Aku dan Langit sudah berbagi kontak w******p, yah hitung-hitung segala keperluan untuk menghadiri acara malam ini. Lagian, dengan begini aku juga bisa lebih mudah menghubunginya. Aku seperti mendapat sinyal bahwa Langit sedang mendekatiku, tidak mungkin Ia akan repot-repot melakukan hal sepele ini kalau bukan ada tujuannya.
Langit : Aku di depan.
Aku membaca sebuah pesan singkat darinya, aku langsung bergegas keluar dari apartemenku menuju lobi. Tidak enak jika harus ditunggu terlalu lama, apalagi yang nungguin pangeran tampan. Malam ini aku memakai gaun hitam tanpa lengan dengan sedikit hiasan mutiara di bagian pinggangnya. Aku sangat suka pakai gaun ini, padahal aku bisa saja merancang gaun lainnya atau tinggal ambil saja di butikku untuk masalah gaun, tapi tetap saja pilihan hati ku selalu pada gaun hitam ini.
Aku melihat sebuah mobil yang sudah bertengger manja di lobi apartement ku, langsung saja aku buka pintunya dan masuk kedalam. Abaikan tata karma, toh Langit sama sekali tidak menungguku di luar mobil seperti cerita di novel-novel.
“Cantik.” Cetus Langit sambil tersenyum manis padaku. Jangan tanyaka bagaimana keadaan aku saat ini. Blush on yang berwarna orange tadi sepertinya sama sekali tidak berfungsi karena saat ini wajahku sudah merah padam.
“Receh.” Sahutku membuat Langit terkekeh.
“Yeee… seriusan.”
“Thanks ya. Kamu juga tampan banget malam ini.” Ujarku menimpuki katanya. Entah kenapa, aku malah menggunakan aku-kamu dengannya. Langit sudah menjalankan mobilnya keluar dari area tempatk tinggal.
“Oh gitu, jadi sedih.” Ungkapnya membuatku heran. Dia nggak senang aku bilang gitu ? Hell yeah.
“Lho, kenapa ?”
“Aku tampannya Cuma malam ini, kemarin-kemarin nggak kayaknya di mata kamu.” Langit berlagak mengusap sedikit ujung matanya agar terlihat benar-benar sedih. Aku terkekeh melihat tingkah konyol nya itu. Nggak pernah terbayangkan jika Langit sereceh ini.
“Ih, resek aja bawaannya.”
“Hahaha, aku tampan itu sejak lahir, Ra. So, jangan pernah muji aku hanya untuk malam ini aja, ok.”
“Kepedean banget sih, Lang.”
“Ya nggak apa-pa, orang aku emang tampan, mau gimana dong.” Ujarnya dengan wajah super tengil itu. Sumpah deh, kalau kayak gini kelakuan langit, sampai kapan pun aku nggak akan pernah bosan deh. Tau apa yang harus aku debatin selalu bersama dia.
“Terserah deh…Eh, baru sadar. Clarisa nggak ikut ?” tanyaku baru menyadari bahwa Clarisa tidak ada di dalam mobil ini.
“Ada, dia bareng sama Raka. Pengasuh nya.” Aku tertawa pelan mendengar bahwa Clarisa bersama dengan pengasuhnya. Entah siapa yang Ia maksud, aku hanya manggut-manggut saja.
Sesampainya di kediaman keluar Aldo, aku dan Langit langsung keluar dari mobil. Aku sedikit memperbaiki tatanan ku, mengecek keseluruhan penampilanku mala mini.
“Udah, Ra. Kamu tuh udah mutlak Cantik, nggak usah ngechek lagi.” Suara Langit mengintrupsi ku yang sedang membenahi tatanan rambutku. Boleh nggak kalau aku bilang bahwa Langit ini recehan banget, tapi bisa bikin aku bersemu merah terus-menerus.
“Apaan sih, Lang. Receh mulu dari tadi.” Cetusku sebenarnya untuk menutupi hawa panas di kedua pipi gembilku.
“Udah ayo, entar kamu digandeng orang.” Lihat deh kelakuan Langit ini, nggak bisa apa dia peka sedikit kalau dari tadi itu aku udah nahan geram dan malu setengah mati karena dia terus menggoda ku. Bisa-bisanya aku terpesona dengan lelaki ini. Tapi aku sama sekali nggak nyesal, entahlah. Langit menggandeng tanganku erat, seakan tidak mau kehilangan ku. Jantungku sudah wara-wiri tidak tenang, yaiyalah gimana mau tenang kalau Langit terus bersikap manis gini. Udah deh pak Hakim, saya rela dipenjarakan cinta oleh Babang Langit seorang.
Aku dapat melihat sosok Clarisa yang sudah menunggu di teras rumah bersama seorang lelaki tampan yang sedikit ramping, ya tidak bisa dibilang kurus, tapi bukan berbidang lebar seperti Langit. Langit mah still dabes eui.
“Acieee, jadi ceritanya datang berdua ini ?” mulai deh Clarisa ini, tak aka nada habisnya Ia menggodaku. Reflek saja aku bersembunyi dibalik bidang bahu milik Langit, menutupi rasa maluku dan juga bercampur gugup.
“Cla… jangan gitu ih.” Tegur Langit sedikit menyelamatkan ku. Aku kembali ke posisi semula. Langit memindahkan tangannya yang dari sikuku menuju pinggangku. Lagi, hatiku menghangat juga pipiku ikut merasakan hangatnya. Aku mencoba menetralkan air muka ku walau aku yakin itu tidak akan berhasil.
“Hahaha, santai aja kak. Ayo masuk, acara nya mau di mulai…eh sebelumnya kenalin ini Kak Raka, teman nya Kak Langit.” Ujar Clarisa memperkenalkan lelaki disampingnya itu. Aku hanya tersenyum kikuk sebelum menjabat tangan dengan lelaki itu.
“Arabella.”
“Raka, calon masa depan Clarisa.” Raka tersenyum lebar sambil melepaskan tangannya dariku. Oh jadi ini pacarnya Clarisa, aku manggut-manggut saja.
“Ih, kepedean loe. Jangan di dengarin.” Kilah Clarisa tapi aku bisa melihat wajahnya yang bersemu itu. Hahaha, loe kena. Aku sudah tahu dimana letak kelemahannya. Jadi, aku tahu apa yang harus aku balas jika sewaktu-waktu Ia menggodaku.
“Aaah masa jangan didengar, ini Raka nya udah menyematkan kok.” Celetuk ku menggoda Clarisa. Langit dan raka hanya terkekeh pelan mendengarnya. Clarisa kini malah menutupi kedua pipinya dengan kedua tangannya. Hahaha rasakan. Bukan niat jahat, tapi menggoda orang itu menyenangkan bukan.
Kami berempat langsung masuk setelah puas menggoda Clarisa. Aku bisa melihat acara ini begitu meriah, uluh-uluh deh jadi kepengen diresmikan juga nih sama Pak Pilot di sampingku ini. Langit membawaku ke tumpukan 3 orang lelaki yang sedang berdiri sambil menyesap minuman di tangannya. Tampaknya aku mengenal salah satu dari mereka. Oh tidak, sepertinya itu Mauren. Duh, udah kepalang gini, mau ngehindar nggak mungkin kan. Dia adalah sepupunya Kayen, pernah sih dulu dekat tepatnya dia yang mengejarku, tapi aku belum siap menerima siapapun pada masa itu, jadilah aku menyakiti perasaannya itu. Maaf Mauren yang kacak.
“Waaah, Langit bawa cewek nih. Momen langka ini mah.” Ujar lelaki yang memakai setelah berwarna maroon itu.
“Jangan gitu ih, dia nya malu. Kenalin ini Arabella.” Langit mengenalkan ku pada 3 lelaki itu. Kami bersalaman sambil bergantian menyebut nama, ada Geri, Habib dan tentu saja Mauren. Ia juga ikut mennyebutkan namanya lalu tersenyum tipis.
“Apa kabar, Ra ? Lama nggak jumpa.” Sapa Mauren selanjutnya. Dari nada suara nya, aku tahu bahwa Ia saat ini tidak sedang menyimpan amarah padaku.
“Baik kok. Loe juga gue yakin.”
“Jadi, kalian udah saling kenal ?” tanya Raka. Aku dan Mauren mengangguk sebagai jawabannya.
“Jadi, Arabella datang sebagai siapa nya loe, Lang ?” giliran Habib yang bertanya kini. Aku jadi mati kutu sendiri jika begini, jujur aku berharap lebih.
“Ya sebagai teman gue lah. Apa lagi !” aku sedikit kecewa mendengarnya. Ternyata aku tidak lebih dari seorang teman baginya. Ya memang, aku bukan siapa-siapa. Udah, jangan baper deh ah.
“Tapi, gue jamin di masa depan bakal datang sebagai Istri gue kok.” Aku terdiam beberapa saat mencerna perkataan Langit. Tanpa sadar, kembali lagi aliran hangat itu memenuhi kedua sisi pipi ku. Langit secara tidak langsung ingin menjadikan aku sebagai istrinya. Duuuh, gusti.
Isyana kan jadi lemesh.
***
Jam 12 malam aku baru sampai di lobi apartement. Langit bergegas membuka pintu untukku dan juga berniat mengantarku sampai depan pintu kamar hunian ku. Katanya ini bentuk tanggung jawabnya setelah membawa pergi anak perempuan malam-malam begini. Uh, bikin kesem-sem lagi kan. Setelah tadi di pesta Ia sama sekali tidak pernah melepasku dari genggaman dan penglihatannya. Takut diambil orang katanya. Sumpah, Langit itu blak-blakan banget.
“Ra…” panggil Langit dengan wajah serius. Aku yang kini menghadapnya juga kebawa suasana serius.
“Kamu senang malam ini ?” tanya nya sambil mengelus pelan pergelangan tanganku.
“Banget, makasih ya.” Langit mengukir senyum lebar dan juga tulus. Kan, ketampanan dia itu meningkat.
“Aku juga mau berterimakasih. Dan satu lagi, tentang aku yang ingin kamu ada di masa depan aku, aku serius.” Ungkapnya. Aku jadi panas dingin sendiri menghadapi lelaki ini.
“Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku sama sekali nggak maksa kamu buat terima aku. Aku Cuma minta sama kamu, biarkan aku berjuang dan tolong beri aku kesempatan untuk jadi bagian penting dalam hidup kamu.” Aku melihat keseriusan dan ketulusan disana, di kedua mata hitamnya. Aku bingung harus bagaimana, aku terlalu sering menolak lelaki yang mengajukan sebuah komitmen atau sebagainya karena aku yakin mereka semua b******k, tapi kenapa aku tidak bisa menemukan itu pada Langit. Takut ? Jujur aku takut, bagaimana jika firasat ku ini salah, bagaimana jika dia tidak lebih baik mantan bangsad ku.
“Perjuangin aku seperti apa yang kamu ingin lakukan, Lang. Aku akan selalu menunggu kamu.” Aku tidak tahu apakah ini adalah keputusan terbaik atau malah sebaliknya. Tapi, aku juga tidak bohong kalau aku begitu menginginkan Langit menjadi milikku.
Tidak semua lelaki sama bukan ? Aku yakin pada kalimat itu. Aku yakin, kalau Langit adalah jodohku, Ia adalah sosok terbaik yang tuhan berikan untukku, yang mampu mengimbangi antara baik dan buruk ku, yang sanggup menghadapi seluruh t***k-bengek ku yang bisa menguras seluruh stok kesabaran nya. Aku yakin itu dan keyakinan ku itu ku limpahkan pada lelaki yang kini sedang tersenyum sangat lebar itu.
“Terimakasih, Ra. Jika suatu saat nanti kamu sudah tidak ingin memberiku kesempatan itu, tolong katakana dari jauh hari agar aku bisa lebih mudah melepaskan kamu, Ra.”
“Aku pastikan itu nggak akan terjadi.” Aku yakin dengan perkataan ku barusan. Aku tidak akan menutup kesempatannya sebelum Ia yang menyerah untuk mendapatkan ku, memperjuangan hubungan yang seharusnya.
“Makasih ya ! Kamu perfect.” Cetusnya. Aku membalasnya dengan kekehan malu sambil menundukkan wajahku ke bawah.
“Udah, yok aku antar kamu dulu ke atas.” Langit mengandeng tanganku mesra. Duh, Baper deh gue.
[***]