POV LAURA
Mira sekelas dengan Ferdi cs. Aku dengar dari Mira, Ferdi kabur lewat pagar belakang lalu mengendarai motornya dengan cepat diikuti kedua temannya dan mereka tidak kembali setelahnya. Gosip sudah menyebar keseluruh penjuru sekolah bahkan sampai ke guru, ia menjadi buah bibir utama sekarang. Aku semakin merasa bersalah padanya.
Ayah jelas saja mengintrogasiku, menanyaiku berbagai macam pertanyaan. Tapi setelah aku jelaskan akhirnya ayah mengerti dan aku mewanti-wanti ayah, agar tidak ikut menyudutkan Ferdi. Aku meminta agar ayah bersikap seperti biasa saja.
“Dia masuk atau tidak ya hari ini. Duh.. aku nggak tenang nih kalau tetap diam begini. Tapi aku harus bagaimana? Kalau dia marah begitu melihat muka ku, terus mukul aku, huhu.. nangis lah aku? “ otakku berdebat.
Akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya diam-diam. Aku tidak ingin ketahuan oleh siapapun termasuk Mira kalau aku sedang mencari Ferdi. Aku sering nampak Ferdi cs nongkrong di belakang lab. komputer lama atau di kantin depan, jadi aku akan mencari mereka disana.
“Kemana dulu ya? Hmm... kantin dulu deh. Masih istirahat juga. Siapa tau dia disana”. Aku berjalan menuju kantin. Dari ujung kantin yang sepi aku celingukan mencari sosoknya.
“Mana dia ya? Biasanya mereka disitu aja, ini kok gak ada. Atau mereka sudah ke lab ya. Yaudah aku kesana deh”.
Aku belum beranjak, ku tunggu hingga satu menit kemudian tapi dia tetap tidak ada hingga akhirnya aku akan benar-benar beranjak dari situ. Namun ketika membalikkan badan aku terkejut, seseorang menghempaskan tangannya ke dinding dan menghadangku.
“Di..dia.. mau ngapain dia..” batinku yang aku ciut saat wajahnya tepat didepan wajahku.
“Ngapain disini?” ketusnya.
Aku gelagapan. “Ngapain nanya-nanya?” balasku berusaha tenang dan mendorong bahunya agar menjauh. Dia tersenyum sinis memandang bahu yang kupegang tadi.
“Cuihh, Dasar cewek munafik” umpatnya sambil membuang ludah.
"Kok gitu sih Fer ngomongnya, kasar banget" ucapku lemah. Aku tak pernah dikatai seperti itu oleh siapapun karena selama ini aku selalu menjaga sikapku. Aku tersinggung, rasanya sedih banget.
"Kenapa gak suka? Mau ngadu ke bapak kamu? Sana bilangin, aku nggak takut" ucapnya menantang.
Aku diam sejenak. Lalu dengan tertunduk aku mengatakan "Aku minta maaf atas kejadian kemarin".
"Nggak perlu, aku nggak butuh permintaan maafmu. Kecuali..." dia menghentikan ucapannya.
"Kecuali apa..." perasaanku tidak enak.
"Kecuali kamu jadi pacarku" aku terpelongo karena ucapannya. Rasa sesal berubah menjadi kesal.
"Aku nggak mau" balasku dingin lalu berjalan melewatinya.
"Heh cewek sombong..!" panggilnya. Langkahku terhenti, aku menoleh padanya.
"Kamu akan menyesal" sambungnya yang menyunggingkan senyum aneh. Aku tidak mengerti namun tidak penasaran. Aku memalingkan wajahku dan berniat melanjutkan langkahku. Tetapi..
"Mau kemana Laura.." Riko memanggilku dengan genit. Aku kaget melihat Riko dan Adi yang sudah berdiri menghalangi jalanku.
Bayangan masa lalu terputar kembali di ingatanku. Aku takut tangan mereka jahil. Tanpa berlama-lama aku mendorong tubuh Ferdi yang sedang lengah, lalu aku berlari menghindari mereka.
Waktu terus berlalu dan sekarang sampailah kami di detik akhir sebagai siswa SMP. Aku bahagia karena inilah batas waktu aku bertemu Ferdi si pengganggu. Semenjak hari itu, hidupku tidak pernah tenang dibuatnya. Setiap bertemu ia dan teman-temannya menyempatkan diri untuk terus menggangguku. Beruntung hanya gangguan kecil yang masih bisa kuhadapi.
Aku bersyukur menjadi lulusan terbaik kembali. Tangis haru mengiringi perpisahan kami. Aku diberi kesempatan untuk memberikan kesan pesan selama menempuh pendidikan disekolah ini.
“Assalamualaikum.. selamat siang untuk kita semua. Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena kita masih diberi kesehatan, rezeki, umur yang panjang sehingga bisa hadir di momen yang spesial ini. Saya Anggita Laura Sakti mewakili seluruh teman-teman angkatan ke VIII menyampaikan ribuan terimakasih kepada bapak dan ibu guru yang dengan ikhlas bersedia mendidik dan membimbing kami selama 3 tahun. Tentu banyak ucapan dan tingkah laku kami yang menyakiti hati bapak dan ibu guru sekalian, maafkanlah kami bapak/ibu. Restuilah kami, doakanlah kami, agar kelak kami bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Saya juga mengucapkan terimakasih yang tiada sudahnya kepada kedua orangtua saya yang dengan ikhlas merawat, membesarkan, memberi pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang kepada saya. Maafkan kalau saya belum bisa menjadi anak terbaik, tapi saya akan selalu berusaha menjadi anak yang baik untuk ayah dan ibu.
Kepada teman-teman seperjuangan, suka, duka, canda dan tawa akan selalu mengingatkan kita dengan sekolah tercinta ini. Dan saya mendoakan teman-teman semua dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Akhir kata saya mengucapkan sukses selalu untuk kita semua.
Wassalam.
Suara tepukan menyambut akhir pidatoku. Lalu guru memberikan medali, piagam, uang pembinaan serta bingkisan sebagai penghargaan kepada siswa dengan nilai UN tertinggi.
Ayah dan ibuku tampak menangis haru, aku bersyukur dan bangga bisa meraih predikat tersebut dan mampu menorehkan senyum di wajah kedua orangtuaku.
"Selamat ya Lauraku yang pintar.. " Mira memberi ucapan seraya memelukku.
"Hahah.. terimakasih bestfriendku.. " aku balik memeluknya.
"oh iyaa Ra.. ada yang pengin ngobrol sama kamu.. bentar ya aku panggilin.. " ucapnya lalu pergi.
Tak lama kemudian Mira kembali bersama Mas Arif.
"Hai Laura.. " sapa mas Arif canggung.
"Hai juga mas Arif.. " balasku yang juga canggung.
"Selamat ya atas kelulusan dan nilai tertingginya.. " ucap mas Arif seraya memberikan buket bunga untukku.
Aku menerima buket tersebut dan mengucapkan terimakasih pada mas Arif.
Lalu kami makan bersama, kebetulan orangtuaku dan orangtua Mira sangat dekat sehingga tak jarang kami piknik dan liburan bersama.
"Kamu cantik banget hari ini Ra.. " mas Arif memujiku.
"Terimakasih mas Arif. Mira juga cantik banget hari ini.. " balasku malu.
"Lah kalau dia sih sudah bosan mas Arif lihatnya.. gitu-gitu aja.." mas Arif meledek Mira.
"Yeee Mira juga bosan lihat mas yang gitu-gitu aja.. " balas Mira nggak mau kalah, lalu kami tertawa.
"Mas Arif jadi kuliah di jogja..?" tanyaku.
"Enggak Ra, mas jadi kuliah disini saja.. kenapa..?" tanyanya balik.
"Oo nggak apa-apa. Laura nanya aja.. " balasku singkat.
"Nanti Lauranys galau mas kalau mas Arif jauh-jauh... " ledek Mira.
"Dasar nih anak.." aku memasang wajah masam.
"Benar begitu Laura galau jika mas Arif jauh.. " mas Arif kut meledek.
"Maasss,, mulai deh.. kan Laura udah bilang kemarin.. " ucapku lembut.
"Iya.. iyaa mas hanya bercanda. Jangan gitu dong mukanya.. " pujuknya yang melihat muka bete ku.
Setelah selesai makan kami segera berpamitan untuk pulang.