"Tempat terbaik untukku, hanya dalam dekapanmu"
○---○
Gavin mempercepat laju mobilnya saat melihat gerbang tempat itu terbuka. Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat saat menyadari mobil Medlyn berada disana. Tebakannya benar. Memangnya Medlyn akan kemana lagi?
Gavin bergegas turun dari mobilnya dan membuka pintu tempat itu secara paksa. Beberapa orang nampak terkejut dan mewaspadai kehadiran Gavin. Gavin tidak menggubris sama sekali. Ia tetap berjalan mencari ruangan itu. Namun seseorang menghentikan langkah Gavin.
"Apa urusan lo kesini" tanya pria itu. Gavin hanya diam, ia tetap melanjutkan langkahnya. Namun orang itu lagi lagi menghentikan langkah Gavin.
"Gue ngomong sama lo. Lo itu orang asing!"
"Berenti ngalangin jalan gue" ucap Gavin dingin. Emosinya sudah benar benar ingin meledak.
"Gue ga akan biarin orang asing kaya lo, bikin rusuh disini. Lebih baik lo pergi sekarang juga!"
"Gue cuma mau Kina! Kinara Aubriana Sabolev! Dia butuh gue sekarang!"
"Tap-"
"Biarin dia nemuin Kina. Dia... sahabatnya Kina" kata kata orang itu langsung dipatuhi. Perhatian mereka teralihkan saat mendengar jeritan Medlyn untuk yang kesekian kalinya.
"PERGI!!! JANGAN SAKITIN BUNDA!!!"
"JANGAN BUNUH BUNDA!!!!!!"
Gavin meremang. Jeritan Medlyn sungguh menyayat hatinya. Ia langsung membuka pintu itu dan menemukan Medlyn dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Ia terduduk disamping kasur dengan rambut berantakan karena di jambaki oleh dirinya sendiri. Matanya merah dan terdapat beberapa luka ringan di tubuhnya. Siapa yang melakukan itu? Tentu dirinya sendiri. Bayang bayang masa lalu yang kini memenuhi pikirannya membuat mentalnya sangat terganggu.
Gavin sangat benci melihat Medlyn seperti ini. Rasanya ia sangat ingin membunuh siapa saja yang telah membuat Medlyn menjadi seperti ini.
Ia mulai mendekati Medlyn. Medlyn belum menyadari kehadiran Gavin. Namun saat Medlyn berbalik dan melihat Gavin. Medlyn mengulurkan tangannya.
"Gavin..." panggil Medlyn dengan suara lemahnya. Gavin langsung berjongkok dan memeluknya. Medlyn merasa mulai tenang.
"Gue disini. Gue bakal jagain lo. Kapan pun Med" ucap Gavin ditelinga Medlyn. Medlyn mengangguk lemah sebagai jawaban.
Beberapa orang menatap heran ke arah mereka. Pemandangan itu terhenti saat seseorang menutup pintunya. Gavin lalu membawa Medlyn untuk tidur di kasur. Ia memeluk Medlyn. Memberikan gadis itu ketenangan.
○---○
Beberapa jam Medlyn tertidur. Gavin hanya bisa memandangi wajah gadis dihadapannya ini. Gavin tau hal ini akan selalu terjadi jika Medlyn melihat darah.
Tapi mau bagaimana lagi, Medlyn adalah Queen of BS. Gavin tau serumit apa hidup Medlyn. Ia harus tetap mempertahankan BS, Blood Sweat. BS sendiri adalah sebuah gang yang terkenal di Amerika. BS terkenal akan kesadisan dan juga kebaikannya.
Banyak yang mengenal BS karena BS cukup disegani. Namun hanya pemimpin BS yang selalu menutup identitasnya. Pemimpin BS yang mereka tau Kinara Aubriana Sabolev. Hanya namanya saja yang dibiarkan terkenal, dan menimbulkan isu dimana mana. Mereka tidak tau, jika pemimpin dari gang tersebut hanyalah seorang anak berumur 15 tahun.
Itu sengaja dilakukan oleh Balder. Kakek dari Medlyn. Karena BS sudah lama berdiri dan didirikan oleh kakeknya Balder. Hmm sudah cukup lama. Rata-rata anggota BS merupakan keturunan mereka. Mereka sudah seperti saudara.
Sebagian besar anggota BS tinggal di Amerika. Karena dari sanalah BS dibentuk. Namun seiring berjalannya waktu keanggotaan BS semakin meningkat dan tersebar diseluruh dunia. Banyak yang mengenal BS. Namun pergerakan dari kelompok ini sungguh tidak terdeteksi.
Medlyn sendiri sudah dikenalkan dengan BS sejak ia masih berumur 5 tahun.
Flashback on
"Granpa, where are we going?" Tanya seorang gadis kecil sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Granpa mau ngenalin kamu sama saudara saudara kita" jawab orang yang dipanggil 'Granpa' tadi.
"Saudara? Granpa use english language please. I don't understand what you say granpa." Balasnya sambil mengembungkan pipinya.
"Kamu harus terbiasa Kina" ucapnya sambil mengelus kepala Kina.
"Granpa tau, kau mengerti apa yang granpa ucapkan. You have IQ above average " sambungnya. Ia melihat sekelibat ekspresi Kina. Gadis kecil itu terkejut namun ia menyembunyikan keterkejutannya itu. Sungguh anak yang pintar.
"Have we arrive granpa?" Ucap Kina setelah cukup lama terdiam.
"Yes. Turunlah" ucapnya. Kina pun menurutinya dan turun dari mobil.
Kina menatap takjub pada tempat ini. Ia sungguh tidak menyangka ada tempat seindah ini di dalam sebuah hutan. "Who owns this place?"
"This is yours"
"What? Mine?"
"Yes"
Kina terdiam. Ia tidak bodoh. Ia tau tempat ini pasti bernilai jutaan dollar. Ini sebuah mansion! Ia bingung, apa ia harus senang? Bagaimana caranya merawat tempat sebesar ini? Ya ia memang bodoh sejak kecil-_
Mereka berdua pun memasuki mansion tersebut. Kina cukup terkejut saat berada didalam mansion ini. Banyak orang didalam sini. Tapi Kina tidak melihat satu pun kendaraan lain selain kendaraan kakeknya. Orang orang itu memandang ke arah mereka berdua . Namun ia tetap bersikap biasa saja. Terlihat cuek?
Ia semakin bingung saat seseorang memanggil kakeknya.
"Balder! Kamu sudah sampai rupanya"
"Yes, Kevin"
"Wait, apa ini cucumu? Ia terlihat sangat manis" Kina melotot pada orang yang dipanggil Kevin oleh kakeknya.
"Sepertinya kau akan menyesal mengatakan kalau ia gadis yang manis" ucap Balder sambil terkekeh di akhir kalimatnya. Kevin sempat terkejut dengan respon yang diberikan Kina.
"Tapi-"
"Papa!" Teriakan seorang anak laki laki mengalihkan fokus mereka. Kina menatap sinis pada anak laki laki tersebut.
"What's wrong jo?"
"Kelinci dari papa mati..." ucap bocah itu sambil menangis. Dilihat dari postur tubuhnya sepertinya anak itu lebih tua dari Kina.
"Biarkan saja jo" ucap Balder.
"Tapi aku tidak mau dia mati"
"Kelinci itu mati karena salah mu. Ia tidak akan mati jika tidak kau mainkan terus. You was kill the rabbit brother. You are the killer" semua orang terdiam. Menatap ke arah Kina dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang ditatap justru dengan watadosnya menyilangkan tangan didepan d**a.
"Balder, aku menarik semua kata kataku tadi" ucap Kevin masih dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Gadis ini berbahaya" sambungnya.
"I heard your words uncle" hardik Kina sambil memberikan tatapan tajam pada Kevin. Mereka kembali terdiam.
"Haha, Kina sebaiknya kau kebelakang. Disana ada beberapa anak. Mungkin kau bisa berteman dengan mereka" ucap Balder mengakhiri hawa mencekam yang ditimbulkan cucunya ini.
"Friends with whiny children like he? Seriously?"
"Kina, berbicaralah seperti umurmu. Itu bukan kata kata untuk anak 5 tahun. Dan ingat, dia lebih tua darimu. Namanya jonathan."
"Granpa, please. Nothing is false from my words."
"Gunakan bahasa Indonesia Kina. Aku tau kau bisa berbahasa Indonesia."
"What you say granpa? I don't understanding your language" ucapnya angkuh.
"Kau tidak bisa membohongi granpa sayang, pergilah dan bermain dengan anak anak yang lain. Granpa tidak suka dibantah" Kina pun menurut dan berjalan ke arah taman belakang mansion ini. Setelah tubuh gadis kecil itu tidak terlihat, beberapa orang menghela nafas. Seolah olah telah terjadi sebuah kejadian mencekam.
"Balder, cucu mu-"
"Dia akan menjadi penerusku" ucap Balder memotong kalimat Kevin.
"Tapi dia perempuan Balder. Menjadi pimpinan BS bukan posisi yang tepat untuknya. Aku khawatir dengan keselamatannya" ucap Kevin.
"Justru itu. Dengan menjadikannya Queen of BS, dia akan dijaga. Karena Rahma berbahaya untuknya. Aku yakin cucuku bisa menghadapinya. Ia sangat pintar"
"Dia kelihatan polos. Tapi memiliki aura yang dapat membuat siapa saja merinding bila berdekatan dengannya"
"Ia memiliki mulut yang pedas" ucap yang lain.
"Tapi aku suka matanya"
"Oh, Reno jangan jadi fedofil. Jarak antara cucuku dan dirimu cukup jauh."
"Hahahaha" mereka semua tertawa. Menertawai kebodohan anggota BS. yang ditertawakan hanya memberi senyuman simpul. Sampai suara tangis seorang anak menghentikan tawa mereka.
"HUWAA!!! Mama... hiks... gadis itu nakal.."
"James, siapa yang nakal"
"Gadis asing itu mah"
"Shut up your mouth jerk!"
"Kina. Jaga ucapanmu. Katakan pada granpa apa yang kau lakukan padanya"
"I don't-"
"Gunakan bahasa Indonesia Kina." Ucap Balder penuh penekanan pada cucunya ini.
"Granpa, aku tidak melakukan hal apapun padanya. Dia saja yang cengeng seperti anak tadi"
"Apa kau sedang berbohong Kina?"
"Apa aku kelihatan berbohong granpa?"
"Ceritakan dengan benar Kina"
"Dia menginjak kakiku dan aku hanya mengatakan kalau ia bodoh. Dia tidak menggunakan matanya dengan benar, bukan kah lebih baik jika mata itu dilepas saja? Buat apa mata itu dipasang kalau tidak bisa digunakan dengan benar." Ucap Kina dengan santai nya. Semua orang tercengang.
Balder menghela nafasnya. Ia paham betul jika cucunya itu masih polos, tapi gaya bicaranya sungguh persis seperti dirinya ketika muda dulu.
"Kina. Minta maaf padanya"
"What?! No way granpa!"
"Kau telah membuatnya menangis, jadi kau harus minta maaf padanya"
"Big no! Dia telah menginjak kaki ku granpa! Dia bahkan tidak minta maaf atas itu! Aku hanya membalas nya dengan perkataan saja bukan dengan mematahkan kakinya!" Keadaan menjadi hening setelah Kina selesai bicara. Anak yang dipanggil 'James' pun sudah tidak menangis. Kini ia justru merasa ketakutan.
"Kina tidak salah. James lah yang salah. Ia benar benar ceroboh." Ucap seorang bocah lainnya memecah keheningan.
"Apa kau melihat semuanya?"
"Iya granpa, Gavin melihat semuanya"
Flashback off
"Gavin..." panggil Medlyn pada Gavin yang sedang melamun. Lamunan Gavin pun buyar setelah mendengar panggilan Medlyn.
"Hm, udah baikan?" Medlyn mengangguk sebagai jawaban
"Gavin"
"Hm"
"Peluk" Medlyn merentangkan tangannya pada Gavin. Gavin tersenyum sebagai jawaban. Ia pun naik ke atas kasur dan membawa Medlyn kedalam pelukannya.
"Med?"
"Hm"
"Gimana rasanya bohongin gue?"
Deg.
Jantung Medlyn berdegup kencang.
"Mati gue" batinnya. Ia mempererat pelukannya, begitupun dengan Gavin.
"Kenapa diem"
"Karena ngga ngomong" Gavin mendengus. Gadis ini selalu saja menjengkelkan disituasi seperti ini. Gavin pun mengurai pelukannya dan menangkup wajah Medlyn dengan kedua tangannya.
"Jawab pertanyaan gue Med" ucapnya sambil menatap mata hitam pekat yang sangat disukainya. Bukannya gugup atau salah tingkah, Medlyn justru balik menatap Gavin dengan tatapan mautnya.
Damn!
Gavin mengalihkan pandangannya. Ia sangat lemah bila ditatap oleh Medlyn dengan pandangan seperti itu.
"Gue bakal jawab kalo lo mau natap gue kaya tadi" jawab Medlyn dengan menampilkan smirk nya. Oke otak jahilnya meronta ronta.
"Natap mata itu? Apa dia mau ngeliat gue salah tingkah! Sial dia malah ngerjain gue" batin Gavin.
"Gavin,,, jangan ngedumel dalem hati. Gue bisa denger tau" Gavin kembali terkejut. Ah mungkin Gavin lupa. Jika yang dihadapannya ini bukan gadis biasa. Lebih baik ia mengalah.
"Kita keluar, gue udah lama ngga ketemu sama Jonathan" ujar Gavin sambil beranjak dari kasur. Belum sampai di pintu, ia telah dihadang oleh Medlyn.
"Ngga mau denger jawaban gue?"
"Udah tau"
"Apa?"
"Jawaban lo pasti dan selalu "karena gue lagi pengen bohong" iya kan?"
"Sipp bener. Babu gue makin pinter aja. Let's go to the hell!" Ujar Medlyn sambil menghampiri tasnya dengan semangat.
"Pala lo"
"Hahaha" Medlyn tertawa. Ia memang selalu begitu. Jika kejadian masalalu itu terngiang kembali, ia hanya butuh tidur dan merasa tenang. Setelah itu,ia akan merasa baik baik saja.
○---○
Tbc...
Part 7 ~19 April 2020
darah