Pertemuan
Aletta
Jelang senja, perempuan itu kemarin mendatangi rumah mungil di pojokan jalan. Ia terlihat ragu membuka pagar ambang halaman. Jemari lentiknya mendorong pagar yang memang tak terkunci. Sembari membuka pintu, aku menyapa datar dan mempersilakan. “Masuk, dan duduklah.”
Dari sudut matanya ia mencoba menilai seisi ruangan mungil ini. Siaran televisi terdengar sayup-sayup di sudut. Di seberang sana, springbed terlihat berantakan dengan seprai dan bedcover menjulur hingga ke lantai.
“Anggita Larasati?” tanyaku padanya.
“Istri sahnya Zafran, lebih tepatnya,” suaranya dalam. Tak terdengar bergetar, emosional atau nada marah. Lebih dingin tepatnya. “Aku hanya ingin melihat lebih dekat, perempuan seperti apa yang mampu menggoda suamiku.”
Aku tersenyum tipis. Sekaleng coke kusodorkan untuknya. Ia hanya mengangkat bahu sambil membuka tas dan meneguk infused water miliknya.
“Jadi semalam ia menginap di sini, merokok dan sedikit mabuk,” jemari lentiknya menunjuk kaos dan kemeja yang teronggok lemah di sudut sofa. Milik suaminya. Abu rokok bertebaran di mana-mana. Dua asbak bersandingan malas di meja tamu.
Aku tak perlu menjawab. Hanya gantian mengangkat bahu tak acuh, sambil menyesap bir dinginku sendiri. Sebatang rokok kujentikan perlahan di asbak.
Ia melempar amplop cokelat ke meja. Dari amplop tak tertutup itu berhamburan foto-foto. Foto-foto kemesraan kami tentu saja. Aku dan Zafran, suaminya.
“Segitu borosnya sampai sewa detektif segala, Anggita?” Aku iseng bertanya. “Selama ini Zafran bahkan tak menyadari kalau kau sudah tahu di ranjang mana suamimu bermalam, kan?”
“Enam bulan lebih sepuluh hari, tepatnya,” ia menatapku dingin. Tajam.
“Lalu apa yang kau inginkan setelah ini? Merayuku untuk melupakannya? Menyogokku dengan tumpukan uang? Atau menyiramku dengan air keras, mumpung gak ada saksi yang melihat?” tanyaku mencoba menatap matanya.
Mengejutkan, senyuman dingin terpulas di bibirnya yang memang ranum. Hampir tertawa geli malah, demi menyimak pertanyaan tak lucu yang ia dengar. Tak ada reaksi marah atau memaki. Sikapnya di luar dugaan, bahkan rileks menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Jemarinya mengelus botol infused water dalam genggamannya. Campuran strawberry, apel, serta blueberry yang tampak menggoda di sore yang gerah ini.
“Seperti yang kubilang,” katanya perlahan, “aku hanya penasaran, wanita seperti apa yang mampu merebut hati Zafran. Tadinya kupikir hanya seorang bocah ingusan, rok mini, rambut dicat pirang dan tanktop, tipe cabe-cabean kekinian yang butuh om-om tajir buat beliin i-Phone gratisan atau, yah, buat bayar tunggakan apartemennya,” ia menatap mataku lekat-lekat, seolah dengan itu, sanggup merendahkan siapa pun sosok di hadapannya.
“Lalu?” Aku hanya menggiringnya untuk terus bercerita dan mengeluarkan isi pikirannya. Anehnya, aku tak lagi merasakan dendam amarah perempuan yang suaminya kurebut. Kami layaknya teman lama yang bercakap-cakap mengenang masa lalu.
Ia tak menjawab. Hanya berdiri dan mengitari rumah mungilku. High-heels-nya berdetak lembut saat menginjak lantai. Sekilas dilihatnya layar laptop masih menyala. Tumpukan novel berserakan di mana-mana.
“Kau penulis?” tebaknya tepat.
“Bisa dibilang seperti itu. Meski, yah, seumur hidup takkan pernah kau baca namaku ada dalam novel-novel ciptaanku,” jawabku menghela napas. “Ghost Writer, kau tahu ....” Kembali kujentikkan abu rokok di asbak.
Matanya mendadak menyipit sambil menatapku. “Lalu mengapa Zafran? Kalau boleh kutau … Mmm, sorry, duniamu menyediakan begitu banyak makhluk-makhluk yang hidup bergentayangan, kehidupan bebas maksudku, diterima begitu baik di dunia seni, kan?”
Aku hanya menghela napas beberapa kali sebelum mampu menjawab pertanyaan. Bir dingin di gelas bening itu kusesap perlahan. Es cairnya menghambarkan sedikit rasa manis.
“Ia hanya datang begitu saja dalam hidupku. Sama sekali bukan tipeku selama ini. Tipe pria serius. Menekuni dunia yang terlalu kompetitif dan ambisius. Tadinya kami hanya teman bicara, teman chatting di dunia maya, mencuri waktu di antara padat jadwal meeting-nya. Lalu ia malah memaksa ketemuan, minum kopi, lanjut nonton bareng, sampai akhirnya sering bermalam di sini.”
“Kau cinta dia, kah?” tanyanya langsung.
Aku hanya mengangkat bahu. “Aku tak tahu. Aku pun tak tahu apakah ia cinta aku atau tidak. Aku tak peduli. Kami tak pernah membahas itu. Kami bicara banyak hal. b******a, tapi tak pernah bicara sedikit pun tentang cinta.”
Mendengar kata b******a, kulihat ia sedikit tersentak. Ada bara di matanya, namun mencoba sekuat mungkin menahan emosi.
Aku hanya mengangkat bahu. “Yang kutahu, semua lelaki hanyalah bocah berkumis yang rindu menetek di p****g ibunya yang nyaman. Tak peduli seberapa cantik dirimu, secerdas, dan secemerlang apa pun karirmu, mereka hanya ingin menetek dengan nyaman.”
Anggita terpaku sejenak setelah berjalan tak tentu arah mengitari ruang sempit rumah mungil ini.
“Kau ingin ia kembali mencintaimu utuh? Kau ingin ia berhenti berbagi ranjang denganku?” tanyaku.
Ia menarik napas panjang, mengembuskan lagi perlahan. Tampak berpikir mendalam sebelum menjawab pertanyaan.
“Kita lihat nanti, apakah ia masih semenarik Zafran yang sekarang, setelah kudepak dari perusahaan milik ayahku. Kita lihat, apakah ia masih se-sexy dan se-galant saat ini, setelah ia papa dan terlunta-lunta. Dengan sekejap mata, lelaki itu bisa jadi manusia gelandangan kalau kumau, Aletta …,” sengitnya, lebih menyerupai bisikan.
Sepatu hak tingginya kembali berdetak. Dengan bahasa tubuh anggun, ia pamit. Membuka pintu pagar yang berderit. Melangkah ke pekarangan, sambil menyalakan alarm matic Pajero sport-nya yang seputih s**u.
Aku menatap dalam-dalam pada bola matanya, “Aku tak pernah tertarik pada pria papa dan terlunta-lunta, Anggita,” bisikku.
Mata kami pun bertatapan. Dalam-dalam. Sebelum bayangnya melesat secepat kilat. Aku pun kembali sendiri dalam sunyi, bersama bayangku sendiri.
****
Anggita Larasati
Secepat kilat kularikan Pajero sport melaju dengan kecepatan maksimum, agar tak perlu lagi melihat wajah perempuan laknat itu. Senja mulai temaram, lampu merkuri jalanan yang berpendaran, mengiringi air mata tumpah ruah di pipi, mengaburkan pandangan. Tidak! Sepertinya ini tidak patut. Emosi, air mata dan senja, bukanlah rekan yang tepat untuk membelah jalanan. Pajero menepi, mau tak mau merapat pada sebuah masjid di pinggir jalan. Kumatikan mesin. Kepala tertelungkup pada kemudi. Rambut terurai menutupi kepala dan wajahku. Air mata mulai kering, terisak-isak, diredam musik keras dari CD player.
“Mbak, maaf ... Mau parkir di masjid atau jalan lagi, ya? Banyak motor yang mau masuk masjid lewat jalan ini,” seorang pemuda bersarung, mengetuk kaca mobil.
Tergagap dan kaget, mau tak mau aku memarkirnya di pelataran masjid. Supaya tak tampak aneh, terpaksa kubuka pintu mobil dan duduk di pelataran masjid. Undak-undakan teras marmernya terasa dingin di kulit.
Masjid mulai ramai lalu lalang jamaah yang hendak sholat. Posisiku di undakan teras tangga mulai tak nyaman. Terpaksa turut masuk ke dalam masjid dan duduk di sudut. Kupastikan aku duduk di area khusus wanita.
Adzan mulai berkumandang, bergema menembus langit. Tanpa sadar bulu kudukku merinding. Entah sudah berapa lama aku tak mendengar adzan sejelas ini.
Seorang wanita menepuk bahuku lembut. Rupanya ingin merapat padaku karena sholat hendak dimulai. Kupaksakan tersenyum, menggeleng. Ia pun balas tersenyum. Mungkin pikirnya aku sedang menstruasi.
Kupejamkan mata dan kusandarkan kepala ke dinding masjid. Entah mengapa hati ini damai mendengar lantunan ayat suci yang dikumandangkan imam sholat. Napas yang tadi serasa sesak, perlahan mulai reda. Pandangan yang tadi mulai kabur oleh air mata berangsur jernih.
“Mbak ….” Kembali seorang perempuan menepuk bahuku lembut. Ia mengangsurkan kedua tangan, mengajak salaman, rupanya sholat telah usai. Entah, beberapa menit aku seolah tenggelam dalam lantunan ayat suci yang begitu menyejukkan.
Kuterima jabat erat dan hangat dari perempuan separuh baya yang tak kukenal. Tak sadar, aku ikut tersenyum kala senyum teduhnya yang dibingkai mukena putih dengan bordir bunga biru di tepiannya, memelukku sambil tersenyum. Beberapa perempuan lain yang tak kukenal, saling tersenyum dan berpelukan. Sungguh, hatiku yang tadi mendidih karena marah, cemburu dan gelisah, perlahan meleleh. Sejuk.
Langkahku mulai ringan ketika menyalakan alarm matic. Pajero perlahan melaju mulus membelah malam. Di kaca spion, mata bengkak tadi tak lagi nampak, hanya sedikit memerah tak terlalu kentara.
***
“Mama .…”
Zaskia, gadis kecilku berhambur saat melihat kedatanganku menyambut dengan pelukan. Ia tampak tak sabar mengacungkan buku gambar besar di tangannya.
“Wow, cantik sekali gaun ini, nanti kita sama-sama warnai, ya. Sekarang biar Mama mandi dulu, bau asem, nih,” candaku sambil memonyongkan bibir.
Zaskia tertawa dan segera melesat ke meja belajarnya menunggu di sana. Sisa malam itu kuhabiskan utuh bersama Zaskia, menemaninya mewarnai dan membaca hingga ia tertidur lelap, dan aku pun tertidur kelelahan di sisinya.
Zafran suamiku? Entahlah. Aku enggan sekadar mengiriminya w******p dan bertanya kapan ia pulang.
***
Pagi harinya, aku membantu Bik Inah menyiapkan sarapan pagi. Nasi goreng, telur mata sapi, dua gelas cokelat hangat, serta sosis goreng.
“Hhhm, haruuum, Mama. Sering-sering dong Mama masak di dapur.” Zaskia memelukku erat, sudah rapi dengan seragam dan bandana merah di rambut panjangnya. Sambil mulai menyiramkan saos sambal di atas sosis gorengnya, bertanya, “Papa?”
“Papa ada dinas mendadak, ,as … Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Bandung. Mungkin paling lama lusa baru Papa pulang.” Terkejut aku dengan pertanyaannya. Untung Zaskia tahu kami punya kantor cabang di Bandung dan aku tak sembarang ucap lokasi. “Kamu Mama antar saja, ya, sekalian berangkat kerja.”
“Horeee ….” Ia nampak bersemangat menghabiskan sisa sarapannya, menenggak cokelat hangat dan terburu-buru menyusulku menuju mobil.
“Drop Zaskia dulu di sekolah, Mang. Nanti baru antar saya keliling,” sapaku pada Mang Didi sambil tersenyum. Zafran selalu tampak sempurna bagi putriku, begitu pun sebaliknya.
Ada saat kita tidak bisa membuat keputusan atas kepentingan pribadi, tanpa mengindahkan pertimbangan orang-orang yang kita cintai, putriku ... Zaskia.
****