Pada sinar mentari pagi, selalu ada rindu yang ku rangkai sebelum jemari kami dapat bersentuhan. Pekat malam yang menghilang digantikan oleh hembusan angin pagi ini, di situlah mulai ku sebut sehelai nama, dan mengingatnya membuatku selalu tersenyum tanpa sebab. Terdengar sangat memalukan, tapi itulah kenyataannya. Bahkan aku membenci diriku yang sekarang, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumya, karena kisah percintaanku tidak pernah serumit ini. Semua lelaki yang datang padaku selalu aku pertimbangkan terlebih dahulu apakah layak menjadi kekasihku. Tapi kali ini, bahkan antara otak dan pikiranku belum sempat bernegoisasi, dan hebatnya perasaanku sudah lebih dulu mengambil alih semuanya, membuat aku berada pada titik dimana aku harus mengakui bahwa aku benar-benar menyukainya

