Kelas sudah mulai setengah jam yang lalu, bu Eli tengah menjelaskan pelajaran biologinya, sebagian murid fokus pada penjelasanya, sebagian lagi sibuk pada duanianya sendiri, termasuk Ani, bukanya mendengarkan bu Ani dia malah sibuk menghalangi jalan semut yang berbaris di dinding.
"hayo lo, hayo lo mau lewat kemana hah, mampus lo ga bisa lewat." Ani terkekeh-kekeh sendiri.
Sedangkan teman disampingnya, gadis itu terus melamun, pandanganya menatap kedepan tapi entah fikiranya kemana, dia terlalu sulit untuk melupakan kejadian itu dengan Joshua, kejadian yang setiap kali dia mengingatnya membuat dia merasa menjadi manusia paling kotor. Dia masih tidak bisa menerima kalau Joshua baru saja merebut keperawananya.
BRAKKKK
"Jesica kau tidak memperhatikan ibu?!"tukas bu Eli menggebrak meja Jesica sangat keras.
Tubuh Jesica dan Ani terlonjak kaget hampir bersamaan.
"jangan apa-apa kan aku, ku mohon tuan!!"mohon Jesica menyilangkan kedua tanganya di depan d**a dan kedua matanya terpejam erat.
Kedua tangan Jesica bergetar hebat, wajahnya memucat, keringat dingin memebashi sekujur tubuhnya.
"dia kenapa sih, aneh banget."
"duh jangan-jangan gosip dia nikah sama om-om itu bener, pasti itu dia lagi trauma sering di gituin sama omnya."
"kasian ya, pasti hidupnya berat banget. Eh jangan dia nikah sama orang yang waktu itu ngejagain dia terus, siapa namanya, oh iya Zidan."
Semua cibiran dan tuduhan bisa Jesica dengar dengan jelas di telinganya. Telinganya panas dan kepalanya semakin terasa sakit.
Bu Eli menyentuh lembut kening Jesica. Suhu tubuhnya sangat panas "Ani, bawa Jesica ke uks."
"baik bu, ayo Jes." Ani segera beranjak dari kursinya, mencoba memapah Jesica, dan menuntun pelan sahabat karibnya keluar dari kelas.
Sesampainya di uks Jesica langsung di baringkan ke ranjang yang besi-besinya sudah berkarat. Maklum sekolah Jesica tidak terlalu cukup populer, jarang ada dana yang masuk ke sekolahnya, jadi untuk mengganti ranjang uks saja belum terealisasikan sampai sekarang.
"nih."Ani menyodorkan teh hangat yang dia buat pada Jesica.
Jesica mengambil teh hangat dari tangan Ani, menyeruputnya pelan. Memang teh tidak bisa menyelesaikan apapun, tapi setidaknya tubuhnya jadi sedikit lebih membaik karena itu.
"lo mending masuk kelas lagi aja an, gue gapapa kok disini sendirian."
"gue, masuk kelas lagi?"Ani menunjuk dirinya sendiri"ogah ah. Mending gue disini ngadem enak, daripada di kelas liat rumus-rumus yang bikin kepala gue botak, lagian lo tau ga sih gimana ngeselinya bu Eli pas ngajar. Kerjanya cuma marah-marah terus, darah tinggi tuh orang."
Jesica hanya terkekeh mendenger celoteh sahabatnya itu.
"lo abis di perkosa ya jes?!!"tebak Ani frontal dengan intonasi yang bahkan satu sekolah pun bisa mendengar suranya.
Pipi Jesica merah merona seperti kepiting rebus. ingatanya kembali berputar saat Joshua dengan brutal menyetubuhi tubuhnya, tubuhnya kembali meremang, ketakutan kembali menggelayuti tubuhnya.
"Chika, Jesica, Jes."Ani mengguncang-guncang tubuh Jesica.
Jesica menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia mulai kembali terisak dan tubuhnya lagi-lagi kembali bergetar hebat "hiksss...hikssss
.....Ani....hiksss."tanpa bertanya lagi Ani merengkuh tubuh sahabatnya. membiarkan sahabatnya menangis di pelukanya.
BRAKKK
Pintu uks terbuka, pria tinggi kekar berlari kearah Jesica dengan wajah panik. Siapa lagi kalau bukan Zidan.
"nona Jesica tidak apa-apa, apa ada yang terluka, perlu saya panggilkan dokter?"cecar Zidan, wajahnya terlihat sangat khawatir.
Padahal Jesica hanya demam, bukan baru terlindas truk atau ketindihan reruntuhan sekolah.
"aku baik-baik saja Zidan."
"oh jadi lo yang merkosa temen gue."
BUGHH
Ani menendang bagian pangkal s**********n Zidan. Zidan mengerang memegangi area selangkanganya, kaget dengan seragan mendadak dari Ani.
"Ani!!"teriak Jesica kaget.
"om-om m***m sialan, mati sana lo ke neraka, orang m***m kaya lo ga pantes hidup di dunia, mati, mati, mati!!"umpat Ani menjambak keras-keras rambut Zidan.
"ganteng doang kaya le min ho tapi sukanya cabulin anak di bawah umur, ga punya otak lo ya."
"Ani hentikan bukan tuan Zidan orangnya."
Perkelahian sengit itu akhirnya berakhir dengan permintaan maaf Ani, Jesica menjelaskan semuanya, dari dia yang diam-diam sudah menikah dengan Joshua Ceo Jeol grup sampai kenapa Zidan jadi bodyguardnya, awalanya Ani tidak percaya sampai Jesica menunjukkan cincin permata yang super duper mahal.
"maafkan temanku ya."
Kalau tidak melihat Ani adalah perempuan dan sahabat karib Jesica, Zidan pasti sudah memengal kepala bocah tengik itu dan membuangnya jauh-jauh ke sungai sss.
Bisa-bisanya seorang bocah ingusan menendang aset miliknya. Ini sebuah pelecehan.
"hehehe maaf ya om, eh pak eh tuan Jidan, saya ga tau kalo tuan Jidan emang beneran baik, sekali lagi saya minta maap ya tuan Jidan."
"Zidan Ani bukan Jidan."koreksi Jesica.
"Jidan kek Zidan sama aja bacot banget deh lo." Zidan tidak memberikan reaksi apapun, tepatnya tidak memperdulikan Ani sama sekali. Kasian bocah itu sudah diabaikan gebetanya, sekarang juga diabaikan bodyguard Jesica.
"nona Jesica sudah makan?"
"belum nih, laper banget, tuan Jidan mau traktir kita makan? yukk," jawab Ani bersemangat.
Dia memang sangat bersemangat kalau sudah bahas makanan.
"Ani, lo ga sopan banget sih,"dengus Jesica sebal.
"saya akan izin ke wali kelas nona."Zidan beranjak.
"tidak usah Zidan, aku dan Ani akan masuk kelas, kalau kau ingin mengajakku makan, tunggu sampai jam pelajaranku selesai."
"Jes lo apa-apaan sih, udah kita bolos aja sehari, sehari ga bikin lo g****k, ya, gue laper banget nih."rengek Ani menggoyang-goyangkan tangan Jesica.
"ga, gaada bolos-bolos, cepet masuk kelas."
Jesica menggeret paksa tangan Ani untuk keluar dari uks. Dia tidak peduli dengan Ani yang terus misuh-misuh tidak jelas dengan keputusan Jesica di sepanjang perjalanan menuju kelas.
****
Mereka bertiga masuk kedalam mobil lamborgini Joshua. Sepanjang perjalan Ani selalu mengoceh sambil terus berdecak kagum dengan apa yang dimiliki Jesica saat ini.
"setiap hari lo pake mobil kayak gini buat berangkat sekolah Jes?"tanya Ani tidak percaya.
Jesica mengangguk-angguk.
"gila, gila gila keren banget."
beberapa kali Ani menghentakk-hentakkan pantatnya ke kursi jok mobil"oh jadi gini rasanya jok mobil mahal, gila-gila empuk-empuk."
Jesica hanya bisa menggeleng lemah melihat kelakuan temanya. Mau di bilang alay Jesica juga melakukan hal yang sama dengan Ani waktu dia pertama kali naik mobil lamborgini, dia bahkan pernah memegangi pintu waktu zidan membuka pintunya karena takut pintunya terbang. Itu hal yang paling memalukan sepanjang hidupnya.
Mobil lamborgini hitam itu masuk kedalam parkiran mall kota. Karena bukan hari libur mall jadi tidak seramai biasanya. Tapi tidak apa-apa, Jesica malah lebih suka tempat yang sepi. tempat ramai hanya akan membuatnya pusing dengan suara-suara berisik, oksigen yang dia hirup juga jadi ikut berkurang.
Seperti biasa, Zidan mengajak Jesica makan di restorant, kali ini hanya restorant barbeque, dia tidak sedang berselera makan seafood.
"selamat datang di barbeque time, ingin pesan apa?"seorang pelayan menyodorkan buku menunya.
Buru-buru Ani mengambilnya, melihat satu persatu buku menu yan di tulis dalam bahasa inggris. Untung saja Ani cukup ngerti sedikit bahasa inggris, walau pengucapanya cukup kacau sama seperti Jesica.
"makananya enak-enak semua, gue boleh pesen semuanya ga Jes?"tanya Ani.
"boleh."Zidan yang menjawab.
"seriusan om, eh maksudnya tuan Jidan?"
Zidan mengangguk, wajah tampanya membuat ani terkesima. Padahal dia hanya mengangguk.
"kalo gitu saya mau pesen barbeque, chicken rice bowl, beef burger steak, dory steak, chicken katsu......"
"Ani."potong Jesica.
"sama tasty belly enoki, minumnya blackcurrant," lanjut Ani, Jesica melemparkan tatapan tajam, gadis tidak tau malu itu malah nyengir dengan wajah tanpa dosa.
"ada lagi?" Ani sudah ingin menyebutkan makanan tambahannya sebelum Jesica menggeleng pada sang pelayan.
"tambahkan blackcurent saja satu."
Pelayan itu mengulang semua pesanan mereka. Lalu pelayan itu pergi kembali masuk kedalam dapur.
"kau tidak makan Zidan?"tanya Jesica.
"aku sudah makan." sudah makan atau sedang diet.
Tidak lama makanan mereka datang. Wangi daging barbeque menyengat menyeruak kedalam hidung Ani.
Air liur sudah memenuhi mulut Ani, semalam ini dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya daging barbeque, mentok-mentok dia hanya pernah merasakan nikmatnya rendang.
"ayo, ayo silahkan dimakan, silahkan dimakan,"ujar Ani mengambil sendok dan pisau.
Dia mulai mencoba memotong daging menggiyurkan di bawahnya.
Zidan terkekeh kecil melihat bagaimana cara Ani memotong barbequenya. dia terus menggerakkan pisau itu kedepan dan ke belakang dengan brutal, namun daginya sama sekali tidak terpotong.
"apa tuan ketawa-ketawa, tuan lagi ngejek saya?" Tukas Ani kesal.
"harusnya tadi kita bawa gergaji Jes, pisaunya ga ga bisa digunain sama sekali."
Zidan mengambil pisau dari tangan Ani. Dengan sukarela dia memotong-motong daging barbeque milik Ani.
Ani tersenyum-senyum malu, perhatian kecil Zidan sangat menggemaskan.
"Zidan."panggil seseorang menepuk bahu Zidan dari belakang.
Zidan langsung membalikanya. Sosok pria tinggi, kulit putih dan mata sedikit sipit sudah berdiri di belakangnya. Itu Rey.
Zidan buru-buru berdiri dari kursinya, sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan sedikit hormat.
"sedang apa kau disini?"
"Jes gue lagi gaada di surga kan, kok daritadi gue terus ngeliat pangeran-pangeran di depan gue,"ujar Ani terpesona dengan ketampanan Rey.
Berbeda dengan Ani, tubuh Jesica malah mematung di tempatnya, kakinya kaku, lidahnya kelu saat melihat siapa yang ada di depanya sekarang.
Rey aditama wirakrasa Putra bapak Agung ibu Astrid. anak kepala desa di kampung Jesica. Sekaligus kekasih Jesica.
Pria yang meninggalkanya empat tahun yang lalu dan hilang tanpa berita. Sudah puluhan kali Jesica mencoba menghubungi nomornya, tapi dia sama sekali tidak pernah mengangkat telfon dari Jesica.
Bahkan tujuan Jesica ke kota untuk merantau selain membantu perekonomian keluarganya, dia juga ingin mencari Rey, bagaimanapun caranya, sesulit apapun itu dia harus menemukan Rey, dan sekarang pria itu sudah ada dihadapanya.
Jesica sangat yakin pria di depanya adalah Rey. Walau postur tubuh dan penampilanya berubah derastis jauh lebih rapi, tapi wajah Rey sama sekali tidak berubah. Wajah yang selalu menjadi rebutan gadis sekampung dan dia malah lebih memilih Jesica yang hanya seorang anak petani di ladang miliknya. Jesica sangat hafal dengan tahilalat manis yang bertengger di leher pria itu, ya. dugaanya tidak salah lagi, dia adalah Rey.
"Rey."Jesica bangkit berdiri. berjalan beberapa langkah kedepan Rey.
"kau Rey aditama wirakrasa?"
Rey menatap Jesica, tatapan yang sama sekali tidak bisa Jesica artikan.
"maaf menganggu tuan, kita harus cepat, klienya sudah datang dan tuan Joshua sudah menunggu disana."ujar seorang pria memakai setelan jas hitam rapi dengan airpod menutup satu telinganya yang tiba-tiba berada disamping Rey.
Melihat Jesica yang tiba-tiba menangis tanpa sebab membuat Zidan panik, dia mendudukan tubuh Jesica ke kursinya, mengambil sapu tanganya dan menyodorkanya pada Jesica.
"nona Jesica tidak apa-apa?"
Tidak, Jesica sedang tidak baik-baik saja. Banyak sekali pertanyaan berkecambuk di dalam kepalanya.
dimana Rey sekarang bekerja? kenapa dia mengenal Zidan? dan joshua, apa yang dia maksud Joshua itu adalah suami Jesica?
"kau mengenal pria tadi Zidan?"tanya Jesica akhinya. Zidan mengerutkan alisnya bingung.
"siapa pria tadi?"
"tuan Rey."
"bagaimana kau kenal pria itu?"
"nona Jesica, makan dulu makanan nona." Zidan menatap makanan Jesica yang sama sekali belum terjamah.
Kalau begini jesica bisa telat makan, kalau telat makan lama-lama jesica akan terkena penyakit magh, Zidan tidak akan membiarkan ini menimpa Jesica.
"aku ingin kau jawab pertanyaanku."
Zidan menghela nafas, entah apa yang membuat Jesica ingin mengetahui tentang Rey, tapi yang pasti semua ucapan yang keluar dari mulut Jesica adalah perintah.
"dia manager di perusahaan tuan Joshua."
Sendok di tangan Jesica jatuh ke lantai, mulutnya ternganga lebar mendengar pernyataan Zidan.
"bagaimana mungkin, Rey hanya lulusan SMA dia tidak mungkin menjadi manager di perusahaan besar sebesar Jeol grup."
"kau sepertinya mengenal tuan Rey."
"Rey? Rey kekasihmu di kampung yang katanya wajahnya bak dewa yunani itu dia?"heboh Ani ikut merasa terkejut.
Jesica melayangkan tatapan tajam pada Ani. Zidan hanya menatap Jesica tanpa ekspresi, tapi sorot matanya menjelaskan dia ingin tau apa hubungan Jesica dan Rey.
"beritahu aku semua tentang Rey."
Zidan menghela nafas, ini sama sekali bukan tugasnya. untuk urusan pribadi begini Zidan sangat anti untuk ikut campur. Tapi karena semua yang diucapkan Jesica adalah perintah, dia akan terus mematuhinya.
"tuan Rey bekerja di perusahaan tuan Joshua tiga tahun yang lalu, dia diangkat menjadi anak angkat tuan mahendra, dan sekarang tengah berhubungan dengan nona Cindy adik tuan Joshua, hanya itu yang saya tau,"jelas Zidan lugas dengan tatapan sangat datar.
"berhubungan, maksudmu Rey adalah kekasih Cindy?"Zidan mengangguk membenarkan.
Betapa tergoncangnya hati Jesica saat itu, tubuhnya membeku dan jiwanya seperti diangkat paksa keatas. Setitik air jatuh tanpa aba-aba membasahi pipinya.
Pria yang dia cari selama ini, kekasihnya di kampung yang berjanji akan menikahinya dua tahun lagi dan akan membuat hidupnya bahagia, kini malah menghianatinya.