Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, waktunya untuk Clarisa meninggalkan kampusnya karena jadwal nya sudah habis hari ini. Dengan riang Ia keluar bersama kedua temannya. Rencananya malam ini mereka akan menghabiskan waktu untuk sedikit bersenang-senang. Sama seperti teman-teman lainnya, darah panas remaja membawa nya untuk mengunjungi club, pusat dari segala kesenangan malam.
"Kita langsung ke tempat elo ya, Jes !" pinta Wulan pada Jessica, Clarisa juga menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Wulan. Rumah Jessica markas yang bagus untuk mengganti setelan, mengingat bahwa orang tua Jessica yang berada diluar negeri.
"Beres. Tenang aja, club udah nunggu kita malam ini." Kata Jessica riang yang disambut dengan kikikan dua gadis lainnya.
"Cla, loe boleh nge-club kan ?" tanya Wulan hati-hati. Mengingat kejadian tepo hari ketika Clarisa dimaki habis-habisan oleh kakak lelaki membuat Wulan bertanya untuk memastikan bahwa kejadian itu tidak akan terulang lagi. Clarisa tersenyum penuh arti lalu menjawabnya riang.
"Kak Langit lagi kerja. Gue bebas nge-club." Tukasnya dan mereka memekik riang mendengar berita bagus itu, tapi sedetik kemudian pudar karena sebuah suara.
"Nggak ada yang akan nge-club malam ini." Sebuah suara menginterupsi pembicaraan ketiga gadis itu. Clarisa membulatkan matanya begitu melihat siapa yang datang menghampirinya.
"Kak Raka !" pekik Clarisa terkejut.
"Hai gadis nakal. Ayo kita pulang." Ujar lelaki itu yang ternyata adalah Raka. Ia baru saja keluar dari kantornya, lalu sebuah telepon mengintruksinya untuk menjaga gadis nakal itu selama sang penelpon sedang tidak berada dirumah, siapa lagi jika bukan Langit.
"Kak Raka ngomong sama aku ?" tunjuk Clarisa pada dirinya, tak percaya bahwa teman kakaknya itu saat ini sedang mengajaknya untuk pulang. Hei,ini hari kebebasannya untuk nge-club. Kehadiran Raka merusak semua rencananya.
"Ya, siapa lagi emang nya." Sahut Raka enteng.
"No, kak Raka nggak bisa seenaknya ngajakkin aku pulang." Tolak Clarisa beringas. Hama dari mana lagi ini datang.
"Oh, ok kalau gitu." Ujar Raka santai sambil menganggukan kepalanya kecil, namun dalam sekejab kemudian Ia telah berhasil menggangkat tubuh gadis itu atas pundaknya seolah Clarisa adalah karung beras. Dengan buru-buru Raka membawa Clarisa menuju mobilnya, mengabaikan teriakan meronta dari gadis itu. Semua mata yang ada di sekitaran parkir melihat kejadian itu hanya terperangah tak percaya. Tidak mungkin ada penculik yang setampan dan serapi Raka, tapi lagaknya seperti penculik membuat siapapun yang melihatnya penasaran.
"Loe gila." Maki Clarisa begitu Raka sudah berada disisi gadis itu.
"Loe memang pantas berada ditangan orang gila kayak gue." Jawab Raka santai lalu menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus.
"Gue mau turun. Gue nggak mau pulang." Teriak Clarisa marah.
"Nggak, loe tetap akan pulang." Raka menatap Clarisa dengan tatapan tajamnya itu. Jauh dilubuk hati Raka, Ia tidak melakukan ini semua untuk Langit, tapi untuk gadisnya. Ya, Ia begitu menyukai gadis nakal ini. Oleh karena itu, Ia sama sekali tidak keberatan untuk menjaga gadis itu, tidak peduli seberapa kesalnya Ia dengan tingkah gadis itu.
"Loe nggak berhak ngatur hidup..." sepasang daging kenyal menempel di bibir tipis milik Clarisa membuatnya terdiam dari celotehannya.
"Loe cukup diam dan jadi gadis manis." Raka mengacak poni Clarisa pelan lalu kembali fokus pada jalanan, seakan tak ada yang terjadi beberapa detik yang lalu. Clarisa yang masih shok dengan perlakuan teman kakaknya itu hanya terdiam membisu mencerna apa kejadian beberapa detik yang lalu itu nyata atau hanya sebuah hayalan semata. Ia meraba kembali bibirnya dan merasakan bahwa memang sedikit asing. 'Kak Raka barusan nyium gue' pekiknya dalam hati. Entahlah, Ia harus senang atau pun marah dengan hal itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Clarisa masih bertahan dengan keterkejutannya, wajahnya pucat pasi dan jantung nya terus berpacu cepat. Hingga suara Raka kembali mengganggu lamunanya.
"Ayo turun."
"Huh...?" Jawab Clarisa linglung. Raka tersenyum tipis melihat diamnya adik temannya itu. Setelah tadi dengan beraninya Ia mengecup bibir Clarisa, gadis itu memang lebih banyak diam.
"Kak Raka ngapain lagi ?" tanya Calrisa begitu melihat Raka juga masuk ke dalam rumahnya. Raka tersenyum simpul.
"Aku bakal nginap selama Langit belum pulang."
"Whaaat ? No, no, no !" tolak Clarisa dengan melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri.
"Udah, jangan banyak bantah. Sana, ganti baju." Clarisa membuka tutup mulutnya tak percaya lalu menghela nafas kasar. Pupu sudah harapan nya untuk main ke club, percuama saja kalau begitu. Ada atau tiada papa dan kakaknya itu juga tidak bisa main ke club. Sangat mengecewakan. Ia ingin membantah namun tidak lagi mendapati lelaki itu di depan matanya, Raka sudah menuju kulkas dan mengambil sekaleng soda lalu meneguk nya.
"Kak Raka, aku nggak suka kalau kakak yang ngatur-ngatur aku." Katanya tegas sambil duduk di depan Raka yang sedang berapa di kursi meja makan. Raka mengendikkan bahunya pelan.
"Kapan emangnya kamu suka diatur, Cla ?" terkesan lebih ke mencibir Clarisa.
"Pokoknya Clarisa nggak mau Kak Raka membatasi ruang gerak aku."
"Ok, gini aja. Kamu boleh kemana aja tapi aku ikut, kecuali ke kuliah." Raka menaik turun alisnya dan tersenyum menyebalkan. Clarisa mendecih pelan dan membanting botol minum yang ada di meja makan.
"Jangan buat aku marah, Cla !" Izona s Raka memperingati, tidak habis pikir dengan gadis nakal itu, tidaka da sopan-sopannya.
"Gue benci sama loe."
"Terserah, sekarang kamu ganti baju." Titah Raka tak terbantahkan. Clarisa berjalan mengarah ke kamarnya sambil sesekali menggerutu kesal. Tidak terima jika dia terus dikekang, apalgi oleh teman kakaknya yang notabe bukan siapa-siapa dalam hidupnya.
***
Malam makin larut, jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Clarisa belum juga tertidur masih kesal dengan Raka. Ia menghidupkan music klasik dan duduk termenung di balkon kamarnya dengan wajah yng ditekuk sempurna. Raka membuka pintu kamar Clarisa tanpa permisi dan melihat bahwa pemiliknya sedang bersanti di sofa di balkon. Raka pun duduk ikut bergabung dengan Clarisa.
"Eh, ngapain sih kesini ?" tanya Clarisa sambil mendorong tubuh Raka agar menjauh dari sofanya. Raka tersenyum simpul lalu menarik lengan Clarisa sedikit kuat dan mendekap gadis nakl itu dalam lenganny, tepatnya sedang Ia peluk kepala Clarisa.
"Bosan hmm.. ? mau jalan-jalan ?" Tanya Raka mengabaikan kekesalan pemilik tempat yang sedang Ia tempati. Seakan tuli tidak mendengar apa-apa dari mulut tajam Clarisa.
"Nggak akan pernah." Jawab sinis Clarisa sambil memberontak dari Raka.
"Cari makan ringan. Lumayan loh, Cla. Yuk." Rayu Raka lagi. Bukankah sudah terlihat jelas jika Raka mulai mennulikan telinganya.
"No, gue benci sama loe." Ujar Clarisa sambil terus berusaha melepas dirinya dari dekapan Raka, namun bukan Raka namanya jka tidak dapat menahan gadis nakal itu.
"Nggak ada kata loe-gue lagi sekarang, kamu harus jadi anak yang sopan." Tukas Raka sambil mengacak poni Clarisa lembut lalu memberinya hadiah sebuah kecupan kecil di pucuk kepalanya. Clarisa terdiam sesaat dan merasakan hatinya menghangat, sudah lama Ia tidak mendengar nasihat selembut ini dan mendapat perhatian kecil dari orang di sekitarnya. Apalagi kecupan kecil dari Raka membuatnya sedikit merona.
"Cla, kamu tahu nggak kenapa semua orang merisaukan kamu untuk ke club ?" tanya Raka lembut sambil terus mengelus rambut panjang Clarisa. Clarisa tertegun sejenak dan merelakan dirinya berada dalam dekapan teman kakaknya ini. Wangi tubuh Raka membelai indra Penciuman Clarisa membuatnya jauh lebih nyaman berada di posisi ini. d**a milik Raka memang ngdusel-able.
"Kamu masih remaja labil, belum mengerti bagaimana rusaknya kehidupan di luar sana, nggk ada yang bisa nolong kamu kalau kamu rusak. Papa, mama, bahkan Kak Langit nggak bisa melakukan apapun kalau semua hal buruk terjadi sama kamu." Suara lembut Raka mengalun indah di telinga Clarisa, sepertinya semua nasihat Raka mulai membuat Clarisa terbuai dan tak dapat membantah apa-apa. Ia kembali mengingat kejadia tempo hari ketika dirinya hampir saja di perkosa oleh seniornya di club.
"Kamu masih muda, dan juga pintar. Masih banyak hal positif yang bisa kamu lakukan dari pada main ke club." Tambah Raka lagi lalu mengecup kepala Clarisa pelan, Ia kehilangan control dirinya ketika bersama gadis itu, entah untuk keberapa kalinya Ia telah mengecup kepala gadis nakal itu selama Ia berada dalam dekapan Raka. Jantung Clarisa berpacu kencang mendapat perlakuan manis dari lelaki yang 7 tahun lebih tua darinya itu, Ia merasakan sesuatu mulai tumbuh di hatinya, apalagi lelaki itu memiliki kapasitas kenyamanan yang VIP dalam dekapan tubuh atletisnya.
"Kak Raka sayang sama kamu, semua nya sayang sama kamu. Jadi, Kak Raka mohon, kamu mikir dulu sebelum kamu ngelakuin sesuatu."
"Cla benci diatur, Kak !" tukas Clarisa sambil menempelkan pipinya di lengan Raka.
"Dari kecil, mama dan papa selalu ngasih apa kemauan Cla, nggak pernah ngebatasi apa-apa. Sekarang, kenapa semua orang ngelarang keinginan Cla ?" tanyanya kesal. Raka tersenyum simpul dan menghujamkan banyak kecupan kecil di kepala Clarisa, Ia sanagt gemas dengan gadis nakal ini. Di otaknya tadi, Ia sudah yakin bahwa gadis ini tidak akan kerasa kepala lagi, namun harapan tiggal kentut. Gadis itu tetap keras kepala dan semaunya.
"Maka dari itu, kamu nggak boleh ngecewain mama dan papa kamu dengan ngerusak diri kamu. Mereka beri semuanya ke kamu, tapi nggak bisa buat mereka bangga. Itu sangat NO. Kamu orang yang kak Raka tunggu sampai sukses." Terang Raka menjawab pertanyaan Clarisa dan juga mengungkapkan apa isi hatinya. Clarisa menatap mata Raka lama mencari kebohonga dari mata hazel milik Raka, namun yang Ia dapat hanya ketulusan.
"Maksud nya apa ?" tanya Clarisa ingin mendengar penjelasan.
"Kamu wanita yang hanya kak Raka lihat dan akan kak Raka jaga selalu sampai kamu resmi jadi milik kakak." Raka mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi mulus Clarisa. Lama, Ia ingin merasa sensasi menyenangkan itu lebih lama lagi, mendaratkan banyak kecupan pada gadis itu membuatnya senang sekaligus tenang.
"Gimana kalau aku nggak mau ?" tanya Clarisa lagi.
"Nggak akan, kamu harus mau. Karena semua ini salah kamu yang menjerat kakak hingga segitu sukanya sama kamu." Ujar Raka enteng. Clarisa terkekeh pelan lalu memukul d**a lelaki itu.
"Resek." Gerutu Clarisa lalu memposisikan kepala dengan nyaman dalam dekapan Raka. Ia menyerah, Raka bukan lawan yang pantas untuk melarikan diri dari kurungannya. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati suasana sunyi yang menenangkan. Dari tadi, mereka hanya berdebat panjang, cukup menguras energy dan pikiran.
Ia masih memikirkan perkataan Raka, apa itu artinya lelaki itu menyukainya ? Ia masih bertanya-tanya. Seandainya Ia, Clarisa belum memberikan jawaban apa-apa. Toh selama ini mereka memang tidak begitu akrab, apalagi setelah kakaknya menjadi pilot, pekerjaann nya yang mengharuskan nya sering berada diluar kota bahkan negara membuat kakaknya jarang berkumpul dengan teman-temannya. Dulu, pertama kali Clarisa melihat Raka yaitu saat Ia masih duduk di bangku kelas 4 SD, teman kakanya sering bermain kerumah, dan begitu terjadi perkenalan singkat antara Ia dan teman-teman kakaknya.
"Mau jalan-jalan ?" tawar Raka sekali lagi. Clarisa menaikkan alisnya sebelah menatap lelaki yang sedang mendekapnya itu.
"Cari makan dan sekedar melepas penat." Clarisa menimbang ajakkan tersebut sejenak lalu mengangguk mengiyakan ajakan Raka. Tidak buruk juga.
***
Arabella menyelasaikan pentas busananya dengan puas, apalagi semuanya berjalan sesuai dengan ekpetasi nya, sejauh ini tidak ada kecatatan. Para kru dan model sudah mulai berbenah akan meninggalkan stage utama termasuk Andra.
"Gue langsung cabut ya, Ra !" ujar Andra sambil merapikan lipatan lengan bajunya.
"Kok cepat banget ? Gue mau ngajak loe makan loe padahal." Ungkap Arabella pelan. Andra tersenyum simpul mendengar penuturan mantan kekasihnya itu.
"Apa banget deh, Ra. Masih ada besok kok. Gue mau ngatar nyokap ke rumah sakit." Tukasnya Andra lagi, lalu mengacak rambut Arabella pelan . Andra berpamitan dengan model dan kru yang masih di tempat lalu langsung mengilang dari area fashion show itu.
"Kok mantan loe jadi lebih gantenng sih, Ra ?" tanya Kayen pelan sambil melihat siluet Andra terus menjauh dari pandangan mata.
"Tau ah, gelap. Mantan kodratnya emang gitu." cibir Arabella tak mau ambil pusing.
"Loe masih sayang sama Andra ?" tanya Kayen lagi. Arabella memutar matanya malas.
"2 tahun, Yen. Ini udah 2 tahun semenjak gue putus dari dia. Masa iya gue masih sayang sama dia, yang ada gue masih sakit hati."
"Hahaha, untung nggak loe mutilasi tuh mantan." Ledek Kayen tertawa puas. Arabella meninggalkan Kayen seorang diri, kesal akan polah wanita itu yang suka sekali menyinggung mantan kekasihnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.02 WIB, Arabella baru saja sampai di apartemennya disusul oleh Kayen. Mereka menghuni apartemen itu berdua. Dari semenjak SMA, Arabella sudah hidup mandiri, tidak lagi di panti asuhan. Ia ingin menjadi jati dirinya sendiri dan meringankan beban ibu asuhnya di panti. Semenjak umur 5 tahun, Arabella hidup di panti asuhan, entahlah Ia pun tidak ingat kenapa tiab saja Ia sudah berada disana. Yang Ia ingat adalah, sebelumnya Ia mempunyai seorang kakak lelaki yang biasnya Ia panggil 'Kak Aan'. Entah dimana sekarang keluarga kandungnya, Arabella sama sekali tidak tahu.
"Ra, loe sadar nggak ?" tanya Kayen saat mereka sedang merebahkan diri Kasur sambil menatap langit-langit kamar. Arabella menjawabnya dengan sebuah gelengan pelan.
"Lama-lama, Andra itu semakin mirip sama loe. Jangan-jangan dia itu kakak loe yang terpisah itu lagi." Ujar Kayen sambil membalikkan tubuh menghadap Arabella. Yang diajak bicara hanya mendengus kasar dan menoyor kepala Kayen pelan.
"Ngaco loe. Udah ah, itu hanya kebetulan aja kok. Lagian namanya dia itu Andra, bukan Aan." Kilah Arabella. Namun, Ia sebenarnya juga ikut memikirkan perkataan Kayen, giaman kalau sebenarnya Andra adalah kakaknya yang selama ini Ia cari ?
"Mungkin juga sih. Udah ah, tidur. Kerjaan numpuk, besok butuh banyak energy." Tak lama kemudian, kedua wanita itu sudah hanyut dalam mimpi dan melupakan segala hal yang terjadi hari ini.
***
O Bar and Dining begitu penuh hari ini, banyak pengunjung memenuhi tempat di restoran ini. Langit juga salah satu dari sekian banyak pengunjung yang datang mala mini. Ia datang bersama Mauren yang menjad co-pilotnya selama penerbangan. Mereka sedang menikmati makan yang telah mereka pesan dalam diam hingga Mauren mulai membuka obrolan dengannya.
"Loe benaran nggak punya pacar, Lang ?"
"Apaan sih loe." Jawab langit acuh lalu meneguk airnya untuk membasuh kerongkongannya.
"Ya, gue punya sepupu, cantik sih. Mana tau loe suka." Tawar Mauren menyodorkan ponselnya yang berisi gambar dua orang wanita sambil mengendikkan bahunya. Langit mengamati nya sekilas lalu tersenyum lebar.
"Gue mau yang baju merah." Tukasnya sambil tersenyum lebar. Mauren ikut memerhatikan gadis yang berbaju mereha dalam ponselnya. Lalu mendesah pelan.
"Itu bukan sepupu gue. Temannya sepupu gue."
"Gue nggak mau sama sepupu loe. Gue mau Ara." Mauren mengerjabkan matanya beberapa kali, tak percaya kalau temannya itu mengenal salah satu gadis dalam ponselnya ini.
"Loe kenal Ara ?"
"Tentu, maka dari itu gue nggak mau sepupu loe."
"Pantas, baiklah. Untuk urusan Ara, lebih baik loe urus sendiri."
"Yah, nggak jadi comblangin gue ?" tanya Langit sedikit memelas.
"Dia udah lama jadi incaran gue, tapi ya gitu. Nggak bisa ditaklukin, dia punya pertahanan kuat untuk tidak berhubungan dengan lelaki untuk masalah hati. So, you shoul try by yourself."
Mendengar penjelasan Mauren membuat Langit terdiam beberapa saat. Apa benar Arabella sangat susah untuk ditaklukan ? Rasanya tak percaya, Ara menolak lelaki se-perfect Mauren, sedangkan wanita lain bersedia melemparkan tubuhnya percuma-Cuma hanya untuk dilihat oleh Mauren. Selera makan nya hilang mendengar penuturan Mauren. Rugi sudah Ia datang ke restoran ini, makanan nya tidak habis Ia santap. Arabella, apa benar kamu setegas itu ?
[***]