Aeera bergerak gelisah dalam tidurnya, dia membuka mata dengan perlahan. Awalnya dia memasang wajah tampak kebingungan, kedua matanya berkedip berulang kali hingga tiba-tiba raut terkejut terpancar di wajahnya. Dia baru tersadar, tidak seharusnya dia berada di sini. Seharusnya dia berada di alam bebas bersama Lucia, bukan di ruangan mewah yang dia yakini sebuah kamar di istana. Dia panik dan berniat untuk bangun, namun urung saat merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Cepat-cepat dia menolah ke belakang. “Kau sudah bangun?” Aeera membekap mulutnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca nyaris menangis. Dia memeluk sosok itu tanpa ragu, menenggelamkan wajah di d**a bidang sosok yang tidak lain merupakan suaminya, Lucia. Lucia mengusap puncak kepala Aeera saat suara isak tangis

