PENGASUH

2664 Kata
"Leon kau masih ingat om ini? Ayo cepetan salaman sama om." Sela mendorong anaknya sedikit ke depan. seorang anak laki-laki berkulit putih dengan mata sipit menunduk gelisah, dia sepertinya tidak ingin di titipkan. Sela adalah kakak sepupu Joshua dari keluarga ibu. Setiap dia menang arisan atau ingin kumpul-kumpul dengan teman-teman sosialitanya, dia selaku menitipkan anak laki satu-satunya bernama leon pada Joshua. Joshua memaksakan sebuah senyum, dia memang menyukai sosok anak-anak tapi anak ini, dua bulan yang lalu anak ini membuatnya tidak bisa tidur gara-gara terus-terusan menangis. "namanya Leon." "Leon?"ulang Jesica. Sela mengangguk "aku ada urusan penting, aku titipkan Leon padamu ya Shua, tenang saja ini tidak lama kok, nanti malam aku akan jemput Leon." "percayalah Leon bukan anak yang rewel,"tambah Sela. 'Bukan anak yang rewel? asal kau tau saja nona anakmu benar-benar menyusahkan,' misuh Joshua dalam hati. "Ah yasudah ya aku pergi dulu."dia duduk di depan anaknya. "Leon bersikaplah baik pada papah dan mamah barumu itu." Leon hanya mengangguk, kemudian wanita berambut pendek itu membungkuk sopan pada Jesica dan Joshua lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jesica tersenyum simpul dia duduk di depan anak itu, menyentuh pipi anak itu pelan. "Leon, tidak usah takut tante bukan singa yang menerkamu, ayo kita duduk di sana," ajak Jesica menunjuk pada sofa ruang tamu, lagi-lagi Leon hanya mengangguk kaku, wajah orang baru. Jesica membuka kulkas, mengambil beberapa ice cream strawberi miliknya yang dibelikan khusus dari nyonya Natalie. "ice cream manis untuk anak manis, ayo dimanakan." Leon tidak peduli dia masih diam, bahkan dia tidak berani mengangkat kepalanya. "Leon tau tidak cerita tentang ice cream ini?" Leon menggeleng pelan. "Leon ingin tante ceritakan?" Leon mengangguk. "Dulu ice cream ini adalah seorang putri yang san cantik....." Entah berapa lama Jesica bercerita yang pasti anak yang ada di depanya kini mulai mengambangkan senyumnya, bahkan sudah berani menantap Jesica dengan penuh tawa. "Lalu-lalu?"tanya Leon sudah tidak sabaran mendengar cerita selanjutnya. "Lalu bom!!"Jesica mengangkat tanganya kedepan, lalu merentangkan tanganya kesamping membuat Leon kaget. "putri cantik itu berubah menjadi ice cream, tapi sayangnya dia hanya menjadi ice cream cone." "Cone kasihan sekali putri itu, lalu ice cream ini berasal dari mana?"leon memangkat ice cream dalam mangkoknya ke depan. "Apa ya." Jesica mengetuk-etuk pelipisnya berfikir. Suara perut yang agaknya lapar terdengar jelas, Jesica menatap Leon lembut"sepertinya mama mendengar suara dari cacing-cacing di dalam perutmu." Leon terkekeh"mama Leon lapal." "Lapar rupanya, ayo kita ambil makan."Leon menggeleng. "aku ingin makan di lual" "Oh yasudah ayo kita ke tuan Joshua." "Maktudnya olang jailangkung itu kan?" Jesica mengerutkan sebelah alisnya"jailangkung?" Leon mengangguk "oh maksudmu jangkung ya." "Iya mama Leon takut, dia selem kaya monstel." bahkan anak kecil saja tau kalau Joshua it "Tidak usah takut dia baik,ayo". *** Joshua masih di sibukan dengan aktifitasnya, beberapa buku masih menumpuk di meja kamarnya. ya untunglah hari ini dia sibuk, kalau tidak dia harus menjaga anak itu seperti dua bulan lalu bersama Ellen, apapun itu apa untungnya menjaga seorang anak kecil, dia tidak bisa bercinta dengan Ellen karena anak itu terus-terusan merengek minta pulang. eh tapi, Joshua melihat kearah pintu kamarnya. tumben sekali, tidak ada suara berisik dari luar, atau Jesica sudah menidurkanya. ah tidak anak itukan tidak bisa tidur kalau bukan di rumahnya itu kata Sela sendiri. baru saja Joshua ingin mengecek tapi knopinya bergerak-gerak dan seorang pria kecil masuk, di belakangnya wanita muda menundukan kepalanya ke bawah. "maaf tuan, leon lapar, dia ingin makan" "Tuan?"Leon memandangi Jesica"mama kenapa panggil tuan panggil papa." "Leon..." "papa?"ucapan Jesica terpotong oleh Joshua, Joshua berjalan ke arahnya, dia duduk di depan Leon. "papah? Dan mamah? Leon mengangguk"kau ingin...." "Tuan itu..." Joshua mendelik ke arah Jesica, Jesica lagi-lagi kembali menundukan kepalanya, Joshua memegang dagu Leon lembut. "Kau memanggilku papa?"Jesica menutup matanya erat, entah apa yang Joshua lakukan pada anak itu setelahnya, dia tidak ingin melihatnya lagi. "Baiklah."Joshua berdiri"mah tolong gantikan baju leon dia sangat masam" Jesica tersentak, dia mengerutkan sebelah alisnya reflek menatap Joshua heran. "Apa aku salah?"tanya Joshua pada Jesica. "Ya papa calah,"jawab Leon lantang "Apa salah ku?" "Aku tidak acam, baju Leon wangi, coba cium aja." "Ya ya."Joshua berbalik "baiklah cepat siapakan diri kalian kita akan makan diluar,"ujar Joshua tanpa membalikan badanya dan berjalan ke arah kamar mandi. Joshua membuka pintu mobilnya, dia menggendong Leon dan Jesica buru-buru berlari mengikuti tuanya tapi tidak berani mensejajarinya. "Kenapa?"tanya Joshua tiba-tiba masih tetap berjalan, Jesica mendongak, ya tau sendirilah tubuh Joshua jauh lebih tinggi dari tubuh Jesica yang benar-benar mungil. "jangan melihatku seperti itu, selipkan tanganmu di lenganku,"perintahnya. "Tapi..." "Ayolah angga saja ini akting suami istri."Jesica mengangguk, dia menyelipkan tanganya di lengan Joshua karena kedua tangan Joshua menggendong Leon. Joshua menurunkan Leon, menaruh Leon di kursi, dan pria tiang itu duduk di depan anaknya-- titipan dari Sela. Jesica lebih memilih duduk di samping Leon, dia memangku pria kecil itu agar Leon bisa menyentuh meja besar di depanya. Joshua sengaja memesan meja tepat di samping jendela agar dia bisa melihat pemandangan dari luar dan melupakan pekerjaanya yang melelahkan itu. "Pelayan."Joshua melambai-lambaikan tanganya pada seorang pelayan. pelayan wanita berambut ikal datang menghampiri Joshua. "mau pesan apa tuan?"Joshua menatap Jesica dan Leon "kalian ingin pesan apa?" "Ice clem papa!"jawab Leon semangat, dia benar-benar senang hari ini. "Ice cream satu."pelayan itu menulis apa yang baru dia dengar "dan kau?" "Jus saja." "Kau yakin?" Joshua menyipitkan matanya, Jesica hanya mengangguk biasa sambil menundukan kepalanya. "Baiklah, ice cream dan jus stroberi."pelayan itu mengangguk dan meninggalkan tempat itu. "tuan tidak memesan?"tanya Jesica "Aku sudah makan" *** "ahh."Joshua menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, punggunya terasa sakit karena Leon terus ingin di gendong, kalau di gendong hanya masuk dan keluar restoran tidak masalah, setelah ke restoran tadi Leon meminta untuk mampir ke mall untuk jalan-jalan, dan hasilnya bocah kecil itu memoroti uang Joshua untuk membeli mobil-mobilan dan beberapa mainan tak berguna lainya. Jesica masuk kedalam rumah dengan menggendong Leon dan di tangan kananya terdapat banyak sekali plastik berisi mainan-mainan yang di beli Leon. Jesica menurunkan Leon. bocah itu menatap heran pada Joshua yang sudah terkapar di sofa sambil merentankan tanganya kesamping. "mama, mama."Leon menarik-narik ujung baju Jesica. "kenapa leon?"tanya Jesica setelah selesai menutup pintu. Leon menunjuk Joshua"papa kenapa?"tanyanya penasaran. Jesica mengalihkan pandanganya pada Joshua. pantas saja Leon heran, mulutnya terus misuh-misuh tidak jelas, dia pasti sedang mengumpati Sela karena menitipkan anaknya padanya. "Leon, papa kecapekan kayaknya, Leon jangan......" "oh tape, Leon tau bial papa ga tape lagi."tangan Leon yang kecil menggeret jari telunjuk Jesica kearah Joshua. Leon mencoba merangkak naik keatas tubuh Joshua yang kini tengh memejamkan matanya erat. Jesica menepuk keningnya keras, Joshua bisa memarahinya habis-habisan karena Leon yang menganggu istirahatnya. "leon ayo turun, jangan ganggu papah, sini main sama mamah,"bujuk Jesica, mencoba meraih Leon agar tidak menganggu Joshua, tapi terlambat, mata Joshua terbuka. Leon duduk diatas perut Joshua. jantung Jesica berdetak ketika kedua tangan kecil Leon menoel pipi Joshua. "apa yang kau lakukan Leon?"Leon tidak menjawab, dia mencium pipi Joshua. "Leon tayang papa cua."Leon memeluk tubuh Joshua, dia menyenderkan pipinya di d**a bidang Joshua. Bukanya marah Joshua malah tersenyum kecil, itu senyum pertama yang bisa Jesica lihat secara langsung, Jesica kira pria itu memang di takdirkan tidak memilik bakat tersenyum. "uhh kenapa kau sangat menggemaskan hah." Joshua mulai menggeletiki perut Leon, membuat bocah itu menggeliat dan tertawa geli. "cetop, cetop....hahahaha....cetop papa geyi....hahaha..." "apa kau bilang Leon, papah tidak bisa mendengarnya, hahahaha." Leon memukul-mukul d**a Joshua sekuat tenanga"cetop olang jaat.....hahahaha.....aku ultamen melah datang untuk memukulmu....hahaha." "kau ingin aku jadi penjahatnya ,baiklah." Joshua tertawa lebar, menggelitik Leon lebih keras sampai rasanya bocah itu tidak bisa menghentikan tawanya. Tanpa sadar Jesica menyunggingkan senyumnya melihat Joshua begitu bahagia bersama Leon. dia merasa dia benar-benar memliki sebuah keluarga utuh, Joshua sebagai papahnya, dia istrinya, dan Leon anak mereka,keluarga yang ingin dia milik selama ini. Joshua melirik Jesica, dia menggengam tangan Jesica tiba-tiba, membuat Jesica tersentak kaget. baru pertama kali ini Joshua menggenggamnya tanpa tenaga dan bentakan. "menyerahlah ulttamen merah, atau mamah mu aku makan." Leon menghentikan tawanya, dia mendelik Joshua tajam, bocah itu turun dari atas tubuh Joshua. dia melepaskan tangan Joshua dari Jesica. dia merentangkan tanganya kesamping di depan Jesica. "lawan aku dulu kalo mau makan mama." Jesica tertawa geli di depanya, dia ingin meremas-remas pipi bakpau Leon. Joshua tau apa yang harus dia lakukan, dia bangkit berdiri"oh baiklah aku akan menculik mamah mu." Joshua tiba-tiba saja membopong Jesica memanggulnya seperti seorang maling, membuat Jesica berteriak karena saking kagetnya. "apa yang tuan lakukan?" "mainkan saja peranmu." "hah?"kening Jesica mengernyit masih tidak mengerti apa maksud Joshua. "berteriaklah dan minta tolong." Sekarang Jesica maksud Joshua. "akkhhh, Leon tolong selamatkan mamah dari orang jahat ini, tolong," Teriak Jesica heboh sambil menunjuk-nunjuk Joshua penuh amarah. akting Jesica membuat Joshua tertawa geli "apa aktingku jelek tuan?" "kau hanya membuat perutku geli saja." Leon mengambil sebuah tembak-tembakan di dalam kantong plastik belajaan, lalu menodongkanya pada Joshua. "yepaskan mama ku olang jahat jelek bau balongsai." Kaki Joshua tersandung karpet di bawahnya, membuat tubuhnya terhuyung-huyung dan terjatuh kelantai bersama dengan Jesica. Joshua menindih tubuh Jesica yang ada di bawahnya, tangan kananya menjadi tumpuan kepala Jesica, untung saja Joshua sigap, kalau tidak bisa gagar otak Jesica karena kepalanya membentur lantai. "kau tidak apa-apa?".tanya Joshua khawatir. Jesica mengangguk-angguk ragu, sekarang bukan menghawatirkan keadaanya, tapi keadaan jantungnya. Wajah Joshua sangat dekat saat ini, mata hitam lekatnya membuat dia membeku di tempat, kedua hidung mereka saling bersentuhan, bahkan Jesica bisa mendengar dengan jelas deru nafas Joshua yang terdengar sangat seksi di telinganya. "ah maafkan aku."Joshua mencoba untuk berdiri. "aku akan menghukum mu, bocah nakal."tapi sebelum Joshua bisa bangun, Leon tiba-tiba saja naik keatas punggungnya, membuat kedua tangan yang menopangnya terpeleset. tubuhnya kembali jatuh menubruk Jesica. Mata mereka berdua terbelalak lebar, Jesica menelan ludahnya berat. kedua bibir mereka kini sudah menyatu dengan sempurna, rasanya seperti ada sengatan listrik tegangan tinggi menjalari tubuh mereka. Joshua buru-buru bangkit berdiri, dia menurunkan Leon dari punggungnya."main-mainya susah selesai." katanya dingin, kemudian naik keatas tangga. "papa kenapa ma?"tanya Leon. Jesica duduk, pipinya terasa begitu panas, jantungnya masih tidak terkontrol dengan baik, dia menyentuh bibirnya pelan "apa ini rasanya ciuman pertama, kenapa rasanya aneh seperti ini." *** Tokkk...tokkk..tokkk... Leon mengetuk pintu kamar Joshua. tidak lama berselang pintu kamar terbuka. Joshua melirik Jesica sekilas, kemudian dia mengalihkan pandanganya pada leon di depan Jesica. "kenapa lagi?" "papa malah sama Leon?" "ga,"jawab Joshua acuh. "tapi itu malah." Joshua memutar bola matanya malas "engga Leon, sekarang Leon maunya apa?" "Leon mau tidul sama papa." Joshua berfikir sejenak, sebenarnya tidak terlalu masalah untuk Joshua berbagi tempat tidur dengan bocah ini, tapi kalau tiba-tiba dia merengek minta pipis tengah malam dan membangunkan Joshua, itu membuat jam tidurnya bisa rusak. "yasudah, masuklah."final Joshua, memang tidak ada pilihan lain, Joshua membuka pintunya lebar. "ayo mama." Leon menarik jari jemari Jesica masuk kedalan kamar. "Leon tunggu." Leon berhenti "kenapa mama Cica?" Jesica mengelus lembut rambut Leon, dia tidak bisa bilang pada Leon kalau dia tidak diizinkan masuk oleh Joshua, Leon akan mencecarinya dengan banyak pertanyaan nanti.jesica mengedarkan pandanganya mencari sebuah alasan,ah dia tau. "mamah cica tidak bisa tidur dengan AC, nanti mamah uhuk-uhuk, jadi leon saja ya yang tidur disini,,kalau leon butuh mamah, kamar mamah ada di paling ujung." Leon menberenggutkan mulutnya "ga mau, leon mau tidul cama mama Cica juga, papa." Leon melihat Joshua. "ya?" "apa papa bisa matiin acnya, kacian mama Cica, ya pa,"mohon Leon. "tapi Leon nanti kalo ga......." "kau boleh tidur disini,"potong Joshua. "tapi hanya untuk hari ini,"tambahnya. "yeyyyy!!"Leon mengangkat tanganya keatas kegirangan"mama Cica tidul cama Leon." Leon mencoba naik keatas ranjang yang tinggi, dia sedikit kesusahan. Jesica membantunya. "makaci mama Cica". Leon tidur di posisi tengah, dia menarik selimut sampai keatas d**a, lalu memejamkan matanya erat, anak pintar yang bisa tidur dengan cepat. Joshua mengambil remot ac di atas nakas. "kau benar-benar tidak bisa tidur tanpa ac?"tanya Joshua, dia ternyata percaya dengan ucapan Jesica tadi. "tidak kok tuan." "oh." Joshua melemparkan remot ac ke Jesica "kecilkan saja kalau nanti malam kau merasa kedinginan." Setelah mengatakan itu Joshua berbaring diatas ranjang, membelakangi Jesica. Jesica juga mulai membaringkan tubuhnya,dia memeluk lembut leon di sampingnya.lalu kemudian memejamkan matanya. *** Malam semakin larut, Leon mengucek-ucek matanya, dia melihat Jesica, dia tidur memunggunginya. Leon naik keatas tubuh Jesica, dia pindah di paling pojok, Leon menarik tangan jesica agar memeluknya. setengah sadar mengetahui Leon, Jesica memeluk tubuh anak itu. mereka kembali tidur setelah itu. Joshua beringsut, malam ini begitu dingin, dinginya sampai masuk ke tulang rusuk. dia membalikan badanya, menarik selimutnya sampai sebatas d**a. tangan panjangnya memeluk tubuh Jesica disampingnya, mungkin dia fikir itu guling. "kenapa dingin sekali sih,"misuhnya dengan mata masih terpejam dan setengah sadar, dia mengeratkan pelukanya pada Jesica. *** Joshua mengerjap-erjapkan matanya pelan, seseorang sudah membuka gorden kamarnya, membiarkan sinar matahari masuk kedalam kamar besar itu. "jam berapa ini?".tanyanya masih diambang sadar. Dia bangkit duduk. Seorang wanita duduk di sofanya, memangku seorang anak yang sedang dia sisiri. "jam setengah delapan tuan."jawab Jesica setelah melirik jam dinding diatas sana. Joshua bangkit duduk diranjangnya, penampilanya sangat berantakan, rambut-rambut yang selalu ditata rapi kini seperti tersengat listrik, mengangkat keatas. Leon tertawa melihat Joshua"hahahahaha lambut papa lucu cekali hahahahaha,"Kekehnya, membuat Jesica ikut terkekeh. "ini itu tren Leon, tren rambut 2021, anak kecil kaya kamu ga bakal ngerti tren,"kilah Joshua beralasan. "tlen itu apa mama?" "tren itu apa ya? ah nanti kalo Leon udah gede Leon juga bakal tau." "cih bocah serba ingin tau,"dengus Joshua. "Leon sudah kau mandikan?"tanya Joshua mengambil hpnya dari atas nakas. ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Nina, dia menaruh hpnya di nakas lagi. "cudah dong emangnya papa, beyum mandi, ih joyok, bau."Leon menutup hidungnya dengan tangan. "ambilkan aku handuk itu."Joshua menunjuk handuk di kastok. Jesica mengangguk. "sebentar ya Leon mama ambil handuk dulu." Jesica berdiri, berjalan mengambil handuk, lalu memberikanya pada Joshua. Jesica hendak berbalik tapi tangan Joshua menyentuh tangannya, dia membalikan tubuhnya kembali menghadap Joshua. "ya tuan?" "aku juga ingin dimandikan." Jesica diam, pipinya bersemu merah, apa dia tidak salah dengar. apa Joshua sedang bercanda. "kenapa, Leon saja bisa kau mandikan, masa aku suamimu tidak bisa." "......." "yasudah kalau tidak mau, aku bisa mandi sendiri," Rajuk Joshua, berjalan kesal masuk kedalam kamar mandi, dia membanting pintunya pelan. Satu jam telah berlalu, Joshua turun dari kamar, menemui Jesica dan Leon yang sudah ada di ruang tv, menonton kartun kesukaan Leon. "ibunya belum datang?"tanya Joshua, duduk di samping Jesica. baru kali ini Joshua duduk sedekat ini dengan Jesica, rasanya sedikit canggung. "belum, tapi sepertinya sebentar lagi......" Ding....dongg... Joshua menggendong Leon"ayo kita berikan bayi menyebalkan ini ke ibunya." "kenapa kau diam disitu, ayo." Jesica mengangguk, dia berjalan di belakang Joshua. Joshua membuka pintu rumah, benar saja Sela sudah ada di luar. "oh Leon sayang, ayo kita pulang." Sela mengambil Leon dari gendongan Joshua. "dimana kau dapatkan Leon, aku juga mau yang seperti itu,"ujar Joshua enteng. Jesica mencoba menahan tawanya, bisa-bisanya seorang ceo besar sepolos itu. "kenapa, kenapa kau tertawa, apanya yang lucu?" "kamu yang lucu Shua, masa iya aku beli Leon di pasar ikan, ga mungkin banget. aku buat sendiri tau." "bagaimana, bagaimana cara membuatnya?" Sela melirik Jesica"kau bisa tanyakan pada istrimu." Jesica menunduk malu, kenapa obrolanya tiba-tiba jadi dewasa seperti ini. "yasudahla itu masalah kalian berdua. Leon sayang ayo bilang terimakasih papa dan mama mu." Leon mengecup pipi Jesica"Leon cayang mama Cica." "mama Cica juga." "hey kau tidak ingin menciumku juga?"protes Joshua. Leon menggeleng cepat"ga mau, papa cua bau." "oh beraninya kamu" cup Leon mendaratkan bibirnya di pipi Joshua"Leon juga cayang papa cua." Joshua mencubit dua pipi Leon gemas"kenapa kau begitu menggemaskan." "terimakasih ya Shua, Jesica, sudah merepotkan kalian dengan Leon. besok-besok aku akan merepotkan kalian lagi." Sela berbalik. "dadah papa,.mama, dadah."Leon melambai-lambaikan tanganya. Joshua terus menatap Leon sampai anak kecil itu masuk kedalam mobil, dia melambaikan tanganya saat Leon melambaikan tanganya ke arah mereka. Ternyata mengurus anak semenyenangkan itu ya, Joshua melirik Jesica di sampingnya, dia jadi ingin punya anak. "hey."Joshua menyenggol bahu Jesica"ayo kita buat anak." "......"Jesica terdiam, pernyataan apa ini, dan jawaban apa yang tepat untuk Jesica lontarkan. "emm, maksudku aku ingin punya anak." "......" "punya anak bukan dengan mu." Joshua berbalik, berjalan keatas tangga meninggalkan Jesica, dengan pipi yang kini semerah tomat. apa dia tadi tidak salah dengar, Joshua bilang dia ingin buat anak, punya anak, dia hampir melayang mendengar itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN