Seorang pemuda berdiri sambil memandangi dirinya di depan cermin besar. Ia melilitkan tali berwarna hitam di dahinya lalu menyibak rambutnya ke belakang. "Apa keputusan lo ini udah tepat untuk ikut campur dalam urusan politik yang sama sekali nggak ada urusannya sama lo? Kenapa lo harus ikut terpancing dengan teman-teman lo di kampus?" Pemuda itu menoleh ke belakang sambil menyeringai sinis. "Gue adalah orang yang diandalkan di kelompok itu." "Dan lo bangga dengan itu? Lo bangga karna lo adalah orang yang paling kuat di sana? Apa lo bangga karna lo merasa lo bisa dianggap di sana? Apa lo sama sekali nggak mikirin gimana nasib lo nanti kalo sesuatu terjadi sama lo?" Cecar Risa, kekasihnya Edgar. "Cukup! Kenapa lo sekarang berubah jadi cewek cerewet kayak gini?" Edgar berjalan

