Ep. 20 - Menghilang Seharian

1231 Kata
Aku merasa jengkel dengan Ferdi karena sikapnya selama seminggu ini sungguh meresahkan dan membuatku risih. Ditambah lagi Beni dan Rafa yang keluar terus menambah kejenuhanku. Aku dibawa kesini, tapi ditinggalin mulu bersama makhluk rese ini. Sungguh tidak bertanggung jawab. Aku kan juga pengen jalan-jalan. Daripada aku makin kesal, aku memutuskan izin hari ini. Aku akan pergi jalan-jalan sendirian ketempat-tempat yang ingin kukunjungi. Aku chat Ferdi mengatakan bahwa aku ada urusan hari ini sehingga aku tidak bisa masuk kerja. Kurang sopan sih, tapi terserahlah saat ini hatiku sedang panas jadi aku males ambil pusing. Aku bersiap-siap untuk berangkat pagi ini, kalau siang ntar Ferdi keburu muncul. Mungkin saja ia akan memeriksa keadaanku, dan aku harus keluar lebih awal. Aku memakai baju santai dan sepatu sneakers agar tidak ribet lalu aku keluar dari hotel dan berjalan agak menjauhi hotel sebelum akhirnya aku memesan ojek online. Aku memilih ojek agar lebih cepat dan bisa leluasa melihat kondisi sekitar. Tujuan pertama jelas mencari sarapan sebab aku keluar terlalu pagi jadi belum sempat sarapan, setelah itu aku ingin melihat secara langsung masjid Amirul Mukminin yang pernah dijadikan lokasi syuting di sebuah film. Katanya, dari sana kita bisa melihat masjid 99 kubah dan pantai losari. "Pokoknya aku harus mendatangi minimal 4 tempat lah hari ini.. Mumpung libur.. hahah.." gumamku girang. Setelah satu setengah jam perjalanan kira-kira pukul 09.30, aku sampai ke tempat tujuan pertama. Awalnya aku berpikir kalau tempat ini adalah pantai tempat liburan keluarga, ternyata ini seperti alun-alun yang ada di kotaku. Aku suka tempat ini karena sangat dekat dengan masjid Amirul Mukminin, dan ternyata benar aku bisa melihat masjid 99 kubah dari sini. "Ya Allah indah banget..." aku takjub melihat kemegahan kedua masjid tersebut. Aku mengabadikan beberapa potret gambar, baik itu selfie dan view lainnya. Hampir 2 jam aku berkeliling serta mencicipi kuliner-kuliner yang ada disekitar sini. Lalu aku melanjutkan perjalanan ke masjid Amirul Mukminin sekaligus melaksanakan solat zuhur, setelahnya aku menuju taman kupu-kupu yang berada tidak terlalu jauh dari masjid tersebut. Lalu aku naik ke jembatan gantungnya, sebenarnya aku takut ketinggian tapi aku suka tantangan jadi aku ingin mencobanya. Meskipun harus tertatih dan dibantu oleh petugas, aku berhasil naik dan menuruni jembatan tersebut. Setelah hampir ashar aku pergi ke tujuan terakhir yaitu masjid 99 kubah, aku solat ashar dan kembali mengambil beberapa foto disana. Perutku terasa lapar karena aku memang males makan siang tadi. Jadi aku mencari cafe untuk makan dan beristirahat sebentar. Aku berhenti di salah satu cafe yang dari luar terlihat cukup luas dan ramai pengunjung. Aku memilih bangku di pojokan dengan tujuan agar bisa mengecas hp ku yang hampir low batt. Setelah memesan makanan, aku pergi ke toilet sebentar. Namun aku melihat dua orang yang kukenal sedang bercanda ria bersama wanita di masing-masing sisi mereka. "Pak Beni,, pak Rafa.. " aku tercengang. "Kurangajar memang dua manusia ini,, mereka membawaku kesini tapi selalu meninggalkanku. Katanya meeting dengan klien.. ternyata ini kliennya.. Dasar kurangajar..!! " batinku yang merasa kecewa dan kesal. Aku membatalkan niat ke toiletku, takut ketahuan kalau hari ini aku tidak bekerja. Aku kembali ke tempat duduk dan menunggu pesanan yang belum datang. Ferdi terus menelpon dan mengechatku dari tadi, tapi tidak kuangkat dan ku read semua pesannya. Setelah selesai makan aku segera kembali ke resort, badanku terasa lelah tapi hatiku senang dan pikiranku pun tenang. Aku merasa aman karena tidak bertemu Ferdi saat di lobby tadi. Kamarku dalam keadaan gelap karena penghuninya baru saja pulang. Aku meraba card switch untuk menghidupakan lampu. "Astaghfirullah... " aku terhempas ke dinding karena terkejut melihat sesosok makhluk yang sedang duduk dikasurku. Lemas menjalar disekujur tubuhku. Ia terus menatapku dengan seksama membuat bulu kudukku merinding. "Darimana saja kamu seharian..! Saya telepon nggak diangkat, saya chat nggak dibalas bahkan nggak dibaca. Apa begitu cara kamu izin dengan atasan kamu..! " Ferdi terlihat sangat marah. Tapi kenapa dia harus marah, itukan privasi aku. Ya suka-suka aku dong aku mau ngapain, toh aku bukan karyawan tetapnya. Lagian aku izin cuma sehari. Aku hanya membisu dihadapannya. "Anggita kalau saya tanya kamu jawab..!" ketusnya yang semakin marah. "Maaf pak.. Saya tadi jalan-jalan. Maaf saya izinnya kurang sopan ke bapak, saya tidak mengangkat telepon bapak dan tidak membalas chat bapak.. Saya minta maaf.." ucapku. "Dengan siapa kamu pergi..?!" tanyanya menyelidik. "Saya pergi sendiri naik ojek online.." dengan malas aku menjawab. "Yakin kamu pergi sendiri..?! Atau kamu pergi dengan kenalan baru kamu makanya kamu tidak mengangkat telepon saya..?! ha.." perkataannya menyakiti hatiku, dia sama sekali tidak berubah. "Mau saya pergi dengan siapapun, itu bukan urusan bapak. Bapak memang atasan saya, tapi bapak tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya. Sekarang tolong bapak keluar, saya sudah sangat lelah dan saya ingin istirahat.." jawabku tegas dan memintanya keluar dari kamarku. "Kamu menyuruh saya keluar dari sini..." ia berkata dengan nada yang terdengar mengingatkan. "Oh iyaa.. resort ini punya bapak, bahkan saya hanya tamu disini. Baiklah.." aku sadar diri dan berbalik untuk meninggalkannya. Saat berjalan keluar, airmataku langsung bercucuran. Aku tidak suka keributan, aku tidak suka dimarahi, aku tidak suka perasaan emosi intinya aku tidak suka bermasalah dengan siapapun. Selama ini aku selalu mengalah dan tidak membuat masalah. "Kenapa dia harus semarah itu denganku.. Karena libur sehari dia semarah itu padaku. Bahkan mesin saja bisa rusak kalau dipakai terus-menerus. Aku sudah berusaha bekerja dengan profesional, mengerjakan semuanya dengan baik dan tidak mengeluh. Aku memaksa hatiku untuk melihat wajahnya, mendengar suaranya, menurutinya setiap hari.." batinku dan terus berjalan untuk keluar dari resort ini. Akhirnya aku mencari-cari hotel terdekat dari google map, dan memesan ojek online untuk mengantarku kesana. Sambil menunggu, aku mengusap airmataku dan menetralkan hatiku agar tidak menangis lagi. Sampai sebuah tangan menyentuh bahuku membuatku terlonjak kaget. "Mau kemana kamu.." Ferdi menyusulku. "Bukan urusan bapak.." ketusku menepis tangannya. "Jangan kasar bisa nggak... Saya ngomong baik-baik ini.." aku kesel banget, dia tadi ngomong kasar sama aku, giliran aku ketusin dia minta aku ngomong baik-baik. Aku muak dan memilih mendiamkannya. Tak lama ojek pesananku datang. "Kak Laura..." ia memastikan apakah aku yang memesannya. "Iya mas,, saya..." aku membalasnya ramah. Saat aku akan menaiki motornya, Ferdi menarik pergelanganku. "Pak.. pak.. kenapa sih.." aku tidak bisa melepaskan pegangannya. "Bang maaf Lauranya nggak jadi naik. Tapi tetap saya bayar, ini..." Ferdi memberinya uang 50.000 dan memberi isyarat agar ia pergi. "Ikut saya..." ia menarikku masuk kedalam resort. "Pak lepasin.. malu dilihatin banyak orang.. pak.. pak Ferdi..." ia tidak memperdulikan perkataanku dan tatapan semua staff. Ia terus membawaku hingga hampir sampai ke kamarku. "Ferdi... apa-apaan kamu... kenapa kamu membawanya seperti itu.. " Beni memegang lengan kiriku yang membuat langkah Ferdi terhenti. Ferdi tampak kesal melihat Beni menyentuhku. Ia menarik kuat tanganku agar terlepas dari Beni. "Aww..." aku membentur tubuh Ferdi. "Lepasin aku bilang...!" sekuat tenaga kudorong tubuh Ferdi agar aku terlepas darinya. Aku sudah sangat muak dengan situasi ini, perasaan sedih menjalar dihatiku. "Aku diamin kamu makin kurangajar ya Fer... Kamu fikir kamu siapa? Seenaknya saja kamu menyentuh aku, membentakku, mengatur hidupku... Kamu bukan suamiku, jadi kamu nggak berhak menyentuhku sesukamu, mengatur-atur hidupku. Pergi kamu...!" kemarahanku sudah tidak bisa kupendam lagi, aku meninggalkan mereka berdua dan mengunci kamar rapat-rapat. Ia benar-benar tidak menghargaiku, selama ini aku menjaga diriku dengan baik. Aku tidak pernah berpacaran dengan lelaki manapun karena aku ingin menjaga semuanya untuk suamiku nanti. Tapi dia selalu seenaknya menyentuhku didepan semua orang. Aku sangat malu. Aku terus menangis, aku ingin pulang, aku sudah muak berada disini. Aku melewatkan makan malam dan meletakkan hpku diatas meja dalam kondisi mute, dan aku terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN