bc

The Lawyer's Wife

book_age18+
173
IKUTI
1K
BACA
revenge
contract marriage
love after marriage
mistress
sweet
bxg
office/work place
virgin
lawyer
passionate
like
intro-logo
Uraian

Tak sengaja bertemu pria asing nan berpikir jika aku adalah orang yang sedang dicarinya telah membuat hidupku berubah. Mendadak aku dikejar-kejar oleh lelaki itu yang ingin sekali membawaku ke atas tempat tidur. Namanya Nicholas dan dia ingin balas dendam karena katanya dulu aku pernah menghina kemampuan seksualnya-yang padahal jelas itu bukan aku. Bagaimana mau menghina, aku saja masih perawan hingga saat ini!

Akibat kepepet biaya akhirnya aku setuju untuk menyerahkan diri padanya. Menjadi teman tidurnya asalkan dia mau menikahiku meski hanya secara agama-agar setidaknya aku tetap menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuk suamiku.

Pernikahan dilaksanakan secara rahasia dengan niat yang sejak awal terasa salah. Kami menikah hanya karena aku butuh uang dan dia ingin menyentuhku. Tapi bagaimana jika pada praktiknya tidak seperti itu? Tiba-tiba Nicholas mencoba memasuki hidupku dan bersikap seolah-olah aku memang istrinya-ya walaupun pada kenyataannya aku memang istrinya meski hanya dinikahi secara siri.

Semuanya berjalan tak sesuai perjanjian awal karena sikap Nicholas yang posesif. Lelaki itu sendiri yang malah membongkar rahasia pernikahan kami di depan banyak orang dan orang tuanya hanya karena cemburu saat ada pria lain yang mencoba mendekatiku.

Kala pernikahan kami terungkap dan ingin diresmikan secara hukum, ternyata masalah baru datang dari identitas dan keluargaku yang sebenarnya. Semua ini tak lain karena status pekerjaan Nicholas yang merupakan pengacara-yang sangat dibenci keluargaku.

chap-preview
Pratinjau gratis
Heera 1
Hari sudah mulai petang ketika pekerjaanku telah selesai. Bergegas aku berganti pakaian dan bersiap pulang karena setelah ini masih harus bekerja lagi. Ya, aku memang memiliki dua pekerjaan sekaligus. Siang hari aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran cukup ternama. Sedangkan malam hari, aku bekerja di klub. Jangan berpikir buruk tentangku dulu, karena aku bukanlah satu dari sekian banyak wanita malam yang biasa melayani hasrat seksual para p****************g. Aku bekerja di sana hanya sebagai pengantar minuman, tidak lebih. Aku juga bisa memastikan kalau aku masih perawan hingga saat ini. Biar bagaimanapun, aku memiliki keinginan untuk menyerahkan keperawananku hanya pada suamiku kelak. Gaji dari hasil kerja di restoran sebenarnya sudah termasuk lumayan besar. Apalagi jika restoran sedang ramai, kami para pelayan sering mendapatkan tip lebih. Aku bisa saja mencukupi kebutuhan sehari-hariku dari sana. Hanya saja aku sedang memerlukan lebih banyak uang karena ibu yang selama ini merawatku sedang sakit. Maka dari itulah aku menyetujui saat temanku berkata ada lowongan pekerjaan di klub malam. Kini tepat satu bulan aku memiliki pekerjaan ganda. Saat di restoran, aku tak memiliki permasalahan apa pun dan bisa bekerja dengan baik. Namun, beda halnya dengan di klub, karena beberapa pria mata keranjang sempat menggoda dan merayuku agar mau tidur dengan mereka. Hal itu pulalah yang membuatku tidak betah bekerja di sana, tapi kupaksa untuk betah karena aku memerlukan uang yang banyak demi kesembuhan ibu. Aku buru-buru menyingkir dari salah satu ruangan privat setelah selesai dengan tugasku mengantar minuman. Tapi sepertinya aku kurang hati-hati sampai bisa menabrak seorang pria. Kami sempat bertatapan sejenak hingga keningku mengkerut begitu melihat ekspresi wajah laki-laki itu yang tiba-tiba tampak mengeras. Apa aku melakukan kesalahan? "Damn! Akhirnya kita ketemu lagi!" Tiba-tiba aku merasakan kalau aura di sekelilingku menjadi mencekam juga mengerikan. Pria itu menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Hello, sebenarnya dia kenapa? Apa katanya tadi—akhirnya kita ketemu lagi? Memang sebelumnya kami pernah bertemu? Aku rasa tidak. "Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ujarku pelan memberanikan diri. Aku sudah berniat kabur dari sana sebelum mendapat masalah. Bisa saja lelaki itu sedang mabuk, bukan? Tentu saja keselamatanku terancam jika berurusan dengan orang mabuk. "Jangan mencoba kabur, Adelia!" Adelia? Siapa itu? Adelia bukanlah namaku, karena namaku adalah Heera Paramitha. Apa itu artinya lelaki ini memang salah orang? Atau dia benar-benar sedang mabuk? Terkesiap kaget, aku terbelalak saat laki-laki itu memerangkap dan menatapku dengan tatapan tajam yang sulit kuartikan. Mataku bahkan membulat sempurna kala merasakan bibirku langsung dilumat rakus. Apa-apaan ini? "Kamu harus mendapatkan balasan atas perbuatanmu dulu, Cantik." Aku tak mengerti dengan maksud perkataan pria itu. Kenal saja tidak, bagaimana aku bisa tahu apa yang sudah terjadi dulu? Sepertinya pria itu benar-benar salah orang! Dan kurang ajar sekali dia karena sudah sempat mencium bibirku. Ciuman pertamaku! "Hei. Saya gak kenal siapa Anda! Kenapa Anda-" Chup. Ucapanku terhenti ketika lelaki itu kembali menciumku. Kali ini dia juga menggendongku dengan bibir kami yang masih bertaut. Aku sudah berusaha memberontak sekuat tenaga dengan memukul dadanya, tapi dia seolah tak peduli. Pria yang entah siapa namanya itu terus saja melangkah dengan membawa serta diriku. Mataku semakin membulat begitu menyadari kalau aku dibawa menuju ke sebuah kamar. Setelah membuka pintu salah satu kamar, lelaki itu pun menurunkanku di atas tempat tidur. Aku sudah berniat kabur, tetapi dia sigap memelukku. "Lepas!" "Saya tidak akan melepaskanmu. Malam ini akan membuktikan kalau saya tidak seperti apa yang kamu ucapkan dulu. Saya pastikan, kamu akan mendesah keenakan di bawah kuasa tubuh saya dan menjerit minta dimasuki berulang kali," ujarnya dengan seringaian licik dan m***m. "Anda salah orang! Saya sama sekali nggak kenal sama Anda!" bantahku lagi. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak mengenalnya. Dan aku tidak ingin kehilangan keperawanan oleh lelaki asing itu. "Kamu jangan pura-pura! Saya tau, kalo kamu hanya sok-sokan tidak mengenal saya!" Lelaki itu melepaskan pelukannya dariku. Aku pun melangkah mundur saat lelaki itu kian maju—seraya membuka satu persatu kacing kemejanya dengan bibir yang menyeringai licik ke arahku. Kemudian, dia memeluk dan langsung membawaku kembali ke atas tempat tidur. "Lepasss!" "Tidak akan!" Lelaki itu semakin memerangkapku. Kedua tanganku dia pegangi di atas kepalaku. Sementara bibirnya mengecup bibir dan leherku secara paksa. "Sejak dulu, kamu memang cantik dan memesona. Memang pantas banyak yang memuja dan ingin menjadikanmu milik mereka. Tapi sayang, kamu terlalu sombong Adelia," decak lelaki itu kesal. Aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari dia? "Malam ini, akan saya buat kamu menyesal karena pernah menghina kemampuan seksual saya." "HAH? APA?" tanyaku dengan mata terbelalak. Kenal saja tidak, bagaimana bisa aku menghina kemampuan seksualnya? Sedangkan aku tak pernah melihat kepunyaan pria secara langsung! "Ya, kamu mengatakan kalau kemampuan saya sangat payah tepat setelah kita selesai melakukannya. Apa kamu sudah lupa? Hah?" Fiks. Lelaki itu memang salah orang! Aku tak pernah berkata seperti itu. Dan aku berani bersumpah jika aku masih perawan hingga saat ini. "Dan hari ini, saya pastikan kamu akan meralat ucapanmu itu." "Tidak!" Aku semakin ketakutan manakala lelaki itu berusaha melucuti pakaianku. Bisa kulihat keningnya mengernyit heran ketika melihat pakaianku. Semoga saja dia sadar kalau telah salah orang. "Kenapa kamu memakai pakaian seperti ini, Adelia? Ke mana perginya pakaian seksi juga kekurangan bahan yang biasa melekat di tubuh indah kamu?" Pakaian seksi dan kekurangan bahan apanya? Seumur-umur aku tidak pernah mengenakan pakaian yang orang-orang bilang seksi itu. Satu lagi, namaku bukan Adelia! "Tapi nggak masalah. Apa pun pakaianmu, yang jelas saya sudah tahu seperti apa isi di baliknya. Saya penasaran, apakah sekarang payudaramu ini bertambah besar daripada yang dulu? Dan apakah kewanitaanmu semakin sempit? Saya tidak sabar lagi ingin merasakannya." Tubuhku merinding hebat saat mendengar ucapan mesumnya. Otakku bekerja untuk mencari cara agar bisa kabur dari lelaki itu. Berpikir sebelum kamu habis oleh lelaki ini, Heera, batinku. BUGH. "Aaarrggghhhssss..." Lelaki itu menjerit kesakitan kala menerima tendanganku yang tepat mengenai alat vitalnya. Hal itu pun kupergunakan untuk segera kabur. Sementara lelaki itu mengumpat kesal seraya terus memanggil nama Adelia. "Dasar sinting!" umpatku begitu telah berhasil kabur. Aku mengusap bibirku seraya mendengus kesal karena ciuman pertamaku telah direnggut oleh lelaki itu. Andai saja tidak berhasil kabur, mungkin keperawananku pun akan ikut lenyap. *** Tadi malam adalah kejadian terburuk yang pernah kualami dan kalau bisa tidak ingin hal serupa terulang lagi. Bagaimana tidak, aku telah kehilangan ciuman pertamaku oleh pria asing yang tak kukenal. Bahkan yang lebih parah, lelaki itu malah menganggapku sebagai orang lain bernama Adelia. Siapa itu Adelia aku sama sekali tidak mengenalnya. Mengapa lelaki itu bisa menyebutku dengan nama itu pun aku tak mengerti. Masa iya aku dan Adelia memiliki paras yang sama hingga membuat lelaki itu salah paham? Rasa-rasanya tidak mungkin. Bisa saja lelaki semalam memang orang asing yang tengah mabuk dan memanfaatkan situasi untuk menjebak gadis perawan sepertiku. Beruntung aku bisa kabur, karena kalau saja tidak, aku pasti menyesal karena sudah kehilangan keperawanan oleh lelaki itu. Meskipun dia tampan, tapi aku tak mau disentuh olehnya. Perlahan aku bangkit dari tempat tidurku meski rasanya semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kerjaanku berakhir tepat pukul satu dini hari. Tapi sayangnya aku tak bisa langsung tidur setelah sampai rumah. Aku terus terjaga karena merutuki ciuman pertamanku yang telah raib direnggut oleh pria asing. Alhasil aku merasa mengantuk sekarang ini, ditambah lagi badanku terasa pegal-pegal karena telah bekerja keras sepanjang siang dan malam. Beruntung hari ini aku mendapatkan jatah libur dari pekerjaanku di restoran. Sehingga aku bisa beristirahat dan menjenguk ibu ke rumah sakit. Namaku Heera Paramitha dan sekarang usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku adalah anak yang dibuang oleh orang tuaku. Entah apa salahku, aku sendiri tak tahu. Selama ini aku dirawat oleh wanita bernama Yani yang biasa kupanggil ibu. Sekarang ibuku itu tengah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit kanker serviks. Dokter mengatakan kalau penyakit yang ibuku derita disebabkan oleh masa lalunya. Jujur saja, dulu ibuku adalah seorang PSK. Sejak usia muda ibu dipaksa untuk menjual diri oleh ayahnya yang b******n. Sehingga seringnya bergonta-ganti pasangan menjadi faktor utama penyebab ibu terkena penyakit itu. Sedangkan kami tidak memiliki biaya yang cukup untuk mengobati penyakit ibu. Ibu menemukanku saat usianya sudah dua puluh lima tahun. Waktu itu ibu masih aktif sebagai p*****r dan belum sakit. Ibu memutuskan merawatku karena dia tinggal sendirian. Meski dirawat olehnya yang berprofesi sebagai wanita malam, tapi aku beruntung karena ibu merawatku dengan baik dan sangat menyayangiku layaknya anak kandungnya sendiri. Ibu juga selalu mengusahakan yang terbaik untukku dengan bekerja keras agar aku kelak tidak menjadi p*****r sepertinya. Tepat setelah lulus SMA, aku mulai bekerja agar bisa membantu ibu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Usia ibu sudah tidak muda lagi sehingga jasa pelacurnya pun tidak dibutuhkan karena banyak p*****r-p*****r baru yang masih muda dan cantik. Sebenarnya aku merasa senang jika ibu berhenti dari pekerjaannya itu. Aku juga berusaha keras untuk bisa memenuhi keperluan sehari-hari kami. Beberapa tahun kemudian kami lewati suka duka kehidupan bersama-sama. Kami saling merangkul dan mendukung satu sama lain. Namun, cobaan itu hadir ketika ibu mulai sakit-sakitan. Kami yang hanya mempunyai sedikit uang pun hanya bisa mengobati ibu seadanya. Hingga akhirnya penyakitnya semakin berkembang dan sudah seharusnya dioperasi. Aku berupaya mencari uang dengan bekerja keras sepanjang hari untuk biaya operasi ibu. Meski sedang terdesak, tapi aku tak ingin mengambil jalan pintas seperti menjual diri. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan uang dengan cara yang benar. Karena kuyakin, ibu pun tak setuju jika aku menjual diri untuk biaya operasinya. Menghela napas beberapa kali, aku harus selalu tersenyum di hadapan ibu. Kakiku melangkah pelan untuk memasuki ruang rawat ibu yang hanya dibatasi sekat horden dengan orang-orang sakit lainnya. "Ibu apa kabar?" tanyaku begitu sudah berada di samping ibu. Wanita yang sudah merawatku itu terlihat semakin kurus dan memprihatinkan. Andai saja aku memiliki uang yang banyak, sudah pasti akan kuberikan perawatan yang terbaik untuk ibu. Meski bukan ibu kandungku, tapi beliau sudah merawatku hingga sekarang ini. "Ibu baik, Heera. Kamu jangan khawatir ya." Bagaimana aku bisa tidak khawatir jika ibu berada di rumah sakit seperti ini? Aku ingin ibu segera sembuh agar bisa kembali berkumpul denganku di rumah. "Iya, Bu. Heera akan berusaha nyari uang yang banyak buat biaya berobat Ibu. Doain Heera ya, Bu," pintaku dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipi. "Pasti, Sayang. Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu sudah peduli sama Ibu. Ibu sayang kamu, Heera." "Heera juga sayang Ibu. Cuma Ibu yang Heera punya di dunia ini. Terima kasih juga karena sudah merawat Heera hingga sebesar ini ya, Bu." Bisa kulihat ibu menganggukkan kepala dengan air mata yang ikut membasahi pipinya. Aku pun memutuskan menghambur memeluk ibu. Aku janji akan berusaha lebih keras agar ibu bisa segera dioperasi. *** Langkah kaki membawaku tiba di taman rumah sakit. Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Pikiranku terasa blank karena uangku masih kurang banyak, sementara dokter telah mengatakan kalau ibu harus secepatnya dioperasi. "Ya Tuhan... Apa yang harus kulakukan?" lirihku frustrasi. Andai saja aku bisa mendapatkan uang dengan cepat. Atau andai aku memiliki barang berharga yang bisa dijadikan jaminan untuk meminjam uang. Sayangnya semua hanya perandaian semata karena aku dan ibu tidak memiliki apa-apa. Tempat tinggal pun kami masih mengontrak. Tidak-tidak. Aku berusaha mengusir pikiran tak benar yang hinggap di kepalaku. Aku tidak boleh menjadi seperti ibu. Bisa saja nanti aku juga mengalami penyakit yang sama seperti yang sekarang ibu derita jika nekat menjual diri. Aku pasti bisa mendapatkan uang dengan cara lain. Harus bisa! "Semangat Heera. Kamu pasti bisa! Ibu pasti sembuh!" ujarku terus memotivasi diri. Beranjak dari tempatku semula, aku pun memutuskan melangkah walau tanpa arah. Merogoh ponsel di saku celana, aku bisa melihat kalau sekarang masih jam sebelas. Aku berniat menuju restoran saja untuk menghabiskan sisa hari dengan bekerja. Syukur-syukur kalau restoran sedang ramai sehingga aku bisa mendapatkan uang tip yang lebih banyak. Mungkin aku terdengar seperti gadis materialistis karena yang ada di pikiranku hanya tentang uang. Tapi semua itu kulakulan demi ibu, orang yang paling kusayang dan berarti bagiku. Karena kesehatan ibu adalah segala-galanya dan hal yang paling penting. Aku ingin melihat ibu sembuh dan tertawa ceria seperti sebelumnya. Hanya itulah keinginanku yang sangat sederhana. Aku tidak pernah berharap bisa tahu siapa orang tua kandungku, karena bagiku mereka telah membuangku. Aku hanya berharap agar ibuku, wanita yang sudah merawat dan menyayangiku dengan tulus baik-baik saja. *** 14-08-2021

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook