“Woy! Cewek tunggu!"
Dara tahu jika sekarang lelaki itu sedang memanggil dia karena di koridor yang begitu sepi dan letaknya begitu jauh dari kelas-kelas lain-dia berjalan hanya dirinya seorang. Sekarang sudah jam pelajaran Kimia di kelasnya dan Dara yang tadinya sempat dispen bisa saja kembali mengikuti pelajaran jika saja dia tidak di repotkan oleh tiga biang kerok yang selalu buat onar setiap harinya.
Dara terpaksa berhenti melangkah cepat sebab Rayhan sudah secepat kilat menghalangi jalannya.
"Please banget jangan lo laporin kasus ini ke guru, gua minta tolong banget sama lo, ya. Plis! Plis! Plis!!!!" Ujar Rayhan sembari menyatukan kedua tangannya di bawah dagunya, dengan harapan Dara akan menuruti permintaannya.
"Minggir!" Ketus Dara dengan sorot tajamnya.
Rayhan awalnya mengerutkan dahinya namun beberapa detik akhirnya ia membalas tatapan Dara tak kalah tajamnya.
"Nggak!"
"Gua bilang minggir gak?!"
"Gua bilang nggak!! Kecuali lo mau balikin majalah itu!"
Mata Rayhan menangkap majalan yang Dara pegang, sadar akan perlawanan yang Rayhan lakukan tiba-tiba, Dara langsung menyembunyikan majalah tersebut ke belakang tubuhnya.
"Berani berbuat berarti lo harus berani bertanggung jawab, lo udah bawa majalah dewasa yang isinya gak patut di baca dan di liat untuk anak SMA, lo juga udah merokok di lingkungan sekolah dan lo karna lo sekolah ini gak akan bisa maju. Adanya lo di sekolah ini lo cuma bisa nyebar pengaruh buruk untuk siswa di sini."
"Tapi gua ngerokok tuh di gudang, intinya 'kan, gua gak ngeganggu orang laen." Kata Rayhan mencoba membela dirinya.
Dara mundur selangkah karena Rayhan terus-terusan maju ke arahnya. Berkata sambil menunjuk wajah Rayhan.
"Sapa bilang? Harusnya lo mikir, tiap orang lewat depan gudang itu pasti bakal nyium bau asap rokok lo sama kawan-kawan lo yang berasal dari dalam gudang, lagian lo merokok juga masih make seragam, dan terakhir kesalahan lo itu adalah lo lari dari hukuman setelah upacara, jelas?" Dara berucap panjang namun Rayhan tidak peduli.
"Bacod! Udah siniin majalah-"
"Dan ingat kesalahan lo hari ini selain merokok juga lo udah membawa majalah yang isinya porno! m***m banget sih otak lo!"
"Heh! Denger ya bukan laki normal namanya kalo dia gak m***m. Wajar cowok demen ngeliatin begituan toh juga bukan gua aja yang entar demen ngeliat begituan, gue jamin enti lo juga bakal seneng kalo di kasih ngeliat anu-Aww!!!"
Dara langsung menendang s**********n Rayhan tanpa aba-aba, dia tersenyum puas melihat Rayhan yang meringis kesakitan.
"Rasain lo!" Dara tertawa senang.
"Sialan lo!" Rayhan mengumpat.
Dara mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri namun karena kurang cepat Rayhan yang masih punya dendam sama Dara sudah berhasil mencengkram tangan Dara sebelum cewek itu berlari menjauh.
"Awww! Lepasin gue setan!!!!" Kata Dara dengan kasar.
Lalu, tak lama kemudian Wisnu dan Faisal datang dengan ekspresi keterkejutannya ketika melihat Rayhan dan Dara yang main tarik-tarikan.
"Astagfirullah Re kalo mau maen kucing-kucingan atuh jangan di sini, di ranjang aja biar sedep." Celetuk Faisal yang mengundang tawa Wisnu.
"Hahah bego sekali lo ini Sal!" Namun tawanya menghilang di gantikan wajah datarnya dan sebuah tempelengan dari Wisnu ke kepala Faisal.
"Bodoh! Bantuin Rayhan cepetan! Tu anak lagi gak maen kucing-kucingan dodol." Ujar Wisnu langsung berlari menuju ke arah Rayhan untuk membantu sahabatnya itu.
"Han-"
"Nu! Cepet bantuin gua!"
Dara menoleh ke arah Wisnu. "Heh! Lo diem ya, jangan ikut campur!"
"Jangan peduliin nih cewek Nu, udah cepetan sebelum guru BP dateng."
Wisnu pun mengangguk cepat. Dia segera mencengkram tangan yang satunya milik Dara. Rayhan dan Wisnu jadi kewalahan menghadapi Dara yang terus meronta dengan tenaganya yang begitu kuat.
"Ini cewek makan apaan sih? Kuat bener tenaganya."
"Gue yakin nih tulangnya kebuat dari otot besi! Hayu gua bantu." Kata Faisal yang tiba-tiba saja datang.
"Dari tadi kek tai ayam." Rayhan mendengus.
"Lo berdua pegang tangannya biar gua megang kakinya."
Dara berteriak. "Heh lo gak usah kurang ajar ya?"
Rayhan dan Wisnu tertawa juga Faisal. "Untung banyak lo kampret." Ucap Wisnu seraya terkekeh-kekeh geli.
Tubuh Dara di angkat oleh Rayhan dan Wisnu dengan kaki yang menggantung di udara. Dan baru saja Faisal akan mengambil keuntungannya akan memegang kaki Dara dengan cara menangkap kaki gadis itu yang terus-terusan menendang sana sini. Tiba-tiba saja teriakan dari ujung lorong membuat mereka terkejut sampai ketiga orang itu terjatuh ke lantai kecuali Faisal yang mendadak langsung menutup kedua telinganya.
"RAYHAN! FAISAL! WISNU!!!!!"
Kepala Rayhan dan Wisnu sama-sama terangkat dan Faisal perlahan berbalik dengan ekspresi takutnya.
"SINI KALIAN!"
. . . .
Ketiga anak cowok itu harus terpaksa mendengar ocehan dari Bu Widya sambil melakukan gerakan push up di tengah lapangan yang terik mataharinya sudah membakar kulit mereka, padahal sudah satu jam lamanya Bu Widya memarahi mereka tapi sampai sekarang, guru si bibir tebal enggan untuk berhenti.
"110!" Ujar Faisal menghitung gerakan push up.
"111!!" Sahut Wisnu yang sudah mau teler.
"200!!!" Teriak Rayhan sangat kencang. Wisnu dan Faisal langsung menoleh ke arah Rayhan, Dara menatap datar dan Bu Widya langsung melotot.
"Heh! Hitung yang bener kamu Rayhan, jangan korupsi!" Kata Bu Widya emosi.
"Capek bu, lelah hayati ini." Rayhan berucap melas.
"Ini hukuman untuk kalian bertiga yang udah berani-beraninya melanggar peraturan sekolah di tambah kalian juga udah berani-beraninya bawa majalah yang gambarnya isinya gambar dewasa semua ..."
Selama di berikan ceramah, Rayhan terus menerus menatap Dara begitu tajam namun Dara membalasnya dengan senyuman tenang.
"Harusnya kalian mikir mau jadi apa nanti kalian bertiga kalo kelakuan aja gak kalian ubah mulai dari sekarang. Mau bikin negara ini hancur sehancur-hancurnya??"
"Assalamuceramahny
Tiba-tiba dua orang gadis menghampiri Bu Widya yang satu pakai kerudung dan satunya berambut panjang.
"Waalaikum salam." Ucap Bu Widya terpaksa menghentikan ceramahnya.
"Waalaikum salam," ucap Wisnu dan Faisal tersenyum ke arah dua gadis yang datang kemari.
Rayhan enggan menjawab namun dia tetap perlahan menoleh dan seketika tatapannya terpaku begitu saja.
"Bu, sekarang ibu ada jam di kelas kami," ucap Alisha dengan suara lembutnya. Lembut hingga terdengar begitu merdu di telinga Rayhan.
"Yasudah, nanti saya ke kelas kalian." Kata Bu Widya setelah selesai bicara dengan Alisha dan Nada.
Kemudian, Bu Widya menatap ketiga cowok itu.
"Sekarang berdiri kalian." Perintahnya langsung di turuti oleh ketiga anak itu. Mata Rayhan masih terus menatap Alisha hingga gadis berkerudung itu pun tak sengaja mendapati Rayhan yang sedang menatapnya begitu serius dan membuatnya kebingungan akan tatapannya.
"Dengarkan saya, saya sudah tidak ingin melihat kalian mencoreng nama sekolah ini lagi, sekali aja kalian masih melanggar peraturan, sudah saya pastikan saya menghukum kalian lebih berat lagi, paham!! Sekarang masuk ke kelas kalian!" Titah Bu Widya.
Faisal dan Wisnu mengangguk, Dara pun pamit pada Bu Widya untuk pergi ke kelas namun Rayhan masih menatap Alisha padahal yang di tatap malah merasa risih dan tidak suka. Akhirnya Alisha mengajak temannya untuk segera pergi setelah berpamitan pada Bu Widya.
"Heh! Ngapain kamu masih di sini! Sana pergi ke kelas kamu!"
Rayhan tak menyahuti, dengan senyuman lebarnya dan matanya yang mulai berbinar-binar, masih di tatapnya Alisha hingga gadis itu menghilang di belokan koridor.
"Rayhan!" Bentak Bu Widya lebih keras karena merasa di abaikan.
Sejurus kemudian, datanglah Faisal dan Wisnu yang sengaja nyengir, meminta ampun sama Bu Widya dan menyeret langsung Rayhan dari hadapan Bu Widya sebelum terkena siraman rohani olehnya.
"Cantiknya aduhai ...," kata Rayhan sebelum pergi meninggalkan tempatnya tadi. Pelan, tapi masih bisa tertangkap oleh pendengannya Bu widya yang malah justru membuat Bu Widya tersipu malu.
"Dasar bocah! Mau ngegoda perempuan kok malah yang udah bersuami."
. . . .
"Eh! Woy! Tunggu dulu!"
Meskipun berkali-kali dirinya di panggil dengan sebutan 'woy' Dara dan dia kembali dikejar oleh cowok yang sama, Dara tetap tidak akan memedulikan lelaki stress itu. Semakin suara itu terdengar semakin cepat Dara berjalan.
Dara hendak ingin menuruni anak tangga sebelum lelaki itu menahan tangannya, bersamaan dengan langkahnya yang terhenti saat cowok yang menyebalkan itu sudah berdiri di hadapannya di bawah satu anak tangga dari tempatnya.
Dara menyentak kuat hingga tangan Rayhan terlepas dari tangannya.
"Jangan pernah lancang sentuh tangan gue! Tandas Dara dengan suaranya yang lagi-lagi terdengar sangat dingin dan menusuk.
Semua orang sudah mengenal siapa Dara, di sekolah maupun di luar sekolah, dia cewek yang paling anti di sentuh-sentuh, bahkan bila ada yang jahil menyentuhnya tak segan akan Dara beri pelajaran saat itu juga.
Rayhan tersenyum sinis, "gue juga sebenernya ogah megang tangan lo, takut kumannya banyak." Katanya sembari membersihkan telapak tangannya yang berpura-pura masang tampang sok jijik. Dara melipat kedua tangannya membentuk x. Baginya lelaki ini terlalu bertele-tele orangnya.
"Terus maunya lo ini apa?" Tanya Dara berpura-pura santai mencoba menahan gelenyar emosi di dalam dadanya.
Rayhan menjentikkan jarinya. "Nah, dari tadi kek nanyanya." Dara berdecak sebal lalu berkacak pinggang.
Lantas dengan cepat Rayhan membuka tasnya dan mengambil banyak kertas folio lalu menyodorkannya kepada Dara yang langsung di beri kerutan dahi karena bingung.
"Apa?" Tanya Dara.
"Gue mau lo harus kerjain ini tugas gue, gara-gara lo, gua di hukum abis-abisan tau gak. Ya, kali gue di suruh nulis 'saya tidak akan melanggar peraturan sekolah lagi'," sembari menunjuk-nunjuk kertas folio. "Sebanyak 20 lembar folio? 'Kan, ngaco. Yang ada ni tangan gua bakalan keriting abis, tau!" Sambungnya lagi.
Dara mendengkus, "bukan urusan gua! Mau tangan lo keriting kayak rambut kribo kek mau tangan lo yang jemarinya lentiknya bakal keriting mirip mi kuning kek, gua sama sekali gak peduli!!"
"Apa!???" Rayhan masang tampang kaget yang lebay. "Jadi lo gak mau ngerjain tugas gua?"
Dara menggeleng sambil tersenyum. "Gak akan pernah dan gua gak akan mau. Titik. Lagian Kenapa juga harus gua yang ngerjain." Ujar Dara sebelum tersenyum sinis sambil menatap ke arah lain.
"Ya, karna lo yang gak mau ngikutin perintah gua akhirnya gua kena hukuman!" Ujar Rayhan sudah sangat kesal.
"Sebelumnya 'kan gue udah bilang sama lo, kalo udah berbuat kesalahan, lo harus berani bertanggung jawab." Dara berucap sebelum berjalan meninggalkan Rayhan kasarnya Dara menabrak bagian sisi kanan tubuh cowok itu, karena tenaganya cukup kuat dan mendadak Rayhan yang belum siap bertahan dari serangan Dara---berbalik badan. Hampir saja terjatuh jika saja ia tidak memeluk seorang gadis berkerudung panjang---tangan gadis itu dengan sigapnya menahan tubuhnya dengan mencengkram kuat birai-birai-sebelum ia hampir terjatuh.
Untunglah gadis itu masih ada setengah kesadarannya untuk segera membuat pertahanan sebelum musibah terjadi dan akan berakibat memalukan nantinya.
Matanya seketika melotot kaget, begitu pun Rayhan saat ia baru menyadari untuk pertama kalinya dirinya di peluk oleh lelaki yang bukan muhrimnya
Alisha segera mendorong Rayhan menjauh dan sebuah tamparan tidak lupa juga ia berikan untuk seorang Rayhan Pramudya.