20. Jatuh Pingsan

1118 Kata
"Apa maksud perkataan kamu dengan menggugurkan anak?" Rana terdiam mematung, dia tidak bisa bergerak untuk beberapa saat. Pikirannya berkecamuk dan tidak tahu harus merespon bagaimana. Tangannya bahkan bergetar hanya dengan membayangkan Rendra telah mendengar percakapannya dengan Dirga melalui telepon tadi. "Mas, maafkan aku. Aku--" "Jawab Rana! Kenapa kamu ingin menggugurkan anak ini?" "Mas, tidak. Aku tidak akan. Maafkan aku, tadi hanya-" perkataan Rana bahkan tidak jelas. Ketakutan menguasai dirinya, dia berusaha maju mendekat ke arah Rendra untuk menggapainya. Namun karena tidak berhati-hati, langkah kakinya terhuyung hingga dia hampir saja jatuh telungkup. Beruntung Rendra dengan sigap menangkap tubuhnya hingga Rana tidak sampai jatuh dan membahayakan perutnya. "Kenapa kamu sampai seperti ini? Apa kamu benar-benar berniat untuk menggugurkan anak ini?" Dengan gelengan kepala yang kuat Rana langsung menepis pertanyaan Rendra. Dia sangat takut dengan respon suaminya yang tampak kehabisan kesabaran. Ia menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Lidahnya terasa kelu dan dia tidak berani menatap langsung kedua mata suaminya yang tampak mengintimidasi. "Maafkan aku," hanya kata maaf yang terucap. Dia tidak tahu sejak kapan suaminya ada di balik pintu. "Siapa yang menelpon kamu tadi? Sampai kamu mengatakan lelucon seperti ingin menggugurkan anak kita?" Rendra mengguncang pundak Rana yang masih tampak menundukkan kepalanya sambil menangis dalam diam. Mendengar pertanyaan Rendra, Rana perlahan memberanikan diri untuk melihat wajah suaminya. Tanpa sadar dia bisa bernapas dengan lega. Yakin bahwa rahasianya sampai saat ini masih belum terbongkar. Rendra masih belum tahu bahwa anak ini bukan miliknya. Ia perlahan tersenyum, meski air mata di pipinya masih mengalir tanpa bisa dia tahan. "Jangan membentakku Mas, aku takut." Rana memegang ujung kaos yang dikenakan Rendra, tampak bisa kembali menguasai emosinya dan bertingkah manja dengan tatapan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Kalau begitu jelaskan apa maksud perkataanmu tadi?" Rendra mulai menurunkan suaranya agar tidak menakuti Rana. Dia terlalu kalut tadi mengingat pembicaraannya dengan mamanya, lalu saat kembali mendengar bahwa Rana akan menggugurkan anak mereka. Alhasil emosi pria itu langsung naik seketika hingga membuat istrinya menangis ketakutan. Rana tampak mengambil napas dalam-dalam, memegang kedua tangan Rendra dan menggenggamnya seolah takut pria itu akan pergi dari sisinya. "Aku tadi hanya bercanda dengan temanku, aku sama sekali tidak berniat untuk menggugurkan anak kita. Bagaimanapun ini adalah anak yang sudah kita tunggu setelah sekian tahun. Bagaimana mungkin aku bisa Setega itu menghilangkan kehidupan yang tumbuh di dalam perutku sendiri Mas?" "Benarkah?" Kening Rendra agak mengerut, tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Rana. Namun dia berusaha menepisnya dan tidak ingin terus mendesak istrinya. Dia takut sikapnya malah akan membuat Rana merasa tertekan dan stress. "Benar, aku hanya bercanda. Percayalah padaku Mas." "Baiklah, kalau begitu kamu bisa kembali tidur dan beristirahat." "Iya Mas, terimakasih dan maaf karena sudah membuat kamu khawatir. Aku berjanji tidak akan mengatakan hal-hal seperti itu lagi sebagai bahan bercandaan." "Bagus kalau kamu mengerti, jangan sampai mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti itu." Rendra membantu Rana untuk kembali duduk di atas ranjang dan menyelimutinya. Setelah itu dia melihat ponsel milik istrinya masih tergeletak di lantai saat dia masuk ke dalam kamar mereka. Ia membungkukkan badannya untuk mengambil ponsel tersebut. "Mas, biar aku saja." Rana dengan sigap langsung menyingkap selimut yang menutupi pinggangnya. Membungkuk dan mengambil ponsel di tangan Rendra secepat kilat untuk dia letakkan di atas nakas. Ia tersenyum manis, kembali berbaring dan menyelimuti dirinya sendiri. "Cium dulu Mas!" Rana menatap Rendra dengan pandangan penuh harap. Rendra tidak banyak bicara, menundukkan kepalanya dan mengecup kening Rana sebelum mengelus rambut Rana perlahan. "Tidurlah!" Setelah melihat Rana memejamkan kedua matanya, Rendra melirik pada ponsel Rana di atas nakas. Ada rasa curiga dalam hatinya. Seolah dia menyadari kalau tiap gerak-gerik Rana hari ini tampak aneh. Namun dia tidak melakukan apapun, hanya berbalik dan keluar dari dalam kamar menuju ke ruang tamu. Gea merasa sangat tidak nyaman saat terbangun. Kepalanya berdenyut kuat ketika rasa pusing membuatnya tidak sanggup untuk bangun dari tidurnya. Gea meraba-raba ke arah nakas untuk mencari ponsel miliknya. Dia ingin meminta bantuan seseorang, namun tidak tahu siapa yang bisa dia mintai tolong saat ini. Meski pandangan matanya agak buram, Gea akhirnya mencoba untuk menghubungi Rendra. Karena dia tidak memiliki seseorang yang bisa dia percayai. Gea juga tidak memiliki sahabat karib di tempat rantau ini. Mengingatnya, membuat Gea merasa miris. Karena tanpa sadar terlalu bergantung pada Rendra. Beberapa kali nada dering terdengar, namun tidak ada yang menjawabnya. Gea mencoba sebanyak tiga kali dan akhirnya dia menyerah. Memilih untuk memejamkan kedua matanya kembali, meski sangat tidak nyaman. Untuk sedikit bergerak saja tubuhnya langsung gemetar. Tak beberapa lama kemudian, ponsel miliknya berdering. Tanpa memastikan siapa yang tengah menelponnya, Gea langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. "Mas, tolong aku. Aku sakit, bawa aku ke dokter." Suara Gea agak serak dan lemas, dia berpikir bahwa Rendra yang kembali menelponnya saat ini. 'Kamu kenapa Gea? Kamu sekarang ada dimana? Biar aku datang ke tempatmu dan membawa kamu ke rumah sakit.' Gea agak mengernyitkan keningnya heran, jelas menyadari bahwa suara di seberang bukan milik Rendra. Namun karena sakit kepala yang berat membuatnya langsung menyebutkan alamat apartemen miliknya pada sosok Lian. "Apartemen Greenhouse lantai 9 No.324 di samping lift." 'Tunggu di sana, aku akan segera datang. Aku juga berada di apartemen yang sama, hanya berbeda lantai.' Gea tidak mendengarkan lagi, kepalanya terlalu pusing dan berdenyut. Dia membiarkan saja sambungan telepon tetap terhubung dengan Lian. Memejamkan mata selama beberapa saat, hingga suara bel di pintu apartemen mengganggu gadis itu. Keningnya mengernyit saat denyutan di kepalanya seolah terpengaruh oleh suara bel pintu. Gea dengan terpaksa memaksakan diri untuk bangun dan berjalan secara perlahan. Tangannya terus mencari pegangan pada dinding agar tubuhnya tidak limbung dan jatuh ke lantai yang dingin. Pandangannya agak kabur, setelah beberapa saat berjuang untuk membukakan pintu. Akhirnya kesadaran Gea mulai menipis. Sakit kepalanya berdenyut semakin kuat hingga pandangan gadis itu semakin memburam dan berubah menjadi gelap. "Gea, apa yang sebenarnya terjadi? Astaga suhu badan kamu sangat tinggi. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Gea dapat mendengar samar-samar suara panik seorang pria yang saat ini tengah menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Dia tidak bisa membuka kedua matanya, hingga kesadarannya perlahan semakin menghilang dan dia tidak mengetahui apapun. Lian tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Dengan segera dia menggendong Gea dan tidak lupa menutup pintu apartemen milik gadis itu sebelum masuk ke dalam lift untuk keluar membawanya ke rumah sakit. Jujur saja dia merasa panik, apa lagi Gea langsung tidak sadarkan diri setelah membuka pintu apartemen. "Bertahanlah!" Setelah sampai di tempat parkir mobil, Rendra dengan segera meletakkan Gea di kursi penumpang. Tidak lupa dia mengenakan safety belt agar dia bisa menyetir lebih cepat tanpa takut gadis itu akan kenapa-kenapa di jalan. Tepat ketika mobil Lian keluar dari area parkir apartemen Greenhouse. Mobil milik Rendra baru saja masuk ke area parkir apartemen tersebut dan berpapasan dengan mobil milik Lian. "Kenapa tidak diangkat?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN