PART 9

1785 Kata
Clarisa baru saja selesai mengganti baju gaunnya dengan piyama tidur saat Raka masuk ke kamarnya. Clarisa tersenyum hangat mendapati lelaki yang telah tanpa sadar Ia cintai itu datang. Tidak perlu takut kakak nya akan marah karena Raka sudah minta ijin untuk menginap semalam lagi sebelum kepergiannya selama 2 minggu ke Singapura. “Dari mana aja ?” tanya Clarisa. “Kamar, ganti baju.” Jawab Raka singkat, sekarang Raka sudah berbagi kmar dengan Langit serta memakai beberapa bagian dari lemari Langit untuk menaruh bajunya. Raka berlalu ke meja rias Clarisa, memeriksa satu persatu kosmetiknya. “Vitamin wajah yang mana sih ?” tanya Raka yang mulai kebingungan. Raka ini tipe lelaki yang selalu menjaga kesehatan kulitnya. Ia tidak mau dikatai tidak punya modal apa-apa sebagai lelaki, setidaknya Ia punya wajah yang bersih terawat untuk pamerkan. Walaupun Ia tidak memiliki otot atau badan yang kekar seperti lelaki lain, tapi Ia masih bisa pede dengan tampilan wajahnya itu. Tidak kalah menarik. “Ckckck, suka banget pakai vitamin, Kak !” kekeh Clarisa sambil menuangkan sedikit Vitamin wajahnya ke tangan lalu dengan telaten mengoleskan di wajah tampan milik Raka. “Supaya kamu pede bawa lelaki tua ini ketemu teman-teman kamu nanti, Cla !” sunggut Raka kalem. Clarisa tertawa mendengar perkataan Raka. Jujur saja, wajah Raka ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Ia adalah pria yang sudah seperempat abad, bahkan lebih Ia lebih mirip dengan anak kuliahan semester awal. “Apaan sih ngomong gitu. nggak peduli sejelek apapun Kak Raka nanti, Clarisa akan tetap bangga kok selama Kak Raka nggak pernah berubah.” “Sweet nya cebolku ini.” Raka menghujami wajah Clarisa dengan kecupan-kecupan gemas darinya. Hal yang paling Raka suka, mengitili wajah Clarisa dengan kecupan kecil di seluruh wajahnya. “Udah..nyerah ih. Ayo tidur, besok kakak berangkat pagi.” Ujar Clarisa memperingati. Raka mengangguk pelan lalu membawa tubuhnya ke ranjang. Clarisa menyusul dan mengambil posisi yang pas dalam pelukan Raka. “Kakak kamu gimana, Cla ?” tanya Raka sebelum benar-benar terlelap. Pillow talk time. “Sekarang ya gitu, tapi Kak Langit masih suka dingin kadang-kadang.” Ungkap Clarisa. “Dia butuh proses, Cla. Kamu sabar aja. Lihat aja dia selama ini, nggak pernah emosian lagi kalau bukan karena kamu buat salah kan ? Dia sudah melunak, Cla. Kamu hanya perlu bersabar sebentar saja.” “Pasti, Cla pasti nungguin Kak Langit buat terima Clarisa sepenuhnya.” Bukan maksud Raka ingin ikut campur masalah pribadi Clarisa dan Juga Langit, tapi mengingat bahwa kedua orang itu adalah orang yang selalu berkeliaran dlaam kehidupannya, sekiranya Ia juga harus peduli. Langit itu bukan tipe orang kerasa kepala, susah dinasehti, atau sebagainya. Langit itu lebih lembut dari itu, juga orang yang perhatian hanya saja jangan memberi dia kesan yang buruk atau mengikis rasa nyamannya, maka Langit akan bersedia untuk membeci orang yang demikian. “Kamu sekarang kuliah jurusan apa ?” tanya Raka. Selama ini Ia kurang tahu bakat dan minat pujaan hatinya itu, apalagi mereka baru 10 hari ini melalui masa pendekatan. “Tekhnik Sipil.” Jawab Clarisa kalem. “Berat banget konsentrasi nya, Cla. Kamu sanggup ?” tanya Raka. “Apa nya yang berat ? lagian Mama dulu juga kuliah jurusan tekhnik.” “Elaaah, wanita ku ini ternyata punya otak encer ya. Bangga jadinya.” “Apaan sih ! udah ayo tidur. Besok kesiangan ntar.” Sunggut Clarisa. Raka membenarkan posisi tidur mereka lalu mengecup singkat kepala Clarisa dan segera berlabuh ke alam mimpi. Tidak bisa terbayang kalau besok Ia harus berangkat ke Singapur dan meninggalkan kekasihnya. *** Pagi sudah menyapa, semua orang sudah sibuk lagi dnegan kegiatannya masing-masing. Begitu juga dengan Arabella, setelah sarapan pagi secepat kilat tadi, Ia langsung bergegas menuju butiknya, membantu para pegawainya untuk mempersiapakan butiknya hari ini. “Mbak, kemarin ada yang nyariin.” Lapor Uli saat Arabella sedang minum teh hangat di dapur butik. Arabella mengeryit heran, perasaannya dari kemarin Ia stand by terus di butik sampai sore, tapi tidak ada siapapun yang mencarinya. “Siapa Li ?” “Entah juga mbak, saya nggak kenal. Wanita itu datang saat mbak pulang beberapa menit kemudian.” Ara hanya mengangguk pelan lalu menyuruh Uli untuk kembali ke halaman butik. Ia terus memikirkan siapa yang datang mencarinya, apalagi itu adalah wanita. “Ra, gue mau balik ke Garut ini. Loe ngikut ?” ujar Kayen yang kini sudah bertengger manis di sofa butiknya. Kayen berasal dari sana, jadi wajar saja Ia akan pulang kesana sewaktu-waktu. Sedangkan aku, mudik itu berarti pulang ke panti asuhan. “Enggak deh kayaknya.” Jawab Ara pelan lalu ikut mengambil tempat disisi Kayen. “Yaudah deh, gue mau belanja dulu buat oleh-oleh. Gue duluan ya.” Sekitar jam 1 siang, Arabella baru saja siap menunaikan ibadah wajib di ruangan nya. Arabella memoles sedikit lip balm agar bibirnya tidak kering lalu langsung beranjak ke dalam butik lagi. Arabella melihat seseorang sedang berbicara dengan Uli, seperti aku mengenalnya. Langsung saja aku mendekati dua wanita itu. “Siapa Li ?” tanya Arabella mendekati keduanya. Wanita itu berbalik lalu tersenyum sinis. Oooh, Izona toh. Uli langsung pergi setelah Ara memberi kode. Arabella berjalan menuju sofa lalu menghempaskan bokongnya disana. “Gue peringati sama loe, jangan pernah loe dekatin tunangan gue lagi.” Ujar Izona tajam. Arabella terkekeh pelan lalu mengusap dagu dengan sedikit berlagak berpikir. “Gue yang dekatin tunangan loe ? Loe sehat ?” tanya Arabela balik sambil tersenyum mengejek. “Gue nggak main-main sama perkataan gue.” “Silahkan. Terserah loe mau gimana. Andra itu bukan lagi urusan gue. Dia Cuma sebatas teman bagi gue.” Jelas Arabella santai. “Teman ? bacot loe. Loe yang udah ngehasut Andra buat ninggalin gue. Ngaku loe !” Lagi-lagi Arabella tertawa sumbang. “Kalo loe ditinggalin sama Andra, itu karena loe sendiri yang nggak bisa jaga perasaan tunangan loe sendiri. Loe yang udah ngerusak kepercayaan dia. Loe emang sebenarnya nggak pantas bersanding sama Andra.” “Terus menurut loe, loe yang pantas bersanding sama dia ?? Hei girl, mirrorshay. Dia ninggalin loe karena gue. Dia milih gue, Bicth.” Perkataan Izona merusak pertahanan Arabella. Emosi nya terpancing untuk berkobar. “Loe pikir gue mau sama barang bekas ? Maaf, gue ini Izona gner bukan pemulung. Kalau elo mah, gue sih nggak tau. Lagian ya, kalo Andra udah ninggalin lo, itu sama sekali nggak berpengaruh buat kehidupan gue selanjutnya.” Izona s Arabella menajam. “Dan loe !” tunjuk Arabella tepat di muka Izona . “Nggak berhak buat ngatain hidup gue, karena loe nggak lebih baik dari gue, slut !” Arabella menunjukkan arah keluar dari butiknya bermaksud mengusir Izona . Jangan ditanya bagaimana keadaan wajah Izona saat ini, udah marah kayak kepiting rebus karena mehana emosi nya. Dalam hati, Arabella ngakak lebar-lebar. Dipancing dikit langsung naik pitam. Arabella memijat pelipisnya pelan lalu ikut keluar dari butik menuju food court, rasa lapar nya datang karena telah banyak menguras energi menghadapi mak lampir tadi. Memesan beberapa jenis makanan yang ingin disantap lalu langsung bergegas mencari spot yang nyaman untuk ditempati. Menikmati makanan hanya seorang diri sudah biasa bagi Arabella mengingat sudah 2 tahun ini Ia betah menjomblo. Entah apa yang membuatnya sangat membenci lelaki, efek dikhianai memang hebat, warbiasya. Tapi, sebenarnya Ia juga ingin merasakan yang namanya cinta lagi. Memberikan kesempatan untuk Langit untuk memiliki hatinya adalah salah satu jalan, bukannya dirinya yang ingin terbebas dari trauma nya karena merasa dikhianati, tapi perasaan ingin memiliki Langit sepenuhnya lebih dominan walaupun Ia tidak mengelak bahwa Ia snaagt takut bahwa ekspetasinya tak sesuai dengan kenyataan. Mendengar perkataan Clarisa kemarin bahwa Pak Pilot nya itu punya banyak peminat, menggoyahkan hatinya. Apa Ia bisa bersaing dengan wanita lain yang jauh lebih perfect di bandingkan nya ? “Melamun aja.” Tiba saja ada yang mengagetkan nya. Ternyata orangnya adalah Mauren. Dia tidak hanya datang sendiri, ada seorang wanita disampingnya. “Hehehe, nggak kok.” Sahut Arabella kikuk. Ia merasa sedikit canggung dengan lelaki tersebut karena di masa lalu pernah menolak cintanya tapi sekarang malah menggadaikan hatinya pada sahabatnya. Rumit. “Gabung boleh ya, tempat lain penuh.” Pinta si wanita tersebut. Suaranya halus sekali. “Silahkan aja.” Tanggap Arabella ramah. Mauren dan juga wanita itu duduk di hadapan Arabella dengan secarik senyuman tipis. Mereka berkenalan singkat dan berlanjut ke obrolan panjang sambil menghabiskan makanan yang mereka pesan. Arabella merasa sedikit kelegaan karena ternyata wnaita yang datang bersama Mauren itu adalah pacarnya, Angela. Itu artinya, Mauren sudah move on dari nya. Mauren ini sebenarnya cukup tampan, baik dan ramah. Apalagi dia merupakan sepupu Kayen, tentu saja sudah kecium bagaimana perilaku Mauren ini, tapi sayang semua nya butuh proses dan keikhlasan. Arabella memutuskan untuk lagi berhubungan dengan Mauren karena Ia merasa bahwa hatinya masih sakit belum sembuh dan tentu saja belum siap menjalain hubungan dalam bentuk apapun dengan lelaki, oleh karena Ia menolak Mauren. “Loe gimana sama Langit ?” tanya Mauren menggoda Arabella. Wanita itu hanya tersenyum malu sambil mengalihkan pandangannya. “Apa sih loe ? kagak ada yang gimana-gimana juga.” Jutek Arabella. “Hahaha, maklum deh gue. Langit kan amatiran, loe cewek pertama yang didekati sama dia. Kalau agak ngeyel dikit entar maklum aja loe ya.” Perkataan Mauren sontak membuat Arabella terdiam sejenak. Berpikir keras tentang perkataan Mauren. I am the first ? kemana aja si Langit itu selama hidup nya ? nggak pernah dekatin cewek, sinting. Jangan-jangan bekas maho lagi. Buseet. **** Langit menikmati liburnya dengan tenang dan lebih banyak mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Seperti sore ini, Ia sibuk dengan mencuci mobil kesayangannya. Ini adalah hadiah dari Oma nya. Langit termasuk anak yang lumayan dekat dengan Oma nya dari sebelah ibu, dari itu Ia mendapatkan hadiah mobil mewah itu. Ia sibuk dengan kegiatan nya sampai tidak sadar bahwa adik perempuannya menonton nya dari tadi. “Kak Lang…” Langit hanya mendongkak singkat lalu fokus lagi pada mobilnya. “Cla mau jalan sama teman, boleh nggak ?” tanya Clarisa yang berhasil mengalihkan perhatian Langit. “Yaudah, pergi aja sono.” Mendapat jawaban yang sedemikian rupa membuat Clarisa kalut. Biasa nya kakak nya itu paling cerewet kalau Ia akan keluar rumah dengan teman-temannya. “Beneran ?” tanya Clarisa tak percaya. “Hmmm… jalan aja. Gue udah nggak mau ngatur-ngatur loe lagi. Gue merasa terlalu baik sama loe selama ini, jadi gue udah mutusin buat nggak baik lagi sama loe.” Jawaban santai Langit membuat sedikit nyeri dihati Clarisa. Kakak nya sepertinya akan kembali membenci nya. What happen ? “Loe kenapa lagi sih ?” tanya Clarisa kesal sambil mendekati kakaknya itu. Tidak enak hati melihat sikap dingin kakaknya itu. “Gue kenapa ?” Langit balik tanya pada Clarisa. “Loe itu nggak bisa dipercaya.” Tukas Langit. “Maksud loe apa ?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN