Nina menjatuhkan tubuh Joshua diatas kasur. dia mencoba membantu Joshua untuk membuka seluruh pakaiannya.
Tadi karna Joshua dalam kondisi mabuk dan Jhony juga sama, jadi dia ikut numpang di mobil Nina. Bukanya malah mengantarkanya ke rumah, Nina malah mengajak Joshua ke apartemenya.
Cup
dia mencium ganas bibir tebal Joshua, tangan kananya mencoba melepaskan kancing dan retsleting celana Joshua. udara dingin dari ac terasa panas akibat desahan mereka.
Joshua membalikkan tubuh Nina. Kini posisinya berganti, nina yang di bawah dan joshua yang diatas. mengukung tubuh Nina, pria itu terus mencumbu leher mulus wanita di bawahnya, tanganya kananya tidak berhenti meremas bongkahan d**a sintal milik Nina, Tidak pernah dia menjadi seagresif ini.
Nina mengalungkan kedua tanganya di leher Joshua. menikmati semua sentuhan yang di berikan joshu, membiarkan tubuhnya terhentak keatas kebawah mengikuti ritme dari pria diatasnya.
"ahhh...ahhhh... Kau chukkup handal ya shuaaa,"puji nina. peluh sudah membasahi wajahnya.
Joshua tersenyum miring"kau juga sangat di hebat di ranjang ya gadis nakal."
"kau meledekku.....aahhh....." Nina menjerit saat joshua tanpa aba-aba memasukkan miliknya kedalam lubang senggamanya begitu dalam, milik pria itu cukup besar dari perkiraanya.
"sstsss...kau cukup sempit,"keluh Joshua, lebih cepat menggoyangkan pinggulnya hingga tubuh Nina tersentak-sentak lebih cepat.
"ah! !ah! Ah! fasssttt beeyybihh...aahh."
desah Nina keenakan.
****
Jesica tersentak dari tempatnya, dia hampir terjatuh dari kursinya kalau tidak langsung berpegangan pada meja. Jesica mengedarkan pandanganya, dia masih ada di meja makan, dia tertawa kecil, ternyata dia ketiduran di meja makan.
Jesica menguap lebar, meluruskan tanganya keatas, mengendurkan otot-ototnya. sudah berapa jam dia ada disini? Jesica melirik jam dinding sekilas. sudah jam dua belas lebih sebelas menit. tapi kenapa Joshua tidak pulang-pulang juga. dia melirik pintu depan. apa mungkin Joshua sudah pulang daritadi, Jesica tidak melihat melihatnya karena dia tertidur.
Tapi tidak mungkin. kunci rumahkan dia yang pegang, dan sandi perintah suara Joshua sudah di ganti dengan Nyonya Natalie, jadi pintunya tidak otomatis lagi. kalau ingin masuk, Joshua harusnya memencet bel dulu, dan Jesica pasti mendengar bell tersebut.
Apa Jesica telfon saja? mungkin saja Joshua pulang kerumah ibunya untuk menghindari Jesica.
kalau begitukan Jesica bisa mengunci pintunya dan langsung tidur tanpa harus menunggu pria itu pulang. Jesica berfikir sejenak, sebelum dia turun dari kursi dan beranjak ke kamar Arimbi untuk mengambil ponsel dan menelfon Joshua.
Jesica membuka pintu kamar sangat pelan dan berhati-hati, takut menganggu tidur Arimbi. benarkan, Arimbi sudah tertidur pulas diatas kasurnya. Jesica melangkahkan kakinya pelan, melewati Arimbi dan menuju kearah nakas, tempat ponselnya berada.
Setelah mendapatkan ponselnya, Jesica langsung buru-buru keluar dari kamar dan duduk kembali di kursi meja makan.
Gadis itu langsung membuka layar kuncinya. dia mencari nomer Joshua. dia mendapatkan nomor itu dari Nyonya Natalie, mana mungkin Joshua yang memberikanya langsung, mustahil. Nyonya Natalie memberikanya untuk berjaga-jaga kalau Joshua tiba-tiba kabur dari rumah, atau Jesica membutuhkan bantuanya. tapi ini kali pertama Jesica menelfon Joshua sejak Nyonya Natalie memberikan nomer ponselnya. Jesica menempelkan ponselnya di telinga.
Panggilanya tidak diangkat. dia mencobanya beberapa kali. dia berani melakukanya karena ini sudah sangat malam, siapa yang akan mengadakan rapat malam-malam, jadi kalau dia menelfonya beberapa kali juga tidak masalah.
****
Tok....tok...tokk...
"sebentar!"
Nina mengambil handuk diatas kastok di belakang pintu. melilikan handuk itu di tubuhnya yang tidak menggunakan sehelai benang pun.
CKLEEKK
pintu kamar nina terbuka. seorang pria tinggi bertubuh kekar sudah berdiri di depan pintunya. siapa lagi kalau bukan Jhony.
"sayang kenapa kau baru datang."sambut nina mengalungkan kedua tanganya di leher jhony.
Ya, Nina sebenarnya adalah kekasih jhony. dia disuruh Jhony untuk mendekati Joshua.
Nina mencium lembut bibir tebal Jhony. namun Jhony buru-buru melepaskan ciumanya. dia malah mengalihkan pandangan pada Joshua yang sudah terkapar di ranjang Nina.
"kau memang hebat dalam bermain di ranjang."
puji Jhony.
"sampai kapan ini akan berakhir? aku selalu merasa jijik jika mengingat harus berhubungan dengan pria asing selain dirimu. dan lagi, dia tidak pernah berhubungan intim ya, aku sama sekali tidak menikmatinya,"keluh Nina menggerutu.
Jhony tertawa kecil"ini semua akan berakhir sampai kau berhasil mendapatkan hatinya. buat dia begitu mencintaimu sampai dia tidak bisa melepaskanmu, lalu setelah itu kau bisa meninggalkanya. dia harus merasakan apa yang aku rasakan dulu."
Nina memutar bola matanya malas, ocehan Jhony membuatnya semakin mengantuk"yasudah pulanglah, cepat bawa pria itu jauh-jauh dariku, aku sudah mengantuk."
Jhony mengangguk, dia berjalan masuk kedalam kamar Nina dan dengan sekuat tenaga mencoba memapah tubuh Joshua yang masih tidak sadarkan diri.
"kau tidak ingin ku bantu?"
"tidak perlu." Jhony berjalan keluar dari apartemen Nina.
Jhony menurunkan tubuh joshua keatas jok mobilnya.
"oy, oy pria tampan siapa ini di depanku?"tanya Joshua bergumam ngelantur.
Jhony memasukan paksa kaki Joshua kedalam mibil agar dia bisa menutup pintu mobilnya, dia kemudian berlari ke depan, membuka pintu sebelahnya dan duduk di dalam mobil.
"mana kuncinya?"Jhony menegadahkan tanganya kearah Joshua. alis joshua malah berkerut
"kunci?"Jhony mengangguk.
"apa itu kunci?"dia lalu tertawa terbahak-bahak
"kunci, kunci, kunci, apa itu salah satu nama makanan jon jon?"
Jhony menepuk dahinya keras. kalau tau efek mabuknya seperti ini Jhony tadi tidak usah repot-repot mengajaknya ke bar.
"kunci, benda kecil untuk menyalakan mobil,"jelas jhony sangat amat sabar.
"ohhh aku tau."Joshua merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya"apa kau mau ini?"tanyanya menggoyang-goyangkan kunci mobil.
"iya itu."Jhony mengambil kunci dari tangan Joshua. Tanpa basa-basi dia menancapkan gasnya. dia harus segera membawa Joshua ke rumahnya sebelum pria ini jauh lebih menyusahkanya.
Jalanan kota susah cukup sepi, beberapa toko di pinggir jalan sudah tutup, bahkan mall yang mereka lewati sudah sangat sepi. jelas, ini sudah hampir jam satu malam, orang-orang susah terlelap dengan mimpi indahnya dalam balutan selimutnya.
"kau mau kemana?"tanya Joshua membuat Jhony meliriknya sekilas.
"pulanglah, memangnya mau kemana lagi?"
Joshua memberenggut, dia melipat kedua tanganya diatas d**a"huh kenapa harus pulang sih, padahal aku sudah betah disana."
Jhony bergidik geli. dia fikir hanya kelakuan istirnya saja yang membuat dia jijik, kelakukan Joshua saat mabuk lebih menjijikan dari apapun. setelah ini dia harus membatasi Joshua dengan alkohol.
Beberapa menit kemudian ponsel yang berada diatas dasboard berdering, ponsel milik Joshua.
"ponselmu bunyi tuh, angkat cepat,"perintah Jhony melirik ponsel Joshua.
"ah paling juga si b******k kesayang mamah papah, tidak perlu repot-repot, tidak penting."
Jhony mengambil ponsel Joshua. panggilanya sudah berhenti. tapi ada lima puluh panggilan tidak terjawab dari nomor tidak di kenal. Jhony melirik Joshua.
Ponsel Joshua lagi-lagi kembali berdering. Jhony menatap layar ponselnya, nomor yang sama dengan nomor yang menelfonya lima puluh kali tadi. Jhony mengangkat telfonya, siapa tau nomor pembantunya.
"ya halo,"ucap Jhony.
"halo."terdengar suara wanita dari dalam telfon.
Jhony melirik Joshua sekilas.
"ini siapa?"tanya Jhony.
"ini siapa? ini bukan Joshua?"tanyanya balik "dimana Joshua, tolong berikan ponselnya padanya, aku ingin bicara padanya."
"ini siapa?"ulang Jhony.
Tidak ada jawaban dari wanita diseberang sana.
Jhony mencoba berfikir. apa mungkin ini nomor Ellen. tapi rasanya tidak mungkin kalau Joshua sampai tidak menamai kontaknya. ya, walau sebenarnya wajar kalau Joshua tidak menamai kontak Ellen, dia mungkin kecewa karena sikap Ellen, tapi Jhony hafal suara Ellen, suaranya tidak sehalus ini.
"ah maaf tuan aku tidak bisa menjelaskan padamu, berikan saja ponsenya pada Joshua,"ujar wanita itu akhirnya.
Jhony melirik Joshua, pria itu menyandarkan kepalanya di kursi mobil sambil menatap langit-
langit mobil dan bergumam tidak jelas.
"joshua sedang tidak bisa dihubungi."
"kenapa?"
"dia mabuk."
"apa!"
Jhony menjauhkan ponselnya dari telinga saat wanita di seberang sana berteriak. besok dia akan pergi ke dokter tht untuk memeriksakan telinganya.
"bagaimana bisa, sekarang dia ada dimana, tuan saya mohon tolong antarkan dia kerumah, nanti....."
"aku sedang menuju kerumahnya,"potong Jhony sebelum wanita itu terus mencecarinya"tapi aku tidak tau rumahnya, kau bisa sherlook lokasinya?".
"tunggu sebentar." Tidak lama kemudian sebuah notifikasi sms masuk. dari nomor tadi, mengirimkan alamat rumah Joshua lengkap.
"jalan aryo brigja,"gumamnya membaca alamat yang dikirimkan Jesica.
Setelah menuruti google maap di ponsel Joshua akhirnya Jhony sampai di depan rumah putih besar kompleks aryo brigja, komplek kalangan elit tinggal,
komplek yang hampir seluruh rumahnya di pasang ac dan mobil di bagasi mereka. tapi mudah buat Jhony untuk menebak mana rumah Joshua. pasti rumahnya yang paling besar, lebih besar dari otaknya yang cuma sebiji kuaci.
Jhony menatap keluar jendela. gerbang rumahnya masih di tutup. wanita itu bilang dia harus menunggu di depan rumah, nanti wanita itu akan membukakan gerbangnya, apa dia seorang pembantu? fikir Jhony.
Beberapa menit kemudian gerbang rumah terbuka, Jhony meliriknya dari kaca spion. setelah membuka gerbangnya dia berjalan kearah mobil Joshua, dia mengetuk-etuk kaca mobil.
"masuk saja,"katanya, melirik Joshua sekilas.
Jhony hanya mengangguk, dia menuruti kata-kata wanita itu, dia masuk kedalam rumah bak istana milik Joshua.
Tanpa basa-basi Jhony langsung keluar dari dalam mobil, dia berjalan ke pintu sebelahnya. wanita tadi sudah berdiri di samping Jhony. wanita kecil,
berambut panjang sebahu, dengan pipi sedikit mengembang.
"kenapa dia bisa semabuk itu?"tanyanya sedikit khawatir saat Jhony mencoba mengeluarkan Joshua dalam mobil. Jhony mencoba memapah tubuh Joshua.
"dia tadi minum sangat banyak, tapi tidak usah khawatir, besok dia akan kembali seperti biasanya."
Wanita itu tidak mendengarkan Jhony, dia terus memandang Joshua khawatir.
"apa kau bisa bawa masuk dia ke kamar?"pintanya lagi. Jhony mengangguk.
Wanita itu membuka pintunya dengan suara. jhony sempat mengantupkan mulutnya, ternyata selain besar rumah joshua juga canggih.
Wanita itu berjalan di depan Jhony seperti pemandu wisata. Jhony mendarkan pandanganya,
rumah joshua ternyata sangat besar dari dalam. dia melirik temannya, kalau dari dulu dia ikut dengan Joshua mungkin dia juga bisa membangun rumah sebesar ini dan bisa menjadi manager di kantor Joshua. pasti dia tidak akan cerai dengan Elis dan tentu saja hidupnya akan bahagia.
Jhony menurunkan tubuh Joshua di kasur king sizenya.
"terimakasih tuan."ucap wanita itu sedikit membungkukkan badanya, wanita yang sopan.
"tidak perlu berterima kasih."jhony melirik arlojinya
"baiklah nona sepertinya saya harus pergi, ini sudah sangat malam."
"akan saya antar,"kata Jesica, mempersilahkan Jhony berjalan terlebih dahulu.
Dia mengantarkan Jhony sampai pintu masuk.
Jhony tersenyum ramah pada Jesica sebelum berbalik lalu berjalan keluar dari rumah Joshua.
Jesica kembali ke kamar joshua, dia hendak memutar kunci yang menyantol, tapi sebuah tangan menyentuh tanganya, Jesica melengos kebelakang. dia tersentak. Joshua tiba-tiba saja sudah ada di depanya dengan senyum menyeringai menyeramkan.
"t..tuan Joshua, ada apa, apa ada yang perlu saya bantu?"
cleekk....Joshua memutar kuncinya, dia mengambil kuncinya dari bolongan dan memasukanya ke dalam saku celana.
Dia menaruh kedua tanganya di dinding, mengukung tubuh Jesica agar tidak bisa bergerak kemana-mana. Jesica menelan ludahnya berat.
Tangan besar Joshua menyentuh dagu Jesica lembut.
"apa kau bisa membantuku?"tanya Joshua.
"y....ya apa yang bisa ku bantu?"
Joshua mendekatkan bibirnya ke telinga Jesica. napas jesica tertahan, dan jantungnya berdetak begitu kencang.
"puaskan aku,"bisiknya.