabnya dengan nada terbata- bata. Ia tidak sepenuhnya bohong. Papanya bisa bertanya macam- macam kalau ia tidak pulang dengan supirnya.             "Meskipun bareng orang yang bisa jamin lo sampai di rumah dengan selamat?"             Ayra mengangguk ragu- ragu. Mata pekat itu masih menatapnya dan juga belasan pasang mata yang kini menatapnya sembunyi- sembunyi. "Yaudah." katanya akhirnya. Ayra menghela napas pelan lalu keduanya makan dalam diam.   ***               Mahesa mendekati Ciara dan Diana yang sedang duduk di salah satu bangku di kantin. "Di, gue mau ngomong sama Ciara dong." katanya sambil menunjuk Iras yang duduk tak jauh dari tempatnya.             "Lo nyuruh gue duduk sama si kunyuk itu? Udah cukup selama jam belajar gue duduk sama dia." katanya. Mahesa tertawa geli, tapi akhirnya wajahnya berubah dingin.             "Lo udah gue minta baik- baik. Mau gue pakai cara kasar?" katanya pelan, dalam, sarat perintah. Ciara yang lebih dulu mengambil alih, ia mengisyaratkan Diana untuk pergi dengan raut wajahnya. Dan setelah mendengus kesal, Diana dengan sangat- sangat terpaksa meninggalkan dua manusia itu.             Mahesa duduk di depan Ciara. Ia menarik napas lalu berujar, "Gue mau minta maaf soal tadi pagi." Mahesa melihat Ciara memutar bola matanya tak acuh.             "Gue sudah nggak mau bahas itu lagi." Dengus Ciara. Semakin Mahesa membicarakannya, ia akan semakin mengingat kejadian memalukan itu.             "Yaudah, kalau gitu, gue mau bilang makasih buat catatan- catatan yang udah lo pinjemin sama gue." kali ini Ciara mendongak. Menemukan mata Mahesa yang tersenyum. Ia mengangguk pelan.             Mahesa tidak pernah merasa diperhatikan. Sudah sangat lama dirinya membentengi diri. Dan saat mendapati lagi- lagi Ciara memberikan perhatian kecil, yang mungkin bagi Ciara tidak ada artinya. Tapi bagi Mahesa, itu menyetuh hatinya, atau mungkin sedikit. Entahlah, yang jelas Mahesa merasa bahagia.             "Teman lo tuh bisa nggak sih nggak dikit- dikit ngancam, Dikit- dikit ngancam." sembur Diana pada Iras yang ada di hadapannya. Ia menyeruput teh manisnya dengan semangat, bukan, bukan semangat, tapi kesal setengah mati.             "Jaga tuh mulut. Mau gue aduin?" Iras menatap gadis di depannya dengan tatapan tajam.             "Sama lo berdua. Yang satu tukang ngancam. Yang satu tukang ngadu." katanya dengan nada mengejek, membuat Iras hampir kehilangan kendali.             "DIAM, atau gue sumpel tuh mulut." Refleks, Iras mencengkeram lengan Diana yang nampak kaget. Tidak butuh waktu lama untuk membuat semua pasang mata yang tadinya menatap Mahesa dan Ciara kini berbalik arah menatapnya.             "Gue mungkin bisa takut sama Mahesa. Tapi kalau sama lo? Cih, gue nggak takut." katanya sambil menyentak lengannya hingga cengkeraman itu terlepas dan berdiri. Diana berbalik, menjauh dengan pongahnya.             "SIALAAN." Desis Iras.             Iras menatap Mahesa dan Ciara yang masih asik mengobrol. Begitu juga dengan beberapa pasang mata yang ada di sana. Pasalnya, hal yang seharusnya terlihat biasa seperti itu akan menjadi unik saat salah satu di antaranya adalah Mahesa. Selama menjadi murid SMA Pancasila, Mahesa tak pernah terlihat dekat dengan siapapun apalagi sampai menjalin hubungan spesial. Laki- laki itu lebih suka menghabiskan banyak waktunya bersama Iras. Sehingga melihat gelagat Mahesa yang tiba- tiba dekat Ciara jelas membuat mereka bespekulasi mengenai apa yang terjadi.             Ciara yang sedang memakan nasi gorengnya melirik ke sekeliling, ke anak- anak yang diam- diam menatapnya dengan tatapan penasaran. Matanya lalu beralih pada Mahesa yang masih duduk di depannya meski ia sudah menerima permintaan maaf laki- laki itu.             “Lo kenapa masih di sini?” bisik Ciara pada Mahesa yang sejak tadi menatapnya. Laki- laki tak memesan apapun sehingga yang ia lakukan hanya duduk sambil menatapnya tengah mengisi perutnya dengan nasi goreng.             “Lo ngusir?” tanya Mahesa. Ia melihat gadis di depannya menggeleng pelan. Entah sejak kapan, Mahesa menyukai menatap wajah di depannya. Wajah oval dengan hidung kecil juga senyum yang menurutnya sangat manis. Mahesa tak tahu kenapa ia melupakan fakta itu selama satu tahun terakhir.             “Gue risih dilihatin anak- anak.” Lirih Ciara. Mahesa langsung memindai sekeliling, membuat semua anak langsung menunduk dan kembali ke fokusnya masing- masing.             “Seharusnya lo bangga, selama ini kan nggak pernah ada cewek yang bisa duduk sama gue di kelas ataupun di kantin gini.” Kata Mahesa dengan nada jumawa. Ia tersenyum melihat Ciara mendengus sebal. Ia menahan diri mati- matian untuk tak mencubit pipi gadis di depannya.             “Ya makanya… lo jangan malah bikin mereka berspekulasi macam- macam. Cukup di kelas aja kita satu meja, kalau di luar pura- pura nggak kenal aja.” Kata Ciara yang langsung membuat Mahesa terkikik geli.             “Lo kenapa, sih? nggak mau banget dekat- dekat gue?” tanya Mahesa. Gadis itu tengah mengunyah nasi yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.             “Gue nggak suka jadi pusat perhatian.” Kata Ciara. Kali ini ia mengambil air mineral di atas meja dan meneguk isinya.             Mahesa menaikkan garis bibirnya. Ia ingat ada beberapa gadis yang pernah menyatakan cinta padanya, gadis itu secara terang- terangan bilang bahwa ia menyukai Mahesa dan karena Mahesa termasuk siswa terkuat di Pancasila. Gadis- gadis itu juga ingin dapat keistimewaan dengan menjadi pacar Mahesa. Tapi, Mahesa tak pernah menerimanya. Mahesa tak pernha jatuh cinta lagi sejak hatinya dipatahkan. Mahesa tak akan lagi mengulang kenyataan pahit itu.             Dan di saat gadis- gadis lain berlomba- lomba menarik perhatian Mahesa, Ciara justru terlihat risih. Gadis itu tak pernah menatapnya spesial seperti perempuan- perempuan lain. Bagi Ciara, dirinya mungkin tak lebih dari siswa badung yang harus dijauhi karena bisa menyeretnya dalam banyak masalah. Gadis seperti Ciara jelas tak ingin mengambil resiko sehingga menyuruh Mahesa menjauhinya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN