BERTEMU NINA

1888 Kata
Malam semakin larut, angin dingin menyeruak, akhirnya Joshua sampai di bar yang di tunjukan Jhony. Jhony benar tempatnya cukup jauh dari jalan raya. dia harus menlewati beberapa lorong sempit dan gang-gang rumah warga dulu baru sampai kesini. ada ya orang yang membangun bar di pelosok seperti ini. Joshua mengertukan sebelah alisnya"ini tempatnya?"tunjuknya pada bangunan tidak terlalu besar tanpa atap. mungkin ukuranya hanya se besar dapur dan ruang tamunya, Joshua tidak bohong, tempatnya sangat sederhana, hanya ada lampu-lampu rambat tulisan masuk diatas pintunya. Jhony mengangguk yakin, dia merangkul Joshua "ayo bro." Jhony membuka pintu barnya"kau lebih dulu."dia terkekeh sambil merentetkan tanganya ke samping, menyuruh Joshua masuk duluan. Betapa tercengangnya Joshua melihat apa yang ada di dalam. tidak seperti yang dia lihat di luar. suara musik yang sangat keras langsung menyambut gendang telinganya, lampu disko berkedap-kedip membuat Joshua pening diatas sana. di bawahnya beberapa orang bergoyang tidak beraturan. beberapa pasangan muda mudi malah asik berpelukan di tengah-tengah altar cukup besar. "ayo."Jhony berjalan lebih kedalam tempat itu, Joshua hanya mengikutinya seperti anak ayam. mereka melewati orang-orang yang tengah sibuk menari. Seseorang menyenggol pundaknya cukup keras. seorang wanita dengan gelas di tanganya tersenyum pada joshua. wanita menggunakan pakaian sangat minim dengan memperlihatkan pusernya menyentuh d**a Joshua, refleks Joshua memudurkan tubuhnya buru-buru membersihkan sentuhan tangan wanita itu di dadanya. "hey tampan, mau main berama ku?".ucapnya tidak jelas. dia mungkin terlalu banyak minum alkohol, mulutnya bau alkohol. dia menyentuh wajah Joshua, tapi pria itu buru-buru menepisnya kembali. "hey nita."Jhony mencoba melepaskan tangan wanita itu dari d**a joshua"jangan buat seperti ini, kau menakutinya, kau tau." "ah Jhony sayang,"wanita bernama Nita itu menyentuh d**a Jhony"kalau begitu kenapa tidak kau saja yang bermain dengan ku hmmm? sudah lama juga aku tidak bermain dengan mu sayang."dia mengusak-usak kepalanya di d**a Jhony. Jhony tertawa kecil melihat ekspresi Joshua yang terlihat jijik melihat mereka. dia mendorong tubuh Nita kedepan. "aku sedang tidak ingin, kau cari pria yang lain saja. ayo shua"Khony meninggalkan wanita itu begitu saja. Joshua menatap jijik wanita itu saat melewatinya. wanita itu terlihat menjijikan di matanya. "apa semua wanita disini seperti itu?"tanya Joshua penasaran. "apa kau merasa jijik sekarang?"Jhony balik tanpa menatap kearah Joshua. "tidak."bohong Joshua. "hey Jhony!!"seseorang berteriak begitu kencang. Joshua sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menyapa temanya. Seorang pria mungkin seumuran denganya melambaikan tanganya kearahnya----kearah Jhony. jhony membalas lambaian tangan itu. "siapa?"tanya Joshua. Jhony melirik Joshua"kau akan mengenalnya."dia menarik tangan Joshua kearah pria yang baru saja melambaikan tanganya. Tempatnya ada di ujung bar. ada empat sofa merah panjang berjejer mengelilingi meja transparan di tengah-tengahnya. "hey bro apa kabar."Jhony menjabat tangan pria tesebut. "wah aku selalu baik kawan, kau sendiri, aku tidak mendengar kabarmu seminggu ini." Jhony melirik joshua sebelum menjawab"kau tau, urusan bisnis." Pria itu tertawa mengerti ucapan Jhony. lalu dia mengalihkan pandanganya pada Joshua. "oh sepertinya kita kedangan tamu."pria itu mengulurkan tanganya pada Joshua. Joshua menatap tangan pria itu, lalu berganti menatap Jhony. "perkenalan,"bisik Jhony Joshua mengangguk mengerti, dia menerima uluran tangan pria itu. "Roby." "Joshua."Joshua melepaskan tanganya. Jhony langsung duduk, Joshua duduk di samping Jhony. selain mereka, ada dua orang pria juga yang duduk di sofa. sama seperti Roby, ada dua orang wanita juga disamping kanan dan samping kirinya. mereka menggelayati pria-pria itu, mengendus aromanya dan mencumbu leher pria-pria itu. Joshua bergidik ngeri. Jhony menuangkan sebotol bir kedalam gelas. "minumlah."dia menyodorkan gelasnya ke arah Joshua. Joshua tidak merspon, dia menatap minuman itu cukup lama. Jhony terkekeh"tenanglah, ini hanya alkohol, kau tidak akan pingsan, paling kau akan mabuk, ini tidak akan membahayakan untuk tubuh,"jelasnya. Joshua tau. tapi dia tidak terlalu suka dengan alkohol. dia pernah meminumnya sekali saat acara kantor,dan tenggorokanya terasa terbakar, lidahnya jadi pahit. karena itu dia harus menghabiskan dua liter air mineral untuk menghilangkan rasa pahitnya, tapi tetap saja rasa pahitnya tidak hilang. itu pertama dan terakhir kali Joshua minum alkohol, sampai saat ini dia tidak pernah mencicipinya. "atau kau tidak bisa minum?"tanyanya sedikit khawatir. Joshua langsung mengambil gelas alkohol di tangan Jhony, dia langsung menenggaknya habis. mata Jhony terbelalak karena kaget. lebih kaget melihat wajah yang berubah, matanya menyipit sempurna. Joshua sedikit menghentakkan gelasnya diatas meja.lehernya seperti terbakar sekarang, rasa pahit menyebar di dalam mulutnya. tapi kalau tadi dia menolak untuk minum, Jhony dan teman-temanya pasti akan menertawainya. Jhony tersenyum"baiklah, kalau kau suka minum,akan ku tambahkan lagi untuk mu."dia menuangkan alkoholnya ke dalam gelas Joshua hingga penuh, dia juga menuangkan alkoholnya ke gelasnya dan gelas Roby. Roby mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, dia menaruh ujung rokoknya di mulut. salah satu wanita di sampingnya kemudian menyulutkan api dari korek ke ujung bantang rokoknya. "terimakasih sayang,"kata Roby setelah menghisap dan mengeluarkan asapnya mengudara. Roby menyodorkan bungkus rokok itu pada Joshua. "ambilah, kawasan ini bebas merokok."jelasnya terkekeh kecil. Sebenarnya Joshua juga tidak merokok. entah sejak kapan. dia pernah mencobanya sekali waktu SMA di paksa Jhony dan teman-temanya. hanya sekali dan rasanya tidak enak, dia langsung berhenti, lagipula dirumahnya tidak ada yang merokok, jadi rasa penasaranya tidak terlalu menggebu seperti teman-teman yang lainya. "dia tidak merokok,"jelas Jhony terkekeh kecil, Jhony mengambil bungkus rokok di depan Joshua, menaruh di dalam mulutnya, lalu perempuan yang tadi menyalakan rokok Roby merangkak kearah Jhony seperti seekor anjing, lalu menyulutkan apinya ke rokok Jhony. "begitukah, oh pria yang baik,"puji Roby. Sebenarnya sekarang pujian terdengar lebih seperti ejekan. Roby menumpu kaki kananya diatas kaki kiri"kalau wanita, apa kau juga tidak suka wanita?"tanyanya dengan wajah mengejek. Joshua tertawa renyah"oh tentu saja tidak, aku pria normal." Joshua menenggak alkohol di gelasnya sampai habis, padahal dia sudah mencobanya tadi, tapi tetap saja rasanya aneh dan masih membakar tenggorokanya. "tuangkan untuk gelasku lagi,"pintanya pada Jhony. Jhony menurut dia menuangkan alkholnya ke gelas Joshua sampai penuh. Roby menyeringai"baiklah kalau begitu sayang." dia bertepuk tangan dua kali. Lalu dari belakang dua orang wanita merengkuh Joshua secara tiba-tiba, membuat Joshua hampir tersedak minumanya. "uhuk...." "hey apa kau bisa lebih berhati-hati, kau menganggetkan teman ku,"protes Jhony"kau tidak apa-apa Shua?" Joshua mengangguk, dia mengelap bibirnya yang basah. Dua orang di belakang berpindah di samping kanan dan kiri Joshua. mereka berdua menyenderkan kepalanya di d**a bidang Joshua. salah seorang dari mereka mendongak, memperhatikan wajah Joshua. "kau sangat tampan tuan,"pujinya sambil memainkan dasi Joshua. Joshua mengerutkan sebelah alisnya menatap Jhony penuh pertanyaan. Jhony terkekeh kecil, temanya tidak pernah berubah, dia selalu ketinggalan jaman dan cupu. "sekarang mereka jadi b***k mu, nikmati saja kawan". Roby ikut terkekeh"apa kau baru kesini? aku tidak pernah melihat mu?" "ah iya aku lupa memperkenalkannya padamu,"dia menepuk pundak Joshua "ini shua temanku waktu SMA." "aku tau itu." "oh iya kenapa aku memberitahu mu lagi kalau kau sudah tau.shua itu seorang ceo dari perusahaan Joel grup, kau tau perusahaan busana dan kosmetik terkenal di indonesia itu. perusahaanya bahkan pernah berkolaborasi dengan perusahaan kosmetik di korea."Jhony menyesap rokoknya sebelum lanjut menjelaskan. "wah berarti tuan ini kaya raya ya?"tanya salah satu wanita disamping Joshua. "maaf teman-teman apa aku ketinggalan cerita?" tanya suara lembut yang membuat seluruh perhatian yang ada di meja tersebut tertuju kearahnya. Seorang wanita tinggi, putih, berwajah tirus dengan rambut panjang sepunggung tersenyum pada mereka. Joshua sedikit terpengarah saat melihat wajahnya yang begitu cantik dengan riasan yang tidak begitu tebal, dia mirip artis-artis wanita korea, dia sangat cantik, wajahnya hampir mirip dengan Ellen. "oh Nina, kenapa kau datang telat sekali, pestanya sudah hampir bubar tau tidak." "maafkan aku, jalananya macet tadi." Nina tertawa renyah. Nina? jadi itu namanya, nama yang cantik seperti orangnya. "oh ya Nina, kenalkan dia temanku." Nina mengulurkan tanganya, dengan cepat Joshua membalas uluran tangan Nina"Nina." MABUK "Joshua,"balas Joshua. Setelah perkenalan singkat itu Nina duduk di samping kursi Joshua. "kau tau Nina, dia adala ceo perusahaan Jeol grup yang hari-hari ini sering masuk berita karna kesuksesanya,"jelas Jhony, sebelum Nina bertanya. "benarkah? kau ceonya?"tanya nina terbelalak tak percaya."aku tidak menyangka ceo Jeol grup ternyata masih muda dan tampan seperti mu tuan joshua." "shua saja." "oke tu...emm maksudku shua." Joshua tertawa kecil tingkah laku Nina, sorot matanya tidak bisa berbohong kalau dia tertarik pada wanita di sebelahnya. "kalian terlihat sangat cocok."goda Robby tersenyum penuh arti. "apa sih, orang se tampan dan se kaya shua kan pasti sudah punya istri, kau ingin aku dihajar istrinya apa." "aku masih lajang,"sela Joshua. **** Jesica menduduki dirinya di kursi meja makan, dia menselonjorkan kakinya sambil memijat-mijatnya pelan. hari ini cukup melelahkan, sejak pagi tanganya tidak mau diam, setelah menyiapkan makanan untuk Joshua, ya walau makananya tidak dimakan dan malah dimakan Arimbi dan yang lainya. setidaknya dia sudah mencoba apa yang di perintahkan nyonya Natalie, walau gagal. dan agak siangan sedikit dia mencuci semua pakaian joshua,semuanya tidak terkecuali, menyapu, ngepel, semua dia lakukan. mungkin karena dia sering melakukan di rumah nyonya Irma, jadi semua tidak terlalu menganggetkan. Jesica melipat kedua tanganya diatas meja, menjadikan kedua tanganya untuk tumpuan kepala, gadis itu menidurkan kepalanya, sesekali dia memegangi lehernya yang sedikit sakit. Diatas meja makan sudah ada makan malam lengkap dengan jus jeruk tanpa gula kesukaan Joshua. ya, Jesica tau Joshua pasti akan menolak makananya, tapi setidaknya dia bisa mencicipi makananya walau hanya satu sendok, itu sudah membuatnya bahagia. Jesica melirik jam diatas dinding sana. sudah hampir jam sepuluh malam, tapi Joshua belum menampakan batang hidungnya sama sekali. padahal kata Arimbi dia seharusnya sudah ada dirumah jam sembilan malam, paling telat jam setengah sepuluh. Jesica memegangi perutnya. sekarang perutnya mulai memberontak, perutnya terasa sakit. dia belum makan dari siang, dia akan makan kalau Joshua sudah pulang dan makan makananya. kata ibunya tidak baik makan duluan sebelum suami makan. jadi Jesica menuruti kata-kata ibunya. "nona Jesica."Arimbi menepuk punggung Jesica pelan, membuat Jesica berjengit kaget. Jesica meneggakan tubuhnya "iya bi?" "nona Jesica tidur saja,biar saya yang tungguin tuan Joshua. nanti saya hangatkan makananya, ya?" Sejak tadi Arimbi terus merayu jesica untuk tidur saja karena sudah malam, tapi Jesica terus memaksakan diri tidak mau tidur sampai Joshua pulang. padahal semua pelayan Joshua saja sudah tidur setengah jam yang lalu, karena memang sudah dijadwal ini jam tidur mereka. Jesica menggeleng"gapapa bi sebentar lagi juga tuan Joshua pulang." "yaudah kalau nona Jesica maunya begitu. tapi nona Jesica makan dulu ya, kan tadi belum makan. nanti kalo sakit Nyonya Natalie pasti marah ke saya, terus gimana kalo saya di pecat, nona Jesica mau?" Jesica mengulas senyum. wanita di depanya benar-benar mirip ibunya. sangat bawel dan perhatian. kasih tulusnya membuat jesica sedikit betah tinggal dirumah yang sebenarnya seperti neraka ini. Jesica menepuk kedua bahu bi uut pelan"Jesica belum laper bi, nanti kalo Jesica laper Jesica pasti makan, kau tenang saja ya " Arimbi mendesah pasrah, dia melirik jam dinding "tapi nanti kalo sudah melebihi jam sebelas malam nona jesica harus kembali ke kamar terus tidur ya, saya maksa". "ummm."Jesica mengetuk-etuk dagunya, berfikir "setuju." "yasudah kalau begitu saya ke kamer dulu, kalau nona butuh sesuatu panggil saya saja." Jesica mengangguk-angguk. arimbi kemudian pergi meninggalkanya sendirian di meja makan. Jesica mengedarkan pandanganya, menatap ruangan besar yang sangat lenggang dan sunyi. jesica menggosok-gosok lehernya, bulu kuduknya langsung meremang. dia baru menyadari rumah ini sangat sunyi setiap malam, beberapa ruangan sengaja di matikan lampunya, ruangan rahasia juga mungkin lampunya dimatikan, dia tidak bisa membayangkan berapa banyak hantu yang ada disana. Dia tidak habis fikir kenapa rumah sebesar ini hanya di tinggali oleh satu orang, enam dengan pembantunya di bawah. bisa-bisanya pria itu membangun rumah sebesar ini hanya untuk dirinya. kenapa dia membuang uang banyak hanya untuk membuat tempat tinggal seperti istana ini. masih mending kala uangnya di bangun untuk panti dan hal yang lebih berguna lainya. orang kaya memang tidak bisa di mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN