BENALU

1792 Kata
Suara bell rumah berdering begitu keras berulang-ulang kali. "iya sebentar."Jesica berlari kearah pintu masuk. dia mengeluarkan kuncinya dari dalam saku baju. "Jesica cepat!!"teriak orang dari luar, menggedor- gedor pintunya sangat keras. Pintu rumah terbuka. menampakan seorang pria yang sudah kehilangan setengah kesadaranya dan seorang wanita yang mencoba memapahnya. Jesica menatap wanita itu dari ujung kepala. wanita itu menggunakan korset di atas perut yang menunjukan pusernya dan celana ketat pendek membalut di pinggang sampai hampir pangkal pahanya. 'siapa dia?'batin Jesica. "siapa ka....." "halah banyak tanya, menyingkir dari jalan ku!"tukas Joshua. Jesica masih disitu, tidak mau menyingkir. "ku bilang menyingkir!"tukas Joshua lagi, nada suaranya naik satu oktaf. Dia mendorong tubuh Jesica sampai gadis itu hampir terhuyung, walau mabuk tenaga pria itu sama sekali tidak berkurang. Joshua dan wanita itu duduk di sofa ruang tengah. Jesica menatap suaminya cukup lama. kalau dia usir kedua wanita itu Joshua pasti akan marah besar padanya. Jesica menutup pintu rumah. dia tidak peduli lagi apa yang akan Joshua lakukan dengan wanita itu, dia tidak peduli, toh ini juga rumahnya, siapa Jesica yang bisa mengatur-ngatur hidup seorang ceo macam Joshua. Jesica berjalan melewati Joshua begitu saja, tujuanya adalah kamar, dia sudah lelah setelah seharian membereskan rumah dan menunggu Joshua, dia harus cepat-cepat tidur untuk memulihkan tenaganya kembali. "mau kemana?"sebuah pertanyaan dari Joshua menghentikan langkah kaki Jesica. Jesica membalikan badanya malas. "kamar." "kamar katamu? kau tidak lihat ada tamu di rumah ini? buatkan minuman untuk temanku lalu kau boleh tidur!!"bentak Joshua. Jesica mendesah pelan. kalau bukan karena jaminan uang rumah sakit dari ibunya Jesica tidak akan pernah sudi melakukan ini semua. "kenapa diam disitu saja, cepat buatkan!!" "baik tuan,"Jesica buru-buru lari ke dapur sebelum Joshua membentaknya kembali. "apa itu pembantu mu?"tanya Nina melirik ke belakang sekilas, melihat Jesica yang ada di dalam dapur. "dia jesica?" tanya Nina lagi sedikit penasaran, Joshua mengangguk sambil memainkan rambut Nina. Nina menyeringai"jadi dia yang namanya Jesica, beruntung sekali dia bisa tinggal dirumah sebesar ini." Nina mengedarkan pandanganya. sebelumnya Jhony sudah cerita banyak tentang Joshua, dia juga bilang tentang hubungan Joshua dan gadis bernama Jesica.mereka suami istri, tapi sepertinya Joshua membencinya, kata Jhony. dan sekarang Nina melihatnya langsung, Joshua memperlakukan istrinya seperti seorang pembantu. "Shua." "hmmm?" Nina memukul-mukul d**a Joshua, mulutnya mengerucut sempurna"sebaiknya aku pulang saja deh." "kenapa?" "aku rasa sepertinya pembantumu tidak menyukaiku,"ujarnya dengan nada sengaja di manja-manjakan. "kata siapa?" "lihat saja ke belakang, dia terus memperhatikan ku dengan tatapan marah. aku rasa dia menyukaimu." tutur Nina. Joshua langsung menatap ke belakang, memastikan apa yang di adukan Nina benar. saat itu Jesica tidak sengaja juga melihat kearah mereka. Joshua langsung menggeser Nina dari tubuhnya. dia langsung bangkit berdiri. "aku akan memperingatkanya."Joshua sudah hampir melangkah sebelum tangan Nina menyentuh tanganya. Dia mengeleng-geleng pelan"tidak usah, aku tidak apa-apa." Joshua tersenyum"kau memang wanita yang baik."dia menepuk-nepuk atas kepala Nina"tapi aku haris memperingatkanya, nanti dia jadi kebiasaan." Joshua melepaskan tangan Nina, dia menuju dapur dengan badan yang terhuyung-huyung. "ya! Jesica!" Nina mencoba menahan tawanya, semudah itu memancing kemarahan Joshua. dia menatap ke belakang, hendak menonton drama dari pasangan suami istri itu. "Jesica!"Jesica berjengit kaget. dia langsung mematikan mesin minumnya. "ya?" "apa kau tidak bisa sopan?"tanyanya tiba-tiba. Jesica mengerutkan dahinya. dia tau kalau Joshua mabuk, pertanyaan-pertanyaan aneh pasti terlontar. Jesica mengambil air hangat dengan campuran madu pada Joshua"minumlah dulu tuan, rasa mabuk mu akan reda." "aku bilang apa kau tidak bisa sopan?"tanyanya lagi. mencengkeram tangan Jesica erat membuat gelas di tanganya jatuh ke lantai, pecahan gelasnya hampir kaki Joshua kalau tidak langsung menghindar. Joshua menatap murka Jesica, dia mencengkeram tangan Jesica lebih erat"kau bernainya kau ingin mencelakai ku!" "aku tidak sengaja tuan, maaf kan aku." "berhenti menatap pacar ku atau ku kurung kau di bawah tanah." "aku tidak melihatnya". "tidak usah berbohong, jelas aku melihatnya." Jesica merespon bingung, padahal dia tidak menatap nina sama sekali. "aku benar-benar tidak menatapnya, aku berani bersumpah, aww tuan tolong lepaskan tanganku." mohon Jesica. "sekali lagi aku tau kau menatap Nina, aku akan membunuhmu,"ancam Joshua. setelah itu melepaskan tangan Jesica. "bersihkan lantainya juga."Jesica hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Setelah beberapa menit Jesica membereskan pecahan gelas di lantai, dan membuat air madu untuk Joshua, dia langsung berjalan ke tempat Joshua dan Nina. Jesica nenaruh dua jus jeruk dari nampan ke meja. "pembantu yang tidak sopan,"gumam Nina. Tapi Jesica masih bisa mendengar ucapan wanita itu"apa kau bilang?" "pembantu yang tidak sopan."ulang Nina sambil terkekeh. itu membuat kemarahan Jesica meluap. "shua,"Nina mengalihkan pandanganya pada Joshua"kakiku terasa sakit karena jatuh tadi pagi, apa kau bisa meminta pembantu mu untuk memijit kakiku."dia melirik Jesica dengan wajah menyebalkan. "oh tentu saja."Joshua mengambil jus jeruk miliknya"Jesica tolong pijat kaki Nina, lalu kau boleh tidur." Jesica mengepalkan kedua tanganya. dia ingin sekali memukul wajah wanita di depanya dengan nampan beberapa kali sampai dia hilang ingatan. tapi dia masih punya hati nurani. "kenapa masih berdiri, cepat!"tukas Joshua. "baik tuan."Jesica memajukan sofa di belakangnya, terpaksa membiarkan kaki wanita itu menindih pahanya. Jesica mulai memijit-mijit kaki Nina. "terimakasih nona Jesica,"ucapnya mengejek. Jesica mendegus, dia memijit-mijit kaki Nina, beberapa kali menekanya kuat-kuat. "aww, aww,"ringis Nina"kau bisa lebih pelan lagi, kau menyakiti kaki ku." "baik." Jesica terus memijit kaki Nina. harga dirinya seketika terasa runtuh. mana ada seorang istri yang mampu melihat suaminya b******u dengan orang lain tepat di depan matanya, dan dia hanya diam tidak bisa melakukan apa-apa. "kau mau?"tanya Nina mengangkat anggur yang sudah di sediakan diatas meja. Joshus mengangguk. "buka mulut mu."Joshua membuka mulutnya. "aaaa". CUP Nina mencium pipi joshua. jescia langsung mengalihkan pandanganya. dadanya sakit. dia tau kalau joshua tidak mencintainya, dan dia juga tidak mencintainya. tapi tetap saja, joshua tetap suaminya, dia tidak bisa melihat semua itu. "hehehehe."nina terkekeh"kau mau nona jesica?" tanyanya membuat jesica mengalihkan pandanganya kearah mereka kembali. Jesica menggeleng. "ah baiklah, aku akan menghabiskanya dengan joshua saja.buka mulut mu lagi sayang, aaaa." Jesica menghela nafas berat. kedua pupil mata hitamnya terus menatap Joshua yang tengah asik b******u ria dengan Nina. Walau Jesica belum mencintai Joshua sepenuhnya, tetap saja melihat suami b******u dengan wanita lain membuat hatinya teriris-iris, menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi, Jesica tidak bisa melakukan apa-apa, dia tidak bisa menyuruh Joshua untuk menghentikan semua ini, yang ada Jesica akan mendapatkan pukulan di wajahnya. jadi dia hanya membisu sambil menahan rasa sakit yang terus mengujam dadanya. "sebentar ya, aku akan kembali."ucap Joshua berdiri dari kursi. "jangan lama-lama ya, aku takut disini sendiri." "iya sayang." Nina mengalihkan padanganya kebelakang, melirik Jesica yang ada di dapur, mungkin selama Joshua pergi dia bisa bermain-main dengan istri bodoh Joshua. "hey siapa namamu?!"tanya Nina pada Jesica dari tempatnya"bisa kau bawakan aku air putih, aku haus!" Jesica tidak menjawab, dia mengambil gelas, lalu mengisi air di gelas itu sampai penuh, kalau ada racun tikus, sudah dia tambahkan kedalamnya. Jesica berjalan ke ruang tamu, dia menaruh minuman pesanan Nina diatas meja. Nina mengambil minumanya, menenggaknya sampai habis setengah. "katanya kau istri pemilik rumah ini, tapi kok malah terlihat seperti pembantu ya,"ledek Nina. Jesica tidak menggubris ucapan Nina, jangankan menggubris menatapnya saja sudah malas. "Jesica kau memang istrinya, tapi biar ku beritahu, walaupun kau istrinya kalau hati suamimu itu untukku, kau bisa apa,"ujar Nina bangga. "memang apa untungnya jadi simpanan, toh kalau dia bosan padamu, dia bisa kapan saja mencampakan dan meninggalkanmu, tapi dia tidak akan bisa meninggalkan istrinya begitu saja."tutur Jesica. "tapi dia tidak akan pernah mencintaimu."ucapan Nina telak menusuk hati Jesica. "aku akan membuatnya jatuh cinta, perlahan, bukanya cinta itu tumbuh karena terbiasa?" "aku istri sahnya, jadi rayu saja suamiku sampai dia tidak bisa melepaskanmu,"tambahnya,lalu setelah mengatakan itu Jesica berjalan lagi kembali ke dapur. Kedua tangan Nina menggepal erat, matanya menatap punggung Jesica tajam. tidak ada wanita yang berani melawanya sebelumnya, dan wanita itu sangat berani mengatakan itu padanya. Nina tersenyum simpul"coba kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan, aku akan membuat hidupmu sengsara, lihat saja." "sayang maaf kau menunggu lama." Nina tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya kelantai, alis Jesica berkerut tidak mengerti apa yang perempuan di depanya. "aww,"ringis Nina memegangi pipinya. "astaga Nina kau tidak apa-apa?"tanya Joshua panik menghampiri Nina. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Nina "aku tidak tau apa salah ku Shua, aku hanya ingin ambil es batu dan Jesica tiba-tiba mendorong ku." Joshua menatap tajam Jesica bagai elang. "ti..tidak, aku tidak mendorongnya, dia menjatuhkan dirinya sendiri,"ujar Jesica memberikan pembenaran. Joshua mencoba memapah Nina. "dia juga bilang 'aku istrinya, jadi coba saja goda dia jalang sialan." Nina mulai terisak, air mata kebohongan keluar sayu persatu membasahi pipi. Mata pria itu melotot tajam. seketika tubuh Jesica meremang, refleks dia memundurkan langkahnya saat joshua berjalan mendekat kearahnya. Tangan joshua menjambak rambut jesica kebelakang sangat keras,membuat wanita itu mendongak dan meringis kesakitan. "apa yang di katakan nina itu benar?" Jesica diam, lidahnya kelu, dia tidak tau harus menjawab apa. "braakkk" Joshua menghempaskan tubuh jesica ke dinding sangat keras,ujung jesica pelipis membentur dinding sangat keras.setetes cairan kental berwarna merah menetes di ujung pelipisnya. Pria itu mengangkat tubuh jesica,mencekik leher wanita itu sangat kencang,sampai kelabakan tidak bisa bernafas.tangan jesica mencoba melepaskan tangan joshua dari lehernya,tapi naasnya tenanga joshua lebih besar dari tenaganya. "akkhhhh...akkhh...". "bagaimana aku tidak mendengarnya?".tanya joshua dengan senyum iblisnya. "thhuu...aannn sakk....hit....". Kalo joshua tidak melepaskan cengkeraman dari lehernya,dia bisa mati kehabisan nafas. "sakit ya,hah,sakit?". Cengkeraman tangan joshua merenggang,jesica bisa sedikit merasakan oksigen masuk kedalam tubuhnya. "cepat ulangi kata-kata mu pada nina tadi?!!" "aku istri sahmu, aku hanya mengatakan itu,"cicit jesica. ini tidak akan baik, jesica baru saja menggali lubang kuburnya sendiri. Seulas senyum terlihat jelas di wajah Joshua. tapi senyum itu terasa mengerikan dimata Jesica. "istriku ya?" Jesica menutup matanya saat tangan Joshua terangkat dan ingin menampar pipinya. namun Jesica tidak merasakan apa-apa, dia perlahan membuka matanya. Zidan sudah berdiri di depanya, mencengkeram kuat tangan Joshua. "lepaskan tanganku."kata Joshua, wajahnya sudah bersungut-sungut marah. Karna mabuk tenaga Joshua melemah, bahkan untuk menyingkirkan tangan Zidan dari tanganya saja dia tidak kuat. "ku bilang lepaskan tanganku!" Zidan melepaskan tangan joshua, wajahnya yang tenang membuat emosi Joshua semakin menjadi, tapi dia tau situasinya tidak memungkinkan untuk menyerang Zidan, bisa-bisa dia yang babak belur. "kau tidak apa-apa nona Jesica?"tanya Zidan mencoba memapah Jesica. Jesica mengangguk-angguk kecil. Joshua berjalan kearah Jesica, Zidan buru-buru menarik perempuan itu dan menyembunyikanya di belakang tubuhnya. "hey gadis jalang dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak akan menganggapmu sebegaia seorang istri, dimataku kau hanya seorang pembantu. tidak-tidak kau terlalu bagus untuk ukuran pembantu, kau hanya sampah dimataku. jadi berhenti bertingkah laku seolah-olah kau istriku." "menjijikan." Joshua meludahi lantai di bawahnya"menjijikan." "ayo sayang."Joshua menarik tangan Nina untuk keluar dari rumahnya. Membiarkan Zidan dan Jesica yang sudah terkulai lemas di lantai yang menyengat tubuhnya. Jesica memeluk dirinya erat, tubuh wanita itu bergetar begitu hebat, darah di pelipis dan kedua lubang hidungnya menetes ke lantai. bersamaan dengan itu air mata yang turun tak terkendalikan. Rasa sakit, marah, sedih bercampur menjadi satu. apa dia diciptkan hanya untuk disakiti oleh Joshua saja, apa kebahagian sudah tidak mau memihak padanya, kenapa hidupnya jadi seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN