JEBAKAN

1846 Kata
Joshua menjatuhkan tubuhnya diatas sofa putih empuk, dia mendongak, memejamkan matanya rapat dan menghela nafas panjang"akhirnya." Nina hanya terkekeh meilihat Joshua yang agakanya kelelahan, dia menutup pintu apartemenya dengan kaki, karena kedua tanganya penuh dengan paper bag, paper bag warna warni berisi alat-alat make up, baju-baju baru, dan semua hal yang dia inginkan. Beberapa jam yang lalu, Joshua mengajak Nina ke mall untuk makan malam dan belanja apapun yang Nina mau sebagai tanda terimakasih karena mau menjadi temanya. dan sekarang mereka berdua berada di apartemen Nina, apartemen yang tidak terlalu mewah tapi sangat nyaman. Rencananya Joshua ingin menginap dua sampai tiga hari disini, dia hanya muak pulang kerumah, wajah Jesica selalu saja membuat tekanan darah tingginya naik. dia tidak peduli apa yang akan Jesica adukan pada mamahnya, yang penting dia bisa terhindar dari wanita itu beberapa hari ini, selamanya kalau perlu. "kau ingin minum apa?"tanya Nina menaruh paper bag, paper bag itu diatas kasur. "aku tidak ingin minum apapun,aku hanya ingin cepat-cepat tidur, tidak ku sangka jalan-jalan di mall sekecil itu bisa membuat lelah,"gerutu Joshua. Pantas saja lelah, Nina mengunjungi hampir semua toko di dalam mall, belum lagi mereka harus terus berputar-putar di dalam mall hanya untuk mencari baju yang pas untuk Nina. dan Joshua juga bertugas membawa semua belanjaan Nina yang sudah seperti gunung. Nina terkekeh kecil, dia berjalan kearah Joshua, berdiri di belakangnya"baiklah, baiklah aku minta maaf. sini biar ku pijit bahumu biar tidak pegal." Nina memijit pelan bahu Joshua, membuat Joshua tersenyum senang karena merasa di perhatikan. "kau memang gadis berhati malaikat ya." "kau terlalu berlebihan."pipi Nina merah seketika "entah sejak kapan aku tidak mendapatkan pujian seperti itu, sudah lama sekali." "sekarang kau yang terlalu berlebihan." Nina sungguhan, selama dia pacaran dengan Jhony dia sama sekali tidak peenah di perlakukan manis oleh pria itu. bukanya di perlakukan manis dia malah banyak di perlakukan kasar olehnya. Joshua dan Jhonny adalah dua orang yang sangat amat jauh berbeda, dan kalau saja Nina bisa memilih, dia akan memilih Joshua ketimbang pria kasar itu. Joshua meneggakan tubuhnya, dia mengalihkan pandangannya pada Nina. "oh ya tadi kau tadi belanja apa saja di mall, coba biar ku lihat."Joshua mencoba mengalihkan pembicaraan. Joshua mengambil salah satu paper bag pink polkadot, paper bag yang paling mencolok dari yang lainya. Dia mengeluarkan pakaian-pakaian yang ada di dalam. isinya hanya pakaian ketat dan beberapa pakaian dalam, aja juga lingeria putih di bagian paling bawah. "ini untuk apa?"Joshua menenteng lingeria di depan Nina, membuat Nina malu dan langsung merampasnya dari tangan Joshua. Joshua memang terkenal kejam dan brutal, tapi sebenarnya dia adalah pria yang polos, sangat polos sampai di ciuman pertamanya dengan Ellen saja dia hampir pingsan dan tidak bisa tidur semalaman, sedangkan Ellen malah tidur dengan nyenyak disana. "itu pakaian tidur, aku tidak bisa tidur dengan pakaian panjang dan tebal, makanya aku membeli ini."Nina menunduk malu. "apa kau bisa pakai itu untukku malam ini?"tanya Joshua polos. "kau ingin aku memakainya?" "ya, memangnya kenapa, tidak boleh?" Nina menggeleng cepat"tidak, tidak, aku membeli pakaian ini dengan uangmu, masa aku menolak permintaanmu, aku tidak sekejam itu."Nina bangkit berdiri"aku akan pergi untuk berganti pakaian." "jangan lama ya."Nina mengangguk, lalu berjalan ke kamar mandi. tik, tok, tik, tok Entah berapa kali Joshua melirik arloji di tanganya, mungkin hampir sepuluh kali. sekarang sudah jam setengah sepuluh malam, tadi dia sampai ke apartemen jam sembilan, sudah setengah jam sendiri Nia di kamar mandi. "apa kau sudah selesai?!"teriak Joshua. "ya, aku sudah selesai." Pintu kamar mandi terbuka, Joshua membalikan badanya. matanya terbelalak lebar saat Nina keluar dari sana. Nina menutupi d**a dan bagian bawahnya dengan tangan, dia menunduk malu"jangan melihat ku seperti itu." Nina hanya memakai gaun selutut dengan rumbai-rumbai di bawahnya, yang membuat Joshua tercengang adalah gaunya yang transparan membuatnya bisa melihat pakaian dalam Nina yang telihat sangat jelas di matanya. "maafkan aku kalau ini menganggumu, aku akan menganti....." "tidak usah,"potong Joshua masih melamun"oh maksudku aku haus, tolong ambilkan minum." "Joshua aku tidak bisa pergi kemana-mana untuk membeli minum dengan pakaian seperti ini." "lalu bagaimana dengan itu?"Joshua menunjuk deretan botol bir di bawah televisi Nina. Mampus, Nina lupa untuk membuang botol-botol bir yang dia habiskan dengan Jhony. Jhony sialan, kalau begini joshua pasti akan beranggapan yang tidak-tidak padanya. "ah itu milik kakak ku, di rumah kakak ku tidak boleh minum bir jadi dia selalu membawa bir kesini dan meminumnya disini, dia selalu lupa untuk membuangnya." Joshua berdiri dari kursinya, dia berjalan dan mengambil dua botol bir-nya."aku akan membayar dua botol ini pada kakakmu?" "kau mau minum bir?" "tentu saja." "mari kita buat pesta."Joshua mengangkat botol itu keatas. "baiklah, baiklah,tapi jangan terlalu banyak ya." "siap nona Nina."Joshua menempelkan tanganya di pelipis, gerakan hormat. Nina terkekeh kecil, dia duduk di samping Joshua, membuka tutup botol, lalu menuangkanya di dalam gelas kecil diatas meja, gelas yang selalu dia siapkan setiap kali minum dengan Jhony. Nina memberikan gelasnya pada Joshua. Joshua menenggak gelas birnya, Nina juga. "dia itu gadis yang menyebalkan, dia berperilaku seakan-akan dia majikan disana, aku membencinya, aku sangat membencinya,"celoteh joshua kesal".tolong tuangkan ke gelasku lagi." Nina terkekeh, dia menuangkan bir kedalam gelas joshua untuk kesekian kalinya"kenapa kau tidak menceraikanya saja?". "apa? menceraikanya? kau serius bertanya seperti itu?" Joshua mulai melantur"kalau aku bisa menceraikanya aku sudah melakukanya sebelum takdirku di bentuk. dia bermain curang, aku tidak menceraikanya karena kalau aku melakukanya aku tidak akan mendapatkan harta sepeserpun dari si tua bangka joel grup, em....tapi sekarang aku rasa aku sedikit menyukai gadis itu, kau tau tubuhnya sangat enak, dia cukup seksi untuk ukuran pembantu." Entah kenapa d**a Nina terasa sesak mendengar ucapan Joshua, apalagi mengetahui fakta dia mengucapkanya dalam keadaan mabuk, orang mabuk biasanya selalu jujur. "berikan aku lagi, cepat!"Joshua menyodorkan gelasnya. pria ini ternyata sudah cukup kuat minum alkohol. Joshua menenggak birnya lagi, dia menggertak gelasnya diatas meja, lalu pria itu terkulai lemas. dia benar-benar mabuk. Sekarang Nina tau apa yang harus dia lakukan. Nina bangkit berdiri, dia duduk di pangkuan Joshua dengan menghadap kearah Joshua. Nina menyentuh pipi Joshua lembut. "apa yang kau lakukan, hah?" Nina tersenyum kecil"kau akan tau sayang."dia mencium bibir Joshua ganas, Joshua sedikit tersentak, tapi karena mabuk dia seperti menghiraukanya. Nina melingkarkan tangan joshua ke pinggulnya, dia mencium Joshua secara brutal, pria di bawahnya juga tak kalah brutal. "bersiaplah, dan desahkan namaku dengan lembut sayang."Joshua tersenyum nakal. dia tidak dapat menahan hasratnya, pria itu mengangkat tubuh Nina. menggendongnya seperti seekor koala, berjalan ke kasur. Joshua menjatuhkan tubuh Nina ke kasur. dia melepaskan satu persatu kemejanya. *** "ambilkan air,"pinta Zidan pada Arimbi. Arimbi mengangguk, dia berjalan kesalam dapur. Zidan mulai membersihkan luka Jesica dengan kapas yang sudah dia beri obat merah. Jesica meringis, kukitnya terasa terbakar saat kapas itu menyentuh lukanya. "maafkan aku nona." "aku istri yang buruk,"racau Jesica dengan pandangan kosong. tidak tau kenap "tidak nona." "aku tidak akan pernah menjadi istri yang baik untuk joshua, aku hanya benalu di hidupnya, benarkan Zidan." "nona jesica." "joshua benar-benar pria paling tidak beruntung di dunia karena menikah......" GREBBB tubuh Jesica meneggang saat Zidan tiba-tiba saja memeluknya erat. Seluruh tangisanya kembali pecah. Sebanyak apapun Jesica menyembunyikan masalahnya, dia tetap manusia dia tidak setegar malaikat, dia juga bisa menangis, dia juga bisa lelah. "hikssss....hiksssss.....hikssss..." Walau canggung Zidan terus mengelus lembut punggung Jesica. Dia bingun cara menenangkan orang menangis, karena dia tidak pernah diajarkan tentang itu. Arimbi menghentikan langkahnya saat tau Zidan tengah memeluk tubuh Jesica. walau dia tau Zidan memeluk Jesica hanya untuk membuatnya lebih tenang, tapi tetap saja hati Arimbi terasa terbakar melihat ini, ini terasa menyakitkan walau dia tau Zidan juga bukan siapa-siapanya dan dia tidak punya hak untuk cemburu. "kenapa kau diam disitu?"ucapan Zidan membuyarkan lamunan Arimbi. Arimbi berjalan kearah mereka dan menaruh air mineralnya diatas meja"diminum nona." "nona Jesica sudah makan?"tanya Zidan pada Arimbi. Arimbi menggeleng lemah"belum, dia menunggu tuan Joshua pulang untuk melihat tuan Joshua makan, eh nenek lampir tulang semua itu malah ikut pulang denganya. Kalau tadi aku tau dia semena-mena dengan nona Jesica sudah ku pelintir leher hitamnya itu,"beo Arimbi. Jesica terkekeh kecil melihat wajah Arimbi yang kesal dan terlihat lucu. Dia lalu mengalihkan pandanganya kembali pada Zidan"makanlah disini dulu sebelum pulang, Arimbi masak banyak hari ini, kau tau makanan Arimbi enak sekali kau akan ketagihan kalau memakanya." "mungkin lain kali." "ini perintah Zidan, aku tidak ingin menolaknya." Zidan menghela nafas, sebelum akhirnya dia mengangguk. Jesica menyeka air mata yang masih tersisa di bawah peluk matanya. Hatinya masih sakit, dadanya masih sesak, tapi menangisi Joshua seharian tidak akan membuat Joshua kembali padanya dan meninggalkan Nina. Dia harus menerimanya, dia harus menerima pahit manisnya pernikahan kotrak ini. *** drrtt, drrtt, drrttt. Suara ponsel Nina bergetar diatas nakas, setengah sadar dia menggerayangi nakas"siapa sih malem-malem begini." Nina mengucek-ucek matanya, tidak ada sedikitpun niatan untuk bangun. dia menatap layar ponselnya. sebuah pagilan dari 'baby Jhony'. Dia berdecih, padahal baru jam tiga subuh, tapi pria itu sudah menganggu tidurnya. Nina mengangkat panggilanya, dia menaruh hpnya di telinga"ya...." "kau ini tuli atau apa, aku sudah menelfonmu puluhan kali bodoh kenapa kau baru mengangkatnya sekarang kau ingin mati jalang sialan!!" Nina menjauhkan ponselnya dari telinga. kupingnya bisa berdarah kalau terus begini. "aku menaruh ponselnya di laci, jadi tidak kedengaran,"kelekar Nina bohong. "yasudah cepat bukakan pintunya sekarang, aku sudah ada di depan apartemen mu." Nina mendengus, walau malas dia tetap berjalan untuk membukakan pintu. Nina mengambil piyama di kastok dan memakainya. Nina membuka pintu, dua orang sudah berdiri di depan pintunya, pria tinggi berkulit eksotik, siapalagi kalau bukan jhony. dan seorang pria kecil berwajah dingin membawa tas slempangan. "masuk."Nina membuka pintu lebih lebar. Jhony dan pria kecil itu masuk kedalam apartemen Nina. "kenapa kau la....." "sssttt."Nina menaruh jari telunjuknya di depan bibir"kau bisa mengecilkan suaramu, Joshua bisa bangun bodoh." Jhony mendelik tajam, tapi dia tidak melakukan apapun di situasi seperti ini. "kau sudah memberikannya obat tidur?"tanya Jhony. "ya." Tadi saat Joshua mabuk berat dan sudah kehliangan separuh kesadarnya dia diam-diam memasukan obat tidur di gelasnya. "bagus."Jhony menyalakan lampu apartemen, dan dia bisa melihat seorang pria di balut selimut tidur diatas kasur, penampilanya sangat berantakan. Pakaian Nina dan Joshua terlihat berceceran dimana-mana. "kau memang gadisku yang pintar."Jhony mencium kening Nina. Nina mencoba menyembunyikan senyumanya, dia melepaskan piyamanya. lalu naik keatas kasur "cepat selesaikan urusanmu aku ngatuk ingin tidur." Nina mendekatkan keningnya hingga bibir Joshua menyentuh keningnya. dia melakukan berbagai pose sampai Jhony bilang kalau itu susah cukup. Nina kembali memakai piyamanya. dia membukakan pintu apartemenya"cepat keluar." "jhony,"panggil Nina. "hmm?" "apa ini tidak terlalu keterlaluan untuk Joshua?" "kau bilang apa?"Jhony melangkah selangkah ke depan Nina, refleks Nina mundur selangkah ke belakang"keterlaluan katamu?" "dia sudah membunuh kedua orang tua ku, merebut pacarku dan membuat ku hidup menderita, harusnya aku buat dia mati sekalian." "oh atau kau sudah mulai mencintainya?"tunjuk Jhony menunjuk pacarnya penuh selidik. Nina tertawa, dia menepuk lengan Jhony untuk meredamkan amarah pria tersebut"mana mungkin aku jatuh cinta pada musuhmu, hahaha Jhony sayang dia bukan tipe ku kau tau." "baguslah, awas saja kalau sampai aku tau kau diam-diam mencintai Joshua, akan ku cincang tubuhmu, mengerti jalang?!" Setelah mengatakan itu Jhony berjan begitu saja bersama dengan fotografernya meninggalkan apartemen Nina. "maafkan aku Jhony sayang, sayangnya aku sudah mencintai Joshua." ujung bibir Nina terangkat menatap pundak Jhony sampai pria itu hilang di telan pintu lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN