bc

2Sisi

book_age18+
578
IKUTI
2.5K
BACA
dark
family
friends to lovers
badboy
badgirl
tomboy
drama
twisted
first love
friendship
like
intro-logo
Uraian

Bagi seorang Rayhan, Alisha adalah seseorang yang nyaris sempurna, seorang gadis yang menurutnya diciptakan sebagai penerang hidupnya ketika gelap memenuhi sisi hidupnya. Alisha akan selalu membawanya ke dunia lain yang tidak pernah ia sentuh dan rasakan. Dunia yang membawanya jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Bagi Rayhan, Dara yang dia lihat adalah sosok yang sangat keras, tegas, disiplin dan hidupnya terlalu dipenuhi oleh peraturan sekolah yang tidak Rayhan sukai. Namun, dibalik sosok kuatnya, Rayhan seperti menemukan sisi yang sama seperti dirinya. Rahasia yang tersimpan rapi tapi apabila terkuak akan menyakiti hati. Rayhan sadar jika dia dan Dara memiliki sisi yang sama, tersakiti dalam batin dan fisik, berbeda dengan sisinya yang jauh berbanding terbalik dengan Alisha yang penuh dengan hangat kebahagiaan.

Rayhan mencintai Alisha tapi Rayhan juga tidak bisa meninggalkan Dara dalam kesendirian yang mungkin nantinya akan merenggut kewarasannya. Akan tetapi hati Rayhan harus memilih diantara satu sisi yang sama dengannya atau satu sisi yang berbeda dengannya. Berlari mengejar cintanya pada Alisha atau berdiri di samping Dara dan membiarkan cinta Dara tumbuh sepenuhnya untuknya dan bagaimana jika ada dua cinta yang berlabuh pada satu hati? Mana yang harus Rayhan pilih?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab. 1
5 Januari 1998, 08.15 "Pokoknya kita ketemuan pas nyampe di depan gudang, oke?"            Rayhan sedang memberikan arahan kepada kedua sahabatnya yaitu Faisal dan Wisnu untuk bisa kabur dari kejaran guru piket yang seperti biasa tiap hari senin---selepas upacara, mereka yang melanggar aturan akan di bawa ke ruang BP, dan sialnya tadi mereka sewaktu upacara sedang di hukum karena ketahuan merokok di belakang sekolah. Namun, Faisal sempat mendengar sewaktu upacara mereka berada di barisan khusus, ada murid yang menceletuk bahwa nanti akan ada razia dadakan besar-besaran. Gawat!            Masalah utama yang ketiga anak nakal itu harus hadapi adalah rambut mereka yang gondrong akan di cukur sampai botak oleh Ibu Widya yang terkenal begitu jahat dan kejam, guru itu sangat sulit untuk di ajak bernegoisasinya. Hidupnya terlalu kebanyakan peraturan.            "Oke, kalo gitu gua sama Wisnu ke sana dan lo pergi ke sana," kata Faisal menunjuk arah yang berlawan arah. Rayhan mengangguk, dan sebelum mereka berpencar tiba-tiba saja suara dari kedua guru itu mengintrupsi mereka untuk terpaku sesaat. "RAYHAN! FAISAL! WISNU! KEMARI KALIAN!"             Ibu Widya yang memiliki badan gempal itu berteriak kuat sampai Pak Kosim yang memiliki tubuh tinggi kurus dan tentunya kebalikan dari ibu Widya itu mengerutkan dahi sedalam-dalamnya dan juga menutup matanya, dengan kedua tangan langsung menutupi kedua telinganya. "Kabur woy! Kabur!" Seru Wisnu mendorong-dorong kedua temannya. Bu Widya yang melihat mereka berlari tentunya berteriak semakin kuat dan berlari beberapa langkah ke depan dengan sangat lambat. Ia berbalik badan dan kembali berseru jengkel ketika dugaanya benar Pak Kosim masih berdiri di tempatnya. "PAK KOSIM! AYO CEPET! KEJAR MEREKA! HERGH!" Teriak Bu Widya sambil menghentakkan heels-nya berkali-kali.  Pak Kosim mengangguk. "I ... iya bu." Balasnya terbata-bata. Lantas, ia berlari lebih dulu meninggalkan Bu Widya. Tapi baru saja lima langkah melewati Bu Widya, pak Kosim kembali berhenti saat Bu Widya berteriak.          "Pak! kok malah tinggalin saya!?"          "Lah? Katanya di suruh kejer anak-anak itu bu?"          "Ya saya emang nyuruh bapak kejer anak-anak itu tapi larinya ya bareng dong." Dengan terpaksa Pak Kosim kembali berlari ke arah Bu Widya dan segera menggandeng tangan Bu Widya untuk lari bersama namun Bu Widya segera menepisnya.           "Jangan modus-modusin saya, ingat saya udah punya suami ya. Jendral! Mau kamu di tembak sama suami saya." Ujar Bu Widya lalu melenggang dari hadapan pak Kosim yang memasang muka bloon setelah mendengar perkataan Bu Widya tadi.           "Setau saya modus itu nilai yang paling banyak muncul, kan tadi saya cuma megang tangannya," Pak Kosim menggaruk kepalanya. "Kenapa saya malah di katain modus?" . . . . Di saat Rayhan dalam kejaran Pak Kosim, yang hanya Rayhan pikirkan adalah satu, yaitu bagaimana caranya ia bisa selamat dari kejaran Pak Kosim?            Ya, hanya itu yang dia pikirkan selama bermain lari-larian dengan Pak Kosim, hingga ia tidak sadar jika ia sudah menabrak seorang perempuan berkerudung putih tengah berjalan ke arahnya. Perempuan itu mengaduh kesakitan sambil mengusap bokongnya, Rayhan sempat terpaku ketika ia baru menyadari ia sudah menabrak seorang perempuan yang memegang beberapa buku cetak sampai akhirnya terjatuh berserakan dan salah satunya menimpa jemari kakinya namun Rayhan anehnya sama sekali tidak merasakan sakitnya.            Bukan karena suara rintihannya yang membuat Rayhan mematung dan terduduk kaku, tapi pada apa yang ia lihat saat ini adalah paras cantik yang gadis itu miliki. Alis yang berbentuk seperti bulan sabit alami, tanpa sulam atau apa pun itu, bibir merah yang ranum dan tipis, juga pipinya yang memerah perpaduan dengan kulit putihnya yang halus, bersih tanpa jerawat. Membuat Rayhan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Andaikan saja teriakan Pak Kosim tidak menyadarkannya, mungkin saja Rayhan sudah akan membantu gadis berkerudung itu dan lebihnya ia bakalan mengajak gadis itu berkenalan.            Gadis itu mengerutkan keningnya dan menoleh ke belakang untuk melihat Rayhan yang tiba-tiba saja kabur tadi.            "Dia itu kenapa sih, udah dia yang nabrak bukannya minta maaf malah kabur," gerutu gadis bernama Alisha Syahira. Matanya tak awas masih memandangi punggung cowok itu yang kian telah menjauh. Alisha langsung mengerjap, ia menarik napas dan langsung beristighfar, meredam emosinya agar setan tidak bisa meracuni pikirannya dengan amarah yang membumbung tinggi.            Tak lama datanglah Pak Kosim yang terlihat engos-engosan, berdiri di sampingnya dengan badan membungkuk sambil memegang kedua lututnya. Alisha mendongak dengan kepala ia miringkan, terlihat bingung dengan Pak Kosim yang seperti habis balapan lari. Sepertinya guru itu belum menyadari kehadirannya maka itu Alisha menegur Pak Kosim. "Pak?" Pak Kosim menoleh dan tersenyum saat mendengar ada yang menyapanya.            "Eh, ada Alisha, kamu lagi ngapain?" Tanyanya ramah.  Alisha bangkit berdiri dan menyalimi pak Kosim sebelum tadi ia mengambil buku yang berserakan.            "Aku lagi beresin buku pak, tadi sempat jatoh karna ditabrak sama anak cowok."            "Anak cowok?" Barulah Pak Kosim langsung berdiri tegap "Lari ke mana dia?" Tanyanya lagi. Alisha menunjuk ke arah dimana cowok itu lari, Pak Kosim menghembuskan napas lelah sembari menggeleng.            "Haduh anak itu bandelnya kenapa gak kira-kira sih!!!"            "Emang kenapa pak?"            "Dia lari dari hukuman saya Alisha, sudah ya bapak kejar dia dulu."            "Eh, iya pak." Pak Kosim langsung mengikuti arahan yang Alisha tunjuk setelah ia berterimakasih pada Alisha. Alisha mengernyit bingung, "orang-orang hari ini pada kenapa sih, aneh banget." Gumam Alisha kembali pada aktivitasnya dan berjalan menuju perpustakaan. . . . .            Di ruangan osis seorang gadis yang di kuncir kuda itu lagi-lagi menghela napasnya berat dan sesekali memijat pelipisnya yang berdenyut setiap ia melihat adegan dimana seorang cowok kini tengah berlutut di hadapannya dan dengan satu tangannya mengacungkan setangkai bunga mawar merah kepadanya. Aksi alay yang selalu membuatnya frustasi di buatnya. Kenapa setiap kaum adam banyak sekali yang terkagum-kagum padanya dan nekat ingin menjadikannya sebagai pacar padahal sudah jelas ia tidak sangat menginginkannya. "Dara, please terima aku sebagai pacarmu, ya, sungguh aku memang sangat menyukaimu, Ra." Kata Denis yang menjabat sebagai wakil dari ketua osis.            Dara Valenia-yang berjabat sebagai ketua osis sangat membenci aksi seperti ini. Ia pikir setelah rapat dia bisa langsung pergi ke kelas tapi ternyata dugaannya salah besar. Beruntung yang melihat aksi ini hanyalah beberapa teman-teman osisnya yang menghadiri rapat tadi. "Gimana Ra?" Tanya Denis pada Dara dengan sorot matanya terlihat memohon. Bisik-bisik tetangga Dara dengar yang memintanya untuk menerima saja tawaran Denis lagian Denis itu juga tampan dan banyak yang sangat menyukainya di sekolah ini. Baru saja Dara akan melempar penolakannya untuk Denis, teman yang duduk di sampingnya menyela.           "Udah Ra, terima aja sayang kalo kamu tolak. Udah sebelas kali dia nembak kamu, Ra."            "Kamu bisa diem gak sih Cin." Sentak Dara menatap tajam Cindy.            "Tapi Ra kamu jangan setega itu dong sama Denis. Kasian dia, kalo kamu..."            "BISA DIAM GAK SIH KAMU INI!" Dara membentak, cukup membuat Cindy terdiam beberapa saat. Dara tak lagi memedulikan soal Cindy. Dia langsung bangkit dari duduknya karena sudah merasa gerah, tanpa berucap lagi dia pergi meninggalkan seluruh anggota dan ruangan osis. Tentunya hal itu membuat semua orang keheranan termasuk Denis yang kini masih terduduk di atas lantai. "Sudahlah, Den, menyerah saja tidak mudah mendapatkan seorang Dara Valenia yang terkenal cewek super dingin itu," Surya menepuk bahu Denis sekilas dan kemudian membantu sahabatnya berdiri. "Berulang kali kau menyatakan cinta pada Dara berulang kali juga Dara akan mempermalukan kau, Denis. Ingat itu." . . . .           Dara berlari terburu-buru sebab sekarang sudah bel masuk dan Dara sangat tidak menyukai dirinya yang harus datang terlambat masuk kelas karena di dalam kamus hidupnya kata 'terlambat' itu sama sekali tidak tercantum di sana.            "Dara! Dara!" Seru seseorang yang memanggilnya. Dara terpaksa harus menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggilnya dengan amat sangat kencang. Ia berbalik dan mengernyitkan dahi karena Pak Kosim tiba-tiba berlari engos-engosan ke arahnya.            "Dara bisa bapak minta bantuan pada kamu?"            "Ada apa ya, Pak?"            "Begini, ada tiga murid yang lari dari hukuman," seketika mata Dara terbelalak dan detik berikutnya berubah tajam karena mendengar penuturan dari Pak Kosim selanjutnya.             "Namanya Rayhan Pramudya, Faisal Hamish, dan Wisnu Widjojo. Kamu tentunya tau mereka bertiga 'kan sih biang kerok di sekolah ini."             "Ya ... tapi saya gak tau yang namanya Rayhan, saya cuma tau Faisal dan Wisnu aja."             "Rayhan memang jarang masuk, dan ini hari pertama dia masuk ke sekolah. Tadi mereka sempat saya hukum, tapi kamu tau 'kan kebiasaan mereka kalo di hukum pasti bakalan kabur. Jadi, saya mohon sama kamu Dara tolong kamu cari mereka, bisa kamu bantu saya? Soalnya saya ada jam pelajaran sekarang."             Karena Dara adalah seorang yang sangat membenci bila ada yang melanggar peraturan yang sudah di tetapkan, tentunya Dara akan semangat mengincar ketiga anak yang di bilang biang kerok di sekolahan ini.             Selama Dara yang menjadi ketua osis, dia akan menjamin satu pun murid tidak akan ada lagi yang melanggar peraturan sekolah yang sudah di buat. "Pak Kosim tenang aja, saya akan mencari mereka sampai dapat." Tandas Dara begitu tegas. Selama itulah Dara terpaksa tidak masuk kelas sebab tanggung jawab yang kini menuntutnya untuk melakukannya.  Selama lima belas menit ia berlari ke sana kemari, dari penghujung sekolah mencari keberadaan tiga anak semprul itu, tak pernah sekalipun satu tempat ia lewati, kantin sepi tanda tidak ada keberadaan mereka di sana, UKS bukan tempat persembunyian yang bagus juga, rooftop pun di sana sudah ia cari namun tidak ada siapa-siapa. Karena ia juga telah di titipkan amanat yang sangat penting. Dara rela harus menunggu di luar toilet cowok untuk memastikan jika mereka mungkin saja ada di dalam sana. Dua orang keluar dari dalam toilet itu.            "Eh ada kak Dara? Ngapain di sini kak?" Tanya Raffi adik kelas Dara. Bukan hal rahasia lagi jika Dara ini banyak sekali pengagumnya, bahkan sampai adik kelasnya saja banyak yang menyukai kecantikannya namun sayang Dara adalah tipe cewek yang tidak suka tebar pesona.            "Di dalem sana ada siapa lagi selain kalian berdua?"            "Eum ... emang kenapa kak? Kayaknya penasaran banget. Kalo mau tau saya bisa kok anter kakak ke dalem, sekalian liat-liat toilet cowok. Bagus lho kak di dalem sana, wangi pula." Goda teman Raffi dengan cengiran khas yang menampilkan secuil cabe yang terselip di antara behel giginya.            "Heh! Hush, kalo ngomong jangan suka ngaur. Ini kita lagi ngomong sama ketus osis." Bisik Raffi memperingati temannya kalau Dara sedang melotot tajam ke arahnya.            "Gue ini lagi nanya ada apa gak orang di dalem sana bukan mau tau soal toilet cowok. Kok jadi orang bego banget sih! Hehrg!" Dara membentak mereka lalu melenggang pergi dari sana.            "Lo sih."            "Kok jadi gue sih."            "Ya lah gara-gara lo kak Dara jadi marah."            "Gue 'kan mau menunjukkan tempat kebanggaan para cowok."            “Serah lu.” . . . .            Dan ketika saat Dara sudah lelah berlari dan mulai berjalan saja namun masih terlihat gerakan cepatnya, sempat Dara menghentikan beberapa langkahnya saat sudah melewati gudang.  Ia berbalik sebab merasa ada yang mengganjal. Bau asap rokok menyeruak keluar dari lubang-lubang bawah pintu, samar-samar pula ia juga mendengar suara dari dalam sana.           "Woy! Mana rokoknya lagi nih, rokok gua udah mau abis."           "Ah, rokok gua juga tinggal atu buat istirahat nanti."           "Ck, elah, gampang ntaran beli lagi."           "Punya gua malioboro, lo 'kan gak suka, Han. Eh-eh kopi gua jangan di abisin dong, aduh! Dah tau itu bekas ngutang sama mpok atik." Brak! Pintu berdebam sangat kuat membuat ketiga orang di dalam sana terperanjat kaget. Dara berdiri di tengah ambang pintu sedang menyeringai yang malah terlihat sangat mengerikan.           "Jadi, di sini tempat kalian bersembunyi?"           "Heh? Siapa lo?" Teriak Rayhan menunjuk arah cewek itu. Dara tidak menjawab melainkan dia malah langsung masuk dan mengambil kotak rokok dua bungkus, korek api dan sebuah majalah yang ada di atas meja di tengah-tengah mereka. Rayhan berdiri langsung dan melotot galak ketika Dara membuka satu persatu majalah dewasa. Dara mengangkat pandangannya sedikit dan bertanya dengan nada dinginnya.           "Ini punya siapa?" Wisnu dan Faisal yang masih terduduk di kursi kayu saling melirik dan jika dilihat dari jakun yang bergerak naik turun, mereka kesulitan menelan salivanya.           "Punya gua! Napa? Gak seneng lo!" Jawab Rayhan. Dara yang tadinya melirik Faisal dan Wisnu yang mendadak diam, kini mengarahkan pandangannya ke Rayhan. "Apa lo melotot-melotot! Sini balikin majalah gua!" Pinta Rayhan nggak nyelo.           Dara tersenyum tipis dengan santainya ia mengulurkan tangannya untuk memberikan majalah tadi kepada Rayhan, dan saat Rayhan ingin mengambilnya dengan mulut komat kamit karena menggerutu tidak jelas, terpaksa mengerutkan dahinya sangat dalam ketika Dara menarik kembali tangannya.          "Kalian bakal gua hukum." Ucap Dara sangat dingin.          "Apaan sih, siapa sih lo itu berani-beraninya masuk ke sini. Udah mengganggu kita dah gitu ngambil semua barang milik gua dan lo sekarang malah bilang mau ngehukum gua. sakit lo, ya?" Cerocos Rayhan tanpa henti.           "Oh, jadi ini milik lo?" Tanya Dara seraya mengacungkan majalahnya.           "Iya!" Balas Rayhan membentak.           "Bagus, berarti lo tinggal siapin diri aja karna sebentar lagi kasus ini bakal gua laporin ke guru BP, oke."           "Heh! Sinting ya lo!" Umpat Rayhan. Dara tersenyum miring sambil berbalik badan, dan menoleh sedikit sebelum pergi ia berkata.            "Oh ya, lo tadi nanya gua ini siapa, kalau gitu penting untuk lo harus tau kalau gua adalah Malaikat pencabut nyawa lo sekarang ini." Kata Dara sangat santai namun tersirat akan sebuah ancaman yang ia lemparkan sebelum melangkah pergi.            "Apa? Malaikat apa tadi ....,' Rayhan hampir terbahak. "Dia bilang malaikat pencabut nyawa? Hahahaha! udah gila ya, dia itu." Bila Rayhan tergelak habis-habisan mendengar lelucon yang dia anggap dari gadis tadi, berbeda sangat jika Wisnu dan Faisal terdiam dengan ekspresi sarat akan ketakutan.             "Hei, kenapa kalian berdua? Ada yang salah sama omongan gua?" Wisnu bertukar lirik sama Faisal, Rayhan yang di buat penasaran berdecak tidak sabaran.             "Apa? Kenapa kalian diem begitu? Harusnya lo berdua bantuin gua dong! Jangan diam aja kayak gini." Rayhan mengambil tempat dan duduk di kursi di hadapan kedua temannya. "Sama cewek aja lo berdua takut gimana mau ngehadepin rohnya Bu Widya." "Wush! Sembarangan aja lo kalo ngomong. Tuh guru masih idup woy."             "Ya maksud gua kalo ajalnya udah nyamperin dia." Kata Rayhan ngasal. Wisnu dan Faisal saling bersitatap dan tak lama keduanya mengangguk. Lalu, mereka berdua langsung memindahkan kursi dan menghimpit Rayhan.             "Ini lagi apaan sih?"             "Lo harus tau Re ini, lo udah buat hidup kita sengsara," ucap Faisal sok dramatis. Matanya sengaja ia buka lebar-lebar, melotot sampai Rayhan greget mau nyolok matanya pakai cukil giginya.             "Sekali lagi melotot-melotot gua colok lo!" Faisal langsung menarik diri sebelum matanya yang jadi korban tusukan Rayhan dengan cukil giginya yang selalu dia gigit di mulutnya.              "Tapi Han yang Faisal omongin tadi itu bener, lo udah mancing cewek nomor satu di sekolah ini ngamukkk sengamuk-ngamuknya!!!"               Cowok berambut gondrong yang selalu diikat itu mengerutkan dahinya. "Apaan sih," gemas Rayhan tidak mengerti arah bicara mereka. "Sebentar lagi malaikat itu akan memanggil utusannya." "Malaikat sapa sih? Ah, sok misterius juga ngomongnya. Yang jelas kalo ngomong." Rayhan lama-lama tidak tahan juga dengan omong kosong mereka. Faisal menyesap kopi terakhirnya sebelum berdiri dan menendang meja agar bergeser. Faisal menggoyangkan bahu Rayhan kuat-kuat.  "Lo udah mancing malaikat maut kita, lo harus halangin Dara sebelum cewek tercantik sekolah kita ini melaporkan soal majalah yang isinya gambar porno itu ke Ibu Widya Re!!!" "Sekarang?" "Nggak! Enti nunggu lebaran monyet ya sekarang bego!" Sahut Wisnu sudah mulai berdiri. "Kalo gitu kenapa gak bilang dari tadi, ayo kita kejer!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Call Girl Contract

read
339.0K
bc

Nafsu Sang CEO [BAHASA INDONESIA/ON GOING]

read
892.9K
bc

Rewind Our Time

read
168.7K
bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K
bc

Love Me or Not | INDONESIA

read
570.5K
bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

Daddy Next Door

read
232.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook