BYURRRRR...
Joshua menyiram tubuh jesica dengan air.
"bangun!!!"
Jesica terkesiap, tubuhnya kelabakan saat air itu masuk kedalam lubang hidungnya, dia langsung terduduk, mengusap wajahnya kasar.
"kau fikir ini rumahmu dan aku akan membiarkanmu terus tidur sepanjang hari? kau bukan ratu disini, kau hanya seorang pembatu, jadi jangan manja dan cepat kerjakan semua tugasmu!!!"
teriak Joshua memelung.
Jesica belum sadar sepenuhnya, kepalanya sedikit pening. dia bahkan tidak tau apa yang Joshua birakan. Jesica memegangi kepalanya yang terus berputar-putar. rasanya sakit, badanya juga menggigil dan suhu tubuhnya kelewat panas.
"kau tidak mendengarkan ku Jesica?"
Joshua menarik tangan Jesica paksa"bangun."
Mau tidak mau jesica harus bangun. tanah yang di pijaknya terasa bergejolak tidak karuan, badanya bergetar lemas, dia tidak tau apa yang terjadi padanya, badanya sangat lemas.
Joshua menarik paksa Jesica keluar dari kamarnya---kamar Jesica, dia membawa Jesica ke dapur. tapi suara pintu terbuka menghentikan langkahnya.
Seorang gadis muda, berambut sebahu masuk kedalam rumah, dengan membawa seekor kucing di tanganya.
"kak shua,"panggil gadis berlari kearah Joshua.
Dia menaruh kucingnya di lantai, lalu memeluk erat tubuh Joshua.
"aku sangat merindukanmu, sangat, sangat, amat,"
ucapnya manja "apa kau juga merindukanku?"
"apa kau bisa melepaskan pelukanmu, kau menyekikku,"Gadis itu menggeleng.
"tidak mau, kau harus bilang kau juga merindukan ku, baru akan ku lepaskan."
"aku merindukan mu,"jawab Joshua dingin, wajahnya datar se datar-datarnya "sudahkan, sekarang cepat lepaskan."
"tidak mau, kau harus mengatakanya dengan tulus tuan Joshua Dominika Mahendra."Joshua mendengus.
"baiklah, baiklah, Cindy adikku yang paling manis aku merindukanmu."dia berekpresi sangat imut, ekspresi yang tidak bisa Jesica lihat setiap hari.
"sudahkan?"ekspresinya kembali datar.
gadis itu terkekeh, dia melepaskan dekapannya,
tatapanya beralih pada gadis di samping Joshua. dia langsung paham siapa gadis tersebut.
"oh kau pasti nona Jesica?"terkanya.
Jesica mengangguk 'darimana dia tau namaku? apa aku sudah memperkenalkan namaku? Sepertinya belum," Batin Jesica bertenya-tanya.
"memangnya kalau pengantin baru harus gandengan terus begitu ya?"gadis itu menatap tangan Joshua yang belum melepaskan tangan Jesica. dia menatap Joshua dan Jesica dengan tatapan penuh makna.
Joshua melepaskan tangan Jesica"ini tidak seperti apa yang bayangkan."
"aih wajah mu merah tuh, wah pasti malu sekali"
goda gadis itu menunjuk-nunjuk wajah Joshua, Joshua tidak peduli, dia berbalik dan pergi begitu saja. menyisakan gadis itu tertawa puas.
"jangan guling-guling di kasur ya!!"
"diam cecunguk kecil!!"balas joshua sewot.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, masih belum menghentikan tawanya"dasar orang aneh."
"oh nona Jesica, kenalkan namaku Cindy"dia mengulurkan tanganya kearah Jesica.
Jesica membalas uluran tangan Cindy"Jesica."
"aku sudah tau."
"nona ini siapa?"tanya Jesica.
"kan aku sudah bilang aku Cindy."
"bukan, bukan itu maksudku nona. maksudku nona itu siapanya tuan Joshua?"
"bilang dong daritadi."Cindy mengulurkan tanganya kembali dan jesica mengambil uluran tangan Cindy kembali "aku adik Joshua, dan aku akan menjadi adik iparmu sekarang."Cindy melepaskan uluran tanganya.
"kau ingin mengobrol denganku kakak ipar?"Pipi Jesica memerah saat Cindy menyebut namanya dengan kakak ipar, senang saja masih ada yang menganggapnya.
Jesica belum memberikan jawaban mau atau tidak, tapi Cindy sudah menarik tanganya untuk duduk di ruang tamu, Jesica susah bilang kalau dia masih banyak pekerjaan, tapi gadis itu terus memaksanya.
