Masa lalu delapan bersaudara

1506 Kata
*Flash back, 4 tahun yang lalu* "Lapor, yang mulia! Huanghou niangniang, gugur!" Pria dengan wajah pucat dipenuhi keringat berlari ke arah Qin Guyin dengan terburu-buru untuk melaporkan keadaan terbaru di Medan perang. Qin Guyin yang mendengar laporan ini segera terhuyung ke belakang, matanya berubah menjadi biru tua, pandangannya menjadi kosong. Qin Guyin berusaha mempertegak tubuhnya, kemudian bertanya kepada pria yang tadi melapor,"Lalu, lalu bagaimana dengan Putra dan Putri mahkota dan para pangeran lainnya? Bagaimana keadaan anak dan menantuku?!" Bawahan itu kembali menunduk dan menjawab,"Saat ini yang masih bertahan memimpin pasukan adalah Putra Mahkota, Putri Mahkota sudah terluka parah, dan yang lainnya, mati." "Lalu apa yang akan direncakan Putra Mahkota? Markas utama ini sudah tidak bisa berkutik! Seluruh akses dan pasukan sudah dikerahkan!" Ujar Qin Guyin, tangannya meremas pakaian jubah emasnya. Bawahan itu menarik napas dalam, kemudian berlutut dan menjawab,"Putra Mahkota berencana untuk meledakkan diri bersama Putri Mahkota! Yang mulia, para tentara garis depan kita sudah tidak bisa bertahan! Para bantuan dari kerajaan Luwei Zhing dan Dongliar An sudah dikalahkan!" Brak! Suara pintu yang dibuka kencang terdengar, Qin Guyin melirik ke arah pintu dan melihat Qin Wujing berjalan masuk. "Aku akan turun ke Medan perang! Katakan pada ayah untuk menunggu!" Qin Wujing masuk dengan bola mata yang sudah menjadi ungu. Qin Guyin menggeleng kencang,"Tidak! Jika ayah dan para pamanmu tidak bisa menghadapi mereka, apa lagi kamu?! Qin Wujing, jangan melakukan hal bodoh yang sembrono di saat yang seperti ini!" "Lalu apa?! Apa kakek ingin membiarkan ayahku mati meledakkan diri?! Nenek dan para paman yang lain sudah gugur! Apa kita masih harus berdiam diri di sini?!" Balas Qin Wujing. "Tetapi jika kamu kesana, kamu belum tentu bisa selamat! Kakek tidak bisa menambah angka kematian kepada keluarga kita, Wujing," Balas Qin Guyin dengan tatapan dinginnya yang tajam. Saat Qin Wujing hendak membalas, Qin Guyin sudah menyelak,"Jangan membantah! Cepat kembali dan lindungi ketujuh adikmu! Saat ini pewaris takhta hanya tersisa kamu!" Qin Wujing menggeleng keras, lalu dia menarik keluar pedang dari sarungnya, kemudian berbalik dan berjalan keluar ruangan. Qin Guyin yang melihat Qin Wujing tidak mematuhi perintahnya segera meneriaki nama cucuk tertuanya itu,"Qin Wujing! Saya katakan pada kamu untuk kembali! Jangan ikut campur dengan Medan perang, Wujing!" Qin Wujing menghentikan langkahnya, kemudian pria itu sedikit menoleh ke belakang,"Kakek tadi berkata bahwa aku adalah pewaris takhta, bukan? Seorang Kaisar harus melindungi rakyat dan keluarganya. Jika dia gagal, maka dia tidak pantas menyandang gelar putra Langit!" Qin Guyin tersenyum tipis, kemudian membalas,"Namun saat ini yang tengah menduduki takhta adalah aku, maka dari itu, yang seharusnya turun dan berhak ikut campur di masalah ini adalah aku!" "Aku sebagai pewaris takhta selanjutnya juga mempunyai hak!" Balas Qin Wujing. "Wujing! Berhenti berdebat denganku!" Splash! Jarum berwarna biru keluar dari telapak tangan Qin Guyin dan langsung menancap tepat di tengkuk leher Qin Wujing. Qin Wujing segera berbalik utuh, kemudian menatap kakeknya dengan penuh rasa amarah dan kecewa. Qin Guyin memejamkan matanya sembari menarik napas dalam sebentar, kemudian berjalan keluar ruangan sembari berkata,"Bawa Pangeran tertua ke istana-nya." "Baik." Qin Guyin melepas mahkota Kaisar yang selama ini telah bertahun-tahun bertengger di atas kepalanya, kemudian pria itu mengangkat pedang dan turun menuruni tangga. Tangan kanannya yang memegang pedang terangkat ke atas, menghunuskan pedang ke langit seraya berkata,"Siapa saja yang mengaku mencintai kerajaan Kami Fei Ying, segera kembali dan jaga keluarga kalian! Namun, perintah ini tidak berlaku untuk para tentara! Kalian kemari dan melamar diri untuk menjadi seorang tentara, bersumpah suci untuk melindungi Negara dan Wilayah, maka dari itu, saat ini, aku minta...aku minta kalian angkat pedang kalian! Bertarung bersamaku! Bantai semua musuh! Rebut kembali wilayah yang telah diambil!" Para tentara yang tersisa segera mengangkat pedang mereka, kemudian berteriak,"Kami bersama anda, Yang mulia!" Qin Guyin tersenyum puas, kemudian mengangguk pelan,"Bagus! Terimakasih!" Qin Guyin bersama pasukan tentara yang tersisa segera menuju Medan perang dengan kecepatan luar biasa. Dengan kekuatan dalam miliknya yang tidak memiliki batas, Qin Guyin melakukan transfer kekuatan dalam kepada seluruh kuda pasukan. Hal ini dia lakukan agar para kuda itu dapat menyeimbangi kecepetan hewan agungnya. Seperti angin yang melesat kencang, Qin Guyin bersama pasukannya sudah tiba di Medan perang. Qin Guyin turun dari kudanya dan berlari ke tengah-tengah area. Saat melihat abu manusia di mana-mana, hatinya terasa sangat sakit. Matanya mulai berkaca-kaca, jantungnya juga berdegup kencang. Matanya melirik ke sana kemari untuk menemui jasad istrinya. Saat berhasil ketemu, Qin Guyin segera berlari kencang menuju jasad istrinya. "Ling'er!" Qin Guyin menyerukan nama gadis istri kesayangannya dengan mata berkaca-kaca, kepala yang biasa dia angkat tegak dengan bangga sekarang tengah tertunduk sembari menangis. Abu manusia yang saat ini tengah bertebaran juga semakin membuat hatinya menjadi sangat kacau. Pasalnya, dari semua abu yang ada di sini, salah satunya adalah milik anak-anak serta para menantunya. "Aaaaa!" Teriakan yang melengking keras terdengar, hal ini membuat semua orang menoleh ke belakang. Qin Guyin mengerutkan keningnya saat melihat cucuk keduanya, Qin Yun Fei berada di sini. "Yun Fei! Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bentak Qin Guyin sembari berjalan ke arah Qin Yun Fei. Qin Yun Fei menatap Qin Guyin dengan air mata berlinang,"A-aku, aku hanya ingin menemui ayah dan ibu. Namun..." "Kembali!" Bentak Qin Guyin. Qin Yun Fei menggeleng,"Tidak mau! Aku mau mencari abu ayah dan ibu!" "Kembali! Qin Yun Fei!" Qin Guyin menekan nada bicaranya di bagian nama Qin Yun Fei. "Jika kakek bisa berada di sini, mengapa aku tidak?!" Balas Qin Yun Fei dengan nada keras kepala. "Karena kamu perempuan! Kamu masih kecil! Cepat kembali! Jangan sampai kakek memaksamu dengan k*******n, Yun Fei!" Mendengar balasan Qin Guyin, Qin Yun Fei segera mengubah bola matanya menjadi biru,"Karena aku perempuan?! Bukankah Kami Fei Ying memberikan kebebasan untuk perempuan?! Dan lagi! Aku sudah mulai tumbuh dewasa! Aku ingin seperti nenek dan ibu!" Dua pasang mata berwarna biru kini saling tatap, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Kembali!" "Tidak!" Qin Guyin hendak mengangkat tangannya untuk membuat Qin Yun Fei pingsan, namun tiba-tiba serangan petir datang dan hendak mengenai mereka berdua. Segera, Qin Guyin menarik Qin Yun Fei ke dalam pelukannya dan melompat untuk menghindari petir tersebut. Qin Yun Fei yang syok menatap kosong ke arah bekas tadi dia berdiri. Jika tadi kakeknya tidak sigap, maka dia sudah mati. "B*j****n!" Teriak Qin Guyin dengan nada yang sangat marah. Qin Yun Fei menoleh ke arah Qin Guyin menatap, kemudian melihat burung Phoenix yang berwarna hitam mengambang di atas langit. Di atas burung itu, ada seorang pria dengan pakaian hitam menatap Qin Guyin dan Qin Yun Fei dengan tatapan meremehkan. "Jika kamu melukai cucukku sedikit saja, maka seluruh organisasi Shi Ruoli akan aku musnahkan! Bahkan urat-urat yang ada di dalam tubuhmu akan aku tarik keluar lalu ku gantung di depan pintu masuk gerbang Istana Kami Fei Ying!" Ancam Qin Guyin. "Jiejie!" Dari belakang terdengar suara anak kecil yang memanggil Qin Yun Fei dengan panggilan Jiejie. Qin Yun Fei yang mengenal suara tersebut segera menoleh, matanya melihat adik keempatnya yang perempuan, Qin Mingxiang. Qin Guyin yang juga ikut menoleh merasa semakin khawatir, pasalnya di belakang Qin Mingxiang masih ada Qin Junfeng, Qin Yun Yan, dan Qin Wushuang. "Untuk apa kalian kemari? Qin Junfeng! Bagaimana bisa kamu membiarkan adik-adikmu kemari?!" Qin Guyin menatap dingin ke arah cucuk laki-laki keduanya. Walaupun begitu, tetapi sebenarnya dia sedang sangat khawatir. Qin Junfeng tidak menjawab dan hanya menunduk, hal ini membuat semuanya juga menjadi terdiam. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama, pasalnya suara tawa jahat tiba-tiba terdengar. Qin Guyin segera melirik tajam ke arah pria yang berdiri di atas Phoenix raksasa berwarna hitam tersebut. "Da Liman! Kamu akan membayar semuanya karena telah membunuh seluruh anak dan menantuku!" Da Liman yang mendengar ancaman Qin Guyin tertawa, kemudian menaikkan alis kirinya seraya berkata,"Oh? Bukankah kamu yang mengirim mereka untuk bertarung? Tidak ada luka dan pengorbanan nyawa saat perang? Mustahil! Lagi pula, mengapa anak dan istrimu sudah turun dan maju ke Medan perang sedangkan kamu tidak? Ada apa? takut? kamu egois Guyin! Bukankah berarti kamu lah yang membunuh mereka?" "Omong kosong! Hati-hati jika berbicara! Da Liman, ucapan dan ancamanku saat ini bukan main-main," Balas Qin Guyin. Da Liman menyunggingkan bibirnya sebelah,"Sayang sekali, Guyin." Boom!!! Tiba-tiba Da Liman dan Qin Guyin saling bentrok di udara. Dalam kedipan mata, keduanya sudah berada di atas langit dan saling menyerang. Cahaya berwarna biru keluar dari telapak tangan Qin Guyin, dan cahaya berwarna hitam keluar dari tangan Da Liman. Kedua cahaya itu saling bentrok! Qin Yun Fei yang menyaksikan kecepatan Qin Guyin dan Da Liman tidak bisa tidak terkagum-kagum. Walaupun dia tahu ini bukan saatnya untuk kagum, tetapi dia tidak bisa mengontrol hatinya, bukan? **** Makasih yang sudah mau mampir membaca❤️. Untuk yang masih bingung urutannya siapa saja keturunan kerajaan Kami Fei Ying karena Qin Yun Fei punya banyak saudara, di sini Nanad kasih tahu urutannya ya, supaya gak lupa. 1. Qin Wujing 2. Qin Yun Fei 3. Qin Junfeng 4. Qin Mingxiang 5. Qin Yun Yan 6. Qin Wushuang 7. Qin Lin Meng 8. Qin Ruyi (*Note: Qin Lin Meng dan Qin Ruyi di bab ini masih bayi, jadi dia akan muncul di next bab, yaa. Untuk Qin Junfeng juga begitu, namun dia di bab ini usianya sekitar 14 tahun.)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN