WARNING 21+
Konten ini mengandung kata-kata kasar dan yang mungkin membuat anda tidak nyaman, harap bijak dalam membaca
HAPPY READING
Mata Jesica membulat sempurna. apa yang baru saja Joshua maksud "puaskan aku?"Jesica tidak bisa mencerna ucapan Joshua.
Sebelum Jesica mengerti maksud Joshua, Joshua sudah menyentuh pipinya lembut.
"apa yang tuan joshua lakukan?"kedua tangan Jesica menyentuh d**a Joshua, membuat tameng agar Joshua macam-macam dia bisa langsung mendorongnya.
"kau sangat cantik hari ini, kenapa ya aku tidak menyadarinya juga." Tanganya beralih meraba leher Jesica, Joshua mengendus leher putih Jenjang milik Jesica, membuat Jesica refleks mendongakan kepalanya keatas, memberikan Joshua akses.
"kau sangat wangi hari ini hmm"
"ahhh...tuan."Sebuah lengguhan terdengar dari bibir mungil Jesica saat benda basah tak bertulang menjilat lehernya secara seduktif.
"mari kita lakukan pelan-pelan."
Jesica membulatkan matanya lebar saat tau apa yang sedang dia dan Joshua perbuat, kedua tanganya refleks mendorong tubuh Joshua sangat kuat hingga membuat pria itu jatuh terjerembab ke lantai.
"beraninya kau melakukan ini!"bentak Joshua.
"ma...maafkan aku tuan." Joshua geram, dia bangkit berdiri.
"jalang sialan!!" Pria itu menarik Jesica kasar, mendorong tubuh gadis itu ke atas kasur.
Jesica jatuh dalam posisi terlentang. Joshua menyeringai menyeramkan. sekarang Jesica seperti seekor kelinci yang ingin di lahap serigala.
"kau fikir aku akan menunggumu sampai siap?"
Joshua mengendurkan dasi di lehernya, melepas satu persatu kancing kemeja putihnya.
Jesica menggeleng-geleng, ketakutan menjalar ke sekujur tubuhnya"jangan tuan, ku mohon jangan." mohon Jesica.
"kau ini istirku, aku berhak melakukan ini tanpa seizin mu!"tukas Joshua.
Jesica mencoba untuk bangun. tapi tangan besar Joshua menahanya. kedua tangan Jesica di satukan di atas kepala, lalu dia mengikat kedua tangan Jesica dengan dasinya cukup kencang.
Wajah Jesica mulai pucat pasi, keringat dingin mengalir deras di keningnya, ketakutan menyelubungi dirinya. jesica belum siap melakukan ini, dia tidak bisa melakukanya.
"lepaskan aku tuan, lepaskan."Jesica memberontak.
Joshua duduk diatas perut Jesica. dia melepaskan kemeja dari tubuhnya kesembarang arah, Jesica memalingkan wajahnya. tapi Joshua memaksa Jesica untuk melihat kearahnya. gadis itu langsung menutup matanya rapat-rapat.
"buka matamu."Jesica menggeleng.
"buka atau ku perkosa kau dengan kasar!!"
Jesica langsung membuka matanya. sebuah pemandangan indah terpapang jelas di depanya.
badan sixpack dan d**a bidang milik Joshua membuatnya gila.
Joshua mengangkat satu kaki Jesica agar melingkar di pinggangnya, dia menyibak rok jesica sampai di atas pinggang. Memeperlihatkan celana dalam hitam menggoda milik Jesica.
"tidak tuan, jangan!!"mohon Jesica.
Pria itu sama sekali tidak menggubris Jesica, tangan nakalnya meraba-raba paha Jesica. Jesica mulai menangis, air matanya turun membasahi pipi. Apalagi yang bisa dia lakukan, selain melihat Joshua melucuti tubuhnya.
"t....tuan, kumohon, hen...tikan tuan." Bukanya iba Joshua malah menyeringai, mendengar permohonan Jesica membuatnya ingin melakukan hal yang lebih.
Joshua mencengkeram kedua pipi Jesica "tenanglah, ini tidak akan menyakitkan."
"hikkss...hikksss...ja..."
CUP
Mata Jesica terbelelak lebar, bibir tebal milik Joshua menghantam bibirnya kasar.
"kau akan menikmatinya,"ucap Joshua di sela-sela ciuman mereka.
Joshua mengalungkan tangan Jesica kelehernya. pria itu menciumi Jesica dengan sangat lembut,
ciuman yang tidak terlalu menuntut, jujur saja sebenarnya Jesica menikmati ciuman ini, matanya sedikit terpejam menikmati sensasi yang begitu asing di tubuhnya.
Joshua melepaskan tautan ciuman mereka, kini pandanganya beralih pada sesuatu yang lebih menggoda. tangan Joshua dengan cepat menarik celana dalam Jesica.
"jangan tuan!"jerit Jesica. Mencoba mati-matian menutupi sesuatu yang belum siap dia perlihatkan pada Joshua. Pipinya sudah merah padam, rasa malunya sudah tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata saat kedua mata Joshua menatap intens kemaluanya.
Joshua membuka paha Jesica lebar-lebar.
"j...jangan....tuan...ku mohon."
"berhenti menangis, cukup berbaring dan desahkan namaku."
"aakkkhhhh!!"tubuh Jesica terasa terbelah menjadi dua saat batang Joshua masuk secara paksa kedalam lubang kenikmatanya. namun bagai iblis yang sama sekali tidak mempunyai hati Joshua terus menghentak-hentakkan tubuh Jesica secara brutal.
Lalu setelah itu hanya terdengar suara desahan menghiasi ruangan yang kini terasa sangat panas.
***
Dingg...dongg...
Jesica mengerjap-erjapkan matanya,suara ketukan pintu berhasil membuatnya terbangun.
Jesica mengucek-ucek matanya'siapa sih yang datang pagi-pagi begini'.
Jesica membalikan tubuhnya, dia hampir berteriak meihat wajah Joshua tiba-tiba saja ada di depanya sangat amat dekat, jantung Jesica berdetak begitu kecang, dia lupa kalau semalam dia baru saja melakukan hubungan suami istri dengan Joshua.
Dan sekarang Jesica dan Joshua telanjang tanpa sehelai benang pun, hanya selimut putih yang menutupi tubuh mereka. dan ceceran darah terlihat mengotori sprei di bawah Jesica. Apa ini daranyahnya? apa ini menandakan kalau keperawanan Jesica yang benar-benar dia jaga sudah benar-benar terenggut?
Sekarang Jesica tidak bisa bangun karena tangan besar Joshua yang memeluk erat tubuhnya, kalau dia membangunkan Joshua untuk menyingkirkan tanganya pria itu pasti akan marah. dia juga tidak bisa membangunkanya karena Joshua baru tidur dua jam yang lalu..
Dinggg... Donggg...
Jesica mengangkat tangan Joshua sehati-hati mungkin dari tubuhnya. dia bernafas lega karena tidak membangunkan Joshua. dia buru-buru turun dari ranjang tanpa busana.
"Aww,"ringis Jesica, rasa perih dan panasnya masih terasa sampai sekarang, pangkal pahanya sepertinya juga terluka karena gesekan kuat dari Joshua.
Jesica mencomoti pakaian dalamnya dan joshua yang berceceran di lantai, dia memasukanya kedalam ranjang pakaian kotor. lalu dengan cepat memakai kembali pakaian miliknya.
Jesica membuka pintu kamar. Arimbi menghentak-hentakan kakinya ke lantai sambil melihat arloji di tanganya.
"Arimbi, ada apa?"tanya Jesica menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Alis Arimbi berkerut bingung. memandang aneh Jesica dengan bayak pertanyaan di benaknya.
"semalam nona Jesica tidur di kamar tuan joshua?"
"eumm itu."
Arimbi mengerling penuh arti pada Jesica. sebelum Jesica menjelaskanya saja dia sudah mengerti apa yang terjadi.
"nona Jesica terlihat berantakan sekali."
"hahahaha, apa ini terlihat buruk?"Dalam hati Jesica menjerit, siapapun tolong musnahkan dia dari sini.
Arimbi menggeleng"tidak kok, dimata tuan Joshua nona Jesica tetap cantik apapun keadaanya,"
godanya.
"apa sih kau ini. oh ya, aku akan kedapur sebentar lagi kau tunggu saja disana."
"tidak, aku kesini tadinya ingin bilang pada tuan Joshua ada orang yang mencarinya di bawah, tapi sepertinya tuan Joshua sedang sibuk....."
"kenapa kau tidak mendesahkan namaku sayang."ucapan Arimbi terhenti karena suara Joshua yang mengigau.
Arimbi memiringkan kepalanya, hendak melihat Joshua. tapi Jesica langsung menutup setengah pintunya, membuat Arimbi tidak bisa melihat isi kamarnya. dia tidak mau Arimbi tau kalau dia baru saja melakukan hubungan initim dengan Joshua, dia hanya malu saja.
"wah tuan Joshua juga kelihatanya berantakan sekali ya, pasti dia juga bekerja keras tadi malam."
goda Arimbi membuat pipi Jesica semakin merah saja.
"yasudah aku pergi dulu ya nona Jesica." Arimbi berbalik "oh ya nona Jesica, sepertinya kau harus membeli lotion nyamuk."Jesica mengerutkan dahinya bingung.
"banyak bintik merah di lehermu."Arimbi tersenyum, lalu melenggang pergi.
Jesica menutup pintunya, dia langsung bergegas ke kaca lemari. dia memegangi lehernya, Arimbi benar ada noda bercak-bercak merah di lehernya, padahal tadi malam tidak ada nyamuk sama sekali, dan semalam lehernya baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.
***
Joshua mengerjap-erjapkan matanya,
pandanganya telihat masih samar-samar. pria itu mengedarkan pandanganya. dia tidak tau apa yang terjadi, badanya sediki menggigil.
Dia masih ada di kamar. Joshua melirik kesamping, tidak ada siapa-siapa di sampingnya. pria itu melirik kebawah, selimut tebal memggulung tubuhnya.
Joshua membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia terlonjak kaget.
"astaga"melihat dirinya tanpa sehelai benang pun, dia fikir melakukan hal itu dengan Jesica hanya mimpi, tapi ternyata itu memang benar-benar kenyataan, jadi semalam dia benar-benar melakukan itu dengan gadis kampung itu. beberapa detik Joshua terdiam, mencoba mencerna situasi yang telah terjadi.
"aarrghhhh!!"teriak Joshua tidak percaya.
***
Joshua keluar dari kamar, dia mengedarkan pandanganya kesegala arah, mencari-mencari Jesica. Jesica sedang duduk di bibir pantai dengan jinny.
"aku harus minta penjelasan padanya."Joshua menuruni anak tangga, dia berjalan kearah Jesica.
"Jesica!!"teriak Joshua sangat keras. membuat Jesica tersentak kaget dan membalikan badanya cepat.
"semalam kau menggodaku kan, apa maksudmu hah?"Joshua mencengkeram lengan tangan Jesica sangat kencang, wanita mengeringis kesakitan.
"tidak tuan, aku tidak menggodamu."
"bohong, kau fikir aku tidak semalam kau mencoba memperkosa ku kan?"tuduh Joshua.
"semalam tuan mabuk, tuan mencoba menyentuh saya, saya sudah bilang pada tuan saya tidak mau,
tapi tuan sendiri yang maksa,"cicit Jesica.
"cih, kau fikir aku akan percaya dengan dongengmu itu, jelas-jelas kau yang menyentuh ku. karena aku mabuk kau mencuri kesempatan untuk menggoda ku, iyakan?"
"tidak tuan, aku bersumpah, dan tuan boleh aku bertanya,"kata Jesica ragu-ragu.
"apa?!"
"banyak sekali noda ungu di leher ku, apa tuan tau penyebabnya?"tanya jesica polos mengusak-usak leher jenjangnya.
Pipi Joshua merah merona. semua kejadian tadi malam kembali terulang jelas di dalam otaknya. Bahkan desahan keras dari Jesica yang menyebutkan namanya mengalun merdu di telinga.
"aku tidak tau, memangnya aku dokter, kau mungkin kecapekan saja."
"Jesica."Joshua melangkah satu langkah kedepan Jesica, hingga hanya memberikan sejengkal jarak untuk mereka.
"tadi malam itu hanya kesalahan, menjijikan bagiku untuk mengingatnya, jadi lupakanlah."bisik Joshua tepat di telinga Jesica.
"t...tuan bagaimana kalau saya punya anak?"cicit Jesica takut-takut.
Kepalanya bahkan terus menunduk menatap lantai, takut dengan tatapan tajam Joshua.
Wajar saja Jesica menanyakan hal seperti itu, semalam Joshua menyetubuhi dirinya tanpa menggunakan pengaman apapun, besar kemungkinan akan tumbuh janin di dalam rahimnya,
apalagi dengan kondisi jesica yang sedang berada di masa-masa produktifnya.
"gugurkan lah, apalagi. Memangnya aku sudi punya anak dari rahimu? sampai matipun aku tidak akan pernah sudi,"tukas Joshua meludah di depan Jesica.
Joshua berjalan pergi meninggalkan Jesica di dapur sendirian. entah kenapa saat mendengar Joshua mengatakam hal itu d**a Jesica terasa begitu sakit. Hatinya hancur lebur, harga dirinya terasa di lucuti habis-habisan.
memangnya apa yang dia harapkan dari pria tersebut. Dia akan menyukai Jesica setelah dia menyetubuhinya? Dalam mimpi saja mungkin akan sulit untuk di bayangkan. Joshua bahkan hanya menyentuh Jesica saat dirinya tidak sadarkan diri.