"aku fikir kau itu gadis jelek yang culun, tapi ternyata kau sangat cantik ya, kau mirip artis korea." Jesica kembali tersipu malu
"nona juga terlihat cantik."
Kucing yang tadi di bawa Cindy melilitkan tubuhnya ke kaki Jesica, menggesek-gesekan tubuh tambun dan berbulu lebatnya ke kaki Jesica.
"ini kucingku Reci namanya, lucu kan?" Cindy menggelitik leher Reci gemas.
Jesica mengangguk-angguk, mengelus lembut bulu kucing Cindy. dia juga suka kucing, sangat amat amat menyukainya malah.
"nampaknya dia suka padamu."
"benarkah?"
Cindy mengangguk"dia itu kucing pemalu, tapi dia terlihat nyaman di kakimu. apa kau suka kucing juga?"
"saya punya lima kucing di rumah."
"wah banyak sekali, sesuka itu ya sama kucing, aku merawat satu saja sudah kewalahan sekali."dia terkekeh, menggelitik perut Reci.
"mantan kekasih saya juga suka kucing, jadi dia selalu menghadiahi kucing setiap kita merayakan hari jadi, itu sebabnya kucingku jadi banyak."
wajah Jesica langsung murung, mengingat tahun ini tidak ada hadiah kucing dari Rey, lebih sedih lagi karena Rey tidak pernah lagi menghubunginya dan hilang kabar begitu saja. Jesica bahkan tidak tau apakah Rey masih kekasihnya atau tidak, mereka belum putus, tapi Jesica merasakan kalau hubunganya dengan Rey sudah berakhir begitu saja.
"sama, aku juga mendapatkan kucing dari kekasih ku. wah, apa ini suatu kebetulan? siapa nama nama kekasih mu?"tanya Cindy menyangga dagunya dengan tangan.
"Rey."
Cindy membulatkan mulut dan mantanya secara bersamaan "oh astaga nama mantan kekasihmu sama dengan nama kekasihku."
"benarkah?"Cindy mengangguk
"iya, apa jangan-jangan kita memiliki kekasih yang sama?"Dia tertawa renyah.
walau notabenya sebagai adik Joshua, tapi Cindy berbeda 180 derajat dengan Joshua. dia gadis yang baik dan menyenangkan. tidak seperti kakaknya yang sangat mirip iblis, tidak pria itu memang iblis, dia raja iblis.
Setelahnya mereka mengobrol apa saja, kucing,
makanan ,sampai hal-hal random sekalipun, rasanya mereka sudah seperti sahabat lama yang kembali di pertemukan.
bruumm.....bruumm.....
Suara deru mobil diluar menghentikan percakapan mereka.
"ah itu pasti Rey, aku harus pergi."Cindy mengambil Reci dari kaki Jesica. Dia bangkit berdiri, Jesica ikut berdiri.
"akan kuantar kedepan."
Mereka berjalan kedepan rumah. sebuah mobil berwarna merah mewah sudah terparkir di depan rumah, jendela perlahan terbuka, memperlihatkan seorang pria di dalamnya, Jesica tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup masker.
"kakak ipar, aku pergi dulu, aku akan sering berkunjung kesini." Jesica tersenyum, dia mengangguk
"hati-hati ya."
"siap."cindy menaruh tanganya di pelipis, gaya hormat.
Jesica tertawa renyah"kau ini." Cindy masuk kedalam mobil, kemudian suara mobil menderu.
"oh ya kakak ipar, jangan lupa titipkan salamku pada Rey mu!!"teriak Cindy sebelum kaca mobil tertutup dan mobilnya melaju ke jalanan.
"Rey siapa, aku?" tanya pria disamping Cindy. Rey menurunkan maskernya sampai dagu.
"kau fikir cuma kau yang punya nama Rey, namamu itu murahan tau,"cibir Cindy.
Rey melirik Cindy yang tengah besenandung,
wajahnya sangat bahagia. tidak biasanya Cindy bahagia begini setelah bertemu Joshua. Rey jadi penasaran apa yang membuatnya sebahagia ini.
"kau sangat senang sekali hari ini."
"iya dong, aku punya teman baru, Jesica namanya, kau pasti sudah mengenalnya kan. dia suka kucing, suka masak juga sama sepertiku, dan kau tau apa yang lebih mengejutkan?"
"apa?"
"nama kekasihnya juga Rey."
ckkkittt......Mobil Rey tiba-tiba berhenti, membuat Cindy hampir tersungkur kedepan kalau tidak mengenakan saltbell.
"kenapa Rey?"
Apa tadi Rey tidak salah dengar. ternyata dugaanya benar, wanita yang kemarin dia lihat di rumah Joshua sama persis dengan Jesica kekasihnya di kampung. tapi bagaimana bisa wanita itu ada disana, apa Jesica jadi pembantu di rumah Joshua, lalu bagaimana dengan rumah Nyonya Irma? pertanyaan bersimpang siur masuk dan keluar di kepala Rey.
"Rey."Cindy menggoyang-goyangkan tubuh Rey.
"ya?"
"kau baik-baik saja?" Rey mengangguk.
"maafkan aku, k...kau tidak papa?"tanyanya balik pada Cindy.
"ya aku baik-baik saja Rey."
****
Joshua membuka pintu kafe, loncengnya berdenting. Joshua berjalan ke meja paling paling pojok dan dekat dengan jendela. dia duduk disana, di tempat faforitnya di kafe ini.
Ya, kafe yang joshua masuki tidak telalu jauh dari kantornya, hanya menyebrang lalu sampai. tempat makan siangnya kalau dia bosan dengan makanan kantor yang begitiu-begitu saja. tempat yang paling enak untuk merefleksikan otak yang hampir meledak.
Dia menatap bangku panjang di depanya. biasanya Ellen sudah duduk sepuluh atau lima belas menit sebelum istirahat, gadis itu selalu menunggunya di meja ini dan memberikannya dua kota s**u tanpa rasa, satu untuknya dan satu lagi untuk Joshua.
itu menyehatkan dan membuat badan semakin berstamina. padahal dia tau kalau Joshua tidak terlalu suka s**u, tapi dia selalu memaksanya. sampai Joshua mengiyakan. Joshua tersenyum tipis, kenangan manis.
Seorang pelayan wanita tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya"mau pesan apa tuan?"tanyanya dengan pulpen yang sudah siap mencacat pesan diatas kertas.
"jus jeruk dan....."Joshua berfikir sejenak"nasi goreng."
Joshua menatap keluar jendela, beberapa kendaraan berlalu lalang di luar sana, cuaca panas membuat debu-debu jalanan bertaburan.
kriiingg.....Loncengnya berbunyi. Seorang pria masuk kedalam kafe, mata Joshua menyipit, wajah pria yang tadi masuk terasa tidak begitu asing baginya. tapi siapa? berkat pengelihatanya yang buruk Joshua jadi tidak bisa melihatnya.
Joshua mengedikkan bahu, entahlah siapa tadi,
mungkin pria tadi pernah menjadi klienya. makanya wajahnya tidak asing.
Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya makanan Joshua datang. Nasi goreng lengkap dengan jus jeruknya.
Joshua langsung menyantap nasi goreng yang masih mengeluarkan asap karena masih hangat kedalam mulutnya. dia mengecap beberapa kali nasi goreng di mulutnya, merasakan rasanya. rasanya tidak begitu buruk, agak sedikit enak. mungkin enak karena dia sedang lapar. Joshua kembali menyantap nasi gorengnya beberapa sendok.
"Joshua?"seseorang menepuk pundak Joshua membuat Joshua berjengit kaget.
"Jhony?!"kaget joshua menunjuk pria tinggi di depanya.
Reflek keduanya bangun dari kursi. Jhoni langsung menjabat tangan Joshua, lalu melakukan serangkaian jabat tangan ala-ala sahabat.
"lama tidak bertemu."Jhony memeluk tubuh Joshua, dia menepuk-nepuk punggung Joshua cukup keras.
"lama juga tidak bertemu denganmu."Joshua menepuk punggung Jhony jauh lebih keras.
Jhony terkekeh, dia melepaskan pelukanya dari pelukan Joshua"aneh sekali ya kita bisa di pertemukan disini setelah hampir tiga puluh tahun?"
"delapan tahun."ralat Joshua. memangnya setua apa mereka sampai tidka bertemu tiga puluh tahun.
"kau kesini dengan siapa?"
"sendiri, kau sendiri?"Jhony melihat Joshua dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"biar ku tebak, ceo Joel Grup."tebakan Jhony benar, Joshua mengangguk membenarkan.
Jhony adalah teman baik joshua saat masa sma, teman se gengnya.anak nakal yang dulu menyesatkan Joshua untuk merokok dan membolos agar terlihat keren dimata murid-murid perempuan di sekolahnya, dan itu berhasil. dia juga orang yang mengenalkan Joshua dengan Ellen. dengan petuah-petuahnya dan sedikit bantuannya Joshua akhirnya mendapatkan hati si ketua geng dingin dan hati sekeras batu itu.
"kau sendiri bagaimana?"tanya Joshua balik.
"aku masih seperti ini terus, tapi kau tau?"
"apa?"
"kemarilah." Joshua mendekatkan dirinya ke Jhony "aku akhirnya menikah dengan Elis,"bisiknya.
Joshua tidak terlalu kaget mendengar hal itu.
karena dia tau betul kalau temanya adalah maniak cinta. waktu sma saja dia memacari hampir dua puluh wanita dalam satu bulan, simpananya dimana-
dimana. dia bahkan bisa pacaran dengan tiga wanita sekaligus dalam satu waktu. benar-benar buaya.
"duduklah, aku ingin mengobrol banyak dengan mu."Joshua mempersilahkan Jhony duduk.
Jhony duduk di depan Joshua.
"apa perlu ku pesankan jus?"tawar Joshua.
Jhony terkekeh kecil"tidak usah repot-repo tuan ceo, aku sudah memesanya."
"aku cuma menawarkan."
"kau sendiri Shua, bagaimana? katanya kau menikah dengan Ellen?"tanya Jhony penasaran.
Joshua hampir tersedak jus jeruknya. airnya nyangkut di tenggorokan.
"uhuk....."
"kau tidak papa?"
Joshua mengangkat tanganya kedepan. wajahnya langsung menjadi suram.
"kenapa, apa sesuatu terjadi dengan pernikahan mu?"
Joshua memainkan es batu di dalam jusnya dengan sedotan, dia diam cukup lama"dia pergi..."dia menjeda kalimatnya"dihari pernikahanya."
Mata Jhony terbelalak lebar"kau serius?"
Joshua tersenyum pahit"mana mungkin aku bercanda tentang ini."
"kenapa? kenapa dia pergi, bukanya kalian saling mencintai? dan bukanya ellen ingin sekali menikah denganmu?"
"aku juga awalnya berfikir begitu, tapi nyatanya."
Dia menarik nafas berat.
"lalu bagaimana dengan pernikahanya?"
"di batalkan."Jhony kembali membulatkan matanya.
Rasanya sudah cukup memberitahu Jhony tentang Ellen dan pernikahanya yang hancur. dia tidak perlu memberitahu pada Jhony tentang pernikahanya dengan pembantu sialan itu. lagipula dia juga tidak akan pernah membahasnya dengan siapapun.
Joshua mengalihkan pandanganya ke luar jendela.
"Nanti malam kau ada acara tidak?" tanya Jhony menghentikan lamunan Joshua.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Nanti malam aku akan pergi ke bar, kau mau ikut? Aku tidak bisa menjamin kau akan melupakan Ellen tapi mungkin kau bisa bersenang-senang sebentar,
hidupmu terlalu kaku seperti kanebo kering."
Joshua mencoba untuk berfikir, dia mengetuk-etuk meja dengan jarinya beberapa kali. sebenarnya hari ini dia tidak telalu sibuk, hanya meeting dengan klien barunya, tapi mungkin dia bisa menerima ajakan Jhony, lagipula Jhony benar, hidupanya terlalu kaku, lebih kaku daripada kanebo kering.
"jam berapa?"
"sepuluh malam."Joshua mengangguk. dia melirik arlojinya, tidak terasa dia sudah menghabiskan waktunya selama satu jam sendiri disini, dia sampai lupa untuk menghabiskan nasi gorengnya.
Joshua bangkit berdiri"aku harus pergi, pelayan."
Seorang pelayan datang menghampirinya.
"iya ada yang bisa saya bantu?"
"tolong hitung berapa,"pinta Joshua mengambil dompetnya dari saku celana.
"baik."Pelayan itu mulai menghitung jumlah totalnya.
Jhony berdiri"oh tidak usah repot-repot shua, aku..."
"aku tidak terima penolakan."
"oh baiklah tuan ceo."mereka berdua terkekeh kecil.
"jadi 120 ribu,"kata si pelayan setelah selesai menghitung.
Joshua mengambil uang 100 ribuan dua, tidak ada uang kecil di dalam dompetnya, hanya berisi lima lembar uang 100 ribuan, hanya untuk keperluan mendadak, selebihnya dia selalu menggunakan kartu.
"tunggu sebentar akan saya ambil kembalianya."
"tidak usah, itu tips untuk mu." Joshua mengalihkan pandanganya pada Jhony lagi, menepuk pundak Jhony.
"Jhon, aku pergi dulu."Jhony mengangguk. Joshua berjalan pergi keluar dari dalam kafe.
Jhony berbalik, dia memandangi punggung Joshua sampai hilang di seberang sana "akhirnya kita bertemu lagi ya, b******n kecil."