CHAPTER DUA BELAS

2015 Kata
            Bel istirahat kedua, Bara mempersiapkan apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. "Gue ke lantai empat dulu." katanya pada Kiki, anak itu terperangah.             "Ngapain? Mau ribut lagi? Gue ikut lah." katanya sambil berdiri. Bersiap mengikuti Bara untuk pergi melawan anak kelas dua belas. Bara menahan bahunya dan mendorong agar laki- laki itu kembali duduk.             "Siapa bilang gue mau ribut? Gue mau ketemu si ketua OSIS." jawabnya sambil tersenyum miring dan berjalan keluar kelas. Kiki menatap kepergian teman sebangkunya dengan tatapan bingung.             Disinilah ia, melangkah lebar- lebar sepanjang koridor kelas dua belas. Lantai keramat yang haram diinjak oleh anak lain selain penghuni lantai dua belas, guru- guru dan petugas kebersihan, layaknya lantai tiga yang haram untuk anak kelas sepuluh. Sejak menaiki tangga, sudah banyak yang menatapnya dan alih- alih melanjutkan kegiatannya, mereka lebih memilih mengekori Bara. Karena mereka yakin, akan ada keributan besar. Siapa lagi kalau bukan antara Mahesa dan Bara. Tapi wajah Bara tampak berbeda. Raut wajahnya tampak tenang dengan senyum sumir.             "Ngapain lo di sini?" Iras yang baru saja keluar dari kelas heran menatap Bara berani menginjakkan kaki di lantai empat. Tepat di depannya Bara berhenti. Tidak menjawab, ia melongok dan melihat Ciara dan Mahesa yang tengah mengobrol asik.             Ia mengacungkan buku yang dibawanya. Iras kebingungan. "Gue ada perlu sama ketua OSIS gue." jawabnya. Masih berhadapan dengan Iras yang enggan memberikan jalan. Iras menoleh sebentar lalu kembali menatapnya.             "Lo turun aja. Nanti gue suruh Ciara nyamperin lo." Iras melipat kedua tangannya di d**a. Mati- matian Bara berusaha tidak terbakar melihat kelakuan kakak kelasnya yang sok ini.             "Gue janjiannya di sini." jawabnya tenang.             "Ngapain kalian lihat- lihat? Ini bukan tontonan." teriak Iras pada orang- orang yang sudah mengekori Bara. Mereka kontan bubar jalan.             "Ciara." teriaknya sambil melongok ke dalam. Ciara dan Mahesa menoleh seketika. Keduanya terkejut. Ciara terkejut melihat Bara benar- benar datang. Dan Mahesa terkejut, melihat adik kelasnya berani menginjak lantai kekuasaannya.             "Ngapain dia di sini?" Mahesa hendak berdiri, namun lengannya dicekal oleh Ciara.             "Itu, Sa. Dia mau minta ajarin trigonometri." kata Ciara pelan. Mahesa diam, mencoba mengartikan kejadian tiba- tiba ini.             Ia berteriak pada iras. "Biarin masuk, Ras." Bara tersenyum lalu menembus barikade itu dengan sedikit dorongan di bahunya.             "Gue nepatin janji kan." Ia berdiri di depan meja Ciara yang kebetulan memang paling depan. Berdiri menjulang dan menaruh telapak tangannya di meja. Menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Ciara. "Udah bisa mulai?" tanyanya. Ciara mengangguk. Tatapannya lalu beralih pada Mahesa yang duduk mematung di kursinya. "Boleh pinjam chairmate-nya, kan?" Itu bukan pertanyaan. Mahesa berdiri dengan tak acuh.             "Kenapa nggak? Silahkan. Tapi cuma hari ini, gue biarin lo nginjak lantai ini. Besok- besok mending cari tempat lain. Gue nggak suka ada adik kelas masuk wilayah gue." kata- kata itu tampak tenang namun mengandung jurang yang begitu dalam. Mahesa berusaha terlihat biasa dan mulai menjauh tanpa menoleh lagi. Bukan waktunya untuk terlihat marah. Karena ia tahu, itu hanya akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Yang perlu Bara tahu adalah, ia tidak keberatan memberikan izinya untuk menemui Ciara.             Tapi Bara jelas bisa membaca semuanya. Nada yang mungkin bagi orang terdengar tenang, baginya terdengar dingin. Ketulusan yang dipaksakan. Dan ia yakin bahwa ia mendapat kartu AS Mahesa.             Bara sebenarnya tidak bodoh, tapi dia memang agak lemah di trigonometri. Makanya selama istirahat kedua ini, ia dengan seksama menatap Ciara yang dengan tenang menjelaskan apa yang ia tanyakan. Mengurai rumus- rumus yang bisa membuat otak keriting seketika. Diselingi tertawa ringan. Ia baru sadar bahwa ketua OSISnya asik juga.             Tiga menit sebelum bel, Mahesa dan Iras sudah kembali. "Sudah habis waktu belajarnya. Silahkan kembali keluar. Nggak perlu gue tunjukin pintunya kan?" kata Iras sambil berdiri di depan meja Ciara. Bara membereskan bukunya dan berdiri. Menatap Ciara sekilas lalu tersenyum tulus.             "Makasih, ya." katanya dan tindakan selanjutnya membuat dua pasang mata itu melotot. Bara mengusap kepala Ciara dengan lembut. Ciara tak kalah kaget mendapat perlakukan itu dari Bara.             Mahesa yang duduk di meja guru tiba- tiba langsung berdiri tegak. Hampir saja menyambar tangan Bara dan menghajarnya saat itu juga. Ciara, Mahesa dan Iras menatap senyum jumawa Bara yang mulai keluar dari kelasnya hingga punggungnya menghilang dari pandangan ketiganya.   ***               "Kalau ada orang yang harus lo bantu belajar, itu Mahesa, bukan Bara. Bara udah pintar. Anak satu itu yang harus lo kasih kursus." Dagunya menunjuk Mahesa yang masih berdiri di depan meja guru.             "Pakai acara elus- elus kepala segala. Kayak orang pacaran aja." seru Iras dengan nada mengejek. Ciara hanya diam, ia menatap Iras yang sudah kembali ke mejanya, Mahesa menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.             Bel masuk berbunyi, Mahesa kembali ke tempat duduknya.             “Kenapa, sih, lo bikin peraturan lantai ini haram diinjak sama adik kelas?” tanya Ciara pada Mahesa yang langsung menoleh ke arahnya.             “Ya gue nggak suka aja ada adik kelas yang masuk ke wilayah kekuasaan gue.” jawab Mahesa enteng. Ia melihat Ciara berdecak, dengan dahi yang berkerut dalam karena bingung. Sama sekali tak mengerti jalan pikiran teman sebangkunya.             Diana berhenti di depan kelas dengan napas terengah- engah. Ia yang sejak tadi pagi mendapat tugas dari guru fisika untuk membantu memeriksa ulangan kelas sebelas mencoba mengatur detakan jantungnya yang bekerja lebih keras dari biasanya.             "Trouble maker anak kelas sepuluh cari ribut lagi." katanya terengah- engah karena sampai di lantai empat dengan lari marathon. Semua anak kontan berdiri dan melongok ke jendela. Karena tidak ada yang bisa terlihat selain pohon- pohon besar, mereka semua berdesakan keluar. Menatap lapangan yang sudah ramai.             Mahesa membelah kerumunan itu hingga sampai di tepi koridor. Ia menatap dua anak yang sedang menjadi tontonan. Dan lagi- lagi, kedua tokoh utamanya Bara dan Lara.             "Itu cewek tangguh juga. Nggak ada kapoknya." Iras menepuk pundak Mahesa yang menatap dengan cermat, hingga akhirnya ia tahu sebabnya. Tas milik Bara tergantung di ring basket. Bagaimana gadis itu melakukannya, tidak ada yang tahu. Yang jelas, tas itu nasibnya seperti sepatu milik Lara beberapa hari yang lalu. Tergantung, mengenaskan, dan darah si pemilik menggelegak hebat.             “Lo memang mau mati, ya?" Bara menatap Lara lurus- lurus. Gadis itu tampak seperti biasa. Dingin dan tenang. Tidak ada raut wajah cemas dan takut. Kamal ada di belakangnya, menjaga dari jarak dekat agar bisa menghalau sesuatu yang mungkin dilakukan laki- laki itu pada Lara. Lara memang meminta agar Kamal ada dibelakangnya dan tidak menginterupsi sama sekali. Ini urusannya dengan Bara. Dia pula yang harus menutupnya. Dia yang harus mencapai finish walau terseok- seok.             Sekuat apapun Kamal mencoba menghentikan Lara. Laki- laki itu selalu kalah. Lara tak akan pernah bisa diatur oleh siapapun. Ia hanya akan mendengarkan isi hatinya, tak tak pernah peduli pada omongan orang lain, tak terkecuali Kamal, sahabatnya. Gadis itu tak pernah pernah mau mendengar kekeras apapun Kamal meminta untuk tak lagi berurusan dengan Bara.             "KITA... IMPAS." Suara itu pelan, dalam, tenang, tapi kuat. Sarat kepuasan. Sarat tekanan. Tapi nyatanya Bara tidak bisa menerima sebegitu mudah. Rahangnya mengeras. Ia memangkas jarak mereka.             "Lo mau main? Gue ladenin, yang jelas, permainan ini hanya boleh berhenti di gue, jadi nggak ada kata impas. Selama lo masih balas, gue akan terus balas."             Lara masih berdiri di tempatnya. Tidak mundur atau goyah sedikitpun. Mata itu masih menusuknya. Mata serupa jelaga yang justru terlihat mengobarkan api. Lara tahu, lawannya kali ini berbeda dengan yang biasanya. Dan Bara sadar, kini ia mendapat lawan yang sepadan.             Mahesa berlari menuju tangga dan turun ke tempat kejadian. Ia mendekat dan membelah kerumunan. Ia menyuruh orang- orang di sekitar bubar hanya dengan isyarat tangan hingga akhirnya lapangan itu bersih, menyisakan dua pemeran utama, Kamal, dirinya, iras dan Kiki yang berdiri di belakang Bara.             Ia berdiri di samping Lara dan merangkul pundaknya. "Cuma lo yang berani ngelakuin itu sama si pentolan kelas sebelas ini." Mahesa menunjuk Bara dengan dagunya. Membuat wajah Bara memerah dan tangannya terkepal sempurna menahan marah. "Selamat ya. Lo hebat. Tapi..." ia memberi jeda sebentar. "Lo nggak bisa ngelakuin itu ke gue. Karena gue, jauh- jauh lebih s***s daripada dia." Lara refleks menggeleng. Urusannya hanya dengan Bara. Ia tidak bermaksud menantang semua pentolan di sekolah ini. Ini murni masalahnya dengan Bara. Tunggal, tidak ada motif lain dan tidak akan merembet ke yang lain.             Mahesa tersenyum melihat Lara menggeleng. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu menegang dalam rangkulannya. Kali ini matanya menatap Bara yang ia tahu sebentar lagi akan meledak. Laki- laki itu tengah mati- matian menahan amarahnya. Ia tahu seberapa ingin Bara melanyangkan tinju padanya, ataupun pada gadis di sebelahnya             "Ke kantin yuk. Gue traktir lo makan atas prestasi lo."             Genderang perang sudah ditabuh. Air tenang sudah beriak. Ketenangan itu menggelegak. Racun sudah disebar. Satu musuh Bara bertambah lagi. Satu- satunya juniorr yang berani menentangnya. Satu- satunya juniorr yang berhasil menginjak harga diri Bara di depan anak- anak lain karena berhasil mencari celah untuk membalas dendam dan satu- satunya juniorr yang tidak takut dengannya.             Bara menatap Lara, Kamal, Mahesa dan Iras yang sudah mulai menjauhinya. Meninggalkannya setelah menginjak- injak harga dirinya. Ia bersumpah sampai mati tak akan pernah melepaskan gadis kurang ajar itu. Gadis itu harus diajari cara untuk sopan santun pada seniornya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu melakukan hal seenaknya pada dirinya, dan ia tidak akan lagi menahan diri untuk membalas dendam pada gadis itu. Ia tidak akan lagi menahan diri dan ia akan memberitahukan gadis itu, siapa dirinya dan  apa saja yang sanggup ia lakukan.     ***               Iras dan Mahesa menatap dua juni0r yang duduk di depannya. Mahesa menepati janjinya, meneraktir makan dua orang itu. Tapi nyatanya, dua piring yang ada di depannya itu teronggok begitu saja. Kamal sadar akan ada yang berlanjut dengan dua seniornya ini. Sementara Lara tiba- tiba merasa tubuhnya menegang. Ada aura mengintimidasi dari tatapan Mahesa. Mahesa memang terlihat lebih tenang dari pada Bara. Ia tidak meledak-ledak seperti Bara. Tapi ia tahu, yang tenang justru mengkhawatirkan. Yang tenang justru menyimpan pusara air hebat. Tapi, yang di depannya ini adalah yang menolongnya beberapa kali. Yang senyumnya membuatnya terkesima.             "Gue nggak tahu darimana kalian punya keberanian ngelawan Bara." suara pertama datang dari Iras. Setelah beberapa menit dalam keadaan sunyi senyap. Suara itu seperti air di tengah gersangnya padang pasir. Menyejukkan, juga mengkhawatirkan. Karena mereka berdua tidak tahu kata apalagi yang mengikutinya.             "Ternyata benar. Troublemaker ketiga sudah datang." sepasang laki- laki itu saling menatap.             "Tapi kalian harus tahu gimana Bara." kali ini suara Iras lebih tegas. Ia memang patut mengacungi dua jempol ke arah mereka berdua, tapi ia juga harus bilang bahwa dua anak di depannya itu sangat bodoh.             "Kalian sama aja menerobos kandang singa. Kalian cuma perlu nunggu dibantai habis. Mungkin nggak langsung, mungkin dia butuh waktu lama agar p********n itu lebih terasa menyenangkan buatnya."             Mendengar penjelasan Iras. Tubuh dua orang itu semakin menegang. Lara tahu. Lara sadar. Dan Lara tidak mungkin mundur.             "Kalian cuma punya dua pilihan. Lanjut atau berhenti."             "Eh, kalian sudah nggak mungkin berhenti, sih. Sudah terlambat. Kalian cuma bisa lanjut. Survive." Lanjutnya. Mahesa masih diam. Masih menatap Lara yang menelan ludah dengan susah payah.             "Saya nggak takut, Kak." Lirih Lara, nyaris tidak terdengar. Ia menatap Mahesa yang kini tersenyum ke arahnya. Mahesa memajukan tubuhnya ke arah si gadis.             "Gue tahu. Gue cuma mau bilang kalau kalian harus hati- hati. Bara bukan lawan yang sepadan buat kalian." Kata Mahesa. "Tapi kalian masih bisa mencoba." Lanjutnya. Mahesa berdiri. Iras mengikuti.             "Fighting ya." Katanya sambil berdiri dan menjauh. Meninggalkan sepasang orang itu dengan pikiran campur aduk.             Lara dan Kamal masih di sana saat kedua orang itu menghilang dari pandangannya. Kamal langsung menatap Lara lekat- lekat. Ia menyentuh tangan gadis itu di atas meja.             “Dengar, kan, kata Kak Mahesa? lebih baik kita nggak usah berurusan sama Bara.” Kata Kamal. Ia menatap Lara yang masih termenung di sebelahnya.             “Tapi Kak Mahesa bilang sendiri kalau kita nggak bisa mundur. Bara nggak akan ngasih kita kunci untuk gembok yang udah dia pasang.” Lara menatap Kamal. “gue nggak akan berubah pikiran. Gue akan tetap pada prinsip gue. Gue nggak akan tinggal diam kalau hidup gue diusik.”             Kamal menghela napas dan melihat sorot mata keberanian dari tatapan Lara. Sekali lagi, Lara memang tak bisa tersentuh dengan mudah. Ego gadis itu terlalu tinggi dan ia tidak akan pernah mau mengalah. Gadis itu telah mendirikan benteng pertahan sejak ia menerima perlakukan seenaknya dari Bara.  TBC LalunKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN