"Meskipun ta npa izin kamu, aku tet ap pulang!" "Zaldi!" "Udah, nggak usah ba per!" sahut seseora ng yang barusaja masuk ke kamar mandi. "Siapa yang baper?" elak Zaldi. Ia mengha mpiri Zaldi. Memb awa pisau cukur, sisir, dan po made. Oh, ada sebuah pouch kecil yang Zaldi yaki ni berisi pelem bab dan kawan-ka wa nnya. Ia hafal tabiat Marlon, si pesolek kelas berat. "Duduk sini!" Marlon mendorong membawa kursi roda untuk Zaldi. "Nggak usah." "Jangan sok kuat. Ntar lo geblak, gue juga yang repot!" Zaldi mencebik kesal. Tapi tetap menurut. Ia menunduk, berpega ngan kedua sisi kursi roda untuk menjaga keseim bangan. Marlon mulai mengoles krim cukur pada bagian jenggot dan kumis Zaldi. Sebenarnya bukan bukan ti pe yang bulunya lebat. Ia sudah tidak cukuran bermin ggu-minggu. Tapi jengg

