Langit kembali memikirkan perkataan Mauren kalau Ara itu wanita yang cukup sulit untuk di dekati. Hal itu membuat Langit setengah gelisah sebenarnya. Ya bagaimana tidak, secara Ia sama sekali tidak punya skill dalam mendekati wanita. Banyak hal sebenarnya yang harus Langit pelajari, ‘kiat-kiat memikat wanita’ salah satunya. Ditambahkan dengan predikatnya yang ‘jomblo dari lahir’, membuat semuanya seakan sempurna. Menyiksa ke-egois-an jiwa milik Langit.
Entah apa yang membuatnya begitu menggilai seorang Arabella, padahal selama ini wanita yang berusa untuk memikatnya tak kalah menggoda dari Ara. Tidak ada yang pernah bisa membuat Langit begitu menginginkan seorang wanita sebelumnya. Hanya Arabella.
“Ren…” panggil Langit yang saat ini sedang terlentang di atas ranjang, Mauren hanya mengdehem pelan menyahuti panggilan Langit.
“Kira-kira mau kagak si Ara gue dekatin ?”
“Tau deh. Gue yang tampan luar biasa ini aja di tolak.” Ungkap Mauren jujur , Langit mendengus kasar mendengar jawaban Mauren.
“Jangan nanya mulu, Lang. Act dong !” seloroh Mauren lagi.
“Kan makanya gue nanya, Ren !”
“Loe harus bisa buat dia mematahkan prinsip nya itu.”
“Loe kira gampang, Ren !”
“Ye makanya usaha dong. Dia itu nggak banyak mau nya, Cuma butuh kepastian, komitmen dan kesetiaan loe aja, Lang.” Somprot Mauren panjang Lebar.
“Tau deh. Cewek emang ribet.” Sunggut Langit.
“Bacot loe, Lang. Jangan bilang loe udah menjurus ke maho ya, jijik gue.”
“Apaan banget.”
“Loe sok-sokan kagak mau sama cewek sih. Ini tuh Arabella Taleetha, Lang. Demi apapun, banyak banget yang minat.”
“Males gue bahas nya. Udah deh, mau tidur gue. Loe bikin gue tambah pusing.” Langit meninggalkan Mauren yang sedang asik bertarung dengan androidnya.
“Yee…gue ditinggal.”
***
Langit POV
Setelah melakukan penerbangan yang hampir 10 hari, aku dan Mauren kembali ke Indonesia dengan selamat. Mauren pulang dijemput oleh pacarnya yang cantik, namanya Angela. Setelah berkali-kali mencoba mendekati banyak wanita termasuk Arabella, akhirnya Mauren malah jatuh hati ke tetangga cantiknya itu. Entah apa yang dicari lelaki itu hingga yang dekat dengannya Ia lewatkan begitu saja, untung saja Angela mau menerima Mauren.
“Mblo, gue duluan ya.” Ujar Mauren sambil tersenyum tengil. Aku hanya mendengus sebal mendengar ledekan Mauren yang songong itu. Mentang-mentang punya pacar baru sebulanan, ketengilan Mauren meningkat tajam. Aku melangkah keluar dari bandara dan menunggu Uber menjemputku, bukannya tidak ingin memakai jasa taxi yang ada disini, tapi rasanya naik Uber itu lebih gercep aja.
“Lang…” mendengar seseorang memanggil namaku, aku membalikkan badan untuk melihat siapa.
“Eh, Ersa. Iya, ada apa ?” Ersa ini pramugari dari maskapai penerbangan di bandara ini, namun berbeda jurusan dengan penerbangan ku. Ersa ini termasuk pramugari yang paling banyak diincar. Kecantikkan nya jangan ditanya lagi, serasa anak nya ratu Aprodite.
“Bareng yuk pulangnya.” Ersa ini tipe anak nya easy going, nggak heran para kaum Adam di bandara ini pada men-dewakan dia sebagai wanita idaman.
“Gue udah mesan Uber, Er !” ujarku apa adanya. Sebenarnya aku sedikit risih jika hanya berdua saja dengan Ersa di mobil nanti, bukan hanya Ersa sih sebenarnya. Semua cewek kecuali Clarisa mungkin.
“Batalin aja, ikut gue. Sekalian makan.” Sejidatnya ajalah ini anak. Walaupun pembeli ada raja, tapi gue kasian kalau si Sopir nya udah jalan setengah malah gue cancel.
“Lain kali mungkin, Er. Itu Uber nya udah sampai. Gue duluan ya.” Mantap mas, datang pada waktu yang tepat. Aku langsung meninggalkan Ersa yang hanya dapat melihat kepergianku dalam diam. Kadang aku sedikit heran dengan Ersa ini, sering banget ngajakin pulang bareng, huh tau nih. Modus.
“Makasih mas.”
“Iya sama-sama, Den.”
Aku langsung masuk ke rumah begitu turun dari Uber beberapa detik yang lalu, tak lupa dengan koper besarku di tangan. Aku melihat Zalna dan Mas Deki sedang duduk sofa sambil ngemil.
“Disini aja, udah lama ?” tanyaku sambil ikut menghempaskan b****g ku di samping Mas Deki.
“Udah dari tadi sih.” Sahut Mas Deki.
“Kenapa ?” tanya ku pada kedua manusia ini. Jarang-jarang mereka main kesini tanpa ada aku di rumah. Ok, Zalna sekarang juga temannya Clarisa, ya tapi janggal aja gitu, apalagi Mas Deki juga ikut. Biasanya kami jika ingin bertemu pasti di temapt luar, tidak di rumah.
“Gue mau minta bantuan loe.” Ujar Mas Deki yang kini sudah duduk tegap dan berpose serius.
“Apaan ?”
“Hmmm, gue mau ngeresmi-in Zalna di depan bokap, tapi gue takut.”
“Napa dah ?” sambarku. t***l juga aku pakai nanya segala, seharusnya udah ngerti, mereka ini sodara-an tapi cinta, ya sih tiri. Tapi ya gimana gitu euy, tabu lah.
“Elo mah, gue takut deng…bokap mah galak kalau udah buat salah.”
“Loe salah dimana nya ?” tanya ku sebenarnya biar kedua orang ini bisa sadar kalau mereka ini nggak lagi menjalankan hal salah, tapi ya tabu aja.
“Zalna itu jelas bukan adik kandung loe kok, lagian kalian nggak punya ikatan darah secuil pun. Loe nggak salah Mas, kalau loe sayang Zalna, ya perjuangin.” Kok jadi sok bijak gini sih aku, padahal aku sama sekali nggak ngerti masalah perjuangan, elaaah Lang. Mikirin cara dekatin Ara aja bikin gegana, apalagi buat sok-sokan perjuangin hubungan yang berat banget gini.
“Gue nggak mau kalau dengan kejujuran ini, Zalna malah di paksa balik ke Jogya.” Ujar Mas Deki. Zalna tersenyum kecut lalu masuk dalam pelukan pacar tersayangnya. Adem aku lihat mereka berduh nih, berat banget cobaan nya, tapi tetap berusaha bertahan.
Kami kemudian terdiam untuk beberapa saat, tak tahu apa yang harus diungkapkan lagi. Aku juga kehabisan ide, mikir kekejaman om Haru bikin lemesh shay. Orangnya sih adem-kalem gitu, tapi kalau udah marah, samaan Hitler deh. Ngeri coy.
“Kak Langit…” aku melihat kearah pintu, ternyata Clarisa yang datang. Ia langsung memeluk ku begitu melihatku di sofa. Tidak tanggung-tanggung, Clarisa juga menjamah pipiku dengan kecupan kecil. Ampun neng, ngapain sih loe.
“Pulang kok nggak bilang ? Bete.” Ujarnya sambil membenarkan posisi di atas pangkuanku. Tau deh, rasanya aku nggak benci, marah, kesal sama sekali mendapat perlakuan ini dari Clarisa. Sumpah, ini pertama kali dia manja kelewatan padaku, biasanya Cuma ngerengek doang.
“Sok penting loe, Nyet.” Ledekku. Clarisa mencebikkan bibirnya lalu mencubit pinggangku geram.
“Sakit, Nyet.”
“Rasain.” Ujarnya lalu menyederkan kepalanya pada ceruk leherku. Udah deh, sekarang posisi kami berempat seperti orang lagi double-date. Zalna yang ada di pelukan Mas Deki dan Clarisa yang sedang ada di pangkuan ku. Bikin ngeri kalau tiba-tiba Clarisa malah suka sama aku, seeh ke-pd-an.
“Kapan sampai, Lang ?” Raka menyusul dari belakang lalu ikut bergabung dengan kami.
“Baru juga sejam-an mungkin.” Raka manggut-manggut lalu memainkan ponselnya. Sudah lebih seminggu ini aku menitipkan Clarisa pada Raka, sejauh ini masih aman sih.
“Udah sono pindah, loe berat.” Usirku pada Clarisa. Dia menatapku horor lalu berpindah dalam ketek Raka. Aku baru tahu jika Raka sudah mengungkapkan perasaan nya pada adikku, tau deh gimana hubungan mereka kedepan, tapi sejauh ini masih lurus aja, nggak ada perubahan status antara Raka dan Clarisa.
“Loe nggak pergi mana-mana kan ?” tanya Raka padaku. Aku menggeleng pelan.
“Gue mau ke Singapur barang 2 mingguan gitu.”
“Yaudah, berangkat sono. Clarisa ada gue kok.” Tahu maksud Raka menanyakan kegiatanku kedepan. Ya, Raka kan pengasuhnya Clarisa, wkwkwk. Tidak ingin meninggalkan gadis nakal ini sendirian di Jakarta, terlalu berbahaya.
Sore itu kami habiskan untuk berbincang-bincang sambil ngelepas penat. Aku yang terlalu penat memikirkan Arabella.
Malamnya aku pergi ngumpul dengan anak-anak, aku tidak pergi sendirian kali ini, Clarisa juga ikut sekalian. Tidak mungkin aku meninggalkan anak ini sendiri dirumah, bisa-bisa kabur ke club. Clarisa masih suka nyolong ke club, heran aku bawaan, ngapain juga ke club kalau akhirnya pulang-pulang bikin diri sendiri rusak.
“Tumben bawa adek loe, Lang.” Ujar Geri begitu melihat Clarisa di belakang punggung lebarku.
“Ini anak nggak bisa ditinggal, suka kabur.” Sahutku.
“Nakal banget loe, Dek !” Aldo mengacak rambut Clarisa gemas. Teman-temanku ini memang suka sekali dekat denga Clarisa, tak heran kalau mereka ini peduli banget sama Clarisa. Lah aku kakaknya ini malah baru-baru ini dekat dengan dia. Miris. Gara-gara emaknya sih.
“Gue bakal tunangan besok, loe semua pada datang ya.” Aldo melempar sebuah undangan kearah ku. Enggangment Party. Enaklah yang udah di resmiin aja.
“Langsung nyambar loe, Do !” ledek Raka.
“Takut diambil orang, abisnya Zola banyak banget yang suka. Kalau dia khilaf kayak gimana ?!” ungkap Aldo membuat kami terkekeh geli. Ada saja Aldo ini. Aku baru mengingat sesuatu, ini adalah pesta nya Zola dan Aldo, pasti Arabella juga datang selaku teman dari Zola. Semoga aja bidadariku datang. Berasa seperti maniak kalau gini, tapi jujur, Arabella itu bikin aku kepincut terus. Senyumnya itu loh, boss. Sweet tenan euy.
***
Arabella POV
Bulan ini aku cukup sibuk, setelah kemarin penggelaran Fashion Show, kini aku dipusingkan dengan pesanan yang membludak. Bukan tidak senang, tapi ini artinya aku harus kekurangan jam tidur. Yang biasanya aku bisa tidur sekitar 8-9 jam, kalau sudah masa full order gini aku bisa tidur hanya 2 jam dalam sehari. Ini tuh bukan hanya bikin energy habis, kepala pun ikut lelah. Kayen beberapa ini tidak berada di Jakarta karena Ia harus menghandel Fashion Show yang ada di Singapura, produk kami kebetulan mendapat kesempatan untuk bergabung dalam acara itu. Syukurlah. Semoga saja butik dan produk kami berdua bisa lebih bersinar.
“Mbak, itu diluar ada mas Andra.” Tiba saja Uli datang dan mengabarkan bahwa Andra datang. Beberapa hari yang lalu, Andra sudah resmi bertunangan dengan Izona , aku ikut bahagia melihatnya. Ya, nyesek sih dikit doang tapi. Lainnya ikutan senang deh pokoknya.
“Napa, Dra ?” tanyaku begitu melihat Andra yang kini sudah bertengger di sofa butikku. Tumben lah dia datang nyariin aku.
“Eh, ya nih Ra. Gue mau minta tolong loe pilihin baju yang bagus buat mama gue.”
“Rangka apa ?”
“Ulang tahun mama gue.”
“Yaudah, yok masuk sekalian lihat-lihat.”
Ini nih kebiasaan Andra, orang yang paling susah ngasih barang ke orang karena suka mikir negative aja kalau milihnya sendiri, jadilah dia suka minta tolong orang.
“ Izona mana, Dra ?” tanyaku sambil membuka-buka gantungan baju yang ada dalam butikku.
“Tau deh, dirumah mungkin.” Jawabnya cuek. Aku menatapnya heran lalu memijak kakinya.
“Loe lagi marahan sama dia atau gimana sih ?”
“Siapa juga yang gitu ?! aku lagi malas ngebahas dia Ra.” Aku mencium bau hal yang tidak beres disini. Kenapa sih ini anak.
“Loe kira gue nggak kenal loe ! kenapa sih ?” paksa ku bertanya padanya.
“Gue kemarin ngelihat dia jalan sama cowok bule terus setelah gue amati, dia juga nggak makai cincin pertunangan kami. Apa maksudnya coba, Ra ? kesal lah gue.” Jangan bilang loe dikhianati deh. Nggak lucu nih Izona . Baru juga tunangan beberapa hari yang lalu.
“Loe udah kasih tau dia ?”
“Nggak, gue diem aja dari kemarin.” Ujarnya santai. Aku mengeplak kepala Andra. Benaran, ini bukan Andra yang gue kenal. Biasanya juga dia suka ribut kalau ada hal yang membuat dia nggak suka.
“Loe sinting. Gue nggak kenal lagi Andra yang dulu. Andra yang suka nuntut penjelasan, yang ngotot, yang suka ribut kalo ada hal yang buat dia nggak nyaman. Loe Cuma diem, Dra ? Loe t***l atau gimana sih ?” Ujarku sedkit kesal melihat tingkahnya. Aku mengenal Andra cukup lama ok, kami pernah menjalin hubungan juga sebelumnya, nggak mungkin dong hal sepele kayak gini aku nggak tahu.
“Masalah nya bukan sekali gue lihat dia jalan sama lakik lain, Ra. Dan alasan dia tuh selalu teman.”
“Bisa-bisanya loe tunanganin orang yang gitu, Dra ? loe buta !” makiku. Emosi aku jadinya ngelihat mantan aku diginiin sama orang. Dulu, pas aku yang sayang sama dia malah dilepas, nah sekarang, you see.
“Gue mesti kayak gimana, Ra ?”
“Gila, loe malah nanyak sama mantan loe.” Aku tertawa sumbang menyadari kenyataan bahwa yang sedang galau didepan ku ini adalah mantanku yang b******k itu.
“Ra…” rengeknya.
“Udah, milih baju buat nyokap loe dulu, itu entar kita omongin.” Andra hanya pasrah dan mengangguk mengikutiku. Ini aneh dan rumit guys, nasehatin mantan yang bangsad.