8 | Tawuran part 1

1251 Kata
○---○ Medlyn dan Gavin keluar dari ruangan itu, setelah beberapa jam menetap didalamnya. Baru Medlyn ingin menutup pintu kamar tersebut seseorang lebih dulu menghampirinya. "Med, anak Angkasa tawuran" ucap orang tersebut. "Udah tau" jawab Medlyn acuh sambil mengunci pintu tadi. "Ha?" "Bang Jono, please. Use your Brain! Tawanan kita itu punya adek yang sekolah di Angkasa! Pasti itu tujuan mereka!" "Terus gimana?" "We go there" jawab Medlyn. Cekalan di tangan kirinya mengalihkan perhatiannya. Medlyn menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban atas sikap Gavin. "Lo gak boleh kesana" ucap Gavin penuh penekanan. "Gak ada hubungannya sama lo" "Med, please. Disana itu berbahaya." "Who cares? Ada anak BS disana. Cuma gue yang bisa bikin tawuran itu berenti." Putus Medlyn. Ia pun menghempaskan tangan Gavin. "Bang Jono, beberapa stay disini. Sisanya ikut gue" Medlyn melewati Gavin dengan begitu saja. Ia benar benar harus menyelesaikan urusan ini. Secepatnya. Belum jauh ia melangkah Gavin menghentikan Medlyn dengan ucapannya. "Gue ikut sama lo" ucap Gavin. Medlyn menoleh sekilas dan mengaggukkan kepalanya. Medlyn masuk ke dalam mobilnya bersama Gavin. Dalam hati Medlyn bersorak senang. Ia tau laki laki ini tak akan membiarkan dirinya berada dalam masalah. Jujur saja Medlyn sangat membutuhkan kehadiran Gavin. Medlyn mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia mengulum senyum dalam diam. Beberapa menit berlalu, Gavin menghentikan mobil saat sudah sampai di dekat titik tawuran. Dilihatnya ada cukup banyak orang yang sedang berbaku hantam. "Med, lo disini aja" ucap Gavin sambil menatap Medlyn yang sedang memakai masker dan kacamata hitam. "Are you seriously?" Kaget Medlyn. "Diluar baha-" belum selesai Gavin bicara Medlyn telah keluar dari mobil dam berlari ke arah kumpulan massa. Gavin hanya melongo. Medlyn sungguh keras kepala. Ia lalu ikut keluar dan menyusul Medlyn. Tidak mungkin kan jika ia hanya diam dalam mobil? Ia tidak selemah itu. Mungkin. Kehadiran Medlyn menghentikan aksi baku hantam tersebut. Hodiie yang dikenakannya membuat beberapa orang sulit untuk menatap wajahnya. "Wah, wah wah kita kedatangan tamu guys" ucap seorang laki laki dengan bibirnya yang mengeluarkan darah. Hm sepertinya ia habis ditonjok. Pikir Medlyn. Namun name tag pria itu menarik perhatiannya. Afkar Elvano Mahendra. Medlyn hanya diam sambil menampilkan smirknya samar samar. sampai seorang lagi mengimbuhkan. "Queen of BS? gue penasaran wajah seorang Kinara Aubriana Sabolev itu seperti apa. Cih gue yakin pasti b***k bener. Secara, dia gak pernah nunjukin mukanya di luar. Malu kali ya sama kelakuan sendiri. HAHAHAHA" mereka tertawa. Menertawai Medlyn. Gavin mengepalkan tangannya. Ia tidak suka ada yang menghina Medlyn seperti itu. Bugh Bugh Bugh Medlyn menghajar pria itu. Gavin mengutuk dirinya sendiri karena kalah cepat dengan Medlyn. Sial! "Shut up your mouth jerk!" Ucap Medlyn sambil menginjak punggung laki laki itu. "Lepasin dia!" Teriak Afkar saat melihat Medlyn menekan temannya begitu keras. "Gue bakal lepasin dia kalo lo semua pergi dari sini!" "Gak-" "Atau SMA Angkasa yang bakal gue hancurin. Kinara Aubriana Sabolev, gak pernah main main sama ucapannya" Medlyn tersenyum puas saat melihat raut takut dari Afkar. Afkar tetap diam. Ia sungguh semakin membenci gadis ini. "Atau perlu gue bawa lo kepolisi?" "Pengecut! Cewe tetep aja cewek cih. Kenapa? Lo ga berani ngelawan kita sampe harus ngelapor? Dasar anak Bunda" kalimat Afkar sukses membuat Medlyn naik pitam. Gavin sadar Medlyn akan meledak sebentar lagi. "Lo bandar n*****a" Tidak bukan Medlyn yang bicara. Tapi---Gavin? "s**t!" Afkar mengumpat. Bagaimana statusnya bisa diketahui oleh orang ini! "Oke. Gue bakal mundur. Tapi lepasin dia" putusnya. Medlyn tersenyum dibalik maskernya. Ia pun menurunkan kakinya dan melangkah mendekati Afkar. "Pilihan yang tepat" ucap Medlyn tepat dihadapan Afkar. Yang diajak bicara hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya. "Kita cabut!" Ucapnya pada anak Angkasa. Afkar kembali memandang Medlyn. Berharap bisa mendapat celah untuk melihat wajah gadis ini. "Gue saranin jangan coba buat nyari tau tentang gue. Nyawa lo bisa berada dalam masalah." Afkar terkejut. Apa Queen of BS ini juga seorang dukun? "Ge er lo" what? Afkar merutuki ucapannya barusan. Kenapa ia justru jadi sksd pada musuhnya ini?! "Gue tau isi kepala lo. Kalo ada yang mau lo tanyain silahkan. Mumpung gue lagi seneng abis nyakitin anak buah lo." jawab Medlyn dengan santainya. Ia sungguh menikmati raut terkejut Afkar. "Dimana kakak gue" "bawah tanah" "Lo!" Ucap Afkar sambil menunjuk Medlyn. "Bunuh kakak gue?!" "I dont say that, di bawah tanah belum tentu mati kan? Bisa aja masih idup" "LO KUBUR KAKAK GUE IDUP IDUP?!!" "calm down Mr.Mahendra. gue ga se sadis itu" "Ga sadis?! Gila ni cewek!" Batin Afkar "Bebasin kakak gue!" "Who is you? Nyuruh gue seenak jidat? Salahin kakak lo sendiri karena udah masuk wilayah gue. Gue bakal bebasin kakak lo, saat gue dapetin apa yang gue mau." Medlyn meninggalkan Afkar dengan segala pemikirannya. Mereka berdebat masih di tempat tadi. Namun tidak ada yang memperhatikan mereka. Wait! Afkar baru saja berdebat dengan musuhnya? Medlyn menghilang ditengah keramaian. Ia langsung mencari mobilnya. Saat ia membuka pintu mobil ia sudah mendapati Gavin duduk di kursi kemudi. Medlyn meneliti tubuh Gavin. Gavin masih baik baik saja. Ia tersenyum sambil melepas kacamata hitamnnya dan juga maskernya. "Ngapain senyum senyum" "Suka" jawaban Medlyn sentak membuat Gavin salah tingkah. "Lo ga kenapa napa kan?" Sambung Medlyn. "Gue ga papa. Sorry, gue ga bisa ngelindungin lo Med." "Gue tau, tadi lo mau nonjok 'cowok itu' kan?" Gavin menoleh. Ingin berbohong pasti tidak bisa. "Gav, kalo lo yang nonjok tawurannya justru makin parah." "Kenapa" "b**o amat sih! Lo kan cowo!" "Kenapa kalo gue cowok" "Mereka bakal emosi dan terpancing buat ngehajar lo balik" "Trus kenapa lo ga dihajar balik?" "Karena gue Kina." Medlyn terdiam menyesali ucapannya. Ia meluruskan duduknya dan menunduk. Gavin tau, Medlyn sedang tidak baik baik saja. Ia menarik Medlyn kepelukaanya. "Gav, pulang yuk. Gue capek" Gavin menjawab dengan anggukan. Ia menyalakan mobil Medlyn dan membawa Medlyn kerumahnya. ○---○ Sesampainya dirumah Medlyn, Gavin ikut turun. Medlyn yang melihatnya hanya menaikkan alis sebagai kode. "Gav, lo balik pake mobil gue aja" Medlyn berbalik masuk ke arah rumahnya, sampai Gavin kembali bicara namun dipotong olehnya lebih dulu. "Ta-" "Ini perintah" ucap Medlyn tegas tanpa sedikitpun menoleh pada Gavin. Ia sedang benar benar tidak ingin diganggu. "O-oke. Gue balik, take care Med" Gavin mengalah. Ia juga berusaha mengerti keadaan Medlyn. Hari ini sungguh berat untuknya. ○---○ Medlyn membuka pintu rumahnya perlahan. Ia sungguh lelah. Ia berjalan ke arah dapur, berharap maminya ada disana. Namun nihil. Mami Siena tidak ada di dapur. Medlyn melangkah gontai menaiki anak tangga satu persatu. Sampai ia mendengar Siena memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pendengarannya. "Medlyn" ya! Ini benar suara maminya. "MAMIII" teriak Medlyn sambil menuruni tangga dan berhambur ke pelukkan Siena. "Astaga, kamu kenapa sih sayang" Siena mengelus rambut anak tirinya itu dengan sayang. Walaupun mereka tidak sedarah, namun Siena menyayangi Medlyn dengan sepenuh hati. "Mami kemana aja siihh dari tadi Medlyn carii kemana mana ngga ketemu" rengek Medlyn sambil melepaskan pelukkannya pada Siena. "Yakin udah nyari kemana mana?" Tanya Siena. "Ngga ma hehe" jawab Medlyn cengengesan. "Huh dasar... mami tadi di kamar lagi nelpon Elvan" Siena keceplosan. Yang ia tau Medlyn sangat tidak suka dengan Elvan. Ia sendiri tidak tau apa alasannya. "Oh" jawab Medlyn singkat. Seketika suasana diantara mereka berdua. Siena berusaha mengerti dan memecah keheningan yang terjadi. "Medlyn laper kan? Mendingan sekarang Medlyn mandi abis itu kebawah ya. Mami udah beliin makanan kesukaan kamu" Siena tersenyum saat Medlyn mengangguk sebagai jawaban. Medlyn pun segera naik ke kamarnya untuk menyegarkan diri. Medlyn memang bukan darah dagingnya namun Siena tetap menyayangi Medlyn sepenuh hati. Ya setidaknya untuk memenuhi janjinya pada Clairin walaupun ia harus berpisah dengan putranya selama bertahun-tahun. ○---○ Tbc... Part 8 ~24 April 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN