SAMPAH(06)
Matahari terlihat menyelinap, menerobos masuk kedalam kamar besar yang terlihat berantakan dan sangat gelap, seorang pria mengulet diatas kasur besar king sizenya, menggulung-gulung dirinya dengan selimut seperti sosis dengan gulungan telur.
Tepat dengan itu suara alarm dari atas nakasnya berbunyi, sangat keras dan nyaring. layar alarm pipih itu menunjukan jam enam tiga puluh, masih terlalu pagi untuk berangkat kerja bagi seorang ceo.
Joshua beringsut dari kasurnya. dia duduk di pinggiran ranjang. tangan besarnya mematikan suara alarm diatas nakas.rambutnya telihat sangat berantakan, matanya masih terpejam erat,joshua masih enggan membuka matanya.beberapa menit pria itu diam dengan posisinya, lalu dia beranjak pergi turun.
Joshua melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga. dia beberapa kali mengucek matanya, menyingkirkan kotoran yang menganggu matanya dan menguap.
"Selamat pagi tuan joshua," Sapa Arimbi hangat dari bawah, dia menaruh beberapa makanan diatas meja makan.
Joshua belum melangkah ke tangga terakhir. tapi aroma harum masakan sudah tercium masuk kedalam hidungnya.
ada semangkuk sup ayam hangat dengan asap yang masih membumbung diatasnya. sup kesukaan Joshua waktu kecil.
Joshua menarik kursi, lalu duduk disana.
"bakal ada tamu ya?"tanyanya, mengambil sendok dari wadah.
Joshua menyeruput sup ayamnya. matanya terbelalak saat sup itu masuk kedalam mulutnya.
beberapa detik dia diam sambil mengerjap-erjapkan matanya. Wow, mungkin itu kata yang pas untuk mewakili rasa supnya. ini sup yang sangat lezat,
rasanya sekelas sup restoran. apalagi dengan rasa lada yang menyengat tenggorokanya. sup yang sempurna.
Dari dapur Arimbi membawa ikan goreng diatas piring. ikan kesukaan Joshua. dia lupa nama ikanya.
Apa tamunya sebegitu penting sampai harus di buatkan banyak makanan seperti ini. tumben-
tumbenan Arimbi masak ikan goreng. apa Natalie dan Mahendra akan berkunjung kesini lagi, mau apa?
"apa nyonya Natalie akan berkunjung kesini lagi, sampai kau masak sebanyak ini?"
Arimbi menggeleng,dia menuangkan jus jeruk kedalam gelas Joshua.
"tidak ada yang berkunjung hari ini."alis Joshua mengernyit.
"tidak ada?" Arimbi mengangguk mengiyakan, sebelum dirinya kembali kedalam dapur lagi.
Kalau bukan ada tamu lalu untuk apa arimbi masak sebanyak ini. apa mungkin arimbi dapat uang belanja lebih dari nyonya Natalie, sebagai permintaan maaf karena kamarin sudah membuat Joshua emosi.
Joshua tersenyum tipis. wanita tua menyebalkan itu ternyata masih menyayangi anaknya.
Joshua mengambil piring di depanya, menyendok nasi cukup banyak.dia harus makan banyak hari ini, makanan seperti ini tidak boleh disia-siakan. Joshua menambahkan sopnya diatas nasi, bau sop dengan banyak lada. lada membuat hari-hari seseorang menjadi semangat, sop ini benar-benar mengingatkan masa kecilnya. dia juga mengambil ikan besar di depanya.dia menyantapnya. joshua
menyantapnya lagi, dua sampai tiga kali sendokan hingga mulutnya penuh.
"masakanmu enak Arimbi,"pujinya. menyendok sup untuk kesekian kalinya.
Arimbi terkekeh dari dapur "apa seenak itu tuan?" dia berjalan ke meja makan.bibi menaruh beberapa lalapan diatas meja.
"seperti masakan koki terkenal."Joshua menyantap makananya"aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan rasanya karena sangat enak,"puji Joshua berlebihan.
dia selalu memuji secara berlebihan kalau dirasa hal itu harus mendapatkan semua pujian itu.
"nona Jesica yang memasakanya." Joshua hampir tersedak air sup saat mendengarnya.
"khusus untuk mu,"tambah Arimbi.
"uhukk, uhukkk."
"tuan Joshua."
"minum, cepat!" Joshua mencoba meraih jus jeruk di depanya.
Arimbi mengambil jus jeruknya, menyodokanya pada Joshua. Joshua langsung menenggaknya sampai habis.
Joshua langsung mengedarkan pandanganya.
Joshua fikir gadis itu sudah tidak ada dirumah karena tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali. tapi kenapa tiba-tiba dia yang memasakan semua ini. kalau Joshua tau gadis itu yang memasakanya dia akan membuang semua makanan tidak sehat ini ke tong sampah langsung. tidak,
Joshua akan meludahinya terlebih dahulu di depan wajah wanita itu lalu membuangnya.
"dimana dia?"tanya Joshua.
Arimbi tidak menjawab.itu membuat joshua semakin kesal saja.
Joshua menatap Arimbi tajam"dimana dia bi?!"
"di...dia kamar saya tuan,"jawab Arimbi tersedat-sedat.
"panggil dia."
"tapi tuan...."
"cepat!!" tukas joshua se
"b...baik tuan."Arimbi mengangguk-angguk, dia langsung berlari ke kamarnya. Joshua tidak bisa di bantah, dia harus menurutinya kalau tidak ingin di usir dari rumah ini.
Joshua mengepalkan tanganya erat, beberapa kali buku-buk tanganya memukul meja. dia tidak habis fikir kenapa gadis itu masih betah disini, padahal jelas-jelas Joshua sudah mengusirnya dan menyakitinya kemarin.
"tuan Joshua." Jesica berdiri di samping Arimbi, dia sedikit menundukan kepalanya, tidak mau melihat Joshua.
"kau bisa kembali ke dapur Arimbi,"perintah Joshua tanpa menatap Arimbi. pandanganya tertuju pada Jesica.
Arimbi mengangguk, dia berbalik meninggalkan Jesica dan Joshua berdua.
"semoga tuhan melindungimu nona Jesica,"
gumam Arimbi masuk kedalam dapur.
Joshua menatap Jesica tajam, matanya hampir Keluar.
"kenapa?"apa itu sebuah pertanyaan, atau pernyataan.
Joshua menggebrak meja sangat kencang
"kenapa kau masih ada disini!"
Jesica berjengit kaget, dia menelan ludahnya kasar. tubuhnya sedikit bergetar.
Joshua menatap semua makanan diatas meja.
makanan yang sekarang jadi terasa sia-sia. dia memijit dahinya pelan, kemudian terkekeh kecil. dia seperti orang-orang yang menanggung banyak beban.
"kau fikir dengan menyiapkan makanan sebanyak ini, kau bisa meluluhkan hatiku? hah?"
Jesica tidak menjawab. lebih tepatnya dia tidak tau apa jawaban yang tepat untuk dia lontarkan.
"jawab Jesica!"Joshua mencengkeram erat tangan Jesica,cmengguncang tubuh Jesica yang lebih kecil darinya.
"b...bu...bukan itu maksudku,"Jawab Jesica gagap. bagaimana tidak, Joshua menatapnya dan mencengkeram tanganya sangat erat seperti seorang psikopat yang mencoba membunuh korbanya. dia tidak bisa berkutit sama sekali.
"lalu apa? oh kau ingin menggatikan posisi Ellen.
kau ingin aku menyukaimu dan mencintaimu bukan?"
"a..aku hanya menjalankan kewajibanku."Jesica masih tetap tidak berani menatap joshua.
Joshua mengerutkan sebelah alisnya"kewajiban?
kewajiba apa?"
"i..is..istri."suara Jesica tercekat.
Joshua diam, cengkeraman di tanganya mengendur.
sekarang Jesica semakin panik. harusnya dia tidak bilang begitu pada Joshua. sekarang Joshua pasti marah besar padanya.
Joshua terkekeh renyah. tapi tawanya terdengar menyeramkan"oh iya aku lupa. kau kan sekarang sudah menjadi istri ku, benar begitu bukan."
PRANGGGG....
Joshua menghempaskan semua piring-piring yang ada di meja hingga jatuh berkeping-keping saat menyetuh lantai, menimbulkan suara keras yang membuat Jesica rasanya ingin menangis.
"bermimpilah sepuas hatimu karna sampai kapan pun aku tidak akan sudi menganggap pembantu menjijikan sepertimu sebagai seorang istri!!" ucapan itu telak mengenai ulu hati Jesica, menghujamnya beberapa kali dan melucuti harga dirinya yang sudah sering di injak-injak.
Air mata sudah tidak bisa dia bendung, semuanya luruh tanpa aba-aba sedikitpun, kedua tanganya bergetar meremas-remas baju yang dia pakai.
Tangan Joshua mencengkeram dagu Jesica, mengangkat wajah Jesica agar dia bisa melihat betapa menyedihkanya wajah wanita itu.
"kau fikir, kalau kau menangis dihadapanku aku akan memberi belas kasihan padamu?.......seumur hidup ku, aku tidak akan memberi belas kasihan pada jalang sepertimu!!" Joshua menghempaskan wajah Jesica kasar, lalu meludah, untung saja ludahnya tidak mengenai wajah Jesica.
Joshua mendorong kursinya dengan kaki sampai jatuh. lalu berjalan begitu saja tanpa ada rasa bersalah.
Jesica menunduk, membiarkan satu persatu air matanya turun membasahi lantai dingin di bawahnya, memikirkan apa semenjijikan itu dia di mata Joshua, rasanya sakit ketika harus mengingat semua kata-kata yang di lemparkan lelaki itu.
"nona Jesica." Arimbi dari belakang menyentuh lembut pundak Jesica. mengusap-usap lembut untuk menenangkan gadis itu.
Hanya dia satu-satunya orang yang ada di rumah ini yang peduli pada Jesica, dia yang terus melindungi Jesica dari amukan Joshua, walau akhirnya tetap saja Jesica tetap di perlakukan kasar oleh pria itu.
"kau wanita kuat nona, kau bisa menghadapinya."
***
Satu bulan berlalu sejak pernikahan Joshua dan Jesica, hari-hari pengantin yang harusnya indah seperti apa yang selalu dia lihat di cerita-cerita hanya angan-angan belaka untuknya. Kini hidupnya sudah lebih dari sebuah nereka, tiada hari tanpa Joshua membentak dan memarahinya, bukan hanya jiwanya yang terguncang, fisik wanita itupun ikut berubah. tubuhnya terlihat jauh lebih ringkih dari sebelumnya,
dan beberapa luka lebam masih terlihat jelas di wajahnya. bahkan ujung bibirnya rusak hanya karena tamparan dari joshua, kalau dia egois dan tidak memikirkan bagaimana nasib ibunya, yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah mengakhiri hidupnya saja.
Jesica duduk di karpet usang yang dia temui di gudang, Joshua bahkan tidak memberikanya kasur, atau setidaknya alas yang lebih layak untuk dirinya tidur. gadis itu memijat-mijat kakinya pelan, rasanya sangat lelah sekali hari ini, padahal dia sering mengerjakan ini itu di rumah nyonya Irma, tapi entah kenapa semuanya jadi terlihat berat hari ini.
Dia baru saja selesai melempiti baju-baju Joshua,
dia juga harus mengepel semua rumah ini sendirian tanpa bantuan siapapun, semua yang mencoba membantu Jesica akan dimarahi habis-habisan oleh Joshua, kini tanganya mejadi kebas.
"Jesica!!!"
Teriakan memekikan itu membuat telinga Jesica berdengung. dia fikir semuanya sudah selesai hari ini, ternyata belum.
"Jesica kemarilah cepat!!"
Jesica mendesah pelan,dengan sangat amat terpaksa dia berdiri dan berjalan ke sumber suara.
Dengan ragu gadis itu mengetuk pintu sebelum masuk kedalam kamar Joshua.
"masuk."
Jesica membuka pintunya. Di dalam sana Joshua sedang duduk di sofa, beberapa kertas terlihat berserakan diatas meja kecil disampingnya. Matanya yang sudah sayu terus menatap layar laptop dengan brightnes cahaya terang, ternyata menjadi seorang ceo juga tidak seasik yang Jesica bayangkan.
"kenapa lama sekali," Jesica diam, memainkan jari jemarinya satu sama lain.
"aku bertanya padamu, kenapa lama sekali!!"
"s-sa-saya tadi tidak mendengar suara tuan."
"sudah jelek tuli lagi," cibir Joshua pelan, namun masih bisa di dengar jelas oleh Jesica.
"buatkan aku kopi."
"tapi tuan bilang tuan tidak minum kopi saat ma....."
"buatkan aku kopi!!!"
"baik tuan."
Sebelum dia mendapat pukulan dari Joshua, Jesica langsung berjalan turun ke bawah, masuk kedalam dapur. dia mengambil gelas, dan menaruh gelas tersebut di sebuah benda mirip dispenser. bedanya kalau dispenser hanya mengisi air putih, benda ini bisa mengeluarkan kopi panas dan teh, benda yang sering kita jumpai di kafe-kafe.
Jesica naik keatas lagi setelah selesai membuat kopi. dia langsung masuk karena pintunya tidak di tutup.
"ini kopinya tuan."
"taruh disitu," jawab Joshua melirik mejanya sekilas lalu kembali sibuk menatap layar laptopnya kembali.
Jesica mengangguk, dia menaruh kopinya, namun entah kesialan macam apa lagi.
Byurrr.....setengah air di kopinya tumpah membasahi kertas-kertas penting di bawahnya.
Jantung jesica berdetak begitu kencang, tanganya langsung meraih kertas-kertas yang terkena tumpahan kopi"maafkan aku tuan, maafkan aku, aku akan membereskan semua."
Joshua terlihat jengah,dia menggebrak mejanya.
"apa yang sebenarnya kau lakukan,kau merusak semua dokumen-dokumen ku kau tau!!!"
Jesica menunduk, keringat dingin mengucur deras di keningnya, malam ini dia pasti akan merintuh kesakitan karena pukulan dari Joshua entah untuk keberapa kalinya.
"aku minta maaf tuan,aku benar-benar minta maaf tuan,"cicitnya memohon.
"minta maaf katamu? kau fikir dengan meminta maaf saja kau bisa mengembalikan dokumen- dokumen ku!!" suaranya menggema menghiasi ruangan kedap suara ini"sini, akan ku ajarkan caranya minta maaf."
Joshua meraih tangan kanan Jesica, dia meraih gelas kopi yang isinya tinggal setengah.
"tidak tuan, jangan.....jangan" Jesica memberontak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menangis seja-jadinya.
Bukanya iba, melihat Jesica ketakutan dan memohon-mohon seperti malah membuat Joshua merasa bahagia, baginya membuat Jesica menangis adalah suatu kebahagian tersendiri, karena semakin Jesica tersiksa, semakin cepat juga dirinya akan terbebas dari wanita kampung menjijikan itu.
Joshua menuangkan kopi di gelasnya yang masih panas ke tangan Jesica.
"arrgghhh!!" Jesica mengerang kesakitan, bulir air mata turun tanpa aba-aba membasahi pipinya.
rasanya sangat panas, kulitnya terasa terkelupas.
"berteriaklah, berteriaklah sesuka hatimu pembantu sialan, tidak akan ada yang menolongmu!!" Joshua tertawa tertawa terbahak-bahak. Dia memang bukan manusia, dia iblis, dia lblis!!