"Kak, lagi ngapain ?" tanya Clarisa pada Langit yang sedang asik dengan ponselnya. Saat ini Langit sedang duduk santai di sofa ruang tv. Entah dari mana datang keberanian untuk menyapa kakak tirinya itu. Dari dulu, semenjak mereka hidup satu atap, Clarisa tidak pernah bisa dekat sejengkal saja dengan Langit. Aura permusuhan begitu kentara.
"Loe nggak lihat ?" tanya Langit sinis.
"Temanin Cla beli baju yok, Kak ?"
"Nggak."
"Ayo ih, katanya Cla tanggung jawabnya kakak. Gimana sih ?" rajuk Clarisa sambil menggoyang-goyangkan tangan Langit. Sumpah, ini pertama kalinya Clarisa merengek manja demikian.
"Duh, Cla. Ajak aja teman loe kenapa sih ?" tanya Langit jengah. H-1 dari hari keberangkatannya, seharusnya Ia dapat bersantai ria dirumah, malah di recoki adik tirinya itu.
"Nggak mau, Cla mau nya kak Langit."
"Nggak ada, gue nggak mau."
"Gue nangis ini, ya ?" Clarisa sudah mengambil ancang-ancang untuk melancarkan aksinya. Tangan lentik Langit langsung mendarat di kepala Clarisa tanpa belah kasihan.
"Otak udang, buruan sebelum gue berubah pikiran." Clarisa tersenyum lebar dan memeluk Langit sekilas sambil mengucapkan terimakasih. Selama 18 tahun hidupnya, baru kali ini Ia jalan berdua dengan kakak tirinya itu. Dulu, hanya sekali Langit pernah ikut jalan bersama keluarga baru ayahnya itu. Semakin lama, Clarisa semakin mengenal kakak tirinya itu, apalagi setelah Langit menjadi pilot, sifat kedewasannya bertambah apalagi tentang tanggung jawab. Memang, selama ini komunikasi mereka hanya sebatas makian semata, pertengkaran semata. Tapi, dibalik itu semua, Langit selalu berusaha melindungi Clarisa walaupun banyak hal yang Ia tutupi.
"Kita ke butik itu yuk, Kak !" ajak Clarisa yang sudah berada dalam mall. Sudah beberapa toko Ia singgahi, Clarisa belum juga merasa puas.
"Ini yang terakhir." Putus Langit dingin. Clarisa mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan kakaknya itu. Ia tidak merasa sedang shopping, malah seperti belanja di pasar induk. Tidak sampai 2 jam, masa udah pulang aja.
"Kak Langit nggak asik ih orangnya." Ledek Clarisa lalu memasuki toko baju yang Ia inginkan. Ternyata, isi didalamnya membuat Clarisa jatuh cinta. Barang-barang yang ditawarkan begitu menarik perhatian Clarisa. Senyum lebarnya langsung terukir.
"GPL, Cla. Gue nunggu sana." Tunjuk Langit pada sebuah sofa panjang berwarna abu-abu. Clarisa langsung cawa meninggalkan kakaknya itu.
"Langit kan ?" tiba saja seorang wanita menghampiri Langit yang sedang asik dengan pinselnya. Langsung saja Langit mendongkak mendegar aada yang menyebut namanya. Bibir Langir langsung tertarik keatas membentuk bulan sabit sambil mengangguk mengiyakan.
"Arabella ! Lho, belanja juga ?" tanya Langit. Ara mengambil tempat disisi lelaki itu.
"Nggak, ini butik gue." Jawab Ara santai.
"Waaah, keren loe." Puji Langit tulus.
Clarisa yang baru saja kembali dari kasir langsung menyapa kakaknya itu. Melihat kakaknya berbicara dengan seorang wanita asing, Clarisa tersenyum penuh arti.
"Kak... !" panggil Clarisa pada Langit yang asik berceloteh dengan Ara.
"Eh, udah loe ?"
"Udah, ini siapa ?" tanya Clarisa penasaran.
"Hallo, saya Arabella, panggil saja Ara. Pemilik butik ini sekaligus teman nya Langit." Ujar Ara sopan sambil mengulurkan tanggannya. Clarisa menyambutnya antusias.
"Waaah, saya Clarisa. Adiknya Langit." Balasnya sambil tersenyum lebar.
"Kak Ara, Cuma teman nya kak Langit ?" tanya Clarisa lagi. Langit mengerutkan dahinya mendengar penuturan Clarisa. Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan Clarisa.
" Mau jadi calon ipar aku kan ? Asik kalau punya ipar kayak kak Ara." Tambahnya sambil mengedipkan matanya menggoda Langit yang menatapnya sengit. Ara hanya terkekeh mendengar celotehan dari Clarisa.
"Biasa aja kamu."
"Ih, serius tau. Jangan lupa minta nomor ponselnya ya, Kak Langit." Clarisa kembali menggoda Langit lalu langsung kabur keluar dari butik. Ara tertawa pelan melihat tingkah Clarisa yang senang mengganggu kakaknya itu.
"Udah, nggak usah didengar itu." Kilah Langit merasa tidak enak. Sebenarnya, Ia juga mau nomor ponsel Ara, tapi terlalu pengecut untuk memintanya. Lagian, alasan apa yang bagus untuknya ketika meminta nomor ponsel Ara.
"Adik kamu lucu ya, cantik lagi. Kapan-kapan main lagi kesini ya, Lang." seloroh Ara sambil tersenyum lebar. Refleks saja Ara mengganti kata pengganti menjadi aku-kamu. Dan ssama sekali tidak menyadarinya.
"Hmm...Kita lihat nanti. Kalau gitu, aku pamit. Lain kali aku mampir lagi." Langit meninggalkan butik Ara sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Aciee... senang banget, Mas ?" ledek Clarisa melihat tingkah kakaknya.
"Sini loe." Hardik Langit sambil mendekat kearah Clarisa. Langsung saja Ia lari meninggalkan Langit sambil memeletkan lidahnya. Langit mengejar Clarisa yang kabur darinya. Ia sangat ingin menjitak kepala udang milik adiknya itu. Bisa-bisa nya Clarisa membuatnya malu.
***
"Sydney ?" pekik Clarisa keras. Baru saja Langit membangunkan Clarisa untuk berpamitan untuk melakukan penerbangan. Jam masih menunjukkan pukul 03.00 subuh, tapi Langit sudah siap untuk mengais pundi-pundi emas. Pekerjaan nya yang menuntut Ia harus bangun di pagi buta saat orang lain sedang masih banyak waktu untuk terlelap. Ia melakukan banyak perjalanan setiap minggunya, dari satu negera ke negera lainnya.
"Iya, loe baik-baik di rumah." Pesan Langit lembut. Semenjak kemarin, nada bicara Langit sudah agak membaik dengan Clarisa, tidak hanya itu, perlakuannya juga. Entah apa yang membuat Langit menjinak dengan Clarisa. Apalagi ditambah dengan kegiatan mereka kemarin, seperti steps-dating.
"Nggak mau. Terus nanti Cla sama siapa di rumah ?" rajuk Clarisa yang tidak ingin Langit pergi. Langit mengetok kepala Clarisa geram.
"Loe udah gede, Cla. Lagian ada Bik Dena."
"Nggak mau." Tolak Clarisa kerasa kepala.
"Ke rumah Zalna mau ?" Tawar Langit mencoba membujuk adiknya itu. Ia sangat tahu sifat keras kepala yang dimliki Clarisa, sama dengannya.
"Nggak mau, ada pacarnya. Masa iya Cla jadi nyamuk." Jelas Clarisa sambil mempautkan bibirnya kedepan. Kesal dengan pilihan yang sama sekali tidak menarik untuknya.
"Ah, terserah deh. Gue mau berangkat takutnya telat." Langit yang memang sudah rapi dengan seragam pilotnya langsung bangun dari kasur adiknya tanpa ingin mendengar celotehan adiknya itu lagi.
"Hiks...hiks...Tega gitu deh." Tangis Clarisa yang mulai menutup mukanya dengan kedua tangannya. Langit menghela nafas kasar lalu balik lagi kearah adiknya itu lalu mendekapnya pelan.
"Loe cengeng banget sih ? Udah ah, jangan buat gue nggak tega. Sekarang waktu yang tidur." Langit merebahkan tubh Clarisa di kasurnya dan menarik selimutnya sampai ke d**a gadis itu lalu menepuk pelan kepalanya beberapa kali. Langit tidak ingin berlama-lama lagi di dala kamar adiknya itu, membuatnya tidak tega. Lihat, padahal Ia paling membenci adik tirinya itu, tapi Ia sadar, Ia tidak pernah bisa menutupi rasa sayang terhadap gadis nakal itu.
Dalam diam, Calrisa terus menangisi kepergian kakaknya itu, Ia begitu tidak suka di tinggal pergi. Mamanya selalu menghilang dari rumah setelah jam delapan pagi lalu kembali lagi jam delapan malam. Ia merasa kesepian, sangat malah. Papa nya, jangan ditanya lagi. Entah siapa yang menjadi anaknya saat ini, perusahaan kah atau Ia ?
***
Arabella pagi ini disibuk kan dengan fashion show yang akan dilaksanakan tengah hari nanti, sebenarnya semuanya telah beres, tapi Ia harus menahan kesal saat salah satu model lelaki tidak hadir. Fashion show itu dilaksanakan di sebuah mall besar yang pasti banyak orang menjadi pelanggan. Tiba saja Andra datang menyapanya.
"Hai, Ra ! Apa kabar ?" sapa Andra begitu sampai di depan Arabella. Mulanya Arabella muak dengan lelaki ini, tapi sebuah ide muncul di otaknya.
"Gue ? Heuh ! kabar buruk selalu setelah loe tinggalin gue." Ujar Arabella sinis. Andra menjadi kikuk dan merasa tidak nyaman lagi ketika tiab saja Arabella membicarakan masa lalu mereka. Sebenarnya Arabella telah memaafkan Andra dari dulu, karena Ia sadar bahwa perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Kecewa, marah ? sudah pasti. Ia bahkan membenci dirinya sendiri yang begitu menyukai lelaki b******k itu.
"Loe belum maafin gue ?" tanya Andra bodoh. Arabella menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Terus gue mesti kayak gimana biar loe maafin ?"
"Oh, gampang aja sih." Ujar Arabella menggantungkan kalimatnya lalu tersenyum lebar. "Jadi model di acara fashion show ini."
"What ? are you kidding me now ?" teriak Andra tak percaya. Penawaran macam apa itu pikirnya. Arabella hanya memincingkan matanya dan ingin beranjak dari hadapan Andra sambil membuang mukanya kesal. Andra lalu menarik tangan Arabella pelan dan menyetujui permintaannya.
"Buat loe. Semuanya deh." Pasrah Andra. Arabella tersenyum senang lalu menggandeng tangan Andra tanpa canggung. Ini semua sebenarnya adalah bagian dari janji mereka jika suatu saat nanti mereka berpisah, tidak ada permusuhan, tetap menjadi teman. Selama ini, setelah 2 tahun mereka berpisah, intensitas pertemuan mereka sangat sedikit karena masing-masing sudah mempunyai kesibukan masing-masing.
"Loh, ini kakaknya Mbak Ara ?" tanya Uli salah satu pegawai butik Ara yang kebetulan juga ikut menhandel seluruh kegiatan fashion show hari ini.
"Kakak ? Emangnya mirip ? Ini tuh mantan." Jawab Arabella sambil terkikik geli. Uli yang mendengar penuturan lempang dari bossnya itu juga ikut terkikik geli.
"Jangan pamer napa sih ?" protes Andra kesal karena Arabella menyebutnya sebagai mantan dengan gamblangnya.
"Yang pamer siapa ?!" ledek Arabella lalu menyerahkan Andra ke tangan Uli untuk dipermak.
"Li, buat mantan gue secakep mungkin, mana tau gue bisa jadi cinta lagi sama dia." Arabella tertawa lepas melihat delikan tajam milik Andra. Bukan Arabella namanya jika Ia takut akan seorang Andra.
Selama dua tahun mereka menjalani hubungan, bukan sekali-dua kali orang menyebutkan bahwa Arabella dan Andra begitu mirip adik-kakak. Mereka malah berfirasat bahwa mereka mungkin jodoh seperti kata orang. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin lagi mengingat bahwa Andra kini sudah menemukan wanita lain yaitu Izona , si Wanita Ular. Arabella dan Kayen begitu membenci Izona karena sifatnya yang begitu licik, tapi mereka cukup sadar bahwa mereka tidak punya hak untuk mengumbar itu semua didepan Andra.
***
Clarisa mendengus kesal begitu keluar dari rumahnya, Ia dilarang untuk menyetir sendiri dan itu semua pinta Langit. Rasanya ingin sekali Ia memaki kakak tirinya itu, protektif sekaligus nyebelin. Ia tahu, kakaknya sedang mencoba untuk bertanggung jawab atas dirinya, tapi ini terlalu berlebihan menurutnya.
"Ih, Mang Aris, Cla mau nyetir sendiri." Keluh Clarisa sambil menghentakkan kakinya kesal. Tapi, yang namanya Mang Ari situ, orang yang tipe penurut banget, nggak pernah membantah apa yang dititah oleh majikannya.
"Nggak bisa, Non. Mamang nggak mau tanggung resiko. Ngeri ih kalau Mas Langit." Ungkap Mang Aris sambil membukakan pintu mobil untuk Clarisa. Mau tak mau, Clarisa harus juga ikut dengan Mang Aris.
"Non Clarisa, jangan main club ya !" pesan Mang Aris begitu sampai didepan pintu gerbang kampus Clarisa. Tadi nya, Clarisa ingin beranjak meninggalkan supirnya itu, tapi pesan Mang Aris menahannya sebentar.
"Loe barusan ngatur gue, Mang ?" tanya Clarisa tak suka ditambah nadanya yang tidak sama seklai bersahabat dengan supirnya itu. Gadis nakal ini memang tipe orang yang tidak pernah suka diatur, keras kepala dan super nyolot.
"Pesan Mas Langit, Non !" Terang Mang Aris kalem.
"Peduli setan sama pesan dia. Loe nggak ada hak buat ngomong." Bentak Clarisa yang sudah mulai naik level ketahap puncak emosi. Ia langsung keluar dari mobil dan membanting pintunya keras hingga supirnya itu kelonjotan sendiri.
"Astaghfirullah,Non. Susah banget dibilangin." Mas Aris menggelengkan kepalanya melihat tingkahmajikan nya itu.