"Maaf, ya. Setelah ini kita ke bandara, kita pulang. Kamu bisa istirahat nanti, dan aku memastikan masalah ini tuntas, sembari menunggu si Kembar lahir." Jordiaz ikut menyentuh perut Elleanor. "Kita pulang? Pulang ke Indonesia?" Elleanor tak dapat menutupi rasa senangnya. Jordiaz mengangguk. "Kalau kamu ngerasa sakit, bilang, ya! Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita. Saat pemeriksaan terakhir, dokter bilang mereka akan lahir minggu-minggu ini, kan?" "I-iya, Mas." Elleanor diserang panik. Sampai-sampai ia sibuk mencari topik untuk mengalihkan perhatian. "M-Mas!" "Iya?" "Boleh aku tanya sesuatu?" "Tanya apa?" "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mas aneh akhir-akhir ini? Kenapa kita naik helikopter? Kenapa juga tiba-tiba pulang?" "Aku jawab jujur. Tapi aku minta kam

