Tengah malam aku terbangun, kepalaku terasa sangat pusing mungkin karena terlalu banyak menangis, dan aku baru ingat kalau aku belum makan tadi malam sehingga perutku terasa sakit. Tapi aku sama sekali tidak memiliki persediaan obat apapun.
Aku mengambil handphone yang dari malam tadi tidak kusentuh, samar-samar kulihat 31 panggilan tak terjawab dari Ferdi dan Beni.
Tanpa banyak berpikir, ku tekan nomor Ferdi yang merupakan panggilan terbanyak. Beberapa menit kutunggu, akhirnya seseorang diseberang sana mengangkat panggilanku.
"Halo Laura..." suaranya terdengar parau menandakan ia baru bangun tidur.
"Assalamualaikum.." suaraku lemah.
"Waalaikumsalam.. " jawabnya.
"Maaf saya mengganggu.. Pak Ferdi, bisa tolong bantu saya.. Saya minta tolong dibawakan obat pusing dan sakit perut ya pak.." pintaku padanya.
"Kamu kenapa Laura... Kamu sakit..?" tanyanya khawatir.
"Enggak apa-apa pak. Cuma sakit sedikit saja kok. Tolong cepat yaa pak.." ucapku semakin lemah. Perutku terasa semakin sakit hingga aku tidak sanggup mengangkat telepon itu lagi.
Aku berusaha berdiri untuk membuka pintu agar Ferdi tidak menunggu lama nantinya.
"Laura,, buka pintunya.. " suara Ferdi yang sudah berada didepan kamarku. Dengan tertatih aku berusaha mencapai pintu.
"Pak Ferdi... Cepat banget pak, maaf saya merepotkan.. Boleh saya minta obatnya pak? " ucapku berusaha terlihat kuat dihadapannya.
Ia terdiam sejenak mengamatiku, aku tidak tau apa yang ada dipikirannya saat ini. Lalu, "Maaf ya..." ia mengangkatku menuju kasur.
"Pak saya bisa jalan sendiri.. Saya bisa pak.. " tolakku sedikit takut.
"Sudah kamu diam saja, jangan berpikiran yang lain. Saya hanya membantu kamu disini.. " balasnya yang mengerti kepanikanku.
Ia menurunkanku diatas kasur dan kemudian seorang wanita paruh baya masuk ke kamarku. Ia memperkenalkan dirinya sebagai dokter di resort ini.
"Pak... mbak ini harus infus di rumah sakit karena ia dehidrasi berat serta maagnya kambuh" dokter menjelaskan.
"Obat saja nggak bisa dokter.. Saya nggak sanggup berjalan saat ini.. " tanyaku lemah.
"Saya akan membawanya kerumah sakit.." ucap Ferdi tegas.
Ferdi berbalik dan langsung membawaku kerumah sakit.
"Pak nggak usah.. saya bisa jalan sendiri.." aku menolak Ferdi yang bersiap menggendongku.
Dengan susah payah aku melangkah keluar dari kamar. Baru beberapa langkah, rasanya aku benar-benar ingin menyerah.
"Perempuan satu ini benar-benar menguji kesabaranku... " ucapnya pelan namun masih terdengar di telingaku.
Ia langsung menyambar tubuhku dan segera membawaku kerumah sakit. Aku tidak punya kekuatan lagi untuk membantahnya hingga aku hanya diam dan menurutinya.
Setelah diberikan beberapa tindakan, akhirnya aku merasa sedikit enakan dari yang tadi. Tapi tidak dengan Ferdi, ia telihat sangat lelah dan aku jadi merasa bersalah karena merepotkannya di waktu istirahatnya.
Sekalipun aku masih selalu curiga dan membencinya, tapi aku nggak seburuk itu sampai tidak mau tau keadaannya. Ia juga lelah bekerja dari pagi sampai malam, dan sekarang waktu istirahatnya malah terganggu olehku.
"Istirahatlah Laura.. kalau kamu ingin sesuatu, bilang ke saya. Saya disini jagain kamu.." ucapnya yang terdengar tulus.
"Terimakasih pak. Saya tidak memerlukan apa-apa lagi karena saya sudah jauh lebih baik. Sekarang bapak istirahat disana ya.. bapak juga pasti sangat lelah.. Saya nggak enak jika bapak ngantuk besok karena kurang tidur malam ini.. " balasku menyuruhnya istirahat.
Tanpa bantahan ia menuruti perkataanku dan berjalan menuju sofa yang berada disampingku dan kami pun tertidur.
Aku merasa tubuhku kembali fit saat terbangun subuh hari. Aku melihat Ferdi yang masih tertidur pulas diatas sofa. Segera aku mencabut infus yang hampir habis dan pergi mencari mushala untuk melaksanakan solat subuh. Selesai solat aku kembali ke kamar untuk membangunkan Ferdi.
"Pak Ferdi..sudah subuh pak, ayo bangun.." tidak perlu waktu lama, ia pun segera terbangun.
"Lauraa..." kesadarannya masih belum terkumpul. Ia mengambil posisi duduk sambil terus memperhatikanku.
"Setiap melihat wajahmu, kenangan buruk itu selalu terlintas diingatanku Fer... Kamu membenciku kan..? Kenapa kamu mau menolongku? Apa tujuanmu sebenarnya? Sejujurnya aku tidak sekuat yang kalian lihat, aku sangat rapuh. Aku tidak ingin terluka lagi, aku tidak ingin bertemu denganmu. Untuk saat ini aku belum bisa memaafkanmu, biarlah waktu yang akan menghilangkan rasa benciku padamu. Setelah kepulanganku dari kota ini, aku berharap kita jangan bertemu lagi. Berubahlah Fer, semoga kamu menjadi imam yang baik untuk pasangan kamu nanti.. Terimakasih telah menolongku.." curahan hatiku yang hanya bisa kupendam.
"Kenapa kamu lepasin infusnya Ra,, Sudah kembali kesana, kamu harus banyak istirahat.." ia berdiri dan menyuruhku kembali ke kasur.
"Enggak saya sudah sehat pak.. saya nggak mau diinfus lagi, saya mau pulang.. Solat dulu pak, ntar habis waktunya.." ucapku mengingatkannya.
Ia melihat jam ditangannya dan segera pamit ke mushala padaku. Aku menunggunya seraya merapikan diri agar bisa ikut kembali ke resort bersamanya.
"Kamu mau kemana Ra,, kok sudah rapi.." ujarnya yang melihatku sudah bersiap untuk pulang.
"Saya mau kembali ke resort pak. Saya sudah nggak sakit lagi, tadi saya sudah tanya ke dokter dan saya sudah diperbolehkan pulang.." tutur ku.
Ia tidak percaya dan kembali memastikan apakah aku sudah baik-baik saja pada dokter. Setelah mendapatkan jawaban, aku dan Ferdi kembali ke resort.
Sesampainya di resort, Beni berjalan cepat menghampiriku dan menanyakan keadaanku lalu memberi info kepulangan kami dari kota Makassar.
"Ini hari terakhir kita di Makassar, besok kita pulang, jadi kamu harus sembuh Gita.." ujarnya.
"Nggak jadi lusa pak..?" tanyaku. Aku senang sekali besok sudah kembali ke kotaku tercinta.
"Enggak Gita.. kita pulang besok.." jawabnya.
"Saya sudah sembuh kok pak.." dengan semangat aku memotong ucapannya.
Lalu ia menyuruhku membereskan semua barang bawaanku, sementara Ferdi menyuruhku untuk beristirahat dan tidak perlu bekerja lagi hari ini. Namun aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan gitu aja sebelum kususun dengan rapi. Aku mengiyakan mereka berdua, namun aku sudah punya rencanaku sendiri.
Aku kembali ke kamar, membersihkan diri lalu merapikan barang-barang bawaanku dan memasukkannya kedalam koper. Kemudian aku mengganti setelan kerja karena aku akan membereskan sedikit lagi pekerjaanku dan menyerahkannya kepada Ferdi dengan baik.
"Kenapa kamu kerja juga Ra, kan saya sudah menyuruh kamu untuk beristirahat saja hari ini tidak usah kerja lagi.." ujar Ferdi yang terkejut saat melihatku sudah berada diruangan kerjaku.
"Masih ada sedikit data yang harus saya bereskan pak. Kasi saya waktu 20 menit lagi ya pak, nanti saya keruangan bapak menenujukkan hasilnya.." jawabku tenang lalu melanjutkan lagi pekerjaanku.
Ferdi tidak pergi, ia malah menutup pintu dan duduk dikursi yang ada didepan mejaku. Aku heran namun hanya melihatnya sekilas lalu aku kembali fokus dengan tugasku.
"Hmm... Laura saya minta maaf karena kemarin saya sudah kasar sama kamu" ucapnya pelan.
Aku diam sebentar lalu menjawabnya, "Iya nggak apa-apa pak. Saya juga minta maaf karena cara izin saya yang kurang sopan ke bapak".
Aku kembali menatap layar komputer, Ferdi berkata lagi "Apa kamu sudah memaafkan kesalahan saya yang dahulu. Saya bersungguh-sungguh Laura, saya sangat menyesal. Bertahun-tahun saya menanggung rasa bersalah saya ke kamu, saya ingin meminta maaf tapi saya belum punya keberanian untuk melalukannya, saya malu sama kamu. Saat ini saya diberi kesempatan dan memiliki keberanian untuk meminta maaf pada kamu secara langsung. Maffkan saya Laura. Bolehkah kita memulai semuanya dari awal lagi?".
Aku terkejut mendengar perkataanya, desiran perasaan sedih, sakit, kesal namun nggak tega muncul dihatiku. "Apa maksud memulai semuanya dari awal?" batinku.
Aku menghentikan pekerjaanku lalu menatap kosong ke depan. Setenang mungkin aku menjawabnya, "Saya tak taulah pak. Semua perlakuan bapak terhadap saya dimasa lalu sangat susah untuk dilupakan. Saya sudah sangat terluka, perkataan maaf bapak tidak bisa menyembuhkan luka itu. Memulai semuanya dari awal saya rasa itu tidak diperlukan karena saya akan kembali ke kota saya. Biarlah saya menghapus semua kemarahan dengan cara saya sendiri, dan kita tidak perlu bertemu lagi seperti bertahun-tahun yang sudah kita lalui".
Aku berusaha menahan airmata saat mengatakan itu padanya, itulah alasan mengapa selama ini aku selalu memendam semua perasaan dan kesedihanku sendiri. Karena aku tidak sanggup menceritakannya pada oranglain, aku malu bila terlihat menyedihkan.
Aku dan Ferdi sama-sama terdiam.