"Aneh." Gumam Alisha setelah tadi seragamnya di periksa oleh anggota OSIS untuk memastikan seragamnya itu lengkap.
Nayla yang berjalan berdampingan dengan Alisha menoleh dan menatap sahabatnya itu dengan bingung.
"Kenapa, Sha?" Keduanya menghentikan langkah kakinya yang hendak akan menuju kelas.
Alisha mengalihkan pandangannya dan menatap Nayla dengan tatapan datar. "Cowok yang tadi itu aneh."
"Yang mana?"
"Yang itu." Tunjuk Alisha rendah ke arah Rayhan yang sedang berlari dengan senyuman lebar dan melambaikan kedua tangannya kepada siswi-siswi yang sedang menontoninnya sambil bersorak sorai di seberang lapangan sana.
"Dia itu kayaknya seneng banget ya di hukum keliat dari mukanya. Padahal 'kan, orang kalo lagi dihukum itu pastinya malu tapi dia kaya nggak ada malunya sama sekali."
Nayla sontak tertawa mendengarnya, "Dia emang gitu kali Sha."
Alisha mengerut mendengar tawa Nayla, "kok kamu malah ketawa sih?"
"Ya terus aku harus gimana?" Nayla terkekeh pelan.
"Ya ... nggak, gini deh Nay, kamu coba pikir, dia itu aneh gak sih, masa tadi 'kan Dara itu cuma bilang kalo dia itu udah ngelakuin kesalahan karna atribut yang gak lengkap tapi kok dia malah marah-marah 'kan yang salah dia." Jelas Alisha yang terlihat bingung sama cowok yang tidak dia kenal itu.
"Kamu tau gak Sha, dia itu pentolan di sekolah ini tau."
"Pentolan? Anak badung maksud kamu."
"Yap, bisa di bilang ya begitu sih, namanya Rayhan. Dia itu cowok yang paling onar di sekolah ini dan yang paling jail, suka banget goda-godain cewek tambahan ya dia itu anak yang paling mesum."
Alisha memasang wajah terkejutnya, kedua alisnya terangkat. "Yang bener kamu?"
"Ya lah ngapain aku boong. Masa ibu kosan yang tinggal di sebelah sekolahan kita diintip sama dia coba dan sama dua sekawannya itu pas ibu kosannya lagi mandi. Coba kamu bayangin Sha, dia Ngintipnya nekat lagi sambil naek pohon segala. Untung ibu kosannya janda jadi gak ada yang marah kecuali ibu kosannya sendiri, sih." Jelas Nayla sambil terkikik geli bila mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu sampai ketiga cowok itu sempat kepergok oleh guru di sekolah ini.
"Dan ..." Alisha tersentak halus, "Kamu gak usah deket-deket sama dia ya Sha, anaknya nakal. Takut aku kamu di apa-apain sama dia apalagi kanu baru jadi anak baru di sekolah ini." Kata Nayla memperingati.
Ya, Nayla memang benar. Alisha harus menjauhi Rayhan dan jangan sampai bertemu dengannya. Alisha belum tau apa-apa tentang cowok bernama Rayhan itu.
Dia masih anak baru di sekolah ini yang pindahan dari Bogor, Alisha harus pindah ke Jakarta karena Neneknya Alisha yang sedang sakit hingga mengharuskan dia jadi ikut pindah.
Dan tentunya Alisha yang baru bersekolah di sini beberapa minggu yang lalu belum tahu tentang seluk beluk di sekolah ini apalagi tingkah buruk Rayhan dan kedua temannya.
Dan tanpa harus diperingati pun Alisha tidak ingin berdekatan dengan cowok brutal seperti itu.
Mengingat tentang kejadian kemarin yang tiba-tiba saja cowok itu memeluknya meskipun tidak disengaja tapi tetap saja membuat Alisha tidak ingin bertemu lagi dengan cowok itu.
"Sha ... hey," Alisha lagi-lagi terkejut. "Kok aku lagi ngomong malah ngelamun lagi, ke kelas yuk." Ajak Nayla sudah berjalan melangkah lebih dulu dengan perasaan yang riang seperti biasa.
Alisha menghela napas namun sebelum beranjak, mata bulatnya yang begitu indah sempat bertemu pandang dengan bola mata hitam legam milik Rayhan yang pedenya malah mengedipkan satu matanya ke arah Alisha membuat gadis itu mengernyitkan dahinya sembari bergidik ngeri. Lantas buru-buru Alisha segera pergi dari sana.
. . . .
Dara sampai geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan tingkah laku cowok bernama Rayhan ini.
Dara sudah sering menghukum pelajar lainnya yang selalu melanggar aturan sekolah. Kebanyakan dari mereka merasa sangat malu jika harus di hukum lari di tengah lapangan dan di tontonin oleh semua orang.
Namun baru kali ini dia bertemu dengan orang yang ternyata urat malunya sudah putus.
"Ra," panggil seseorang, tanpa harus Dara menoleh pun Dara sudah tahu siapa pemilik dari suara itu.
"Dara." Panggilnya lagi. Dara berdecak kesal, dia terpaksa mengalihkan pandangannya dari Rayhan yang sejak tadi dia di tugasi untuk mengawasi Rayhan agar tidak kabur dari hukumannya lagi.
"Kenapa sih, Den?"
"Tadi kenapa kamu gak temuin aku di UKS, aku sakit."
Dara memutar bola matanya, jengah dan kembali menatap Rayhan yang masih berlari di tengah lapangan sana. Lebih baik mengabaikannya daripada meladeninya. Cuma bisa bikin urat emosinya naik saja.
"Ra, kamu gak denger aku gak, sih? Aku sakit-"
"Kalo kamu sakit ya kamu tinggal pergi ke UKS terus minta diobatin. Kok, gitu aja jadi di bawa ribet sih, sakit aja." Ketus Dara sangat kesal. Ia kembali mencebikkan bibirnya.
"Tapi aku sakit karna cowok brandalan itu Ra," Dennis berkata sembari menunjuk Rayhan. Dara menggeser posisi berdirinya saat Dennis malah mendekatinya. Namun, Dara masih tetap menolak untuk bertatapan langsung dengan Dennis.
"Aku maunya kamu merhatiin aku bukannya merhatiin orang yang udah buat muka aku babak belur." Cetus Dennis, tidak terima diabaikan oleh perempuan yang sudah lama dia suka ini.
Dara mengerutkan dahinya sedalam mungkin, dia menatap Dennis dengan sarat kebingungan.
"Kenapa aku harus kasih perhatian aku ke kamu? Kamu siapanya aku? Pacar? Bukan 'kan?"
"Aku cowok yang suka sama kamu!" Dara membulatkan matanya ketika Dennis menggunakan nada bicara yang tinggi. "Tapi kamu malah merhatiin cowok itu, kamu ngasi dia perhatian sedangkan aku-"
"Stop," Dara mengangkat tangannya supaya Dennis berhenti bicara. "Aku sama sekali gak ngasih dia bentuk perhatian apapun itu yang kamu bilang barusan, sekarang ini aku lagi ditugasin buat ngawasin dia."
"Tapi tetap aja kamu merhatiin dia dari tadi. Untuk apa, Ra?"
"Ya, supaya dia gak lari dari hukumannya, Dennis!" Bentak Dara sangat kesal.
"Omong kosong!" Tukas Dennis sembari mengangkat kedua tangannya. Dia memutar bola matanya ke arah lain. Dara mendengkus sangat keras. Kenapa Dennis sangat menyebalkan sekali. Lagian siapa dirinya itu? Dia bukan siapa-siapanya Dara. Kenapa dia jadi sampai segitunya mengatur-ngatur Dara?
"Tetep aja aku gak suka kamu perhatian sama dia."
"Kamu bukan siapa-siapanya aku Den-"
"Aku orang yang suka sama kamu."
"Tapi aku gak suka sama kamu!"
"Heh! Heh! Woy-woy!" Tiba-tiba seseorang datang berteriak dari kejauhan, berjalan menghampiri keduanya. "Kalo mau berantem jangan di sini bisa gak?! Liat dulu tempatnya? Ini sekolah. Bisa ikutin peraturan sekolah 'kan? Lu bedua 'kan anak OSIS pasti udah paham dong kalo di sekolah ini ada peraturan, 'Di-larang-pacaran-di-sekolah!"
"Siapa yang pacaran sih?" Ketus Dara melotot galak pada Rayhan. Seenaknya saja cowok menyebalkan ini malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Lah, situ sendiri yang pacaran tapi gak mau ngaku. Gak boleh gitu ketos, bohong itu kata pak Ustadz dosa nanti masuk neraka kalo udah masuk neraka ntar di siksa, ibu ketos mau masuk neraka?"
"Diem! Lo udah selesai larinya?"
"Menurut lo aja gimana?" Jawab Rayhan santai. Seraya menyugar rambutnya ke belakang, seperti biasa Rayhan selalu tebar pesona. Dara menggeleng melihat antena di atas kepala Rayhan seperti lebah, rambut yang dikuncirnya kadang membuat Dara suka geram.
"Jangan lupa potong rambut lo." Peringat Dara. Hanya itu yang dia katakan karena malas saja kalau sudah mood hancur harus bicara panjang lebar.
"Ra-"
"Aku mau ke kelas Dennis, jangan ganggu aku!" Tandas Dara langsung pergi meninggalkan kedua lelaki yang terbengong di sana.
"Pms ya, cewek lo?" Rayhan menatap Dennis dengan tatapan yang sangat menyebalkan menurut Dennis. Kekehan yang keluar dari mulut lawannya makin membuat Dennis merasa terhina saja.
"Ngomong sana sama tembok." Ketus Denni lalu pergi meninggalkan Rayhan yang malah menaikkan kedua alisnya dan tampangnya seolah dibuat terkejut.
"Aneh, ini gak cowoknya gak ceweknya sama-sama sensi kalo di tanya," Rayhan menatap punggung Dara dan Dennis yang berjalan berbeda arah. Lalu dia geleng-geleng kepala, menghela napas lalu kembali berkata, "dua-duanya pmsnya barengan ya? Sosweet banget." Kekehnya lalu pergi masuk kelas.