Sebuah Ciuman

1972 Kata

Thania terbangun pagi-pagi karena alarm dari ponselnya. Thania berencana untuk kembali masuk ke kantor hari ini. Badannya sudah terasa fit dan bersemangat. Memar di wajahnya juga sudah berkurang karena obat yang dikirimkan Aldillo kemarin. Thania merasa jenuh jika harus berdiam diri di rumah. Saat tiba di kantornya, Thania merapikan meja kerjanya. Membaca berkas dan file-file yang ada di atas mejanya. Mencoba memahami pekerjaan barunya sebagai sekretaris Aldillo. "Thania..." "Astagaaa... Pak Aldillo." Thania terkejut dengan suara Aldillo yang menyapanya. Karena fokus dengan pekerjaannya, Thania tidak menyadari jika Aldillo sudah berada di depan mejanya. Melihat reaksi Thania yang terkejut ketika ia menyapanya, Aldillo tersenyum tipis. Tipis sekali nyaris tak terlihat. "Maaf Pak, Saya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN