TERUNGKAP

1687 Kata
Dewa mengambil berkas perceraian itu dan hasil visum tubuhnya Arsyana lalu membacanya, setelah itu Dewa merobeknya. Mata Arsyana melotot karena ulah Dewa. “Mas! Apa yang Mas Dewa lakukan!” seru Arsyana. Diam-diam Maya tersenyum melihat sikap sang kakak yang berani melawan Arsyana. “Sampai kapanpun Mas tidak akan mau berpisah denganmu,” jawab Dewa. “Sampai kapanpun, aku tidak mau lagi menjadi istrimu,” kata Arsyana. “Bolehlah kamu merobek berkas itu, tapi ingatlah satu hal. Berkas yang asli sudah masuk ke sana dan sudah mulai diselidiki,” jelas Arsyana. Dewa menahan rasa geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya secara diam-diam. “Mas pasti akan menggagalkan perceraian ini karena Mas nggak mau bercerai denganmu.” “Terserah Mas Dewa saja, karena sekuat apapun langkah Mas Dewa menghalangi perceraian itu, sekuat itu pula aku akan memperjuangkannya,” jawab Arsyana. “Dewa!” panggil sang ayah. Pandangan Dewa teralihkan ke arah sang ayah. “Sekarang katakan dengan jujur apa kamu sudah melakukan KDRT kepada Arsyana?” tanya ayah Idris. “Bagaimana Dewa mampu melakukan itu, Ayah? Sedangkan Dewa saja begitu sangat mencintai Arsyana,” bohongnya. Arsyana menitikkan air matanya melihat sikap sang suami yang dicintainya bisa pandai berdusta untuk sekarang. “Jika bukan kamu, lalu siapa lagi?” kata ayah Idris. “Tuan Pendi mungkin. Hanya tuan Pendi yang setiap hari bersama Arsyana,” jawab seenaknya sendiri dari Dewa. “Mas.” “Arsyana memang setiap hari bersama tuan Pendi. Itu pun jika ada pekerjaan, kalau tidak ada ya Arsyana sibuk di meja kerja sendiri.” “Sedangkan yang full bersama Arsyana itu Mas Dewa.” Ujar Arsyana. “Kalau begitu sekarang jelaskan kepada Ayah kepada kita semua, apa maksud bukti ini?” ayah Idris menunjuk bukti yang Arsyana tunjukkan tadi. “Itu bukti apa sih, Yah? Cuma bukti biasa saja soal pekerjaan. Arsyana saja yang melebih-lebihkannya,” elak Dewa. Walau di situ ada papi Victor selaku sang mertua, tetap saja Dewa masih saja berani berbohong dan mengelak dengan santainya. Apalagi papi Victor yang sejak tadi diam saja seperti tidak membela Arsyana membuat Dewa seperti berada di atas angin berani untuk terus melawan semua ucapannya Arsyana. “Yah. Sudah cukup. Arsyana sudah tidak tahan,” sela Arsyana. “Arsyana tetap mau bercerai dari Mas Dewa apapun yang terjadi.” “Mau dikatakan sudah berselingkuh dengan tuan Pendi atau sengaja mengarang cerita, Arsyana tidak peduli, Yah. Arsyana sudah tidak tahan menjadi istrinya Mas Dewa,” ucapnya kepada sang ayah mertua. “Arsyana. Kenapa kamu keras kepala?” sahut mama Juni. “Semua ini bisa dibicarakan baik-baik,” ucapnya. “Ma. Bukannya Mama juga menyuruh kami untuk bercerai? Sekarang sudah Arsyana wujudkan kenapa bisa bersikap sebaliknya.” “Cukup, Ma. Cukup,” kata Arsyana. “Arsyana. Kamu itu menantu tidak tahu diri. Mama sudah begitu baik kepadamu, tapi kamu selalu menghina dan menghujatnya,” sanggah Maya. “Kapan saya menghina dan menghujat Mama? Justru kalian berdua yang selalu menghina saya.” Jawab Arsyana menahan rasa marahnya. “Pernah saya masakin Mama. Apa yang Mama lakukan? Dia membuangnya ke tempat sampah,” kata Arsyana. “Halah, palingan kamu salah lihat!” kata Maya. “Stop, Arsyana!” seru Dewa. “Mas nggak suka ya kamu menjelek-jelekkan Mama seperti itu,” ucapnya. “Selama ini Mama sudah baik sama kamu. Bahkan Mama pernah rela kelaparan demi bisa makan bersamamu,” kata Dewa. Arsyana menggelengkan kepalanya. “Kelaparan?” gumamnya. “Asal Mas Dewa tahu. Waktu itu sebelum Mas Dewa pulang, Mama dan Maya sudah makan banyak lebih dulu dari kita berdua,” jelasnya. “Arsyana. Segitu bencinya kamu sama Mama sampai kamu memfitnah Mama seperti itu,” mama Jeni berakting menangis. “Ehem.” Papi Victor berdehem dan mengalihkan pandangan semua orang. “Saya lelah mendengarkan kalian berdebat yang tidak berbobot,” ucapnya. “Sudah, Arsyana. Ayo kita pergi dari sini,” ajak papi Victor. “Tapi, Pi … “ kata Arsyana. “Tapi, apa?” “Memang kamu yang bersalah,” kata papi Viktor membuat Maya, mama Juni dan Dewa langsung tersenyum tipis. Sedangkan Arsyana sangat terkejut melihat sang papi justru membela mereka. Lalu untuk ayah Idris masih diam memperhatikan. “Kamu akan dianggap bersalah dan tetap disalahkan jika tidak ada buktinya,” kata papi Victor lagi. “Jika kamu ingin mengelak dan membantah, harus tunjukkan bukti-bukti yang kuat dan jelas,” ujarnya lagi membuat senyum di wajah Dewa, Maya dan mama Juni langsung menghilang. Papi Victor mengeluarkan ponselnya lalu dia taruh di atas meja. “Mas Idris, lihatlah sendiri.” Ayah Idris melihat video yang papi Victor tunjukkan kepadanya. Video berisi kekerasan yang sudah dilakukan oleh Dewa kepada Arsyana. Mata ayah Idris melotot lebar sekali melihat rekaman CCTV tersebut. Sedangkan Dewa, mama Juni dan Maya sangat penasaran dengan video apa yang sedang ayah Idris lihat. “Di slide kedua geserlah, Mas. Nanti Mas Idris bisa menilai sendiri siapa yang bersalah di antara Arsyana, Maya, Mbak Juni dan Dewa,” kata papi Victor. Ayah Idris melakukannya dan melihat sendiri video di mana mama Juni bersama Maya sedang menghina, menghujat dan berkata-kata kasar kepada Arsyana. Kejadian itu terjadi di rumah milik Arsyana. Samar-samar mendengar suara dalam video itu membuat perasaan Dewa, mama Juni dan Maya jadi berdebar-debar. Setelah puas melihat video itu, ayah Idris menatap mereka bertiga dengan tatapan sangat tajam sekali. “Dewa. Semuanya terekam di sini,” ayah Idris memperlihatkan bagaimana Dewa memukuli Arsyana. “Mama, Maya. Kalian berdua juga sama saja. Ayah kecewa sama kalian berdua,” kata ayah Idris sambil memperlihatkan CCTV tentang mereka berdua. “Tidak. Semua itu pasti editan,” kata Maya. “Tidak ada editan di dalam video itu karena di rumah yang saya berikan kepada Arsyana di setiap sudutnya ada CCTV-nya.” Ujar papi Victor. “Apa kalian lupa itu?” tanya papi Victor. Ternyata diamnya papi Victor menyimpan rencana yang sangat besar sekali dan sekarang Dewa terlihat ketar-ketir karena sudah ketangkap basah. “Arsyana. Sedih boleh, bodoh jangan,” nasihat sang papi. “Walau hatimu sakit dan hancur, tapi otakmu harus kamu gunakan untuk bertahan melawan musuh yang merugikan,” kata papi Victor lagi. “Sekarang tenanglah. Ayo pulang, biar semua ini diurus sama anak buah Papi,” ajak papi Victor. “Mereka akan mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah mereka lakukan kepadamu.” Arsyana menganggukkan kepalanya. Sejenak dia salah sangka kepada sang papi yang dia kira akan membela mereka, tidak tahunya sang papi bergerak dalam diamnya. Arsyana lalu ikut berdiri bersama sang papi. Namun sebelum dia melangkah pergi, Dewa mencegahnya dan langsung berlutut di depan kakinya. “Arsyana. Maafin, Mas.” “Mas khilaf dan berjanji tidak akan bersikap begitu lagi kepadamu,” pintanya penuh permohonan. Belum sempat Arsyana menjawab, ponsel milik Dewa berdering. Dewa tidak mempedulikannya, dia memilih mematikannya. Tapi karena tidak kunjung diangkat telepon itu terus berdering dan membuat Arsyana muak. Sekali lagi Arsyana mengambil ponsel itu dan langsung mengangkatnya serta meng-loudspeakernya. “Mas Dewa. Lama sekali sih pulangnya. Dwi tidak bisa tidur nih jika tidak ada Mas Dewa di sini,” ternyata yang menelpon adalah Dwi. Mata Dewa melotot lagi begitu pula dengan mama Juni dan Maya. Sedangkan Arsyana tersenyum tipis lalu menoleh ke arah ayah Idris dan berjalan mendekatinya. “Halo, Mas.” “Kenapa diam saja?” ucap Dwi. Ayah Idris mengambil ponsel milik Dewa setelahnya dia mendekatinya dan menyuruh Dewa untuk berbicara. “Cepetan bicara!” perintahnya tegas penuh penekanan. Dewa tidak mau membuka mulutnya, tapi karena tekanan dari ayah Idris akhirnya Dewa mau menjawab teleponnya. “Ha-Halo, Dwi.” “Mas … “ “Cepetan pulang ya. Dwi sudah mengantuk.” Jawab Dwi. Tut! Ayah Idris langsung mematikan sambungan teleponnya. “Sekarang jelaskan dia siapa, Dewa?” dingin sekali suara sang ayah seperti bisa membekukan suasana. “Jawab!” bentak dan teriak dari ayah Idris. “Ma. Bagaimana ini? Itu kenapa si Dwi malah telepon segala sih,” bisik Maya kepada mama Juni. “Mana Mama tahu,” jawab mama Juni. Dugh! Ayah Idris langsung menendang Dewa yang masih berlutut di depan Arsyana. Dewa sampai terjengkang ke belakang membuat mama Juni dan Maya berteriak kencang. “b******n kamu, Dewa!” marah ayah Idris memukuli Dewa. “Kamu sudah membuat Ayah malu!” teriaknya. “Sejak tadi kamu terus mengelak, ternyata kamu sendiri yang sudah berselingkuh di belakang Arsyana.” Nafas ayah Idris terengah-engah. Pandangan mereka lalu teralihkan ke arah salah satu anak buah papi Victor. “Tuan Victor,” sapanya. “Ada apa?” tanya papi Victor. “Ini berkas yang Anda inginkan,” lapornya sambil menyerahkan sebuah amplop coklat besar. Papi Victor menerimanya lalu membukanya. Setelah melihat isinya papi Victor tersenyum sendiri. “Ini untukmu, Mas Idris.” Ucapnya sambil memberikan amplop itu kepada ayah Idris. “Apa itu, Mas?” tanya ayah Idris. “Lihatlah sendiri nanti Mas Idris akan tahu isinya,” jawab papi Victor. “Dan oh ya … “ “Tidak ada harta gono gini karena selama setahun mereka menikah, bisa saya pastikan Arsyana dan Dewa tidak pernah membeli properti atas nama berdua. Semuanya masih pemberian dari saya dan Arsyana beli sendiri.” “Sedangkan Dewa hanya menumpang untuk memakainya,” jelas papi Victor. “Sudah selesai, Arsyana.” “Ke luar dari pintu itu, kamu sudah tidak lagi menjadi menantu di rumah ini.” “Kamu sudah tidak menjadi kakak iparnya Maya dan juga menjadi istrinya Dewa.” “Raihlah kehidupanmu yang jauh lebih baik lagi. Dan anggap saja satu tahun kehidupanmu yang lalu itu kamu berada di neraka, sekarang gapailah surgamu sendiri,” ucap manis dari papi Victor. Arsyana tersenyum manis kepada sang papi dan merasa dilindungi olehnya. Beruntungnya Arsyana mempunyai keluarga yang support penuh kepadanya. Arsyana lalu ingin melangkah pergi bersama sang papi. Sekali lagi Dewa mencoba mencegahnya tapi Arsyana menghindar dengan menendangnya. “Arsyana. Tunggu!” teriak Dewa dan mencoba mengejarnya. “Jangan pergi, Arsyana. Maafin, Mas.” “Mas akan jelasin semuanya kepadamu termasuk siapa itu Dwi dan apa hubungan Mas dengannya,” ujar Dewa. Arsyana hanya diam saja dan tidak mempedulikannya. Dia memilih terus melangkah bersama sang papi meninggalkan Dewa yang mencoba meminta maaf kepadanya. Sedangkan di dalam rumah. Ketika ayah Idris sudah melihat isi di dalam amplop coklat tadi, dadanya langsung sesak sekali. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN