Surya yang baru saja bertemu dengan Dini lantas segera kembali ke kantor dan memberitahukan kabar ini ke Dika setelah menyelesaikan urusannya di sana.
Dik, dik gue barusan baru ketemu mantan lo di tempatnya santi. kata Surya setengah terengah engah karna berlari.
Dini? Dah lah ngak usah bahas dia lagi, gue udah ngak pantes buat dia.
Tapi apa lo ngak mau perjuangin dia?
Percuma sur, keluarga gue udah jahat banget ke dia. Selama kedua orang tua gue masih idup dan kakak gue masih seperti itu gue ngak bakal dapet pasangan yang betah sama gue. Paham kan sekarang.
Tapi lo harus lihat Dini sekarang dik, dia tambah cantik terus ya makin semok , gue juga mau kalo belum punya pasangan.
Sialan lo, Dika memukul kepala surya dengan kertas yang di gulung.
Saran gue mending lo ketemu sama dia deh biar ngak kayak orang gila.
Jadi maksud lo gue gila?
Ya ngak gitu tapi orang lain kalo lihat penampilan lo yang sekarang pasti mikirnya gitu, baju lecek, brewokan, kurus kering, dekil lagi ih mana ada cewek yang naksir.
Dika hanya terdiam mendengar ucapan surya, memang sejak perceraian itu hidupnya hampa tak seperti dulu ada yang memperhatikan dan mengurusi keperluannya, Dika yang sekarang adalah Dika yang hanya tau kesibukan berharap cintanya itu hilang dari otaknya . Bayang bayang Dini terus menghantui pikirannya karna bagai manapun dia istri yang sempurna baginya tapi semua sia sia setelah keluarganya tidak setuju.
Dika pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar merapikan pakaiannya dan menyisir rambutnya dengan jari.
Mau kemana lo? triak Surya pada Dika tapi pertanyaan itu tidak dijawabnya lalu pergi begitu saja. Tentu saja Dika langsung menuju tempat Santi untuk tau kabar mantan istrinya itu bagaimanapun juga perasaan rindu itu ada setidaknya dia ingin melihat wajah Dini meski cuma dari kejauhan. Sesampainya ia di parkiran tempat Santi dilihatnya sosok Wanita cantik yang kini penampilanya jauh berbeda seperti yang dulu ia kenal , tubuhnya juga semakin berisi dan ia terlihat angun tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya justru terlihat jauh lebih cantik dari dulu. Dika yang dari tadi melihat dari kejauhan hanya senyum senyum sendiri, perasaannya menghangat tiba tiba hanya dengan melihat Wanita yang dicintainya itu tertawa dan tersenyum dengan sahabatnya itu. Di urungkan niat untuk menemunya karna Dika sadar betul posisinya kini bukan siapa siapa.
Kamu pasti sekarang jauh bahagia ya din, aku ngak tau gimana caranya nglupain kamu.
Dini pun berpamitan ke Santi lalu pergi dari tempat itu, Dika yang melihat Dini pergi lalu mengikuti mobilnya dari belakang.
Santi melihat Mobil Dika mengikuti mobil Dini, ia pun segera mengabari sahabatnya itu.
Hallo san kenapa? gue ngak ada yang ketingalan kok.
Din, gue lihat mobil Dika ngikutin lo dari belakang.
Dini melihat kaca sepion mobilnya dan benar saja laki laki itu mengikutinya.
Thank you san udah ngasih tau gue.
Lo hati hati ya.
Oke siap. Dini pun mematikan telefonnya dan kembali fokus ke jalan.
Mau ngapain sih dia ngikutin gue, kata dini kesal. Dini pun tak jadi pulang kerumah karna di ikuti Dika dia tak ingin membuat keributan di rumah jadi dia putuskan untuk pergi ke tempat lain.
Dika masih saja mengikutinya Dini pun merasa kesal karna kali laki itu terus mengikutinya padahal Dini sudah sengaja berputar putar tak ada tujuan agar laki laki itu berhenti mengikutinya dan akirnya Dini pun kesal lalu berhenti mendadak di pingir jalan, Dika pun berhenti juga tepat di belakang mobil Dini.
Dini turun dari mobil dan menghampiri mobil Dika, Dika pun ikut turun dari mabil. Dini yang melihat sosok Dika berpenampilan lusuh serta rambut yang sedikit gondrong membuatnya sedikit kaget dan heran, tapi ia langsung tersadar dan marah.
Ngapain lo ikutin gue?
Maaf din, aku cuma pengen lihat kamu.
Kita udah ngak ada urusan sebaiknya kamu jangan pernah temui aku lagi.
Kamu berubah ya din.
Dini menghiraukan perkataan mantan suaminya itu lalu pergi tapi Dika mengejar Dini dan mencekal tanggan Dini agar berhenti, Dini mencoba melepaskan tanggan Dika agar membiarkanya pergi tapi itu sia sia laki laki itu terlalu kuat.
Din aku mohon maafin aku, aku pengen kita bisa temenan.
Tolong lepasin aku.
Engak din sebelum kamu maafin aku.
Aku ngak akan minta kita bisa kayak dulu lagi tapi aku mohon maafin aku, aku pengen kita baik baik aja.
Lepasin aku bilang, Dini berteriak pada dika kencang. Lalu Dika melepaskan tanggan Dini dan wanita itu segera menjauh tapi tiba tiba Dika memeluknya dari belakang dan Dini merasa panik karna pelukan dika.
Din kamu ngak papa kan, perut kamu kok. Dika ragu dan hendak memegang perut Dini tapi segera Dini tepis kasar.
Aku pergi dulu. Dini lalu pergi dan masuk ke mobil.
Din buka din, aku butuh penjelasan kamu hamil din? Dika mengedor gedor jendela mobil dini dan Dini pun langsung pergi meningalkan Dika sendiri.
Dika merasa kesal karna tidak mendapat jawaban dari Dini, dia pun mulai berpikir harus mencari informasi dari siapa yang bisa memberinya jawaban, Dika pun berpikir ke Santi siapa tau dia bisa dimintai keterangan.
Lalu segera dia memutar mobilnya dan menuju tempat Santi tapi sialnya saat hendak pergi kesana bosnya menghubunginya meminta Dika untuk segera kembali ke kantor. Dengan terpaksa dia urungkan niatnya menemui Santi dan kembali ke kantor, sesampainya di kantor Dika pun lalu segera masuk ke kantor.
Tidak seperti biasanya kamu telat begini, ini sudah lewat tiga puluh menit dan kamu baru tiba kekantor?
Maaf pak tadi saya ada urusan sebentar.
Ya sudah kerjakan pekerjaanmu.
Iya pak, Dika pun duduk dan mulai sibuk dengan berkas pekerjaannya.
Surya yang kepo lalu menghampiri temannya yang baru kena omel itu, Surya pun langsung masuk ke ruangan Dika tanpa mengetuk pintu.
Bro gimana? tanya surya penasaran.
Apanya? jawab Dika polos seolah tidak tau maksud temannya itu.
Elo udah ketemu Dini belum?
Dika lantas menghentikan pekerjaannya itu dan berpikir sejenak.
Eh kok malah diem, jadi gimana? elo udah ketemu Dini kan?
Udah sur tapi.
Tapi apa? tambah cantik kan? Surya cengar cengir ke Dika.
Dika menghela nafasnya sebelum menjawab. Dia juga udah cantik dari dulu kali
Ya terus kenapa lo kayak orang begok setelah ketemu dia? bengong mulu.
Gue curiga dia hamil sur.
Hah, serius lo dik? emang dia udah nikah?
Gue mikirnya itu anak gue bukanya dia nikah apa belom setau gue Dini belum nikah lagi.
Demi apa lo kepikiran kayak gitu? kayaknya tadi ketemu dia ngak ada yang salah perutnya juga ngak keliatan gede ya emang lebih berisi aja.
Tadi gue peluk dia dan pas gue peluk, gue ngerasa perutnya tuh gede kayak orang hamil empat atau tiga bulan lah belum yang buncit banget gitu.
Bisa jadi omongan lo bener sih bro, mending lo selidiki dulu aja.
Tanpa lo kasih tau gue juga bakal nyelidiki hal ini. Udah sana keluar gue mau lanjut kerja pusing gue.
iye iye.
Dika pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda kembali fokus dan segera dia selesaikan agar bisa segera pulang tepat waktu untuk mencari tahu apa yang terjadi setelah perceraian itu. Jika dipikiranya itu benar maka kemungkinan untuk kembali bersama Dini cukuplah besar tentu Dika tidak akan menyia nyiakan hal itu jika Dini mau kembali padanya.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore tapi Dika belum juga keluar kantor dia masih harus menyelesaikan beberapa laporan, pikiranya tidak bisa fokus pada pekerjaan. Hampir empat bulan semenjak perceraian itu dia belum pernah bertemu Dini tentu hal itu membuatnya kacau setelah beberapa bulan berpisah tiba tiba saja mantan istrinya itu kembali dan terlihat jauh lebih cantik hal itu semakin membuat hatinya sulit melupakan mantan istrinya itu terlebih dugaan Nandini hamil membuat Dika semakin yakin untuk kembali rujuk bersamanya.
Dik gue balik dulu ya, sapa Surya yang hendak pulang kantor padanya.
Oke, bentar lagi gue kelar kok.
Ya udah gue cabut.
Dika tidak menjawab hanya mengacungkan jempol tanda ia setuju dan tetap fokus pada komputernya.
Selang beberapa menit akirnya pekerjaan Dika selesai dan dia segera bergegas ke kantor Santi berharap wanita itu belum pulang karna biasanya Santi akan mengecek tokonya terlebih dulu sebelum pulang, Dika pun melajukan mobilnya menuju tempat santi setelahnya ia tiba disana benar saja wanita itu masih ada ditoko. Tak menunggu lama Dika langsung saja menghampiri Santi.
San gue mau ngomong sebentar sama lo, Kata Dika to the poin.
Hah. . . Santi yang kaget dengan kedatangan Dika yang mendadak kaget dibuatnya.
Kita ngomong di caffe sebelah aja ya.
Santi pun mengikuti Dika tanpa bertanya, mereka pun duduk di salah satu meja dekat jendela di caffe itu.
Mau pesan apa? tanya Dika menawarkan.
Ngak usah langsung aja. Kata Santi ketus.
Mas kopi satu ya, kata Dika ke waiter tersebut.
Baik pak, ditunggu pesanannya ya, permisi. kata waiter itu sopan.
Lo mau ngomongin apa sih? kalo masalah Dini lo tanya langsung ke dia.
Oke gue langsung aja, apa bener Dini hamil san?
haah ya elo tanya aja langsung ke dia lah.
Ngak semudah itu san, tolong lah bantu gue. Gue juga berhat tahu ini semua.
Sorry dik gue ngak ada hak buat bicara ini ke elo, mending lo dateng langsung ke rumahnya deh minta penjelasan langsung ke Dini.
Tapi dia ketemu gue aja ngak mau san gimana ngomongnya coba.
Lagian ya elo tau dari mana coba kalo Dini hamil hemm?
Tadi siang gue ikutin dia dan ya kita sedikit cekcok terus gue peluk dia dan gue rasa ada yang beda dari perutnya jadi gue pikir dia hamil.
Terus kalo misal nih Dini hamil elo mau apa? mau balikan? Dika Dika jangan harap lo bisa kembali sama Dini dia lihat muka lo aja udah muak tau ngak apalagi balikan sama elo yang jelas jelas di tolak mentah mentah sama keluarga tercinta lo itu.
Hah, Dika menghembuskan nafasnya kasar. Ya gue sadar keluarga gue salah dan emang udah jahat banget tapi gue bener bener ngak bisa lupain dia.
Mending lo move on aja lah dik cari wanita yang bisa membuat orang tua lo bahagia.
Silahkan pak, waiter itu memberikan pesanan Dika di atas meja.
makasih , kata Dika
Kalo ngak ada hal yang perlu di omongin gue balik ya dik.
San tunggu dulu, elo belum jawab pertanyaan gue.
Ngak ada yang perlu kita obrolin, kalo lo mau cari tau ya lo dateng baik baik dan tanya ke Dini.
Santi pun pergi menigalkan Dika sendirian di sana, Dika tau ini tidak mudah apalagi masalalu yang keluarganya buat menyisakan luka bagi keduanya. Dika mulai berpikir keras apakah dia berani datang kerumah orang tua Dini lagi.