Ep.5 – Awal baru
Pagi ini awal hariku sebagai murid SMA. Artinya aku sudah lebih dewasa dari sebelumnya. Aku belum tau, akan jadi Laura yang seperti apa aku disini. Yang pasti aku akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Aku bersekolah di SMA Negeri terfavorite di kota ini. Katanya hanya yang bernilai tinggi yang bisa diterima menjadi siswa sini. Tapi nyatanya nggak begitu. Nilai tinggi hanya diperuntukkan bagi orang-orang biasa sepertiku. Namun untuk anak pejabat atau anak orang "kaya banget", meski nilai mereka rendah-rendah mereka tetap bisa masuk kesekolah ini dengan syarat melengkapi fasilitas sekolah bahasa halusnya membayar uang gedung dan bahasa kasarnya uang sogok.
Disekolah ini terbagi menjadi 3 golongan. Golongan pertama ya aku ini, nilai tinggi. Golongan kedua untuk anak pejabat, dan ketiga untuk anak orang "kaya banget".
“Wahh, luasnyaa..” rasa takjubku begitu masuk ke parkiran sekolah. Oh iya aku tidak diantar jemput ayah lagi, malahan aku diizinkan membawa kendaraan sendiri. Bahagianyaa.
Aku terus mengendarai motor sampai akhirnya aku menemukan tempat untuk memarkirkan motorku. “Oh..ini kosong” gumamku.
“Laura...” suara yang ku kenal menyapa dan melambaikan tangan.
“Eh Mir...bentar” balasku seraya melangkah ke arah Mira dan kami bergegas kelapangan bersama. Mira ini termasuk di golongan 3. Ayahnya pengusaha berkebangsaan Singapura dan ibunya asli orang Indonesia. Mira selalu ingin mengikuti kemanapun sekolahku. Hahha.. sampai saat ini dialah sahabat terbaikku.
"Ciiee yang nggak diaterin lagi.." Mira meledek.
"Hehee.. bisa aja kamu. Kamu diantar siapa hari ini?" tanyaku.
"Aku diantar mas Arif. Oiya Ra.. mas Arif kirim salam sama kamu. Mas Arif bilang.. kenapa kamu nolak mas Arif terus" Mira selalu menjodoh-jodohkan aku dengan abangnya. Dia pengen abangnya menikah denganku biar nanti keponakannya pada pintar-pintar.
"Waalaikumsalam.. salam balik ke Mas Arif ya..." jawabku singkat.
"Terus apa lagi?" tanyanya.
"Apanya?" aku berpura-pura.
"Pertanyaanku tadi panjang Ra, kok kamu jawab cuma yang itu" ucapnya kesal.
Dengan terpaksa aku menjawab pertanyaannya. " Aku sama masmu beda genarasi Mira. Kita baru masuk SMA, sementara mas Arif masuk kuliah. Pasti disana dia bakal nemuin cewek yang jauh lebih pintar dan lebih baik dari aku" ucapku halus.
Wajah Mira nampak cemberut, lalu protes padaku. "Jawaban kamu selalu begitu. Waktu mas Arif masih SMA juga kamu bilang dia pasti bakal nemuin yang lebih dari kamu, tapi nyatanya enggak".
"Masmu itu pura-pura Mir. Masmu nggak benar-benar suka sama aku, dia sudah punya pacar tau, cantik lagi. Nih ya aku kasi tau kamu, aku pernah lihat masmu lagi suap-suapan ice cream sama cewek itu di taman kota. Tapi aku diem pura-pura nggak tau aja, karena dia abang kamu Mir..! Aku masih hargai. Coba kalo bukan, pasti udah aku semprot orang itu dengan kata-kataku" Mira melongo mendengar kata-kataku.
Aku kesel karena mas Arif terus menggodaku sejak kelas 2 SMP. Aku tau dia sudah punya pacar setahun yang lalu. Aku lagi jalan-jalan bersama orangtuaku. Saat kami berhenti untuk membeli air dan beberapa cemilan di supermarket taman kota, aku melihat sepasang muda mudi yang lagi kasmaran. Aku tersenyum lucu saat si pemuda menyuapkan ice cream dan tingkah malu-malu si pemudi saat menerima suapan tersebut. Sampai akhirnya aku sadar siapa pemuda tersebut. Dialah Arif, abangnya Mira. Makanya aku selalu menolaknya karena aku tau dia hanya ingin mempermainkanku.
******
Pagi ini penyambutan murid baru sekaligus pemberian cenderamata kepada siswa siswi dengan nilai UN tertinggi. Dan alhamdulillah nya aku termasuk salah satunya. Lalu setelah itu kami mencari nama di kelas yang telah ditentukan dan ternyata aku dan Mira berada dalam kelas yang sama yaitu kelas X-1.
“Nama kita berdua ada disini ra.. untunglah jadi kita bisa duduk sebangku” ucap Mira.
“Iya mir kita sebangku aja, lagian kita jarang banget bisa sekelas gini... masuk yuk” aku dan Mira bergegas masuk. Murid di kelasku ada 40 orang dan pak ikhsan adalah wali kelas kami.
Aku dan Mira duduk dibangku nomor 2, tepat dibelakang kami ada Rani dan Eka. Meski baru beberapa menit berkenalan, aku merasa kita berempat cocok, seru aja gitu mereka berdua friendly banget, dan gak jaim.
"Sebenarnya aku bukan dari golongan 2" ucap Rani.
"Maksud kamu?" tanyaku.
"Iya aku bukan dari golongan 1, 2 ataupun 3. Nilaiku nggak tinggi, aku bukan anak pejabat dan juga bukan anak orang kaya" balas Rani.
"Terus kok kamu bisa masuk sini? Bagaimana caranya?" pertanyaan Eka mengubah ekspresi Rani.
"Bapakku bekerja di kantor DPRD kota ini, tapi sebagai sopir. Sudah 10 tahun bapak bekerja sebagai sopir pribadinya pak Jamal. Pak Jamal sangat baik pada keluarga kami, ia yang memasukkan aku sekolah disini. Pak Jamal menyuruh bilang golongan 2 kalau ditanya. Tapi aku nggak ingin berbohong dengan kalian. Bagaimana pandangan kalian terhadapku? Apa kalian masih ingin berteman denganku?" ucapnya jujur.
Aku salut dengan Rani, dia orang yang baik, pemberani, jujur dan yang paling penting dia bangga dengan pekerjaan ayahnya. Aku senang bisa mengenalnya.
"Kenapa nggak, aku sangat senang menjadi temanmu, menjadi sahabatmu. Aku salut dengan anak-anak yang tidak malu mengakui pekerjaan orangtuanya. Sebenarnya aku heran dengan sistem disekolah ini, kenapa harus pakai golongan coba. Hanya membuat kesenjangan dan kesombongan. Untung aja anak sebelahku ini orangnya baik.." aku tersenyum menyenggol bahu Mira, dia balik tersenyum.
Aku melanjutkan lagi pembicaraanku, "Tapi apapun itu, kita harus jadi siswa terbaik disekolah ini agar tidak ada orang yang berani menjengkali kita".
"Gimana caranya Ra.. aku kan nggak sepintar kamu" Rani pesimis.
"Ih apaan sih.. aku biasa aja tau. Kita belajar sama-sama. Kalau ada yang nggak kamu pahami, tanya. Siapa tau aku dan Eka bisa bantu. Ya kan ka..?" aku melirik Eka.
"Iya betul itu.. Oh iya satu lagi.. aku denger-denger disekolah ini eskulnya banyak loh. Kita bisa mengikuti eskul mana yang sesuai dengan kemampuan dan bakat kita, untuk pengembangan dirilah. hehee...aku suka nih pertemanan yang positif seperti ini" balas Eka sumringah.
"hihi..aku juga suka. Semangat ya buat kita" kami saling merangkul menyemangati. Aku menganggap ini awal persahabatan kita berempat.
Hari-hari berikutnya kami lalui dengan keceriaan. Kami makan bareng, belajar bareng dan hari ini kami jalan-jalan ke mall. Ditoko aksesoris kami memilih-milih barang couple yang akan kami pakai berempat.
"Ini ada pita lucu, sini deh" aku memanggil mereka mendekatiku.
"Aku juga nemu yang bagus nih" Mira mendekatiku diikuti Rani dan Eka.
"Ih kok pas gitu sih warnanya.." teriak Eka girang.
Akupun merasa demikian, aku memegang pita kecil berwarna kuning hitam, sementara Mira memegang hairband hitam dengan taburan mutiara kuning diatasnya.
"Gimana kalau kita ngasi nama "Bee" untuk kita berempat" Mira mengajukan usul.
"Keren juga sih, aku setuju aja" dengan cepat Rani menjawab.
"Boleh..bolehh" aku dan Eka pun setuju. Kami semua tersenyum senang dan memilih beberapa aksesoris lagi bernuansa kuning hitam. Akhirnya kami mendapatkan 5 aksesoris yaitu sepasang jepit rambut kecil, sepasang jepit rambut besar, sebuah ikat rambut pita, headband dan hairband yang akan dipakai sesuai jadwal. Kalau haarinya olahraga sesperti kamis dan sabtu kami hanya memakai ikat rambut pita, Senin memakai headband, selasa jepit besar, rabu jepit kecil dan jumat memakai hairband.
Sebenarnya bukan bermaksud untuk banyak gaya. Hanya mencari motivasi saja agar selalu semangat kesekolah dan tidak bermalas-malasan. Karena jujur saja, memikirkan hal-hal kecil seperti ini dengan mereka, membuat ku nggak sabar menunggu sekolah esok hari.