Malam hari kembali datang, kini tiba saatnya aku untuk bekerja di klub seperti biasanya. Sebenarnya aku semakin enggan bekerja di sana karena kejadian semalam. Jujur aku takut jika bertemu pria yang seperti itu lagi. Tapi sekali lagi kukatakan, kalau aku harus melakukan pekerjaan ini karena sangat memerlukan uang untuk biaya operasi ibu.
Menghela napas beberapa kali kemudian menghembuskannya, itulah yang sedang kulakukan setelah berganti pakaian kerja. Kakiku pun melangkah keluar dari toilet untuk segera melaksanakan tugasku.
Suara hingar-bingar khas musik yang kencang sejak tadi sudah terdengar di indra pendengaranku. Suasanyanya pun tampak remang karena hanya diterangi oleh lampu disko yang berkerlap-kerlip dengan cepat. Meskipun bising dan gelap, tapi pengunjung klub selalu saja ramai setiap malamnya.
"Hai, Heera, baru datang?" tanya Ilona, teman sepekerjaanku. Dari dialah aku tahu lowongan pekerjaan di tempat ini.
"Iya nih. Udah rame aja perasaan, padahal masih belum larut," sahutku. Satu bulan bekerja di klub, aku seolah tahu kebiasaan di sana—yang mana semakin larut malam, maka kian banyak pula pelanggannya.
"Banyak yang pada stres mungkin haha."
Aku ikut tertawa menanggapi gurauan Ilona. Begitu jelas perbedaan antara orang kaya dan yang tak punya sepertiku. Orang kaya akan bersenang-senang ke klub sebagai penghilang penat dan stres yang mereka alami. Sementara orang sepertiku hanya bisa bekerja dan terus bekerja untuk tetap bisa bertahan hidup di tengah kejamnya ibu kota.
"Ya udah, yuk kita kerja," ajakku pada Ilona. Kami pun mulai melakukan pekerjaan untuk mengantar minuman. Sering kali kulihat banyak pengunjung pria yang datang ke klub untuk bersenang-senang dengan para wanita malam. Bukan sekali dua kali pula aku menemukan mereka sedang b******u di pojok ruangan yang gelap.
Hal seperti ini sudah tidak asing bagiku, sebab dulunya ibu adalah salah satu dari wanita-wanita itu. Ibu pernah membawa pelanggannya ke rumah untuk memadu kasih. Sehingga memang, aku tidak heran lagi ketika mendengar suara desahan penuh kenikmatan. Meski begitu, aku selalu menjaga diriku agar tetap suci hingga tiba saatnya menikah nanti. Walaupun, ciuman pertamaku sudah direnggut oleh lelaki asing yang semalam.
Tubuhku menegang ketika merasa pundakku ditepuk. Aku pun membalikkan badanku untuk melihat siapa pelakunya. Hampir-hampir mataku ingin keluar dari tempatnya kala menyadari siapa yang ada di hadapanku saat ini. Lelaki itu... dia pria semalam yang sudah mencuri ciuman pertamaku.
"Sejak tadi saya mencari, rupanya kamu ada di sini. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu yang semalam," ujarnya dengan gigi yang bergemelutuk. Tampak raut kesal di wajahnya yang mungkin karena perbuatanku semalam. Tapi bukan salahku, karena dialah yang bersalah sebab sudah mencuri ciuman pertamaku, juga sempat berniat melakukan yang macam-macam padaku.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi Anda beneran salah orang. Saya sama sekali nggak mengenal siapa Anda," sahutku takut-takut. Tanganku sudah dicekal olehnya karena mungkin lelaki itu takut jika aku akan kabur. Meski sebenarnya aku memang berniat kabur.
"Penampilanmu boleh berubah, Adelia. Tapi demi Tuhan, kamu nggak bisa mengelabui saya. Saya nggak akan pernah melepaskanmu lagi, sebelum kamu menarik kembali kata-katamu dulu. Kamu harus tunduk di bawah kuasa saya dan meralat ucapan kurangajarmu itu!"
Aku refleks memundurkan wajah kala lelaki itu mendekat. Dia mencengkram daguku agar pandangan mata kami bertemu. "Bibirmu yang manis ini, akan saya buat tergila-gila dengan kepunyaan saya yang dulu pernah kamu hina," desisnya menyeramkan. Aku bahkan sempat bergidik karena ucapannya itu.
"Demi Tuhan, saya bukan Adelia, Tuan. Saya nggak kenal siapa itu Adelia. Nama saya Heera!" protesku dengan harapan lelaki itu mau mendengar. Aku semakin ketakutan ketika lelaki itu kian mendekatkan wajah padaku, seolah berniat ingin mencium bibirku lagi.
"Kamu pikir saya akan percaya, HAH?"
Chup.
Aku terbelalak kala lelaki itu benar-benar mencium bibirku lagi. Ciumannya sangat menuntut dan teramat rakus. Aku bahkan dibuat mengap-mengap karena hampir kehabisan napas. Seolah menyadari pasokan oksigenku yang mulai menipis, dia melepaskan tautan bibir kami untuk sesaat.
"Malam ini... kamu nggak akan bisa lari lagi, Adelia. Akan saya pastikan kamu ketagihan sentuhan saya."
Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak boleh berakhir dengan lelaki aneh ini. Kenal saja tidak, mana mau aku disentuh olehnya. Kalaupun memang ingin melakukannya, lebih baik aku menjual keperawananku agar bisa membayar biaya operasi ibu.
"Demi Tuhan, saya bukan orang yang Anda maksud. Saya sama sekali nggak pernah tidur bahkan menghina kemampuan seksual Anda. Dan saya masih perawan!"
Alis tebal lelaki itu tampak berkerut begitu mendengar ucapanku. Tetapi kemudian dia malah tertawa. Aku pun bingung karenanya.
"Masih perawan? Kamu bercanda, Adelia! Jelas-jelas kamu itu p*****r kelas kakap! Dan sudah banyak pria yang pernah menikmati tubuh indah kamu!"
Itu bukan aku! Demi Tuhan! Bagaimana caranya membuat lelaki ini percaya?
"Saya nggak tau mengapa kamu bisa berubah drastis seperti ini. Tapi yang jelas, kamu itu p*****r, Adelia. Kamu rela tidur dengan siapa pun demi mendapatkan uang. Dan sekarang, saya akan memberikan itu. Saya akan memberikan uang yang banyak buat kamu asal mau melayani saya lagi. Tentunya kamu akan diuntungkan, karena selain mendapat uang, kamu juga bisa terpuaskan oleh saya."
"Saya bukan Adelia! Dan saya gak tertarik untuk melayani Anda! Permisi!" sahutku langsung menyentak cekalan tangan lelaki itu. Aku bergegas kabur darinya. Sepertinya keberadaanku di sini sudah tidak aman lagi. Aku tidak tahu kapan lelaki itu akan berhenti mengusikku karena menganggapku sebagai Adelia yang entah siapa, aku sendiri tak tahu bagaimana rupanya. Dan gara-gara Adelia itulah aku disalahpahami oleh lelaki itu. Bahkan ciuman bibirku sudah beberapa kali didapatkannya. Dasar sialan!
Merelakan pekerjaan ini, itulah satu-satunya jalan yang bisa kuambil. Aku tak mungkin terus bekerja jika lelaki itu masih menggangguku. Terpaksa aku harus mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan uang tambahan. Semua ini bertambah rumit gara-gara lelaki itu!
***
Satu minggu sudah berlalu dengan aku yang tidak bekerja di klub lagi. Perasaanku sedikit lebih tenang karena tidak diganggu oleh pria aneh tanpa nama yang kerap memanggilku Adelia. Meski itu artinya aku semakin jauh dari uang yang bisa kudapatkan untuk biaya operasi ibu. Sejujurnya pria asing yang memanggilku dengan sebutan Adelia itu tampan, hanya saja sayang sikapnya aneh.
Aku mulai berpikir apakah lelaki itu tergila-gila pada wanita yang namanya Adelia? Tapi jika diingat lagi, laki-laki itu beberapa kali sempat mengatakan kalau aku yang dianggapnya sebagai Adelia, harus meralat ucapan yang pernah menghina kemampuan seksualnya. Apakah itu artinya dia terbosesi dengan wanita bernama Adelia sebab merasa tak terima kemampuannya pernah dihina? Sehingga lelaki itu berniat membuktikannya agar Adelia bisa meralat ucapannya. Sialnya lelaki itu malah menganggapku sebagai Adelia dan akulah yang menjadi target incarannya.
Adelia. Aku jadi bertanya-tanya seperti apa paras wanita yang bernama Adelia. Apakah mungkin kami memiliki kemiripan hingga membuat lelaki itu mengiraku sebagai Adelia? Wajar di dunia ini ada yang secara kebetulan berwajah mirip, tapi aku belum pernah secara langsung menemui orang yang mirip denganku.
"Heera! Woy! Ngelamun aja lo. Itu pesanan meja nomer 10 belum lo anter."
Aku mengerjapkan mata saat salah seorang teman sesama pelayan menyenggol bahuku sekadar mengingatkan. Aku pun bergegas meraih pesanan dan membawanya ke meja nomor sepuluh. Kuletakkan makanan dan minuman yang kubawa di atas meja seraya mengucapkan selamat menikmati dengan nada ramah. Kemudian aku kembali untuk melakukan pekerjaan lain.
"Kenapa sih lo? Bengong mulu perasaan?" tanya Jiah, pelayan yang tadi menyenggol bahuku. Sekarang kami berada di dapur untuk melap piring selagi menunggu pesanan selesai untuk diantar.
"Gak apa-apa kok. Cuma pusing mikirin biaya buat operasi Ibu aja," sahutku jujur. Bisa kurasakan tepukan lembut di bahuku.
"Sorry ya, Heer. Gue gak bisa bantu apa-apa. Soalnya keuangan gue juga lagi susah. Gue cuma bisa ngasih doa yang terbaik buat Ibu lo."
"Iya, thanks ya. Doa dari lo aja udah berarti banget kok," sahutku disertai senyum tulus.
Setelah selesai bekerja seharian, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku langsung menuju rumah sakit tempat ibu dirawat dengan membawa makanan dari restoran. Bisa dibilang bosku sangat baik, karena tidak pelit memberikan makanan untuk kami para pegawainya. Sehingga paling tidak dapat sedikit mengurangi pengeluaranku agar uang untuk biaya makan bisa kutabung.
Aku tersenyum begitu melihat ibu. Kuhampiri dia yang juga tersenyum menyambut kedatanganku.
"Baru pulang, Heer?"
"Iya, Bu. Gimana kondisi Ibu hari ini?"
"Sudah lebih enakan kok, Nak. Kamu jangan terlalu khawatir sama Ibu ya. Ibu rasa juga gak perlu ngelakuin operasi," sahut ibu berusaha tegar. Aku tahu kalau ibu tidak ingin menyusahkanku. Sehingga dia berkata seperti itu padahal aku jelas tahu kalau ibu tidak baik-baik saja.
"Nggak, Bu. Ibu tetap harus dioperasi biar Ibu bisa sehat lagi. Heera akan berusaha nyari uangnya. Ibu jangan khawatir ya, Bu."
"Terima kasih, Sayang. Ibu sangat berharap kehidupan kamu bisa lebih layak dari Ibu. Ibu nggak mau kamu mengalami apa yang Ibu alami, Heera. Kamu nggak boleh jadi seperti Ibu ya, Nak. Kamu itu berharga, dan jangan pernah berniat menjalani pekerjaan kotor seperti yang Ibu lakuin dulu. Ibu mohon sama kamu ya," pinta ibu seraya menggenggam tanganku.
"Iya, Bu. Hera janji gak akan pernah ngelakuin itu."
***
Penjelasan dokter tentang penyakit ibu terasa berputar-putar di otakku. Sekarang ini kanker serviks yang ibu derita sudah memasuki stadium tiga. Mengingat kondisi ibu yang semakin parah, seharusnya operasi sudah dilaksanakan. Tapi lagi-lagi, semua terhalang oleh biaya. Rumah sakit tidak bisa memberikan pinjaman karena biaya operasi yang mahal dan memang sudah ketentuan seperti itu.
"Heera!"
Aku menghentikan langkah kakiku dengan perasaan gamang. Suara berat dan khas milik pria itu sama-samar kukenali meski hanya beberapa kali pernah mendengarnya. Kabur adalah satu-satunya pikiran yang melintas di otakku kala melihat lelaki asing yang biasanya memanggilku dengan nama Adelia ada di sini, di rumah sakit tempat ibu dirawat. Untuk apa dia ada di sini?
"Heera Paramitha!"
Namaku dipanggil untuk yang kedua kalinya. Bahkan kali ini benar-benar namaku, bukan lagi Adelia. Apa lelaki itu sudah sadar kalau aku bukanlah orang yang dirinya maksud dan kedatangannya berniat meminta maaf padaku?
Kini kami sudah berhadap-hadapan. Lelaki itu masih menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti.
"Entah apa pun yang pernah terjadi sama kamu dulu, yang jelas saya tetap yakin kalau kamu memang Adelia. Saya juga nggak peduli mau kamu amnesia hingga melupakan saya dan siapa diri kamu sendiri, yang terpenting kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu dulu."
Kupikir laki-laki itu mau meminta maaf, tapi ternyata masih saja berpikiran kalau aku adalah Adelia yang lupa ingatan. Padahal demi Tuhan, namaku Heera dan sejak kecil aku tinggal bersama ibu. Aku juga tak pernah mengalami kecelakaan apalagi hilang ingatan. Sehingga dapat dipastikan kalau aku benar-benar Heera. Bukan Adelia.
"Sesuatu yang saya inginkan, harus berhasil saya dapatkan. Sekarang ini saya sangat menginginkan kamu... dan apa pun caranya, kamu harus menjadi milik saya."
"ANDA GILA!"
Lelaki itu melangkah semakin dekat padaku. Aku bisa bernapas sedikit lebih tenang karena kami berada di tempat ramai. Kalau dia berani macam-macam, aku tinggal berteriak dan pasti lelaki ini akan dipukuli orang-orang.
"Saya bisa memastikan kalau hal itu tidak lama lagi. Kamu akan mendesah keenakan di bawah kuasa tubuh saya. Kamu juga akan berteriak minta dimasuki berulang kali dengan gerakan cepat dan tak terkendali," bisiknya di telingaku yang berhasil membuat wajahku memerah karena jengah.
"Itu tidak akan terjadi!" desisku marah. Baru kali ini aku bertemu lelaki tampan sekaligus aneh. Mengapa kubilang aneh? Karena yang ada di pikiran lelaki itu selalu saja tentang selangkangannya. Dasar lelaki m***m tak tahu diri.
"Ayolah, Heera. Saya yakin kalau kamu sudah lama tidak pernah melakukannya lagi sejak amnesia 'kan? Saya juga akan memberikan kamu uang yang banyak, asalkan kamu mau tidur dan melayani saya," ujarnya lengkap dengan seringaian m***m dan menyebalkan.
Tuhan, mengapa bisa ada lelaki seperti ini di dunia? Mengapa lelaki kurang ajar seperti itu harus hidup tenang dengan kekayaan berlimpah? Sementara gadis baik sepertiku malah melarat dilanda kemiskinan. Bahkan untuk biaya rumah sakit ibu pun sulit.
"Sampai kapan pun saya tidak akan tertarik!"
"Oh ya? Meskipun saya bakal ngasih uang yang banyak buat kamu? Ibu angkat kamu itu sedang sakit dan perlu banyak biaya 'kan?"
Sialan! Dari mana lelaki itu bisa tahu? Meskipun ibu sedang sakit, tapi aku tak akan pernah mau menerima tawarannya. Tidak untuk menyerahkan keperawananku pada lelaki asing itu. Karena aku hanya ingin menyerahkannya pada suamiku kelak. Kalau dia tetap menginginkanku juga, itu artinya dia harus menikahiku. Tapi hal itu sangat-sangat mustahil dan tidak masuk akal. Lagipula kami tidak saling mencintai. Saling mengenal saja tidak karena aku sama sekali tidak tahu siapa namanya.
"Mbak Heera. Ibu Anda kritis," ujar salah seorang suster memberitahuku. Aku sempat terbelalak tak percaya karena sebelumnya ibu baik-baik saja. Bergegas aku mengikuti suster untuk melihat kondisi ibu.
Sesampainya di sana, tampak dokter yang sedang menangani ibu. Langsung saja aku menghampiri dokter itu dengan perasaan takut.
"Ibu Anda harus secepatnya dioperasi. Kalau tidak, nyawanya menjadi taruhan."
***