Dewa sangat terkejut ketika melihat Arsyana jatuh pingsan dengan luka lebam di seluruh wajahnya. Tidak hanya itu saja, hidung dan bibirnya juga mengeluarkan darah segar karena tinjuan dan pukulan yang dia lakukan kepadanya.
Dewa lalu berdiri dari atas tubuh Arsyana sambil menjambak rambutnya secara kasar. “Argh. Apa yang sudah aku lakukan?” ucapnya.
Dewa yang kalut bukannya membantu Arsyana mengobati lukanya malah memilih pergi berangkat ke kantor seperti biasanya.
Sedangkan Arsyana pingsan sendirian dengan wajah penuh luka tiada orang yang peduli, terutama suami yang terkasih.
Cukup lama Arsyana pingsan. Dia tersadar ketika ponsel yang ditaruh di atas meja samping ranjang terus berbunyi. Suara dering ponsel akhirnya menyadarkannya.
Tuhan Maha baik kepada Arsyana. Walau dia sudah babak belur di tangan Dewa, tapi dia masih bisa bertahan sampai detik ini.
Kepala Arsyana terasa sangat sakit sekali karena hantaman pukulan tangan yang Dewa berikan kepadanya. Dengan gerakan perlahan Arsyana mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
“Halo, Tuan Pendi.” Ternyata yang menelpon adalah sang atasan.
“Arsyana. Kamu ada di mana? Ko’ belum sampai juga,” ucap tuan Pendi.
“Maaf, Tuan. Ada sedikit masalah. Saya akan datang sedikit terlambat,” jawab Arsyana.
“Iya sudah tidak apa-apa. Saya akan menunggu,” kata tuan Pendi lalu sambungan teleponnya terputus.
Arsyana berusaha bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandinya. Arsyana cuci muka dan membersihkan darah yang ada di wajahnya.
Arsyana menahan rasa perih yang dirasa karena selain perih, wajahnya juga terasa ngilu. Selesai cuci muka Arsyana berjalan ke arah meja riasnya. Dia menangis melihat wajahnya yang cantik nan mulus harus penuh luka yang membiru.
Arsyana menahan rasa sakitnya dan air matanya untuk memakai make up menutupi semua lukanya. Dirasa sudah cukup pas, Arsyana lalu berangkat bekerja sambil memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Sesampainya di kantor Arsyana langsung menuju ke ruang kerjanya dan melapor kepada tuan Pendi.
“Tuan,” sapanya.
Tuan Pendi mendongak menatapnya. “Kenapa kamu pakai masker, Arsyana?” tanyanya.
“Apa kamu sedang sakit?” tuan Pendi menatap Arsyana.
Arsyana yang ditatap seperti itu tidak berani mendongak memperlihatkan wajahnya dan memilih menundukkan kepalanya.
Tuan Pendi lalu mendekatinya dan berdiri di depannya. “Arsyana. Lihat ke arah saya,” ujarnya yang merasa aneh dengan sikapnya.
Arsyana mendongak menatap tuan Pendi. Tuan Pendi bisa melihat sendiri jika dari dekat ada luka memar di sudut matanya. Dengan secara kasar tuan Pendi melepaskan masker yang Arsyana pakai dan alangkah terkejutnya tuan Pendi ketika melihat wajah Arsyana penuh luka lebam.
“Arsyana. Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu?” tanya tuan Pendi.
“Apa suamimu?”
“Jawab Arsyana!” tegas tuan Pendi.
Dengan ketakutan dan sambil menahan air matanya Arsyana menganggukkan kepalanya.
“Arsyana. Kamu harus melaporkan hal ini kepada kepolisian karena sudah termasuk KDRT. Tapi sebelum itu kamu harus melakukan visum supaya mendapat bukti yang akurat,” ucap tuan Pendi.
“Tapi saya takut, Tuan,” kata Arsyana.
“Tenanglah. Saya bersamamu, saya tidak akan membiarkanmu terluka karena suamimu yang banci itu.” Kata tuan Pendi.
“Ayo sekarang saya antar kamu ke rumah sakit.”
“Bagaimana kalau nyonya Ratna salah sangka sama saya, Tuan. Saya tidak mau dituduh sebagai perusak rumah tangga orang lain,” ucap Arsyana.
“Tenanglah. Kita akan ke rumah sakit tempat istri saya bekerja. Biar dia yang membantumu untuk melakukan visum,” jawab tuan Pendi.
Dengan segala pertimbangan akhirnya Arsyana mau diajak ke rumah sakit oleh tuan Pendi. Mereka berdua satu mobil dengan salah satu sopir kantor yang mengantar mereka.
Selama di perjalanan baik Arsyana dan tuan Pendi tidak banyak berbicara. Mereka memilih diam karena ada sang sopir di antara mereka. Dan sesampainya di rumah sakit, Pendi bersama Arsyana langsung masuk ke dalam.
Kita beralih scene kepada Dewa.
Akhirnya Dewa sampai juga di hotel tempatnya bekerja. Dewa menjadi manajer hotel di situ dan Dwi adalah sekretarisnya.
Hubungan yang awalnya sebatas rekan kerja, sekarang berlanjut menjadi rekan ranjang yang saling memuaskan. Semua itu berawal dari Dwi yang terus gencar menggoda Dewa hingga akhirnya dia tergoda.
Di saat Dwi melihat Dewa sudah sampai di ruangannya, dia langsung mendekatinya. “Mas Dewa,” sapanya.
Dewa tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat gundah dan gusar. “Ada apa sih pagi-pagi sudah lusuh begini wajahnya? Apa semalam kurang?” ucap Dwi sambil duduk di pangkuannya.
“Jangan ganggu Mas dulu, Dwi,” kata Dewa.
“Kenapa Mas Dewa mengusir Dwi sih,” Dwi merajuk manja.
“Padahal ada sesuatu yang ingin Dwi tunjukkan kepada Mas Dewa,” ucapnya lagi sambil menatap tajam kepada Dewa.
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepada Mas, Dwi?” tanya Dewa.
“Nih lihatlah!” Dwi memperlihatkan sebuah testpack kepadanya.
Mata Dewa melotot lebar sekali. “Ini … “ tunjuknya dengan tangan gemetar.
Dwi tersenyum. “Seperti yang Mas dewa harapkan. Bukankah Mas Dewa sudah ingin punya anak?” Dwi mengusap manja perutnya.
Dewa berdiri dari duduknya lalu mendekatinya dan mengusap perutnya. “Kamu beneran hamil?”
Dwi mengangguk. “Iya, dong. Masa hamil bohongan.”
“Dwi ingat jika belum datang bulan, iseng cek ternyata hasilnya dua,” jelas Dwi.
Dewa sangat senang sekali lalu membawa Dwi ke dalam pelukannya. “Ayo kita periksa ke rumah sakit sekarang juga.”
“Kamu sama calon anak kita harus mendapatkan yang terbaik. Mas sudah tidak sabar menunggu dia lahir,” ucap bahagia dari Dewa dengan bibir yang tersenyum lebar.
Dwi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepadanya. Entah alasan apa yang mereka berikan kepada staf yang lainnya namun yang pasti Dwi bersama Dewa bisa pergi ke rumah sakit saat ini juga.
Di dalam mobil perjalanan menuju ke rumah sakit, Dwi terus mengusap perutnya sambil tersenyum senang. “Setidaknya jika aku bersama mas Dewa, dia akan menuruti semua keinginanku dan anakku tidak akan kekurangan apapun yang diinginkan.”
“Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahukan kepada mas Dewa, jika sebenarnya bayi ini bukanlah anaknya, melainkan anak mantan kekasihku yang tidak mau bertanggung jawab dua bulan yang lalu ketika tahu aku sedang hamil.” Batinnya lagi.
Ternyata plot twist sekali. Kehamilan yang Dwi tunjukkan kepada Dewa, bukanlah anak kandung Dewa. Sungguh sangat lucu sekali jika Dewa mengetahui anak yang sangat dia harapkan kelahirannya bukanlah anak kandungnya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit Dewa langsung mengajak Dwi masuk dan antri di poli kandungan untuk memeriksakan kehamilannya.
Dwi tidak merasa takut jika nanti usia kehamilannya lebih tua dari hubungannya dengan Dewa, karena dia bisa beralasan apa saja kepadanya yang penting Dewa percaya lebih dulu, sebab Dwi tahu jika Dewa sudah sangat menginginkan seorang anak sebagai penerusnya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya tiba giliran Dwi yang dipanggil untuk diperiksa. Dan ketika sudah selesai diperiksa ternyata Dewa tidak banyak bertanya kepadanya soal usia kehamilannya.
Di situ Dwi sangat senang sekali dan semakin mengejek Dewa bodoh karena mudah dibohongi.
“Sayang. Kamu ke mobil dulu ya. Kamu tunggu Mas di sana. Mas mau mengambil obat palingan sebentar saja,” kata Dewa.
Dwi mengangguk dan tersenyum lalu ke luar lebih dulu dari rumah sakit menuju ke tempat parkir.
Sambil menunggu nama Dwi dipanggil, Dewa memilih memperhatikan sekitar dan matanya tidak sengaja melihat Arsyana bersama Pendi ke luar dari salah satu ruangan hanya berdua saja.
Walau Arsyana memakai masker atau penutup wajah, tapi Dewa sangat yakin dan tahu sekali jika perempuan yang bersama tuan Pendi adalah istrinya.
Dewa tentu saja mendekatinya dan menegur Arsyana. “Oh begini rupaya kalian berdua yang sudah berselingkuh di belakang saya,” kata Dewa.
“Mas Dewa,” Arsyana sangat terkejut sekali melihat Dewa ada di rumah sakit.
“Kamu sedang periksa kehamilan sama dia!” Dewa menunjuk tuan Pendi.
“Mas! Apa-apaan sih kamu!” kata Arsyana.
“Kalian sengaja datang ke rumah sakit hanya berdua saja supaya bisa terus menjalin hubungan tanpa ketahuan. Jangan-jangan kamu ke rumah sakit untuk memasang KB supaya bisa terus berselingkuh dan tidak ketahuan oleh orang lain,” tuduh tidak beralasan lagi dari Dewa padahal dia sendiri yang berselingkuh.
Bugh!
Tanpa banyak berbicara tuan Pendi langsung memukul Dewa dan membuat Dewa merasa marah. Tapi sebelum Dewa menyerang tuan Pendi, satpam rumah sakit langsung memisahkan mereka berdua dan mengusir mereka dari dalam rumah sakit sebab menimbulkan keributan.
“Beginikah suami yang kamu cintai, Arsyana?” kata tuan Pendi yang umurnya sangat jauh lebih tua dari Arsyana dan Dewa.
“Jika kamu tidak berpisah darinya, sumpah demi Allah. Kamu adalah perempuan yang bodoh!” gemas dari tuan Pendi.
Plak!
Arsyana menampar Dewa sangat keras sekali sampai mengalihkan pandangan para pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang di sekitar parkiran.
“Aku mau kita bercerai. Aku tidak sudi lagi menjadi istrimu. Dan lihatlah ini … “ Arsyana menunjukkan bukti visum semua lukanya.
“Ini adalah bukti akurat yang bisa memenjarakanmu atas tuduhan KDRT,” ancaman tegas dari Arsyana. Setelah itu dia berlalu pergi dari hadapannya Dewa bersama tuan Pendi.
Bersambung ....