Hari masih pagi saat Jesica berjalan kearah dapur untuk sarapan. Tidak seperti hari yang lalu kini Jesica kembali rapih dengan baju seragamnya yang awalnya ingin dia jual di pasar loak karena berfikir dia tidak akan memakai seragamnya lagi. namun dugaanya salah hari ini dia kembali lagi menjadi anak sekolah, bedanya sekarang dia sudah punya suami.
"pagi nona Jesica."sapa Arimbi hangat.
Arimbi menyodorkan segelas s**u hangat dan sepiring roti bakar.
"makan yang kenyang, nona pasti butuh banyak energi untuk belajar."Jesica tertawa kecil.
"kau mirip ibuku."
"maksud nona aku sudah tua?"
"bukan, bukan seperti itu, maksudku kau sangat perhatian seperti ibuku." tubuh Jesica tersentak saat menyadari tiba-tiba saja ada seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.
Pria berperawakan tinggi, kulit putih, hidung mancung, rahang tajam dan wajah yang bisa terbilang tampan berdiri di samping Jesica entah sejak kapan.
"siapa kau?"tanya Jesica mengerutkan sebelah alisnya.
Pria itu menundukkan tubuhnya enam puluh derajat. membuat Jesica sedikit tersentak dan mengernyit bingung.
"nama saya Zidan, saya disini ditugaskan oleh nyonya Natalie untuk melindungi nona Jesica,"
katanya memperkenalkan diri singkat.
"melindungi ku?" Pria bernama Zidan itu mengangguk.
Beberapa detik Jesica mencoba mencerna ucapan Zidan. Kenapa nyonya Natalie menyuruh orang mirip preman ini untuk menjaga Jesica. menjaga dari apa?
"oh astaga."
Jesica baru sadar, dia harus datang pagi-pagi hari ini untuk piket kelas. bisa-bisa dia di marahi habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya.
"aku sudah telat tuan Zidan, aku tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa bilang saja pada Arimbi ya tuan Zidan."Jesica buru-buru mengambil tasnya. Berjalan melangkah keluar rumah. Semoga saja ada angkot yang lewat di kawasan perumahan elit ini.
"saya akan antarkan nona Jesica."
"ya?"
Zidan berjalan kearah Jesica, mengambil lembut tas dari gendongan Jesica"mulai hari ini saya akan mengantarkan nona ke sekolah."
"tidak perlu repot-repot aku bisa naik angkot kok."
"ini perintah dari nyonya Natalie."
"oh, baiklah." untuk urusan perintah dari nyonya Natalie Jesica sama sekali tidak bisa menolaknya.
Mata Jesica terbelalak lebar, mulutnya membulat lebar saat menatap mobil yang ada dihadapanya seka
Sebuah mobil lamborghini hitam mewah yang sama mewahnya dengan milik Joshua waktu pernikahan mereka. kini sudah terparkir di depan teras rumah.
Zidan turun dari mobil, dia bergegas membuka pintu mobil keatas.
"ayo nona."
"tuan yakin ingin mengatarkanku ke sekolah dengan ini?"
"kenapa? nona tidak suka modelnya? kalau begitu biar saya ganti dengan mobil lain."
"tidak usah, tidak usah, aku sudah terlambat."
Jesica melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil lamborghini mewah Joshua, lalu Zidan menutup pintu mobilnya.
****
Mobil lamborgini mewah milik Joshua berhenti tepat di depan gerbang SMA merpati bangsa. SMA negeri biasa yang tidak seterkenal SMA-SMA lain di kota, bangunanya saja tidka terlalu besar dan luas.
Zidan buru-buru keluar dari mobil dan berlari kearah seberang, dia membukkan pintu di samping Jesica.
Sumpah demi apapun hari ini Jesica benar-benar tidak menyangkan bisa di perlakukan seperti layaknya seorang ratu. dari yang biasanya naik angkot dan turun dengan seragam kusut dan bau asap angkot, sekarang turun dari mobil mewah yang pintunya bisa diangkat keatas sambil di bukakan pria tampan mirip pangeran. siapapun tolong katakan pada Jesica kalau ini bukan mimpi.
Jesica baru saja ingin mengambil tasnya, namun Zidan sudah terlebih dahulu mengambil tas pink polkadot miliknya.
"tidak usah repot-repot aku bisa membawa tasku sendiri,"kata Jesica. namun Zidan tidak meladeninya.
Jesica turun dari mobil. anak-anak SMA merpati bangsa langsung mengerubungi mobil tersebut, mereka terpengarah, melotot, bahkan ada yang sibuk berfoto-foto ria.
"wih mobil siapa nih?"
"wah gila-gila ternyata ada yang orang kaya di SMA rmerpati."
"aaaa liat itu mobil papah aku."
Decak meraka tak henti-hentinya kagum.
Tatapan mata Jesica teralihkan pada golongan chiby yang berjalan kearahnya. golongan chiby adalah golongan yang diisi oleh anak-anak cantik dan kaya di kelasnya. walau mereka tidak terlalu pintar, mereka menjadi kebanggan guru-guru karna orang tau mereka menjadi donatur paling berpengaruh di sekolah. mereka di segani, mereka di kagumi, mereka di puja-puja. tapi bagi Jesica mereka hanya pembully yang tidak beretika, orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. tidak ada seharipun hari tenang untuk jesica, karena setiap hari dia harus menangis karena ulah mereka.
"oy babi"panggil angel pada jesica.
Angel adalah ketua grup dari geng chiby. paling cantik, paling modis dan paling kaya. dia yang menciptakan sebutan babi pada jesica.
"gue cariin kemana-mana ternyata lo ada disini, nih."angel melemparkan tasnya pada jesica.
Zidan mengambil tas angel dari tangan jesica, kemudian menjatuhkan tas itu ke tanah. sontak mulut dan mata angel dan dua temanya terbelalak lebar, kaget.
"woy lo apa-apaan sih, tas gue mahal tau ga biaya hidup lo lima puluh tahun juga ga bakal bisa gantiin tas gue!!"
"kamu punya tangan kan, nona jesica bukan pembantu mu."zidan mengalihkan pandanganya pada jesica"ayo nona jesica."
Sedikit ragu jesica berjalan meninggalkan angel dan kerumunan, tentu saja dengan zidan yang terus menyingkirkman kerumunan dari hadapan caca. dia tidak membiarkan kulit jesica tergores sedikit pun.
Jesica terus menundukkan kepalanya saat sudah sampai di bangkunya. bukan, bukan karena dia takut pada golongan angel yang menatapnya sinis. tapi karena bodyguard itu terus saja berdiri di belakangnya dan tatapan teman-teman ceweknya yang sedari tadi terus menatap ketampanan Zidan.
Sementara teman sebangkunya, namanya Ani, orang satu-satunya yang mau berteman dengan Jesica di sekolah. gadis cerewet dan tidak bisa diam, sangat berbanding terbalik dengan sifat Jesica. dia terus menatap Zidan penuh kebingungan.
"siapa si dia Jes, daritadi perasaan ngikutin lo mulu, lo punya utang ya sama dia."cecar Ani berbisik pada Jesica.
Kalau Jesica jelaskan Zidan adalah bodyguardnya dan dia telah menikah dengan seorang ceo kaya pasti Ani akan menertawainya habis-habisan dan bilang kalau dia terlalu banyak halu.
Iya, Jesica tidak memberitahu siapapun tentang pernikahanya dengan Joshua, bahkan Ani sekalipun.
"gue juga ga tau ni, emang agak setres tuh orang."jawab Jesica sekenanya.
"tapi kalo di liat-liat ganteng juga sih jes, dari gayanya kayak sugar daddy di novel-novel gitu, mending lo gebet aja, terus porotin duitnya. Kalo lo ga mau ya lempar ke gue aja, gue ikhlas kok, ikhlas lahir batin sumpah."
"ambil sana, bungkus sekalian."
"bu indah datang, bu indah datang!!"teriak salah satu murid.
Sedetik kemudian semua berlari ke meja dan kursinya masing-masing. Kecuali Zidan, dia tetap setia berdiri di belakang Jesica.
"kau harus pergi, guruku akan mengusir mu."usir Jesica mendorong tubuh Zidan agar keluar dari kelasnya.
Namun Zidan bergeming di tempatnya.
"tuan Zidan!!"
"anak-anak cepat buka halaman 153, kita hari ini akan belajar algoritma......"ucapan bu Indah berhenti saat kedua matanya menangkap Zidan yang berdiri di belakang Jesica.
"bapak ini siapa ya, kenapa bapak ada dikelas saya?"tanya bu Indah menunjuk Zidan, membuat semua perhatian tertuju padanya.
"saya Zidan, bodyguard nona Jesica, saya di tugaskan untuk melindungi nona Iesica dimanapun dia berada."
Alis bu Indah berkerut sempurna"bodyguard?"
"iya."
"Jesica aman disini bersama kami."
"apa ibu bisa memastikanya?"
Bu Indah menghela nafas"pak Zidan, ini kelas, Jesica akan aman disini bersama teman-temanya tanpa pak Zidan sekalipun, jadi tolong pak Zidan keluar sebentar agar saya bisa mengajar dengan tenang."
Zidan merogoh saku jasnya, dia mengeluarkan uang seratus ribuan sepuluh lembar dari dompetnya lalu menyodorkan uang itu pada bu Indah "apa ini cukup, biarkan saya disini, menjaga nona Jesica."
"yasudah pak Zidan boleh duduk di bangku sebelah sana, kalo disini bisa-bisa saya yang ga fokus ngajarnya."bu Indah menunjuk bangku kedua paling depan yang kosong karna anaknya tidak berangkat.
"terimakasih, saya akan tetap disini."
Selama pelajaran Zidan benar-benar terus berdiri di belakang Jesica, kalau jesica butuh sesuatu seperti tip-x dia akan langsung meminjam pada murid lain dan langsung memberikanya pada jesica. Saat mengerjakan matematika saja, jesica baru saja menghitung soal pertama dia sudah menjawab lima soal sekaligus. Zidan memang benar-benar manusia pintar.
Selama istirahat Zidan selalu mengintili Jesica kemanapun dia pergi, dari ruang guru untuk mengumpulkan tugas sampai kantin sekolah, sampai-sampai Jesica jadi risih, apalagi dengan pandangan orang-orang yang menatap kagum pada Zidan, itu menyebalkan.
Sekarang mereka sedang berada di kantin. setelah memesan bakso Zidan membersihkan bangku dan meja yang akan di tempati Jesica.
"kau tidak perlu melakukan itu."
"nona Jesica tidak tau betapa banyak bakteri yang ada di meja ini, kalo nona jesica sakit karna kuman-kuman disini saya yang akan dimarahi tuan."
"tuan mu saja tidak akan peduli kalau aku mati."gumam Jesica. kenyataan yang miris.
Zidan mengambil mangkuk bakso Jesica. Dia mulai membersihkan sendok dan garpu Jesica menggunakan tisu yang baru dia beli tadi.
"kau sudah cuci tangan nona?"
"belum, aku ingin cuci tangan dengan air sungai sss, kau bisa membawakanya untukku."solot Jesica kepalang kesal.
"nona Jesica sedang tidak bercanda?"
Jesica hampir mencuatkan tawanya melihat respon Zidan. apa hidupnya seserius ini, kenapa hidupnya terlalu serius, pantas Arimbi memanggilnya kanebo kering, kanebo kering bahkan tidak mau di bandingkan denganya.
"yasudah kalau tidak mau."Jesica melahap bakso besar kedalam mulutnya.
"kau akan menyesal seumur hidup menolak bakso terenak buatan mas asep."ujar Jesica dengan mulut penuh. alhasil kini mulutnya kotor karna kuah bakso.
Mata Jesica terbelalak saat Zidan mengelap lembut bibirnya menggunakan sarung tangan. Jantungnya berdetak begitu kencang karena saat ini muka Zidan sangat dekat denganya, bahkan hidung dia bisa merasakan deru nafas Zidan dengan jelas.
"a...aaku bisa mengelapnya sendiri."Jesica mengambil sapu tangan dari tangan Zidan gugup"memangnya aku bayi apa diperlakukan seperti itu, menyebalkan."
****
Akhirnya penderitaan Jesica berakhir, bell pulang berdering begitu nyaring. Semua murid berhamburan keluar dari kelas. Jesica berjalan ke kamar mandi hendak buang air kecil terlebih dahulu.
Tujuanya agar Zidan berhenti mengikutinya, tapi dugaanya salah, dia malah terus mengikuti Jesica sampai di depan pintu masuk toilet perempuan.
"bisa kau berhenti mengikutiku!!"tukas Jesica marah.
Beberapa orang yang ada di sekitar langsung mengalihkan pandanganya kearah mereka.
Jesica mulai membasuh wajahnya dengan air keran. Dia menatap dirinya yang terlihat berantakan dan menyedihkan.
Apa tadi kata-kata Jesica terlalu berlebihan pada Zidan, apa kata-katanya kelewat kasar, bagaimana kalau Zidan sakit hati gara-gara itu, bagaimana kalau karrna itu dia Zidan akan membencinya.
"oh jadi ini l***e yang bawa omnya ke sekolah naik mobil lamborgini, hahahah udah di genjot berapa kali lo sama om-om itu."Ajeng tiba-tiba keluar dari salah satu bilik kamar mandi bersama dengan Putri dan Bella.
"duh, duh kok bisa ya om seganteng itu seleranya bocah udik jelek mirip babi kayak lo bentuknya."
pedas Putri menonyor kepala Jesica kasar.
"atau jangan-jangan lo main guna-guna." Angel menjambak rambut Jesica keras. Jesica meringis kesakitan.
"aww....a...Angel...sa...sakit."
"hah, apa, gue ga denger."
"mana nih bodyguard yang katanya bakal ngelindungi lo, mati atau nyerah liat muka babi lo?"Putri celingak-celinguk mencari Zidan.
Angel mendorong tubuh Jesica kasar sampai tubuh gadis itu jatuh tersungkur ke lantai. menenggang keras punggung jesica sangat keras.
"babi kayak lo emang harus dikasih pelajaran. Anggun ambilin tong sampahnya."
Anggun mengangguk, mengambil tong sampah di dekat pintu masuk"ini njel."
"siap-siap mandi sampah ya, rasakan ini babi jelek kecentilan."Angel tertawa terbahak-bahak hendak menumpahkan tong sampah di tanganya kearah Jesica.
Jesica menutup matanya rapat-rapat, hari ini dia akan benar-benar seharian di wc sampai semua murid pulang, dia tidak bisa masuk dengan baju yang penuh dengan bau busuk.
Tubuh Zidan kini penuh dengan sampah, bau badanya yang wangi menjadi busuk.
"Zidan kau tidak apa-apa?"tanya Jesica.
Zidan menarik tubuh Jesica agar berdiri di belakangnya. lalu pria itu menatap Angel dan golonganya dengan tatapan setajam elang.
"g...gaes....ca..cabut...yuk."
Zidan meraih tangan Angel, mencengkeramnya erat.
"berhenti ganggu nona Jesica, atau saya akan patahkan tangan anda."ancam Zidan berbisik tepat di telinga Angel.
Golongan Angel berlari terbirit-b***t meninggalkan Jesica, sebelum mereka di buat perkedel oleh Zidan.
Jesica menundukan kepalanya. Ucapan kasar yang tadi dia ucapkan pada Zidan kini terus terngiang di kepalanya. kini Jesica merasa menjadi orang yang paling jahat sedunia.
"maafkan aku karena tadi aku mengucapkan kata-kata kasar pada tuan, padahal aku tau maksud tuan itu baik ingin menjagaku, tapi aku malah bersikap tidak baik pada tuan, sekarang aku merasa bersalah, tolong maafkan aku tuan."lirih Jesica, air mata jatuh turun membasahi lantai dingin di bawahnya.
Zidan tiba-tiba duduk bersimpuh di depan Jesica
"maafkan saya nona jesica, saya tidak bisa menjaga nona jesica dengan baik, saya lalai, saya tidak berguna, nona jesica bisa memaki dan memukul saya."
"tidak tuan Zidan, bagunlah, kau tidak bersalah apa-apa, aku yang salah, aku yang salah aku yang harusnya minta maaf, aku benar-benar minta maaf, maafkan aku."
***
Zidan membawa Jesica ke mall kota. dia disuruh Natalie untuk mengantarkan Jesica membeli baju dan peralatan lainya, juga ke salon untuk merubah penampilan Jesica agar terkesan lebih cantik lagi.
Mereka masuk kedalam sebuah butik, butik besar dan cukup ramai pembeli di dalamnya. Wajar saja, semua desain baju di dalam butik ini sangat bagus, pantas saja harganya mahal.
"selamat datang di butik kami, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita paruh baya pada Zidan dengan senyum, namun ekspresi wajahnya sedikit berubah saat melihat gadis di sampingnya. dia pasti berfikir bisa-bisanya pria tampan seperti Zidan jalan dengan gadis kucel bau matahari seperti Jesica.
Zidan menunjukkan id cardnya, wajah pemilik butik itu langsung berubah, dia langsung melemparkan senyum paling lebar pada Jesica.
"oh jadi ini menantunya nyonya Natalie, nona cantik sekali, ayo silahkan masuk dan pilih apa saja gaun yang nyonya suka."wanita paruh baya itu membawa Jesica masuk kedalam butiknya.
"aku tidak tau baju mana yang akan ku pilih."bisik Jesica pada Zidan.
"pilih saja apa yang paling bagus menurut nona jesica."jawab Zidan.
"aku tidak tau, semuanya bagus disini."
"yasudah, pilih saja semuanya. nyonya Natalie bisa saja membelikan mall ini kalau menantunya yang minta, apalagi cuma baju-baju murah disini."
Kini wanita paruh baya itu yang menjawab.
Jesica tertawa canggung, sekaligus tercengang.
apa se-kaya itu ya mertuanya, sampai si pemilik butik dengan bandrol harga baju dengan harga selangit saja bilang begitu.
Akhinya Jesica hanya membeli lima baju, satu baju di berikan gratis sebagai hadiah pernikahanya dengan Joshua. Setelah itu Zidan langsung mengajaknya untuk makan malam, makan malam di salah satu restoran seafood, restoran yang diisi oleh pria-pria berjas rapih dan perempuan-perempuan bergaun gemerlap.
Pantas saja sih waktu Jesica baca menunya, harga satu porsi kepiting saja sudah hampir lima juta. itu bisa buat lima bulan biaya hidup Jesica.
"tuan yakin kita akan makan disini, harga makananya mahal-mahal banget loh tuan."
"selamat datang tuan Zidan dan nyonya Jesica, kami sudah siapkan tempat untuk kalian, silahkan masuk."kata salah satu pelayan yang sudah menyambutnya hangat.
Mereka duduk di pinggir kaca. Setelah mengantarkan Zidan dan Jesica pelayan itu langsung pergi tanpa menawarkan menu makananya.
Mata Jesica terbelalak lebar saat melihat banyak sekali makanan yang disajikan pramusaji di mejanya. ada kepiting, ikan salmon, dan makanan yang tidak pernah Jesica lihat sebelumnya, tapi sepertinya ini semua benar-benar mahal.
"banyak sekali makananya, kitakan belum pesan apa-apa, mereka pasti salah meja"
"nyonya Natalie memesankan ini semua khusus untukmu nona."sela Zidan.
"benarkah?"Zidan mengangguk
"nyonya natalie benar-benar kaya sekali ya."Zidan lagi-lagi mengangguk.
Walau baru kenal sehari jesica sudah hafal sedikit tentang Zidan. Dia hanya akan banyak bicara saat kondisi Jesica terancam, selebihnya dia hanya bicara seadanya. Kalau tidak mengangguk ya menggeleng.
"kalau aku minta pesawat padanya apa aku akan dibelikan pesawat juga?"
"kau ingin pesawat nona?"tanya Zidan mengambil ponsel dari saku jasnya"biar ku bilang pada----"
"tidak, tidak aku hanya bercanda, aku hanya bercanda."panik Jesica"kau ini serius sekali ya hidupnya."
Mereka kemudian menikmati makanan mereka masing-masing.